
“Ada apa diluar? Sepertinya ada ribut-ribut?” tanya Deandra pada Tami, pelayan pribadinya.
“Oh itu Nyonya tadi ada tamu diluar yang mendesak mau masuk.”
“Tamu? Siapa?” tanya Deandra lagi meletakkan Caesar yang baru selesai disusuinya.
“Sepertinya seorang wanita. Tapi penjaga mengusirnya karena-----”
“Karena apa? Kalau bicara yang jelas!” ujar Deandra.
“Wanita itu mau bertemu Tuan, katanya ada hal penting. Tapi sikapnya kasar sekali!” ujar Tami.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Nyonya belum pulih betul, Tuan berpesan untuk tidak mengijinkan nyonya keluar rumah. Lagipula tamunya sudah pergi tadi.” ujar Tami menjelaskan seperlunya. Dia tidak mengatakan apapun soal Olivia yang teriak-teriak mengaku kalau dia calon nyonya baru dirumah itu.
“Oh ya sudah kalau tamunya sudah pergi! Lain kali beritahu aku kalau ada tamu.”
“Baik Nyonya. Tapi bukankah kita tidak terima tamu kecuali keluarga ataupun tamu undangan Tuan?”
“Ah….aku hampir lupa soal itu. Ya, kalau tamu yang datang untuk urusan pekerjaan memang tidak seharusnya datang kerumah kecuali atas undangan suamiku. Urusan bisnis dan pekerjaan ya di kantorlah bukan dirumah.” ujar Deandra lagi.
“Tolong siapkan air rendaman pake aromatherapy ya.” kata Deandra pada pelayan pribadinya.
“Baik Nyonya.” jawab Tami bergegas menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk rendaman.
“Ah…..lelah sekali rasanya. Mengurus tiga bayi sekaligus, untung Nathan dan Naomi sudah agak besar dan tidak rewel lagi. Setidaknya mereka sudah bisa diurus babysitter tanpa bergantung padaku.” tangannya memijit pundaknya yang terasa pegal.
“Nyonya mau dipijat juga? Biar saya panggilkan mbak di belakang.” ucap Dena. Pelayan pribadi Deandranya yang selalu menemaninya sejak menikah.
“Boleh juga tuh. Panggilkan si mbak ya, lumayan pijat sambil rendaman.” ujar Deandra.
“Baik, tunggu sebentar saya panggilkan.” Dena pergi memanggil si mbak yang tinggal di asrama pelayan. Tugasnya adalah sebagai tukang pijat yang direkrut Ayu sejak Deandra hamil, wanita paruh baya itu seorang tukang pijat di kampung yang dibawa oleh Ayu.
Sambil menunggu pelayan pribadinya menyiapkan semua keperluannya, Deandra meraih ponselnya diatas nakas lalu menghubungi Verrel.
“Halo, sayang. Sudah makan siang?” tanya Verrel begitu panggilan tersambung.
“Sudah. Bagaimana anak-anak? Nakal tidak?”
“Haha….mereka baik-baik saja. Kami baru kembali dari makan siang.”
“Oh syukurlah. Aku takut mereka merepotkanmu di kantor.” kata Deandra tersenyum.
“Tidak. Aku senang Naomi menemaniku meeting hari ini. Aku rasa dia punya bakat jadi pebisnis kelak.” ujar Verrel tersenyum. Lalu mengarahkan kamera ponselnya ke Baby N yang sedang minum susu sambil baringan diatas sofa.
“Aku sangat merindukan mereka. Eh, tadi Naomi ikut meeting katamu?” tanya Deandra yang teringat ucapan suaminya.
__ADS_1
“Iya. Tadi dia datang keruang meeting. Jangan marah ya itu bukan kesalahan babysitternya.”
“Kenapa? Dia tidak kenapa-napa kan? Bagaimana dia bisa turun ke ruang meeting?” tanya Deandra cemas mengingat Naomi masih berumur satu tahun lima bulan.
Lalu Verrel menceritakan semua kejadiannya sambil tersenyum. “Jangan khawatir! Tadi pengawal yang membawanya turun kebawah karena dia menangis.”
“Oh syukurlah. Aku takut sekali! Oh iya….tadi ada tamu datang kerumah.”
“Tamu? Siapa?” tanya Verrel heran.
“Aku juga tidak tahu. Dena yang memberitahuku tadi, tapi sudah diusir pengawal. Dia sempat membuat keributan diluar karena menolak pergi.”
“Apa mungkin temanmu?” tanya Verrel.
