TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 120. KAU CUCUKU !


__ADS_3

Tanpa basa-basi Deandra menurut.  Sudah beberapa hari dia merindukan saat-saat ini, ia menjatuhkan diri kedalam dekapan suaminya.  “Aku merindukanmu Verrel,” tangisnya kembali pecah saat Verrel mendekapnya erat.  Mengecup puncak kepalanya berulang-ulang dan mengelus punggungnya dengan lembut.


“Maafkan aku, sayang.  Maafkan aku.” airmata Verrel pun mengalir.  Membuatnya semakin mengeratkan pelukannya.


“Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Verrel. Jangan pergi lagi.  Aku tidak sanggup menjalani hari-hariku tanpamu.” Deandra menumpahkan semua perasaannya yang tersiksa beberapa ahri ini.  Tanpa adanya pria itu disisinya dia merasa hidupnya sangat hampa.  Hari-harinya berubah tak ceria seperti dulu.


Dia teringat, setiap malam dia sulit tertidur dan saat dia tertidur dia selalu terbangun karena merindukan dekapan suaminya.


“Maafkan aku, sayang. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.  Aku akan selalu membawamu kemanapun aku pergi, aku janji.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Deandra meraung mendengar janji Verrel, ia pun menggangguk sebelum akhirnya hanyut dalam dekapan hangat pria yang dicintainya.  Tak lama Deandra pun terlelap.  Napasnya berubah menjadi teratur dan tangannya mencengkeram erat pakaian Verrel seolah ia tak ingin kehilangan jika tak melakukannya.


Hati Verrel menghangat.  Ia pun mengeratkan pelukannya agar istrinya tenang.  Ia tak bisa memungkiri bahwa ia terusik dengan mimpi yang membuatnya membuka matanya.  Perlahan satu tangannya turun ke perut buncit Deandra dan mengelusnya.  Dia merasakan getaran yang membuatnya tersentak.  Ia ingin lama-lama menyentuhnya dan gumaman Deandra membuat perasaan pria itu meledak dalam kebahagiaan yang tak terukur dengan harta benda.  Getaran itu membuat tangannya kembali mengelus perut istrinya, hatinya merasa sangat tenang.  Tak ingin ia memindahkan tangannya dari perut istrinya.


Dia pun mendekap erat sang istri agar wanita itu tak beranjak dari sisinya meski hanya sebentar saja.  “Aku mencintaimu istriku.”


“Kecupan-kecupan dari bibir Verrel menghujani puncak kepala Deandra yang bergumam tak jelas, seraya menjawab ucapan cinta suaminya “Aku juga mencintaimu suamiku.  Kau tak tahu bagaimana sedihnya aku saat mendengar berita itu.”


“Berjanjilah kau tidak akan membuatku menangis lagi seperti itu.  Janji kau akan selalu bersamaku selamanya.” kata Deandra mencium bibir suaminya.


“Aku berjanji! Aku akan selalu bersamamu selamanya.” kata Verrel mengucapkan janji yang terpatri didalam hatinya.  Tak ada yang bisa mengubah janji itu kecuali takdir.


Deandra yang sedang menemani suaminya dikamar mewah itu, dia masih belum mengerti bagaimana bisa Verrel ada disana karena belum ada siapapun yang bercerita padanya.  Mungkin karena semua orang masih fokus pada kesembuhan Verrel. Sebuah tangan besar berotot menggenggam tangan menyadarkan Deandra dari lamunan. “Ah...”


“Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?” tanya Verrel.


“Hm...tidak ada.  Aku hanya sedang berpikir bagaimana kau bisa berada disini dan kenapa pesawat itu bisa jatuh.” kata Deandra.


“Mungkin nanti akan aku ceritakan semuanya, ok. Kau tak perlu risau, aku baik-baik saja.” ucap Verrel mengelus pipi istrinya dan mencubitnya gemas.


“Issshhh….sakit. Aku sekarang jelek ya?”


“Siapa yang bilang istriku jelek?” tanya Verrel.


“Badanku sudah gemuk, pinggangku hilang, lihat pipiku gembul seperti bakpau,” ucapannya membuat Verrel tertawa terbahak-bahak. Dia mengakui pipi istrinya memang seperti bakpau makin menggemaskan tapi kalau dia bilang, pasti Deandra akan merajuk.  Tapi bukan Verrel kalau tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda istrinya.


