TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 204. AUDIT NYONYA BESAR


__ADS_3

“Siapa perempuan itu? Angkuh sekali, aku tidak suka.” kata Deandra menatap Verrel.


“Dia rekan bisnis kita, sayang. Perwakilan dari Inti Global Group untuk proyek baru itu.”


“Aku justru meragukan kemampuan perempuan itu, terlihat cantik dan berpendidikan tapi moral kurang,”


“Hahahahah…...hahahahaha…...kau dengar itu Frans, apa kata istriku,”


“Setuju! Pelakor itu memang tak bermoral?”


“Apa? Pelakor? Ros….kau kenal dengan perempuan itu?” tanya Deandra kaget.


“Itu perempuan yang pernah kuceritakan padamu.Gara-gara perempuan gila itu aku dan anakku hampir mati.”


“Oh no! Ini tidak bisa dibiarkan. Verrel batalkan saja kerjasama dengan mereka. Aku tidak mau nanti ada masalah lagi.”


“Jangan takut sayang. Semua masih aman, aku sudah suruh orang untuk memantaunya terus. Kalau kerjasamanya kita batalkan, kita yang rugi harus mengganti kerugian yang lumayan besar.”


“Kalau begitu, aku akan sering-sering ke kantor. Kalau perlu aku akan buat audit semua departemen termasuk proyek itu aku akan cek sendiri semua, aku punya firasat ada pengkhianat di kantor ini. Masih ingat kejadian tempo hari di departemen IT?”


“Wah wah…..audit nyonya besar ya,” canda Rosa “Uhhhh takut…..”


“Eh Rosa…..kau juga harus ikut bekerja denganku. Kau itu masih asistenku bukan? Kita harus jaga suami-suami kita ini jangan sampai ada pelakor yang coba dekat-dekat,”


“Hahaha…..nyonya verrel tidak akan ada yang berani mendekatiku. Istriku galak sekali, semua orang takut padamu,”


“Jangan mengejekku Tuan Verrel. Aku tidak akan galak kalau bukan karenamu. Aku ibu dari lima orang anak. Kupastikan kelima anakku aman masa depannya. Siapa tahu ada perempuan yang menggodamu nanti,” wajah Deandra mengerut “Bawa sini Naomi biar aku gendong. Pekerjaanmu masih banyak,”


Mendengar ucapan Deandra,  Naomi lantas menangis meraung-raung tidak mau lepas dari dekapan Verrel. “Huh dasar ini anak manja sama daddy ya. Sini sama mommy, biar daddy bisa kerja lagi.” Naomi makin mengeratkan tangannya dileher Verrel, tidak mau dipisah dari sang ayah.  Kalau sudah begini, Deandra mengalah dan Verrel akan bekerja sambil memangku Naomi.


“Anak daddy mau jadi pengusaha ya seperti daddy. Betah duduk di kantor sama daddy,”


“Hem...hem...ya,” jawab Naomi tersenyum manja.


“Apa kau serius mau audit, sayang?” tanya Verrel.


“Iya serius. Tadi malam aku sempat utak atik laporan dari bagian keuangan, aku menemukan beberapa kejanggalan dibeberapa laporan satu tahun terakhir ini. Oh iya apa Kak Arion sudah memberitahumu juga tentang beberapa kejanggalan di kantor cabang?”


“Belum. Tadi pagi dia sempat telepon dan bilang ada hal penting yang mau dia bicarakan setelah kembali dari luar kota. Apa Arion mengatakan sesuatu padamu?”


“Iya….dia juga sudah mengirimkan via email beberapa laporan dari tiga kantor cabang. Tapi aku belum sempat membacanya tapi kata Kak Arion banyak kejanggalan dilaporan itu.”

__ADS_1


“Baiklah. Nanti kita periksa sama-sama. Besok Arion sudah kembali, dia akan datang kerumah untuk makan malam sekalian besok kita ada tamu spesial bukan?”


“Oh iya…..aku lupa. Frans dan Rosa juga besok harus datang makan malam di rumah,” kata Deandra “Ingat ya harus datang jam tujuh malam. Rosa….ada banyak hal yang harus kita kerjakan. Kita sudah cuti lama gara-gara hamil dan melahirkan. Saatnya kembali bekerja,”


“Baiklah Nyonya Besar,”


Plak!


Deandra melemparkan bantal kursi kearah Rosa.


Tok Tok Tok


“Masuk,”


“Permisi Tuan. Ini makan siangnya sudah datang,” ujar David sang sekretaris membawa beberapa paperbag berisi makanan yang dipesannya dari restoran favorit Verrel.


Ruang kerja Verrel berubah jadi arena piknik, ada yang duduk di sofa dan juga di karpet sambil menikmati makan siang. Nathan dan Naomi disuapi oleh pengasuhnya.


