TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 137. JEBAKAN RIAN CORDINO


__ADS_3

“Selamat pagi, Pa.  Kok papa sudah rapi. Mau kemana?” tanya Andini heran melihat suaminya yang sudah rapi dan duduk di meja makan untuk sarapan.


“Bukankah mama berangkat ke Turki hari ini? Papa yang antar ke airport.”


Mendadak tenggorokan Andini tercekat, sebenarnya dia tidak pergi ke Turki.  Bagaimana ini? Akhirnya dia meraih ponsel dan mengirim pesan pada seseorang.  Tak menunggu lama, pesan balasan masuk dan Andini tersenyum puas.


“Baiklah. Selesai sarapan, kita langsung berangkat ya Pa,”ucapnya.


Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di bandara, Andini hanya membawa satu koper besar.  Lalu dia berjalan masuk menuju kaunter check in. “Pa, antriannya masih panjang.  Papa, nggak usah nunggu ya. Mama akan telpon papa sebelum boarding nanti.”


“Kamu yakin nggak mau ditungguin?” tanya Amran memperhatikan antrian yang cukup panjang.


“Iya, Pa.” Lalu Andini mencium suaminya dan mereka berpisah.  Lima belas menit kemudian, setelah Andini merasa aman dia mengedarkan pandangan sekeliling untuk memastikan jika Amran sudah tidak ada disana lagi.


Wanita itu keluar dari antrian dan berjalan keluar dan menaiki taksi yang sudah menunggu didepan pintu masuk. Sebuah mobil warna hitam yang mengikutinya sedari rumah dan terus merekam semuanya, mobil hitam itu mengikuti taksi yang ditumpangi Andini hingga sampai didepan rumah yang ditempati Rian. Seperti biasa rumah itu terlihat sepi tanpa penghuni.


Menarik koper besarnya, saat hendak menekan bel pintu langsung terbuka seakan si pemilik rumah sudah tahu kedatangannya.  Begitu Andini masuk, Rian menatap kearah mobil hitam yang berhenti diseberang rumahnya lalu memberi isyarat tangan.  Mobil itupun pergi.


“Apa suamimu tidak curiga?”


“Tidak. Dia selalu percaya padaku dan tak pernah menolakku.” ujar Andini bergelayut di lengan kekar pria paruh baya itu. “Kapan kau akan mulai beraksi? Aku sudah tidak sabar, aku tertekan dengan semua masalah beruntun ini.” ucapnya dengan wajah memelas, setetes airmata jatuh.  Andini tak sadar jika pria yang itu bukan Amran yang mudah dibohongi.  Rian adalah pria yang dengan mudah bisa menilai seseorang. Dengan mudahnya dia menjebak Andini.


“Mungkin beberapa hari lagi. Aku sedang menunggu kedatangan seseorang yang akan membantuku. Kau tahu kalau aku tak suka mengotori tanganku sendiri, apakah kau sudah siap?”

__ADS_1


“Ya, sudah. Sesuai perjanjian kita, aku akan tinggal disini selama dua minggu.” jawab Andini senang, dia tahu dia bisa mengandalkan Rian. Tapi banyak hal yang dia tak ketahui tentang Rian.


“Masuklah ke kamar.” seringai licik Rian mengiringi Andini yang menyeret kopernya menuju sebuah kamar yang sudah disiapkan Rian untuknya.


...*...


Disalah satu ruangan dirumah itu yang terletak dibagian belakang.  Melalui sebuah taman yang luas yang ada kolam ikan.  Ada sebuah paviliun yang didalamnya ada dua kamar luas, paviliun itu terlihat lebih besar dari rumah utama.  Rian berada didalam ruangan remang-remang bersama seseorang.  Keduanya terlihat berbicara dengan serius. “Dia sudah disini.  Apa yang harus aku lakukan sekarang.”


“Jalankan sesuai rencana.  Oh ya. Suruh anak buahku untuk kirimkan video itu ke Andini.  Ini masih awal, kita lihat bagaimana wanita ular itu akan terjerat dalam perangkap yang kita buat.”


“Apa kau tidak mau, hu?” tanya Rian mendengus.


“Cih….wanita kotor itu tak pantas untukku.….ha...ha….ha. Aku mau lihat harga dirinya hilang. Jangan lupa rekam semua aktivitas itu. Paham?”


“Baik. Bos, akan aku laksanakan. Aku pergi dulu, dia sudah menungguku….ha….ha.”


Pria itu berumur empat puluh delapan tahun, gagah dengan tatapan tajam.  Tiba-tiba tatapan matanya nanar memandangi beberapa foto dilayar laptop. “Sebentar lagi semua yang kau miliki akan lenyap Andini, sebagaimana dulu kau mengambil semua milikku. Kupastikan kau akan merasakan neraka dunia yang takkan kau lupa seumur hidupmu.”


...*...