“Coba aku lihat. Hmm….ya badanmu sedikit gemuk tapi sepertinya empuk ya,” sambil melirik istrinya yang membelalakkan mata, “Pinggang masih ada, tidak hilang tapi makin padat, nah kalau pipi memang persis bakpau….aku suka makan bakpau, enak dan lembut.” ucapnya mengedipkan mata menggoda Deandra yang merona.


“Ini pipi, Verrel! Bukan bakpau.” bibirnya mengerucut. Yuna yang masuk dan mendengar percakapan majikannya ikut menahan tawa melihat wajah Deandra yang lucu.


“Kenapa Bibi Yuna? Mau ketawain aku ya?” tanya Deandra kesal saat melihat Yuna menahan tawa.


“Maaf, nyonya. Saya hanya ingat waktu Tuan masih kecil, jika dia merajuk wajahnya persis seperti wajah nyonya tadi,”


Deandra terdiam dan melipat tangan didepan dada.  Verrel tersenyum melihat tingkah istrinya yang lucu. Mungkin bawaan janin, pikirnya.  Tapi anakku kembar sepasang, apa nanti anakku akan bertingkah seperti itu? Tanya Verrel bergumam.


“Oh...maaf Tuan, Nyonya. Saya sampai lupa, ini saya bawakan makanan kesukaan Nyonya.”


“Terimakasih Bibi Yuna! Ahh…..aku jadi lapar.” dengan cepat tangannya meraih rantang yang dibawa oleh Yuna.


“Kurasa lebih baik cucumu tetap disini sampai dia sembuh. Biarkan saja semua orang berpikir kalau dia hilang atau meninggal. Tidak ada orang lain yang tahu dia ada disini.”

__ADS_1


“Ya, aku setuju.  Sampai semua bukti-bukti sudah terkumpul dan pelakunya tertangkap. Oh,iya aku senang kita berteman seperti dulu lagi.” ucap Yahya. 


“Sama. Aku juga senang.”


Keduanya diam sejenak, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Apakah menurutmu aku bisa bicara dengannya sekarang?” tanya Viktor pada Yahya.


“Ya, kupikir itu lebih baik. Kau bisa temui dia.” kata Yahya.


Kedua pria tua yang kini sudah berdamai, jangan sampai kesalahpahaman menghancurkan sebuah persahabatan. Viktor dan Yahya melangkah memasuki kamar dimana Verrel dirawat, dia tersenyum melihat bagaimana Deandra dan Verrel berinteraksi.


“Maaf kalau mengganggu kalian,” ucap Viktor. Deandra dan Verrel membalas dengan senyuman.


“Opa belum sempat mengenalkan kalian, ini Viktor. Dia teman Opa sejak kecil.”


“Senang bertemu dengan anda, Tuan Viktor.” jawab Verrel dan Deandra bergantian.


“Lihatlah betapa kakunya mereka,” canda Viktor. Kedua orangtua itupun tersenyum.


“Panggil saya kakek atau Opa,” kata Yahya.


Viktor mengalihkan pandangannya ke Deandra, dia menatapnya tanpa berkedip dan penuh kelembutan, ada desiran didalam hatinya.  Verrel tidak menyukai cara Viktor memandang istrinya sepertinya itu.  Dia merasa aneh, melihat pria tua itu menatap Deandra dengan penuh kerinduan.  Yahya yang melihat Verrel menunjukkan ketidaksukaan pun segera mencairkan suasana.


“Verrel. Ada hal yang ingin ditanyakan Viktor pada istrimu.”


“Hal apa Opa?”


“Benarkah namamu Deandra Ailsie, Nak?”


“Iya, benar kek.  Ibuku yang memberi nama itu,” ucap Deandra. 


“Oh begitu. Bolehkah saya bertanya sesuatu?”


“Silahkan. Ada apa ya kek?”


“Siapa nama ibumu?”


Deandra terkejut kenapa tiba-tiba pria itu menanyakan nama ibunya? Apakah pria ini tahu atau mengenal ibuku? Pikirnya.


“Kenapa kakek menanyakan nama ibuku, ya?”


“Hmm….begini. Wajahmu sangat mirip dengan seseorang.”


“Oh...apakah kakek sedang mencarinya?” tebak deandra.


“Ya, sudah lama tapi saya belum ketemu. Apakah saya boleh tahu nama ibumu?”


“Baiklah.  Nama ibuku Anastasia.” jawab Deandra.


“Anastasia? Apa nama lengkapnya?”

__ADS_1


“Hanya Anastasia, tidak ada nama lain,” kata Deandra sambil mengeryitkan dahinya.


