
Rico yang mendengar berita tentang ibunya tak bisa menahan kesedihan. Hidupnya benar-benar hancur berkeping-keping apalagi saat pengacaranya datang menemuinya kemarin untuk memberitahunya tentang hasil tes DNA yang sudah diumumkan ke publik membuat Rico semakin terpuruk, sudah hilang semua harapannya untuk bisa menjadi salah satu ahli waris keluarga Ceyhan. Kini sang ibu juga meninggal dunia karena bunuh diri, sementara istrinya sudah tak datang lagi menjenguknya, sang ayah entah kemana tak ada kabar.
Pria itu tak mampu lagi membendung airmata kesedihannya, seakan runtuh dunianya seketika semua yang dimilikinya terampas dengan paksa. Menyesal dan menangisi nasib sudah tak ada gunanya lagi, nasi sudah jadi bubur. Hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini. Kini dia bukan siapa-siapa lagi tanpa dukungan sang ibu dan nama Ceyhan yang disandangnya karena bersamaan dengan pengumuman hasil Tes DNA nama Rico Davion Ceyhan tak bisa lagi di sandangnya karena dia bukan keturunan Ceyhan. Yahya dan Verrel tak memberi ampun dan belas kasihan lagi pada mereka dan pada siapapun yang mengganggu keluarganya.
...*...
Keesokan harinya keluarga Ceyhan pergi ke makam Andini untuk memberi penghormatan. Para pengawal sudah bersiap menjaga keamanan keluarga itu. “Sudah siap?” tanya Verrel berdecak kagum melihat penampilan istrinya yang cantik dan menarik perhatian, Deandra mengenakan dress hitam sepanjang dibawah lutut dan sepatu hitam. Rambutnya diikat kepang kuda diberi pita dan riasan warna natural. Dan pandangan Verrel yang terpesona melihat tubuh istrinya yang lebih montok dari sebelumnya.
“Aku akan selalu ada didekatmu sayang.” bisik Verrel yang memeluk istrinya dari belakang. Kedua tangannya memeluk pinggang Deandra penuh kelembutan. Saat menerima perlakuan seperti itu Deandra tersenyum bahagia dan dia meletakkan tangannya diatas tangan Verrel.
“Kau tak pernah puas berada didekatku, hm?” tanya Deandra. “Setiap malam kau memelukku dan menempelkan mulutmu disana seperti anak bayi.”
Sontak membuat Verrel malu dan salah tingkah. Setiap malam dia selalau menunggu istrinya tertidur pulas baru melancarkan aksi barunya, layaknya Nathan dan Naomi.
__ADS_1
“Kau tahu, sayang?”
“Ya, pasti aku tahu, Verrel. Bibir tebalmu dan hangat napasmu selalu membuatku tenang dan nyaman. Tapi kadang kau tak sadar menggigit keras.” Deandra tak berbohong soal itu, karena kadang saat dia lelap dia merasa sakit dan membuka matanya melihat wajah Verrel di dadanya. Dia membiarkan saja suaminya bertingkah seperti itu.
“Kalau begitu, aku takkan menggigitnya lagi.” kata Verrel tersenyum karena kebiasaan barunya sudah ketahuan sang istri.
Verrel mengulum senyum dan melabuhkan kecupan di leher jenjang istrinya yang mulai mendesah. “Verrel, hentikan. Kita harus turun sekarang. Opa dan mama sudah menunggu kita.”
Saat mobil mereka sudah sampai di pemakaman, suasana sangat sepi. Verrel menuntun istrinya agar berjalan pelan-pelan. Ia memastikan agar sang istri merasa aman dan nyaman. “Jangan cepat-cepat jalannya sayang, nanti kau jatuh tersungkur.” gerutu Verrel untuk yang kesekian kalinya. Sedangkan Yahya meledek tingkah Verrel yang berlebihan yang membuat Deandra malu “Kau sudah punya dua anak, tak perlu takut lagi istrimu takan eprgi kemana-mana.” kata Yahya. Akhirnya mereka tiba di makam baru milik Andini. Tampak seorang pria tersungkur disana dengan penampilan berantakan.
“Sayang, ayo sana sapa papa?” bisik Deandra pelan. Dia perhatikan bahwa suaminya tak ada niat sama sekali untuk menyapa sang ayah yang terdengar menangis.
Yahya dan Ayu yang berdiri dibelakang Verrel hanya terdiam melihat pemandangan didepan mereka. Hening, tak ada yang ingin memulai untuk menyapa Amran, hanya suara Amran yang terdengar sedang berbicara sendiri dengan pakaian yang kotor, sepertinya dia semalaman berada dimakam itu. Astaga! Ayu yang baru pertama kali melihat Amran menangis pun terkejut.
