
Kini Ayu, deandra dan dua pelayannya sudah berada di mall X. Empat bodyguard mengikuti mereka dari belakang. Ayu mengajak menantunya menuju kesebuah butik mewah dan memilih beberapa baju terusan untuk Deandra. “Ma, cukup dua saja. Dirumah masih banyak pakaian yang belum sempat kupakai.” kata Deandra.
“Pakaian yang dibelikan suamimu itu sebentar lagi sudah tidak bisa dipakai. Ini sengaja mama pilihkan buatmu. Sebentar lagi perutmu semakin besar, sayang.” kata Ayu yang membelikan beberapa baju terusan modis agak longgar untuk Deandra. Gadis itu hanya menuruti kemauan mertuanya, lagipun dia sedang tidak ada mood untuk berbelanja. Dari tadi dia hanya membayangkan makanan.
“Sekarang mau kemana?” tanya Ayu. “Kita makan dulu ya, sudah jam dua belas waktunya makan siang.”
“Bagaimana kalau kita ke restoran yang dilantai lima saja, ma? Disana banyak pilihan makanan kesukaanku jadi aku bisa pilih mau makan apa saja.” kata Deandra penuh semangat.
“Baiklah. Pak, tolong taruh barang-barang ini ke mobil.” perintah Ayu pada seorang pengawal.
“Baik, Nyonya.” jawab pengawal itu lalu mengambil semua barang belanjaan dan pergi.
Mereka berjalan masuk ke lift menuju ke lantai lima lalu masuk ke restoran yang menyajikan masakan western food. Ayu memilih meja yang berada disudut paling belakang.
Setelah memesan beberapa menu makanan, Deandra pamit pada Ayu mau ke toilet. Dengan ditemani kedua pelayannya dan dua orang bodyguard sementara dua bodyguard lainnya berada didalam restoran bersama Ayu. Dari kejauhan ada mata yang terus memandang kearah Deandra sejak dia keluar dari restoran hingga masuk ke toilet.
“Kalian tunggu didepan saja,” kata Deandra pada kedua pelayannya. Toilet itu memiliki banyak bilik kecil sekitar dua puluh bilik, saat ini keadaan didalam toilet sepi hanya ada seorang wanita yang sedang mengepel.
“Nyonya, kami tunggu disini saja,” kata Alya. Kedua pelayan ikut masuk kedalam dan berdiri didekat wastafel.
“Tunggu diluar depan pintu sana. Lihat tidak ada siapa-siapa disini, aman.” ucapnya. Akhirnya kedua pelayan itupun keluar setelah melihat wajah Deandra yang menatap mereka tajam dan menunggu didepan pintu masuk bersama dua bodyguard itu.
“Merepotkan saja. Kemana-mana harus diikuti,” gumam Deandra yang berjalan memasuki salah satu bilik toilet. Sudah sejak tadi desakan alamiah itu ditahannya.
Sepuluh menit kemudian dia keluar dari bilik toilet menuju wastafel mencuci tangannya. Ada seorang wanita yang juga sedang berdiri disana sedang memperbaiki riasan wajahnya. Wanita cantik itu melirik kearah deandra dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Deandra yang memang ramah, balas tersenyum pada wanita itu. Mata wanita itu tak lepas memandang pantulan Deandra dari cermin didepannya. 'Cantik juga perempuan ini.'
“Maaf, boleh saya bertanya?” ujar wanita itu.
“Iya. Mau tanya apa?” ucap Deandra ramah tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
“Mungkin saya salah orang tapi saya hanya ingin memastikan saja. Apakah anda istrinya Tuan Besar Verrel?”
“Ehm...apakah kamu kenal sama suamiku?” tanya Deandra bertanya alih-alih menjawab.
“Ha..ha..ha. Siapa yang tidak kenal Tuan Besar. Apalagi saya.” ucapnya dengan seringai diwajahnya yang sulit untuk diartikan.
“Oh, begitu ya. Apakah kamu karyawan suamiku, maaf...salah satu rekan bisnisnya?” tanya Deandra setelah mengamati penampilan wanita itu yang terlihat cantik dan elegan, lantas ia menyimpulkan mungkin karyawan atau rekan bisnis. Sepertinya wanita ini bukan dari kalangan biasa, dia terlihat berasal dari keluarga berada.
“Bukan. Saya rekan ranjangnya,” jawab wanita itu tanpa pikir panjang dan sinis memandang wajah deandra untuk melihat reaksinya.
