TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 41. DEANDRA VS ANDINI


__ADS_3

“Sudahlah ma, buat apalagi kamu mau tahu soal wanita itu?” tanya Amran pada istrinya.


“Aku harus kesana, Pa. Papa tidak usah khawatir.”


“Kamu yakin mau kerumah Verrel lagi?”


“Tentu, Pa. Aku harus mencoba lagi, siapa tahu kali ini aku bisa masuk kesana.” jawab Andini.


“Dengan siapa kamu kesana?” Amran yang sebenarnya tidak setuju pada keputusan istri tersayangnya itu.


“Aku datang sendiri. Nanti kalau bawa orang seperti kemarin malah diusir.”


“Jangan! Kalau Verrel ada dirumah, pasti kamu akan celaka,” peringat Amran pada istrinya yang nekat mau pergi. Ia khawatir akan terjadi apa-apa pada istri kesayangannya itu.


“Tenang saja Pa, aku punya cara agar bisa lolos dari keamanan disana,” jawabnya percaya diri.


“Aku tidak peduli, Pa.  Kita harus tahu siapa wanita yang akan dinikahi Verrel. Jangan-jangan dia berbohong ingin membuat kacau.”


“Terserah mama.  Yang penting hati-hati,” ujar Amran pada istrinya yang keras kepala.


Setelah sampai di kediaman Verrel, sesuai niatnya ingin mengetahui calon istri Verrel. Ia pun berdandan secantik mungkin, kemarin ia datang membawa bodyguard malah diusir jadi dia memutuskan sekarang untuk datang sendiri. Tanpa ia sadari jika Verrel sudah menyiapkan jebakan seandainya dia berniat melukai Deandra.


“Bagaimana? Apa saya boleh masuk?”


“Sabar sebentar bu, kami sedang mengecek data ibu,” jawab pengawal di pos jaga depan.


Tak henti-hentinya mulut wanita itu berkomat-kamit membaca mantera sejak ia berangkat dari rumah. ‘Sialan! Verrel benar-benar menguasai semua harta kekayaan keluarga Ceyhan.’ gumamnya.

__ADS_1


Apalagi kalau sampai Verrel menikah dan punya anak, kekuasaan penuh atas harta kekayaan Ceyhan yang berada diluar negripun akan jadi miliknya.  Lalu, suamiku tidak dapat sepeserpun. Ini tidak bisa dibiarkan, masa aku tidak bisa menikmati sedikitpun harta keluarga ini? Siapa wanita itu?  momolog Andini dihatinya


Seorang pengawal menghubungi Verrel tentang kedatangan Andini. Setelah mendapat ijin dari Verrel, pengawal itupun berkata ,”Silahkan masuk bu.” sambil membukakan pintu gerbang.


Deandra sedang duduk tak jauh dari pintu utama sambil merapikan bunga di pot.  Andini menghentikan mobilnya tak jauh dari Deandra.


Melihat seorang wanita sedang duduk, Andini langsung mendekati gadis itu yang dia kira pelayan. “Hei! Bukakan pintu, saya mau masuk.” ucapnya dengan angkuh membuat Deandra kaget dan terlonjak kaget hampir jatuh, tak sengaja tangannya yang kotor belepotan tanah menyentuh baju Andini.


“Ehh….pelayan tak tahu diri. Ganti rugi bajuku yang kau kotori! Kau tahu tidak berapa harga baju ini?” cecarnya pada Deandra yang sudah minta maaf namun diabaikan Andini.


“Memang berapa harganya? Cuma baju murahan.” jawab deandra enteng sambil memandangi Andini dari kepala sampai ke kaki.


“Murahan kau bilang? Gajimu setahun belum tentu bisa membeli baju ini,” ujar Andini emosi menatap tajam gadis itu yang sepertinya tidak peduli.


"Huh...baju begitu banyak di toko online. Sama pabriknya bisa saya beli," balas Deandra dengan sikap angkuh yang sama melawan Andini.


“Memangnya anda siapa?” celetuk Deandra memandang wajah angkuh didepannya. Muka tak seberapa tapi sogong, gumamnya.


“Aku adalah bagian keluarga Ceyhan. Aku nyonya besar Ceyhan!” ucapnya membusungkan dada menyombongkan diri sembari menatap Deandra dengan pandangan menghina. Akan kuberi pelajaran pelayan tak tahu sopan santun ini.


