TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 38.PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Andini yang bersikeras untuk mendatangi rumah Verrel mulai memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya, jika mungkin untuk mencegah pernikahan itu terjadi. Baik Amran dan Andini pun masih terus membahas soal pernikahan Verrel, bahkan sampai ketempat tidur, sepertinya mereka tidak suka jika Verrel menikah.


"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Biarkan saja anak sialan itu mau buat sesuka hatinya. Tidak perlu dipikirkan, lebih baik kita memikirkan tentang Rico.” ucap Amran mengalihkan topik pembicaraan. 


Setelah mendengar rencana istrinya untuk menjodohkan Rico dan Iva, pikiran Amran pun dipenuhi berbagai rencana yang bisa dilancarkan agar pernikahan Rico bisa dilaksanakan secepatnya.


“Pa….besok aku akan tetap pergi kerumah Verrel. Bisakan papa menyewa bodyguard untuk menemani mama kesana?” memohon dengan memasang wajah menggoda yang selalu berhasil untuk meluluhkan Amran.  Akhirnya pria itupun menyetujui.


“Terimakasih, Pa.” ucap Andini seraya memeluk suaminya. ‘Lihat saja besok, aku akan cari tahu siapa wanita itu. Verrel tidak bisa menyembunyikan keberadaan calon istrinya.’ monolog dalam hatinya.


...**...


Didalam ruang kerjanya, Verrel melamun, pikirannya dipenuhi oleh pesta pernikahannya yang akan berlangsung tiga hari lagi.  Dia meminta pada Frans untuk mempercepat pernikahannya dari jadwal sebelumnya. Dia ingin mengikat Deandra secepatnya dan ingin pesta besar-besaran, pesta termegah dinegri ini. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya jika ia akan menikah.


Frans masuk keruangan setelah ketukan dipintu beberapa kali tidak mendapat jawaban dari tuannya. Dia membawa ipad dan berjalan mendekati Verrel.


"Ini Tuan, Saya sudah persiapkan, tolong tuan periksa lagi jika masih ada kekurangan,” sambil menyerahkan ipad di tangannya pada Verrel. Verrel memeriksa dan sesekali mengeryitkan alisnya dan ada senyum dibibirnya saat dia melihat baju pengantin yang akan dikenakannya dan Deandra.


Dia tidak pernah berencana untuk menikah seumur hidupnya. Memimpikannya pun tak pernah, tapi sekarang, malah terjadi dalam waktu dekat. Ia akan menikahi gadis pembangkang yang selalu memicu emosi dan membuat pikirannya kacau.


Namun ia seperti menikmati sensasi perasaan itu, yang membolak balikkan akal sehatnya. Sementara, bagi Deandra yang membenci Verrel tapi selalu merindukan pria itu yang suka marah dan membentaknya. Ada kenyamanan yang dirasakan meskipun sikap liar dan emosional Verrel.


“Sangat bagus. Kau tahu betul kesukaanku,” ucap Verrel memberikan ipad itu pada Frans. Kemudian Frans bertanya kembali “Maaf, Tuan. Jika saya lancang. Menurutku, sebaiknya Tuan menanyakan pada Nona Muda soal pernikahan ini.”


“Maksudmu?”


“Mungkin Nona Muda punya pernikahan impian, begini, Tuan. Meskipun pernikahan ini adalah keinginan Tuan, tapi sebaiknya menanyakan Nona Muda jika ia menginginkan sesuatu dalam pesta pernikahannya nanti. Biasanya wanita punya impian sendiri,karena mereka ingin menikah sekali seumur hidup.” kata Frans menjelaskan. Pfff…..kenapa aku bisa punya bos seperti dia ya? Masa tidak paham tentang hal seperti itu?


Verrel masih diam tak menjawab, pikirannya melayang teringat pada Deandra yang berada dirumah. ‘Sedang apa gadis itu?


“Frans, Apakah kau sudah jadi seorang wanita?” tanya Verrel tiba-tiba, membuat Frans bingung.

__ADS_1


“Hah? Maksud, Tuan?’


Ck...bicaramu seperti wanita saja, seolah kau mengerti keinginan wanita yang ingin dinikahi pria kaya,” ucap Verrel dingin sambil menatap Frans.


...**...


Dalam perjalanan  pulang kerumah, suasana didalam mobil hening. Sesekali Frans melirik kebelakang dari kaca spion, ia melihat tuannya sedang melamun pandangannya lurus keluar jendela mobil. Frans cukup mengenal sifat Verrel, apa yang dilihatnya sekarang bukan Verrel yang dikenalnya. Laki-laki itu berubah sejak kehadiran Deandra yang seperti seorang pesulap yang menghipnotis Verrel Atau lebih tepatnya Deandra adalah pawang ular kobranya Verrel.


Mobil memasuki halaman rumah mewah dan berhenti didepan pintu utama. Seorang penjaga membukakan pintu mobil untuk Verrel yang melangkah keluar dari mobil masih dengan ekspresi yang sama. “Tuan, apa tuan baik-baik saja?” tanya Frans.


