
Anak buah Jack yang bertugas menyelidiki pemilik nomor ponsel yang didapat dari Beni pun sudah berada di Singapura dan langsung menuju lokasi sesuai GPS. Lokasi berada disebuah gedung perbelanjaan dan perkantoran yang berada di daerah Chinatown. Mereka pun berpencar untuk mencari titik lokasi yang tertera di GPS, siapapun orangnya yang selalu menelepon Beni dari sana bisa diakui orang itu licik dan pandai.
Hingga salah seorang anak buah Jack menemukan titik lokasi yang tepat, dia pun menghubungi rekannya yang lain. Bersama-sama mereka menaiki tangga darurat setelah naik satu lantai melalui tangga darurat mereka melihat pintu darurat yang mengarah ke toilet. Namun tampaknya toilet itu tidak sama seperti toilet biasanya. Kenapa toilet ada penjaganya?
Dari balik dinding mereka melihat ada dua orang bertubuh tegap yang duduk didepan pintu yang tertutup itu. “Ini sangat janggal, kenapa toilet dijaga pengawal berbadan tegap?”
Salah seorang anak buah Jack yang ikut dalam tim itu adalah seorang wanita bernama Zizi. Para rekannya menoleh kearahnya seakan memintanya melakukan sesuatu. “Jangan bilang kalau kalian mau aku menggoda pengawal itu agar menyingkir ya.” ujar Zizi.
“Sepertinya kau tidak punya pilihan! Kita tidak mungkin masuk kesana dan langsung menghajar mereka, bawa kedua pengawal itu menjauh dari pintu agar kami bisa masuk.”
Tanpa pikir panjang, Zizi melepaskan celana jeans hitam yang dipakainya, dibalik celana jeans itu ternyata dia memakai hot pants bahan kulit lentur. Zizi pun melepas tiga kancing kemejanya sehingga menunjukkan kemulusan dadanya dan mengikatkan kedua ujung bawah kemejanya hingga menunjukkan bagian perutnya yang putih mulus.
Rambutnya digulung keatas seadanya, tampilannya seksi layaknya anak ABG. Perlahan dia melangkah menuju “toilet” dengan berpura-pura lemas. Kedua pengawal yang sedang berbincang melemparkan pandangannya kearah Zizi yang berjalan mendekat. Mata keduanya nyalang menatap seorang gadis cantik nan seksi yang sepertinya sedikit mabuk. Sebelumnya Zizi memang minum bir sebelum berangkat namun dia tidak mabuk.
“Excuse me, miss! Are you okay?” tanya seorang pengawal.
“Hemmm……?” Zizi pura-pura tak mendengar dan memegang dinding seakan dia mau jatuh.
“Are you drunk? Let me help you, where do you want to go?” (Apakah kamu mabuk? Biarkan aku membantumu, kamu mau pergi kemana?”
__ADS_1
“Toilet…...yeah…..toilet…..I need to use the toilet! I’m feel awful.” jawab Zizi. (Saya mau ke toilet. Aku merasa kurang enak badan) satu tangannya memijit pelipisnya.
“There’s no toilet here. You not allowed to enter this area. It’s probihited.” ujar pria itu dengan mata tajam tapi selalu melirik kebagian dada Zizi yang terekpos. Saat kedua pengawal itu hendak menarik Zizi keluar, tiba-tiba gadis itu mencium seorang pengawal membuat mereka kaget. Dengan cepat Zizi menggesekkan tubuhnya ketubuh pria kekar itu.
Kedua pengawal saling tatap dan memberi kode lalu membawa Zizi menjauh dari area itu. Saat melihat aksi Zizi berhasil, anak buah Jack yang lainnya pun mendekat dan mendapati pintu itu dikunci dengan password. Seorang anggota tim yang ahli IT bergerak cepat menjebol kode pintu.
Saat mereka masuk kedalam ruangan itu, tempat itu kosong melompong dan tampak remang pencahayaan. Kelima pria itu terus melangkah masuk melalui loorng yang panjang hingga mereka tiba di sebuah pintu besar terbuat dari besi. Lagi-lagi pintu itu terkunci memakai password namun mereka berhasil menjebol password dan pintu terbuka. Saat membuka pintu terlihat tangga yang mengarah keatas, mereka mengikuti anak tangga hingga sampai pada pintu yang bagian atasnya terbuat dari kaca.