“Verrel, aku mau audit besok pagi. Tapi ini audit dadakan tidak boleh ada yang tahu,”


“Iya sayang. Asal kau jangan terlalu capek, kasihan anak dalam kandunganmu, besok kau pake kursi roda saja ya berkeliling biar tidak capek,”


“Lihat perutmu besar begitu, pasti berat sayang. Jangan membantah suami, tidak baik.”


“Iya….iya…..terserah. Oh….aku hampir lupa habis ini kami mau singgah ke tempat Bayu.Masih ingat kan sama Bayu yang pelukis itu?”


“Mau apa kesana?” tanya Verrel heran.


“Aku ada pesan barang dari dia, aku mau ambil hari ini.”


“Suruh saja dia kirimkan kesini, tidak perlu ketemu dengannya,” dengus Verrel kesal.


“Jangan cemburu, sayang. Sudah lama aku dan Rosa tidak mengunjungi galery, kami sudah janjian akan kesana selepas makan siang. Plisss…..boleh ya. Sekalian anak-anak bisa lihat lukisan, bulan depan ada pameran lukisan di balai kota. Aku dan bayu ikut pameran jadi nanti aku sekalian mau bahas soal itu juga,”


“Hemm…..baiklah. Tapi jangan lama-lama disana kasihan anak-anak.”


“Iya. Eh….Frans bisa tolong minta bagian keuangan, bagian bisnis development dan bagian pemasaran untuk menyerahkan laporan satu tahun terakhir? Nanti semua bawa saja kerumah biar saya periksa dirumah saja.”


“Baik, Nyonya.”


...*...

__ADS_1


“Hai Bayu...yu yu yu...” teriak Rosa.


“Hai wah kalian rame-rame datang kesini,” raut wajah pria itu senang menyambut Rosa dan Deandra.


“Iya nih kami bawa pasukan kesini, Bay…..aku mau kau lukis aku dan anakku,” pinta Rosa.


“Suamimu tidak ikut sekalian di lukis?”


“Oh iya, aku hampir lupa sama suamiku yang ganteng,”


“Tuh gara-gara ketemu pelakor jadi lupa sama suami sendiri,” ejek Deandra.


“Ihhh udah jangan ungkit soal perempuan itu, bikin aku bete.”


“Anak-anakmu cakep ya Dea. Lucu dan menggemaskan.”


“Bay….biarin saja mereka di stroller, bisa bahaya kalau jalan kesana kemari. Bisa-bisa galery mu hancur dibuat anakku,”


“Tidak apa-apa. Paling aku minta ganti rugi sama Tuan Verrel….hahahaha,”


“Bukan ganti rugi yang di dapat, malah mukamu yang babak belur, Gimana pesananku sudah siap?”


“Sudah. Tadi pagi dia antar, sesuai dengan permintaanmu. Ini coba kau periksa apa semua sudah sesuai,”


“Apaan itu?”


“Ini jam tangan khusus yang kupesan dari temannya bayu. Jam tangan ini ada GPSnya sekalian bisa connect ke internet. Pokoknya ini bukan jam tangan biasa.”


“Ini perhiasan yang kau pesan dari Nania Jewellery. Apa semua sudah sesuai dengan permintaanmu?”


“Tumben beli jam dan perhiasan tidak langsung diantar kerumah? Biasanya beli di toko langganan keluarga Ceyhan kan?”


“Sssstttt…..diam deh. Ini semua pesanan khusus untukku. Bukan jam tangan dan perhiasan biasa. Pesananku untuk anak-anakku mana?”


“Yang paperbag warna biru, itu khusus untuk Nathan dan Naomi.” kata Bayu memegang dagunya “Dea, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau pesan barang-barang ini? Pesanan kancing baju khusus lusa baru selesai,”


“Ini untuk jaga-jaga saja Bay! Bisnis suamiku sedang berada diatas, kau tahu kan bagaimana suamiku dulu. Aku hanya jaga-jaga seandainya sesuatu hal tidak diinginkan terjadi.”


“Sudahlah jangan dipikirkan. Selama ini Tuan Verrel juga setia dan mencintaimu, apalagi yang membuatmu meragukannya sekarang?”


“Aku tidak ragu, seperti kataku tadi untuk jaga-jaga saja. Setelah melahirkan nanti, hari-hariku akan disibukkan mengurusi lima anak. Waktuku akan lebih banyak dirumah dan otomatis aku tidak bisa ke kantor. Godaan diluar sana banyak, semua perempuan menginginkan suamiku dan kita tidak pernah tahu kapan dia khilaf.”

__ADS_1


__ADS_2