“Tidak! Kalau temanku mau datang, mereka pasti telepon dulu. Tapi, katanya sih tamunya perempuan.”
“Oh begitu. Sudahlah toh sudah diusir!”
“Hem….seperti pengagummu!” ujar Deandra tersenyum menggoda.
“Jangan mulai! Aku tidak pernah bersama wanita lain sejak kita menikah.” ucap Verrel. “Kau cemburu, sayang?”
“Ya cemburulah! Kalau sampai kau punya wanita lain diluaran sana seperti dulu---hem…..awas saja!”
“Ha ha ha ha…...baiklah Nyonya! Aku takut!”
“Iya….iya. Aku tidak ada waktu untuk yang lain. Aku sibuk di kantor, sampai dirumah tambah sibuk lagi melayani Nyonya.” goda Verrel.
Deandra terdiam mendengar ucapan suaminya. “Ehm...soal melayani! Aku kan tidak bisa memenuhi kewajibanku untuk waktu yang lama, bagaimana denganmu?” tanya Deandra cemas.
“Bagaimana----maksudmu?”
“Apa kau bisa menahan diri? Verrel katakan padaku kalau kau mencari wanita diluar sana.”
“Jangan bicara sembarangan! Aku tidak punya waktu untuk itu. Kau masih bisa melakukannya bukan?”
“Apa kau bilang? Apa kau luka bekas luka operasi ku saja belum sembuh.”
“Masih ada cara lain, sayang! Hem?”
“Ya kau benar juga. Aku janji akan meluangkan waktu untukmu, kau tidak bisa mencari kepuasan diluar sana. Ingat itu.” ancam Deandra. “Kalau tidak, aku akan membawa kelima anakku pergi.”
“Baiklah Nyonya. Aku janji, jangan marah-marah lagi ya sayang.”
“Aku tidak marah sayang, asal kau tetap setia padaku dan anak-anak.”
“Bagiku punya satu istri saja sudah cukup. Aku tidak butuh wanita lain lagi Deandra sayang.”
__ADS_1
“Ya semoga saja. Soal wanita tadi bikin aku kepikiran.”
“Sudahlah luapkan saja. Nanti aku suruh orang untuk menyelidikinya.”
“Baik. Aku percaya padamu. Jangan pulang telat ya?”
“Iya. Lagipula malam ini aku akan berangkat ke Swiss.”
“Malam ini?”
“Iya, sayang. Apa kau lupa soal itu? Sebentar lagi aku pulang, siap-siap ya?”
“Aku akan minta Bibi Yuna menyiapkan keperluanmu.” kata Deandra.
“Hem….siapkan juga dirimu sayang.”
“Apa? Aku tidak ikut kan?” tanya Deandra.
“Bukan itu maksudku.” Verrel mengedipkan matanya menggoda Deandra.
“Dasar mesum! Ya sudah, cepat pulang. Aku mau berendam dulu sambil dipijat.”
“Nanti saja aku yang pijat. Tidak perlu memanggil si mbak untuk memijatmu.” ujar Verrel.
“Sejak kapan kau jadi mesum seperti ini, suamiku sayang?”
“Sejak aku mengenalmu. Ya sudah….siap-siap sana. Nanti aku bawakan makanan kesukaanmu.”
“Wah, terimakasih sayang. Cup Cup…..” Deandra tersenyum sumringah.
“Nanti ciumnya double kalau aku sudah dirumah. Sampai jumpa dirumah sayang.” ucap Verrel memutuskan panggilan video call.
“Frans! Datang keruanganku sekarang!” Verrel memanggil Frans melalui telepon diruangannya.
Tak berapa lama Frans mengetuk pintu ruangan dan bergegas masuk. “Ada apa Tuan?”
“Minta seseorang mengecek kerumahku siapa tamu yang tadi datang.”
“Ha? Ada tamu kerumah?” tanya Frans heran.
“Ya kata istriku tadi ada seorang perempuan datang dan membuat keributan.” kata Verrel. “Dari rekaman CCTV wajahnya tidak terlihat jelas karena dia memakai kacamata hitam.”
“Baiklah, saya akan segera selidiki. Tuan.”
“Oh ya jangan lupa siapkan semua keperluan kita berangkat malam ini.”
“Semuanya sudah siap Tuan. Saya juga sudah menerima laporan dari Wisnu dan Tim-nya. Sudah saya kirim ke email Tuan.”
__ADS_1
“Bagus! Akhirnya aku mendapatkan proyek itu dibawah harga. Heh! Katakan pada Wisnu untuk segera mengeksekusi perusahaan itu. Jangan ada yang tersisa!”