Mengamati keadaan dibalik pintu itu, tampak kesibukan dari beberapa orang yang masing-masing duduk didepan komputer. Ada sekitar limabelas orang pria, tidak tampak seperti orang kantoran biasa karena pria-pria itu bekerja dengan pakaian kasual dan ada juga yang memiliki tato.
Setelah berdiskusi sebentar akhirnya ke lima pria itu menerobos masuk yang mengejutkan semua orang didalam ruangan itu. Perkelahian pun tak dapat dielakkan, ke lima belas pria mengeluarkan senjata tajam dari meja kerja mereka. Dua orang anak buah Jack terluka akibat sabetan samurai, sedangkan kelima belas pria yang berada dalam ruangan itu babak belur dihajar.
Mendengar ucapan Zizi, sontak kedua pengawal itu saling bertatapan dengan seringai diwajahnya. Zizi melepaskan kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang sintal. Kedua pengawal itupun terbuai dengan gerakan tubuh Zizi yang mulai menggesekkan tubuhnya, dengan gerakan cepat tangan wanita itu menarik kepala kedua pengawal lalu menancapkan jarum perak dibagian tengkuk mereka, membuat kedua pria itu terkejut.
Zizi menotok urat saraf dibagian tengkuk kedua pengawal itu menggunakan jarum perak, terlihat kedua pria itu melototkan mata terlihat marah. Keduanya mulai terhuyung berusaha untuk tetap berdiri namun sial tak dapat dihalang, semakin mereka melawan maka semakin sakit yang dirasakan. Totokan Zizi menghentikan aliran darah keotak pria itu. Salah satu pengawal itu mengulurkan tangan ingin menangkap Zizi namun tubuh keduanya langsung ambruk ke lantai.
Ekspresi kedua pria itu seperti menahan sakit, “Selamat menikmati malam panjangmu disini, bye.” ujar Zizi melangkah pergi lalu menutup pintu ruangan itu. Dengan cepat gadis itu berlari mencari keberadaan rekan-rekannya. Saat dia sampai disana, dia melihat rekannya sudah berhasil melumpuhkan ke limabelas pria diruangan itu. Tampak seorang rekannya sedang sibuk mengutak-atik komputer mencari data penting, sementara yang lainnya terus melanjutkan pencarian.
“Cepat pergi dari sini! Ada yang sedang mengarah kesini.”
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan dengan orang-orang ini?” tanya Zizi.
“Lakukan sesuai perintah Jack!” tanpa pikir panjang, salah seorang pria yang berkepala plontos menngeluarkan pistol dari balik bajunya lalu mulai menembak kelima belas pria itu. Dalam sekejap ruangan itu dibanjiri darah, lalu semua anak buah Jack pergi meninggalkan ruangan itu. Dua orang anak buah Jack yang terluka akibat sabetan samurai pun dipapah melalui jalan keluar dibagian lain.
Tak berapa lama tampak beberapa orang menendang pintu ruangan dengan mata melotot melihat penampakan mengerikan diruangan itu. “Shit! Kurang ajar!”
“……..” mata mereka memandang ngeri melihat mayat-mayat yang tergeletak dalam ruangan.
“Mereka mencuri data-data penting!” teriak seorang pria saat memeriksa komputer. Salah satu pria mengeluarkan ponsel dari saku lalu menghubungi atasan mereka. “Tuan Sandi, semua anak buah kita terbunuh!”
“Apa?” teriak pria bernama Sandi. “Kalian semua tidak becus! Cepat cari tahu siapa orang-orang itu! Pastikan mereka tidak bisa keluar dari negara ini.”
“Baik Tuan. Kami laksanakan sesuai perintah Tuan.”
“Awas kalau kalian gagal! Bersihkan tempat itu segera dan amankan semua data yang data.”
“Hmmm…..maaf Tuan sepertinya mereka berhasil meretas sistem dan mengambil data-data penting.” ujar pria itu lagi.
“Arggggg! Sial! Brengsek!” teriak Sandi semakin marah. “Cepat tangkap orang-orang itu dan dapatkan kembali data yang mereka curi!”
__ADS_1