TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 60. GEJOLAK EMOSI


__ADS_3

Wajah pria itu mengeras, ia menghempaskan ponselnya ke atas meja. “Kenapa pria brengsek itu bisa kembali hari ini?” kedua tangannya mengepal, ingin menghancurkan sesuatu. Verrel sudah memerintahkan anak buahnya agar Rico tidak kembali sebelum hari pernikahannya. Namun entah apa yang terjadi, sang asistennya menelepon tentang kepulangan Rico.


Sial! Sial!


Pernikahan ini harus terjadi. Tidak ada yang bisa menggagalkan pernikan ini.  Kau tak kan bisa menggagalkannya dan merebutnya dariku, emosi Verrel kembali meledak. Dia membanting barang yang ada didekatnya. Ruang kerjanya seperti kapal pecah, dia tidak bisa mengendalikan gejolak emosinya.  Hanya satu tempat dimana dia menemukan ketenangan, yaitu Deandra.


Brak!


Verrel membuka pintu kamar dengan kasar.  Deandra dan kedua pelayannya terkejut, dia bisa melihat kemarahan di mata lelaki itu. “Selamat sore, Tu-”


“Keluar kalian!” teriaknya menunjuk kedua pelayan itu. Mendengar suara tuannya yang marah, keduanya dengan cepat meninggalkan kamar majikannya.


Deandra yang baru saja mandi dan berpakaian, wajahnya pun sudah dirias oleh pelayannya, Tubuhnya wangi dari parfum yang baru dibelikan Verrel untuknya. Aroma sensual dari parfum yang dipakai Deandra membuat Verrel memejamkan matanya.


Pandangan mata deandra tak lepas dari calon suaminya itu, ia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada pria itu.


“Kau kenapa, sayang?” bertanya dengan suara lembut dan hati-hati. Verrel terlihat sangat emosi. Pria itu masih diam tak menjawab, ia pun mengambil inisiatif, berdiri dan berjalan mendekati calon suaminya. Kedua tangannya menangkup wajah pria itu, kakinya menjinjit karena Verrel lebih tinggi darinya. Deandra langsung mencium Verrel, mungkin dengan ini bisa meredakan emosi pria ini pikirnya.


Tangan pria itu langsung memeluk, ia bisa merasakan kelembutan gundukan didada yang tak disanggah bra itu. “Aku menginginkanmu,” ucapnya dengan suara lemah. Deandra heran mendengar nada suara pria itu yang lemah.


"Apa kau baik-baik saja, sayang?"


"Hmmm....menurutmu?"


"Maukah kau cerita?" tangan deandra mengusap pipi lalu turun ke dada bidang pria itu.


Verrel merenggut bibirnya hingga membuai gadis itu yang seketika lunglai tak kuasa menahan dirinya yang tergoda oleh sentuhan tangan dan cumbuan Verrel yang menggila.


Sempat rasa percaya diri Verrel hilang begitu mendengar jika Rico kekasih Deandra akan kembali. Jika dia tidak segera menikahi gadis itu, bisa dipastikan Verrel akan kalah karena dia merebut milik orang lain.  Kenyataan itu sebenarnya seperti tamparan baginya, mengingatkannya bagaimana Andini ibunya Rico merebut ayahnya. Apakah yang dilakukannya kini adalah balas dendam?


Pria itu akan membuktikan bahwa Deandra akan tetap memilihnya ketimbang Rico.  Kini ada ikatan erat diantara mereka yang tidak mungkin bisa terpisahkan “anak.”


“Verrel….” suara lembut Deandra menyadarkannya. Tubuhnya masih menindih deandra. Ia menggeser tubuhnya kesamping. “Maaf, sayang kalau aku menyakitimu.”


“It’s ok. Aku tidak kenapa-napa.” tangan lembutnya membelai wajah Verrel. Sentuhan Deandra selalu bisa menenangkannya, suara lembutnya mampu meredakan emosinya. Mata Verrel terpejam, Deandra masih menatapnya penuh selidik. Pasti ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin dia semarah itu.  Sudah sekian lama aku tidak melihatnya semarah tadi, gumam Deandra dalam hati.


"Aku tidak suka melihatmu seperti ini." kata Deandra yang tak mengerti kenapa Verrel terlihat sangat emosi dan kacau.


"Apa yang kau mau, Nyonya Verrel?"


"Tidak ada. Apa yang kau mau, Verrel?"

__ADS_1


"Jika kukatakan, apa kau akan memberikannya?"


Glek!


Deandra menelan ludah. Tak mungkin dia menang jika bersilat lidah dengan pria ini. Bisa-bisa nanti dia minta yang aneh-aneh seperti biasanya.


"Kau tahu aku paling tidak suka kau diamkan."


"Ma-maaf. Ya, akan kuberikan." begitu kalimat itu terucap, dia sadar atas kesalahan yang baru saja dilakukannya. Ya, ampun bagaimana mungkin aku mengatakan itu?