Darma Pangestu, dua puluh lima tahun lalu sesuatu yang buruk menimpanya. Harta paling berharga dihidupnya terenggut oleh ambisi Andini yang ingin memiliki pria itu. Darma seorang pengusaha berwajah tampan, menikah dan memiliki seorang anak yang masih berumur dua tahun.  Andini bekerja sebagai sekretaris dikantor Darma, ketampanan pria itu membuat Andini terpesona dan ingin memilikinya.  Masa itu Andini masih muda dan cantik, bekerja di kantoran hanyalah kedok untuk mendekati pria-pria kaya.


*Visual Darma Pangestu

__ADS_1



Darma adalah tipe pria yang setia, dia tidak tertarik pada kecantikan dan kemolekan tubuh Andini. Berbagai cara dilakukan wanita itu untuk membuat Darma jatuh ke pelukannya, Andini merasa tertantang karena biasanya para lelaki akan mudah jatuh dipelukannya, tapi berbeda dengan Darma.  Dengan terang-terangan pria itu menolak Andini bahkan memecatnya dari kantor.  Andini tak terima, dia membuat satu rencana busuk untuk menghancurkan kebahagiaan Darma.


Andini membayar orang untuk merusak rem mobil yang dikendarai istri Darma. Kecelakaan tragis merenggut nyawa istri dan anaknya yang masih kecil.  Tak cukup itu saja, dengan uang Andini bahkan memalsukan semua bukti sehingga Darma menjadi tersangka atas kecelakaan itu.  Masih merasa belum cukup, Andini bekerja sama dengan dua orang staff di perusahaan Darma, memalsukan dokumen dan tangan tangan pria itu, mengambil uang dari rekening perusahaan sehingga Darma dituduh korupsi dan penggelapan dana proyek. 


Dengan dua kasus beruntun itu, Darma harus mendekam dipenjara selama lima belas tahun.  Untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.  Kini dia kembali untuk membalaskan dendam atas kematian istri dan anaknya serta hancurnya perusahaan yang dia bangun dengan susah payah.


Setelah keluar dari penjara, Darma bertemu dengan seseorang yang memberinya pekerjaan.  Selama lebih sepuluh tahun dia tinggal di luar negri, bekerja keras dan bangkit untuk menunggu waktu yang tepat membalaskan dendamnya. Kini dia sudah kembali ke tanah air, tepat disaat Andini diterpa masalah bertubi-tubi.  Darma menyiapkan perangkap, persis seperti yang dulu dilakukan Andini padanya.  “Aku ingin lihat bagaimana reaksimu saat kau berhadapan denganku nanti! Akan kukirim kau ke penjara paling kejam yang membuatmu tak ingin melihat hari esok.” seringai menakutkan dan tawa menggema diruangan itu. 


Sementara di kamar depan, Andini dengan mata ditutup kain dan kedua tangan terikat diujung ranjang. Posisinya telungkup, dua orang pria dengan menyeringai menatap wanita itu dengan penuh amarah. “Rian, kenapa harus menutup mataku?” tanya Andini.


“Aku ingin memberimu pengalaman yang beda,” seru Rian menyeringai licik lalu melirik pria di sampingnya. Dengan isyarat anggukan, pria bertubuh besar itu mendekat dan menindihnya.  Wanita itu merasa sesak, “Rian, kenapa kau terasa berat.”


“Aku makan banyak beberapa hari ini, kurasa berat badanku naik,” ucap Rian tersenyum.


Dengan kasar pria bertubuh besar itu menghentak membuat Andini yang terkejut lalu berteriak.  Tanpa aba-aba dan tanpa pemanasan terlebih dahulu pria itu mencumbunya dengan kuat dan dia tak peduli pada rintihan kesakitan Andini, perlahan rintihan itu berubah menjadi ******* sesaat setelah Rian menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. 


Rian meninggalkan kamar itu, dua orang pria lainnya duduk di kursi di ruang tamu.  Begitu melihat Rian keluar dari kamar, kedua pria itupun masuk kedalam kamar dan menggangguk pada Rian. Andini di gilir oleh ketiga pria itu tanpa dia sadari, pengaruh obat yang disuntikkan Rian memaksa tubuh Andini untuk memenuhi hasrat yang memuncak.  Andini kehilangan kewarasannya mendesah dan berteriak penuh kenikmatan. Hampir empat jam ketiga pria itu menggilirnya, tubuhnya luruh tak berdaya terhempas berulang kali.


Ketiga pria itu duduk kembali sambil menyesap kopi sembari menatap layar laptop yang memutar ulang adegan yang direkam, seorang pria berumur tiga puluhan terlihat mengedit video tersebut hingga wajah ketiga pria tidak terlihat. Kini hanya wajah Andini yang terekspos dengan suara ******* dan permohonan untuk dipuaskan. 


“Besok kalian bawa dia ke villa di puncak. Suruh yang lainnya kesana,” perintah Rian.

__ADS_1


“Bagaimana kalau dia menolak dan berontak?”


“Gampang, tinggal kalian suntik saja dia.  Pokoknya, selama dua minggu ini pastikan semua rekaman lengkap beserta tanggal dan jam.  Harus ditempat yang berbeda dan orang yang berbeda.” kata Rian lagi dengan senyum puas. “Mampus kau Andini, kau pikir aku yang memberimu kenikmatan...ha...ha...ha….ha…..bodoh!”


__ADS_2