Verrel yang merasakan tepukan dilengannya, menoleh menatap Frans “Pulanglah.” lalu diam sejenak. “Aku akan bertanya pada gadis itu soal pernikahan impiannya. Aku akan memberitahumu nanti.” kata Verrel melangkah masuk kedalam rumah.


Seperti biasa, para pelayan berdiri menyambut kedatangan sang tuan besar. Dia tidak menoleh sedikitpun, pikirannya hanya pada gadis yang menunggunya dikamar. Ketika dia sampai di ujung anak tangga, Yuna menghampirinya “Tuan Besar.” langkah kaki Yuna semakin cepat mengejar Verrel yang sepertinya tidak mendengar Yuna.


“Tuan, saya ingin melaporkan tentang Nyonya Andini.” mendengar nama itu disebut sontak menyulut emosi Verrel yang sangat membenci wanita ular itu. “Apa?”


“Maaf, Tuan. Tadi siang Nyonya Andini dan beberapa bodyguardnya datang kesini dan berusaha masuk. Dia dan orang-orangnya sempat membuat kerusuhan.” kata Yuna menjelaskan kronologi yang terjadi siang tadi.


“Nyonya Andini bersikeras ingin bertemu dengan calon istri Tuan.”


“Hmmm…..ternyata benar dugaanku.” ucapnya sembari melangkah pergi menuju ke kamar Deandra.


Wajah gadis itu berbinar melihat pria yang dari tadi mengusik pikirannya melangkah mendekatinya. Jari-jarinya yang besar mengelus pipi deandra yang merona, sebuah ciuman mendarat dibibirnya. Ciuman yang awalnya biasa saja berubah menjadi buas dan liar. 


Deandra sudah mulai terbiasa dengan ulah Verrel. Sejak pertengkaran hebat kemarin, dan Verrel meminta maaf padanya mampu meluluhkan hati deandra. Baginya apa yang dilakukan Verrel adalah hal langka dan luar biasa.  Dia memandang wajah tampan pria itu setelah melepaskan ciumannya.


“Aku mau kau dengarkan aku baik-baik. Apapun yang terjadi kau jangan pernah keluar dari rumah ini. Kau paham?” kata Verrel memandang wajah gadis itu dengan tatapan yang lembut, tidak ada lagi tatapan tajam miliknya. Dia penuhi janjinya pada Deandra untuk berubah.


“Memangnya ada apa?’ bertanya heran. ‘Apa ini ada hubungannya dengan kejadian siang tadi? Sempat dia bertanya pada Yuna tentang kejadian didepan rumah dan siapa wanita itu tapi Yuna hanya mengingatkannya untuk hati-hati.


“Jangan pernah membangkang. Apapun yang ku perintahkan, kau harus menurut.” dan hanya dijawab deandra dengan anggukan. Tadi siang ia sempat melihat dari jendela kamarnya,saat seorang wanita dan beberapa pria bertampang sangar mencoba menerobos gerbang. Sempat terjadi baku hantam dan ketika itu Yuna menutup kain jendela dan meminta Deandra masuk ke ruang rahasia. Dia sama sekali tidak mengerti, dia pun tidak sempat melihat wajah wanita itu.

__ADS_1


“Ada hal yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Verrel membelai pipi yang merona itu.


“Hmmm...hal apa? Soal tadi siang?” tanya Deandra.


“Soal pernikahan kita.”


“Maksudmu?” tanya deandra yang tidak mengerti. Bukankah pendapatnya tidak penting?


“Begini. Apakah kau punya impian tentang pernikahan?”


“Aku tidak mengerti, tuan,” sela deandra.


“Pernikahan impian. Apa kau pernah bermimpi pesta pernikahan apa yang kau inginkan. Mungkin baju, perhiasan atau----kau paham kan?” Verrel pun tak tahu bagaimana menjelaskan karena dia tidak tahu apa-apa soal pernikahan.


“Tidak ada. Bukankah tuan sudah mengurus semuanya?”


“Ya, aku cuma mau tahu jika ada yang kau inginkan di pernikahan nanti.” keduanya diam dan saling menatap dengan pikiran masing-masing. Mereka tidak mencintai, bahkan membenci tapi ada hal yang membuat mereka merasa terikat. Rasa nyaman dan saling membutuhkan. Mungkinkah cinta akan hadir setelah mereka menikah?


“Kurasa tidak ada, tuan,”


“Berhentilah memanggilku tuan. Aku bukan tuanmu, aku suamimu Nyonya Verrel,”


“Kita belum menikah, jadi aku bukan nyonya verrel.” jawab deandra.


“Segera. Tiga hari lagi.”


“Apa? Tiga hari lagi?”


“Iya, kita akan menikah tiga hari lagi. Dan sampai hari pernikahan, kau tidak kuijinkan keluar dari rumah ini, mengerti?”


“Ba-baiklah.” menundukkan wajah dan menatap jemarinya seolah sedang menghitung. Tiga hari? Kenapa begitu cepat, bukankah seharusnya dua minggu lagi?

__ADS_1


__ADS_2