"Kalau begitu berikan padaku. Bukankah kau tahu apa yang kuinginkan?" tanpa aba-aba tangannya melepas semua penghalang ditubuhnya dengan kasar. Seperti biasa dia menuntut sebuah kenikmatan, emosinya yang masih memuncak membuat setiap sentuhan dan gerakannya ditubuh deandra terasa kasar, seperti dulu. Kesadarannya membuatnya jadi lembut, dia sadar jika deandra sedang hamil. Tidak mungkin dia menyakiti calon istri dan anaknya.


...*...


"Hai bayu." sapa Rosa


"Kau sendiri?" bertanya sambil melihat sekeliling mencari seseorang.


"Tidak. Ini sama motorku."


"Maksudku--."


"Biasa kalian selalu sejalan." ucap bayu. Sejak kejadian tempo hari, jujur dia cemas karena dia tidak menyangka jika Deandra adalah wanitanya Tuan Verrel.


"Itukan dulu. Sekarang dia mah sibuk," ujar rosa berbohong. Mana mungkin aku bilang kalau Deandra dikurung si tuan besar dirumah apalagi mereka akan menikah.


"Aku dengar berita heboh, tuan verrel mau menikah? Apa--"


"Iya, sabtu pesta pernikahannya. Ini buatmu." seraya menyerahkan sebuah paperbag dari Deandra yang dititipkan pada rosa.


"Apa ini?" tanya bayu heran.


"Buka aja sendiri. Banyak tanya loe."


"He he he mana tau isinya bom." ujar bayu asal.


"Itu titipan dari Deandra. Loe pake di acara pernikahannya nanti. Tuh ada undangannya juga."


Wajah bayu terkejut, jadi calon pengantin wanita yang dirahasiakan itu Deandra? Seakan tahu apa yang dipikirkan Bayu "Tapi ingat ya, tutup mulut. Sebagai sahabat kita wajib menjaga privasi sahabat."


"Ya, gue paham. Pasti sengaja dirahasiakan demi keamanan Deandra, bukan?"

__ADS_1


"Nah, itu tahu! Eh galeri mu sekarang tambah keren ya. Baru direnovasi?" tanya Rosa yang baru tersadar jika galeri milik bayu terlihat lebih luas dan bagus. Jauh berbeda dengan waktu itu.


"Iya, pas kejadian itu. Besoknya orang suruhan Tuan Verrel datang kesini. Mereka merenovasi semua, tuh lihat lantainya juga di ganti. Bangunan juga diperluas ke samping."


"Pasti Deandra yang suruh." kata Rosa yang tahu betul sifat sahabatnya.


"Deandra? Maksudmu?"


"Ya, gara-gara pengawalnya mengamuk disini, Dea marah. Ya begitulah. Jadi Tuan Verrel perintahkan anak buahnya kesini."


"Apa menurutmu Dea mencintai Tuan Verrel?" tanya bayu. Dia mencemaskan gadis itu setelah melihat sendiri bagaimana brutalnya pengawal Tuan Verrel waktu itu yang menghajarnya sampai babak belur hanya gara-gara salah paham.


"Yaelah bayu! Jangan mikir macam-macam deh, dia bakal menikah sabtu ini. Move on...move on."


"Kita move on yuk." ujar Bayu.


Plak!


Tangan Rosa memukul bahu pria itu kuat.


"Aduh...sakit Rosa. Loe barbar banget sih."


"Loe juga, ajak-ajak gue move on. Gila loe."


"Ha....ha....ha....kita sama-sama jomblo. Ayo move on cari pacar. Otak loe tuh aneh mikirnya."


"ihhhhh...gue ogah mau pacaran." entah mengapa, sejak dia kehilangan cinta pertamanya, dia tidak lagi tertarik untuk menjalin hubungan dengan pria manapun. Sang kekasih adalah saudara sepupu Bayu yang meninggal karena sakit leukimia.


"Ternyata loe yang tidak bisa move on. Sampai kapan?"


Mendadak raut wajahnya berubah mendengar pertanyaan bayu. "Loe tahu gue sangat mencintainya. Gue sulit mau buka hati untuk laki-laki lain."


"Jangan begitu. Loe menyiksa diri loe sendiri. Dia sudah tenang disana. Masa loe masih tidak ikhlas?"


"Gue ikhlas bay. Tapi kalau untuk mencintai lagi, sepertinya sulit." ucapnya lemah. "Ihhhh udah ah. Jadi sedih. Gue pulang ya....jangan lupa hari sabtu loe kerumahku, Deandra kirim supir buat jemput kita."


"Waduh, benarkah?"


"Iya, Dea mau kita datang ke pernikahannya karena cuma kita keluarganya."


"Benar. Kita sudah seperti keluarga. Semoga Dea bisa bahagia ya," ucapnya. Hanya itu yang diharapkan bayu agar gadis itu bisa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2