__ADS_1
Sejak mereka menikah, Amran selalu menunjukkan sikap yang tegas, ego tinggi bukan sikap lemah seperti yang nampak sekarang. “Meskipun dia sudah tak ada kau masih saja menangisinya. Begitu besarnya cintamu padanya, Mas Amran?” gumam Ayu dalam hati. Pria yang masih belum menceraikannya hingga sekarang itu tampak berbeda dari Amran yang biasanya.
“Ayu...jangan bersedih melihat Amran. Papa tadi sudah bilang kalau kau harus kuat jika bertemu dengan Amran.” bisik Yahya lirih, dia mengingatkan sang menantu agar tak usah memikirkan dan mempedulikan putranya itu lagi. Sebagai seorang ayah, Yahya pun sudah pasrah. Meskipun sulit namun Ayu berkata “Iya, Pa. Aku mengerti maksud baik papa.”
Dia sudah memaafkan suaminya, karena untuk bisa menjalani hidup yang tenang kita harus memaafkan dan berdamai dengan masa lalu sepahit apapun itu. Itulah alasannya dia ikut ke pemakaman. Orang yang dulu sudah menghancurkan keluarganya toh sudah tak ada lagi. Biarlah memaafkan semua kesalahannya agar Andini bisa tenang dialam sana.
Yahya dan Ayu berjalan mendekati Amran. Merasa ada orang dibelakangnya, Amran menoleh dan menatap Yahya dan Ayu bergantian. Tatapan mata Amran kosong seperti jiwanya yang kosong setelah kepergian istri kesayangannya itu. Rasa iba menyesakkan dada Ayu melihat pria yang dulu pernah membuatnya tersenyum, setidaknya Ayu pernah merasakan kehidupan bahagia bersama Amran selama lima tahun. Saat ini Ayu sudah tak memikirkan tentang Amran, dia sudah memilih untuk mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya untuk merawat kedua cucunya. Amran mendekati Ayu dan langsung memeluknya sambil menangis meraung-raung. Amran meracau tak terkendali dan mengeratkan pelukannya.
Ayu berusaha melepaskan diri namun Amran memeluknya sangat erat. Ayu hanya terdiam dalam pelukan Amran. Rasa hangat memnuhi hatinya, ternyata memaafkan seseorang itu tidaklah semudah mengucapkannya karena saat ini dia merasa puas atas apa yang dialami oleh Amran. Rasa sakit yang dirasakan Amran saat ini sama seperti rasa sakit yang dulu Ayu rasakan saat dia harus kehilangan suaminya yang lebih memilih wanita lain.
Sejak dari pemakaman tadi, Ayu selalu tersenyum, hatinya merasa lega dan tak ada airmata yang menetes diwajahnya. Kini bahunya terasa ringan karena beban yang menghantuinya selama bertahun-tahun kini hilang begitu saja tak menyisakan bekas sedikitpun. Akhirnya mereka membawa Amran pulang kerumah utama melihat keadaannya yang mengenaskan, bagaimanapun juga dia adalah putra Yahya dan bagian dari keluarga itu.
Amran yang terlihat kacau dan bagai orang hilang ingatan itupun dibawa masuk kedalam rumah. Yahya memerintahkan beberapa pengawal untuk menuntun Amran kedalam kamar. Ayu dan beberapa pelayan membersihkan tubuh Amran yang kotor berlumpur dan tak terawat. Sangat berbeda dengan penampilannya dua hari lalu saat datang kerumah utama bersama Andini. Saat ini penampilannya sangat mengerikan dan dia tak henti meracau entah apa yang dia ucapkan tak seorangpun yang mengerti.
__ADS_1
“Kenapa kau bisa jadi seperti ini? Apa kau sejak kemarin ada di pemakaman?” tanya Ayu saat mengganti pakaian Amran yang terus menangis dan kadang tertawa.
“Andini….sayang aku akan datang padamu. Jangan tinggalkan aku.” Ayu menghentikan tangannya saat Amran menyebut nama wanita itu lagi. Hatinya sudah tak merasa sakit bahkan tak merasakan perasaan apapun lagi. Ia hanya merasa iba melihat kondisi Amran itu. Setelah selesai memakaikan baju, pelayan membantu Ayu membaringkan tubuh Amran diatas ranjang lalu mereka keluar meninggalkan pria itu sendirian di kamar. Samar-samar masih terdengar suara tangis dan tawa kencang Amran saat Ayu menutup pintu kamar.