“Hah? Nyonya Besar?” kata Deandra sambil mengeryitkan dahi dan tertawa “Ha...ha...ha...ha”.


“Nyonya Besar? Nyonya Besar siapa? Apakah anda sedang bermimpi disiang bolong? Kalau mimpi jangan ketinggian, entar jatuh sakittttt” kata Deandra membalas yang membuat Andini semakin emosi.


“Diam kau! Berani kau menertawakanku? Aku akan minta Verrel untuk mengusirmu dari sini.”


Deandra menegakkan tubuhnya dan menghela napas, berbicara layaknya nyonya besar yang membuat Andini makin emosi

__ADS_1


“Coba saja kalau berani! Telepon saja Verrel sekarang. Atau, apa perlu aku yang telepon Verrel? Kau tahu siapa aku?” tantang gadis itu.


“Huh...dasar pelayan rendahan, sombong! Berani sekali kau menyebut nama Verrel.” desis Andini. “Kau pikir kau siapa beraninya bicara seperti itu padaku?” kurang ajar sekali pelayan didepanku ini, begitu pikir Andini. Tangannya terangkat hendak menampar wajah Deandra.


“Beliau adalah Nyonya Besar dirumah ini. Sebaiknya anda cepat pergi dari sini sebelum pengawal Nyonya Besar menyeret anda dan melemparkan anda ke jalan,” sahut Yuna dengan lantang.


“Anda dengar? Saya Nyonya Verrel!" kata Deandra menatap tajam wanita itu dengan sinis. "Ingat! Saya Nyonya Verrel! Istri dari Verrel Aditya Ceyhan sang CEO pemilik Ceyhan Corporation. Jangan berani-beraninya anda datang kerumahku lagi!"


“Apa? Kau----?” Andini tak bisa berkata-kata saat empat orang pengawal menyeret dan mendorongnya kasar masuk kemobilnya.  Nyalinya ciut, dia pun langsung melaju kencang meninggalkan rumah itu


...*...


Tak habis-habisnya Andini mengumpat sepanjang perjalanan pulang. Wajahnya merah menahan emosi dan memutuskan langsung pulang dan mengadu pada suaminya. Dia merasa tidak terima atas perlakuan yang diterimanya di rumah Verrel apalagi Deandra yang berani bicara lancang padanya tanpa rasa takut. ‘Huh...dimana Verrel mendapatkan perempuan sialan itu. Mulutnya tajam seperti pisau.


Sesampainya di rumah, dia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil masih dengan emosi membara. Belum pernah ia merasa terhina seperti ini, selalunya orang akan takut padanya setiap kali dia menyebut dirinya adalah nyonya besar keluarga Ceyhan pada orang diluar sana.  Meskipun sebenarnya orang-orang pun tahu siapa wanita itu. Mereka hanya malas berurusan dengannya yang suka semena-mena.


“Sial! Sial! Sial! Arrggggg….” teriak Andini menendang pot bunga didepan pintu rumahnya. “Awww…..aduhhh sakit.” dasar perempuan sialan, angkuh sekali perempuan itu, gumamnya. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya layaknya pemeran antagonis disinetron.


“Ma, ada apa? Apa yang sakit?” tanya Amran pada istri kesayangannya begitu mendengar teriakan istrinya dari depan pintu. Amran pun memegang tangan istrinya dan menuntun masuk kedalam rumah. Dia khawatir melihat raut wajah istrinya yang marah. 


Hari ini Amran sengaja tidak ke kantor karena istrinya akan mengunjungi rumah Verrel.  Ia memutuskan menunggu istrinya dirumah sekedar jaga-jaga jika sesuatu terjadi dirumah mewah itu, ia bisa segera datang menolong Andini.


“Udah, minum dulu tehnya. Biar tenang lalu cerita ada apa?” pria itu menyodorkan gelas berisi air minum dingin pada istrinya seraya mengelus-elus punggung wanita itu. Hiks...hiks….hikss tangisnya makin menjadi dan makin dibuat-buat.


“Apa yang terjadi disana? Apa Verrel menyakitimu?” Amran bertanya pada istrinya yang menangis histeris.


“Tidak, Pa. Tadi aku masuk kerumah itu, tapi Verrel tidak ada dirumah. Aku ketemu perempuan sialan itu.”

__ADS_1


__ADS_2