“Oh!” Viktor terdiam sejenak. Lalu memandang Yahya. “Dulu saya punya anak perempuan, namanya Berliana Anastasia Hutama. Wajahnya sangat mirip denganmu. Bahkan namamu pun sama dengan nama almarhum istriku.” kata Viktor dengan raut wajah sedih.


“Sejak kamu disini, saya tidak pernah melihat orangtuamu datang mengunjungi menantunya,”


“Orangtua saya sudah meninggal saat saya umur empat belas tahun.”


“Lalu kamu tinggal dengan siapa?”


“Dengan paman dan tante.” jawab Deandra.  “Kek, boleh saya lihat foto putrinya kakek?”


“Ya...boleh...boleh.” kata Viktor sambil mengeluarkan foto dari saku jasnya, lalu memberikan pada Deandra.  Dia mengambil foto itu dari tangan Viktor dan membalikkannya.  Mulutnya menganga melihat foto seorang wanita cantik.


“I---ini. Ke—kenapa foto ibu ada padamu?” tanya Deandra tergagap.


“Ibu? Ibumu?” tanya Viktor terkejut.


“Iya. Ini mirip ibu, aku juga punya foto yang sama.” kata Deandra lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri ponsel lalu menunjukkan foto ibunya yang disimpan di ponselnya.  Foto yang sama dengan foto yang diberikan Viktor.


“Apakah benar----? Tapi ibu bilang kalau ibu tidak punya keluarga.” kata Deandra.


“Siapa nama ayahmu?”


“Radhitya,”  jawab deandra. sambil mengambil sebuah foto yang disodorkan oleh Viktor.


“Apakah kau mengenal laki-laki di foto itu?” menatap foto ditangannya, Deandra meneteskan airmata, “Ini ayahku.” jawabnya terisak.


“Jadi kau adalah cucuku?” tanya Viktor terharu menatap Deandra.  Pertemuan tak disengaja atau takdir yang mempertemukannya pada cucunya.  Bertahun-tahun dia mencari putrinya namun usahanya gagal, dia malah bertemu dengan cucunya. Suasana diruangan itu mendadak hening dipenuhi rasa haru, semua saling menatap tak percaya.


“Sayang, kau masih punya keluarga,” kata Verrel menggenggam tangan deandra.  Viktor mendekat lalu memegang bahu Deandra yang terisak.  Apakah mungkin dia kakekku? Tapi dia merasakan jika Viktor bukan orang asing baginya. Dia melepaskan genggaman Verrel lalu memeluk Viktor. “Kakek,”


Viktor memeluk cucunya, airmatanya menetes.  Dia tidak bisa bertemu dengan putrinya yang hilang namun dia malah dipertemukan dengan cucunya. “Terimakasih, Tuhan.” ucapnya mensyukuri. Jika waktu itu dia tidak menolong Verrel, mungkin dia tidak akan bertemu Deandra.


“Kau lihat, Yahya. Takdir mempertemukanku dengan cucuku yang tak pernah kukenal.”


“Dan cucumu adalah cucu mantuku. Apakah ini takdir atau kebetulan?” tanya Yahya.


“Ini takdir yang indah, Yahya. Kau ingat dulu kita pernah ingin menjodohkan anak-anak kita?’


“Ya, dan aku bersyukur putrimu menolak putraku saat itu. Kalau tidak, entah seperti apa nasibnya.” kata Yahya menghela napas.


“Tapi sekarang cucu kita yang berjodoh.  Keinginan kita dulu terwujud Yahya,”  rasa bahagia antara dua keluarga. “Aku sudah bisa mati dengan tenang, Yahya.” ucapnya dengan senyum.


“Kenapa kau selalu mau mati! Kau baru bertemu dengan cucumu, tak lama lagi cicit kita lahir, apa kau tidak mau hidup lebih lama lagi melihat mereka?” ujar Yahya menepuk bahu sahabatnya itu.  “Akhirnya keluarga kita bersatu juga Viktor. Itu artinya kau tidak boleh kembali ke Belanda.”


“Ya, betul. Aku akan menetap disini. Verrel jagalah cucuku dengan baik, aku percayakan dia padamu.”


“Apakah kau akan mempercayakan perusahaanmu padanya juga?” canda Yahya.


“Ha...ha….ha...kau masih sangat ambisius Yahya. Tapi, itu adalah milik cucuku.”

__ADS_1


__ADS_2