“Jangan bilang kalau kau tidak tahu, suamimu adalah penguasa ranjang. Pria paling diidamkan para wanita untuk memuaskan hasrat. Ya, begitulah. Entah sudah berapa banyak wanita yang ditiduri oleh suamimu.” ucap wanita itu memancing kemarahan Deandra.
“CUKUP! Jangan pernah bicara lancang tentang suamiku!” teriak deandra, bukan marah karena ucapan wanita itu tapi rasa sakit membayangkan suaminya bercinta dengan wanita lain.
“Aku hanya bicara fakta, NYONYA!” sengaja wanita itu menekankan kata itu. “Tuan Besar sangat hebat diatas ranjang, bukankah begitu? Ahhh….mungkin sekarang dia sedang bercinta dengan wanita lain. Jam makan siang!” kata wanita itu lagi, ada kilatan kebencian dimatanya.
“DIAM! Aku tidak mengenalmu. Aku tahu siapa suamiku. Dia tidak seburuk itu.”
“Anda sedang membohongi dirimu atau memang bodoh, NYONYA? Suamimu sudah biasa bercinta dengan dua, tiga wanita sekaligus.” kata wanita itu lagi dengan senyum liciknya.
__ADS_1
“Anda dengar baik-baik ya. Aku tidak peduli apa katamu! Dari semua wanitanya, hanya aku istrinya, bukan? Hanya aku Nyonya Besar Verrel yang berkuasa atas semua miliknya! Bukan kau ataupun wanita lain!” ucap deandra ketus dan melangkah keluar, namun tangan wanita itu dengan cepat menarik lengannya dan mendorongnya sangat keras, tubuh Deandra membentur dinding.
“Aduh...ahhhh….apa yang kau lakukan?” Deandra memegang perutnya yang terasa sakit akibat terjatuh membentur lantai. Terlihat wajahnya pucat menahan sakit, dia ketakutan...sangat ketakutan jika terjadi sesuatu pada kandungannya.
Saat dia hendak teriak memanggil pelayan dan bodyguardnya, wanita itu langsung membekap mulutnya dengan saputangan. Seketika dia pingsan, wanita itu menyeret tubuh Deandra ke dalam bilik paling ujung dan menutup pintu bilik. Segerombolan anak kuliahan memasuki toilet. Wanita itu pura-pura membasuh tangan di wastafel, begitu gerombolan itu keluar dari toilet, dia pun membaurkan diri ditengah-tengah mereka, sehingga tidak ada yang memperhatikan.
“Kenapa Deandra lama sekali ke toilet? Apa dia baik-baik saja?” tanya Ayu dalam hatinya. Dia meraih ponsel dan menghubungi ponsel menantunya namun tidak ada jawaban. Ayu pun mencoba menghubungi Alya.
“Halo, Nyonya Besar.”
“Dimana kalian? Kenapa lama sekali?” tanya Ayu cemas.
“Nyonya sedang berada didalam toilet, Nyonya. Kami disuruh menunggu dipintu depan.” jawab Alya tenang.
“Selama ini? Coba cek kedalam, apa dia baik-baik saja.”
“Baiklah, Nyonya Besar.” jawab Alya. Setelah sambungan telepon terputus dia pun mendorong pintu masuk toilet tapi tidak menemukan siapapun didalam.
“Ada apa Alya? Mana Nyonya?” tanya kedua bodyguard yang berdiri didepan pintu yang terbuka. Karena panik, mereka pun memanggil deandra yang tidak menyahut. Mereka memeriksa bilik satu persatu.
“Nyonya!” teriak Tami yang mendorong pintu bilik paling ujung dan menemukan majikannya pingsan. Teriakan Tami membuat kedua bodyguard berlari masuk kedalam toilet khusus wanita itu.
“Cepat angkat bantu angkat Nyonya.” teriak pria bertubuh tinggi kekar itu.
Dengan cepat dia menghubungi Ayu yang sangat terkejut menerima berita itu. Dia berlari diikuti dua pengawal lainnya setelah membayar pesanan yang belum disentuh.
__ADS_1
Salah satu pengawal menghubungi pihak keamanan mall untuk mengamankan lokasi, jangan sampai ada yang melihat kejadian itu. Mendapat perintah dari pengawal Tuan Verrel, pihak mall pun segera bertindak cepat menutup area sekitar yang berada disekitaran toilet itu. Tubuh Deandra didudukkan dikursi roda yang dibawa oleh seorang petugas keamanan mall, mendorong kursi itu kedalam lift khusus turun kebawah.