
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Verrel sambil mengecup leher istrinya setelah menyingkapkan rambut panjang itu. Deandra menggeliat geli dan terkikik karena rasa geli dan menggelitik “Hentikan Verrel.”
Tak seperti biasanya, Verrelp pun langsung menghentikan aksi nakalnya. Ia berbisik pelan “Kau tidak boleh duduk lama-lama dibalkon, masih hujan dan angin lagi kencang tidak baik untukmu.
“Ta—tapi”
“Istirahat atau kau aku bawa ke ranjang dan tak kulepaskan seharian.” ancamnya “Pilihlah.” Sontak Deandra tak bisa berbuat apapun kalau sudah diberi pilihan. Dengan bibir mengerucut langsung mengikuti langkah-langkah suaminya masuk kedalam kamar.
“Temani aku ya.”
Verrel langsung tersenyum mendengar permintaan itu. Hujan mengguyur deras sejak tadi malam, cuaca pun terasa dingin. Sudah pasti menguntungkan Verrel yang memang berniat mengurung istrinya didalam kamar seharian, mengingat kalau dia bakal puasa selama dua bulan setelah istrinya melahirkan.
Setelah membantu istrinya rebah diatas ranjang, dia pun membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Ketukan dipintu terdengar setelah Verrel menyuruh masuk, dua orang pelayan membawakan sarapan pagi. Setelah kedua pelayan keluar, Deandra duduk kembali di ranjang sambil disuapi oleh Verrel seperti biasanya. “Aku mau satu bakpau isi kacang ya.” pinta Deandra yang sudah menghabiskan semangkuk besar bubur ayam dan salad buah. Verrel memberikan satu bakpau kacang merah yang setiap pagi harus ada atas permintaan Deandra.
“Apakah semua keperluan anak kita sudah dibeli?” tanya Deandra yang tiba-tiba teringat jika dia belum pernah membeli satupun keperluan anaknya nanti.
“Sudah lengkap semua, sayang. Opa yang mengurus semuanya dirumah utama. Tapi kalau ada yang mau kau beli, katakan saja biar kusuruh pengawal membelinya.”
“Tidak ada. Aku ingin lihat, kapan kita kerumah utama?”
“Kapanpun kau mau, kita bisa pergi kesana.”
...*...
Siang harinya setelah hujan reda, Verrel dan Deandra pergi kerumah utama dengan pengawalan super ketat. Kedatangan Tuan dan Nyonya disambut para pelayan dengan sukacita, Verrel bahkan mengijinkan mereka untuk berpesta dan libur kerja besok. Kegembiraan para pelayan makin bertambah atas kebaikan sang tuan besar yang sudah kembali. Yuan dan kedua pelayan Deandra mengikuti dari belakang menuju kamar bayi yang sudah selesai ditata. Kamar bayi terletak di lantai dua, kamar yang dulunya adalah ruang olahraga diubah menjadi kamar bayi. Ruang olahraga dipindah ke ruangan paling ujung dilantai bawah.
Begitu pintu terbuka, Deandra menganga menatap takjub kamar bayi yang didesain indah dan sudah lengkap dengan dua boks bayi dan boneka-boneka lucu. Lemari pun sudah diisi dengan pakain bayi. “Ini bagus sekali! Opa hebat memilih desain sebagus ini!” teriak Deandra kegirangan. Deandra berjalan mengitari kamar bayi sambil memeriksa semuanya.
*ini visual kamar baby twin 🥰🥰
__ADS_1
*ini visual walk in closet bany twin
“Apa masih ada yang kurang, sayang?” tanya Verrel.
“Tidak. Kurasa semuanya sudah lengkap. Kalau nanti masih ada yang kurang bisa dibeli lagi, tidak harus sekarang.” sahut Deandra merangkul lengan suaminya. Yuna dan kedua pelayan pun tersenyum bahagia.
“Yuna, kumpulkan para pelayan. Saya ingin berbicara.”
“Baiklah, Tuan.” lalu Yuna dan kedua pelayan pun turun kelantai bawah.
“Haa? Area bermain? Dimana?” tanya Deandra penasaran.
“Dilantai bawah. Opa Viktor yang kekeh membuat area bermain. Kau ingat ruangan kaca yang menghadap ke kolam renang? Ruang itu dijadikan area bermain anak kita.”
“Ayo...ayo….aku mau lihat.” kata Deandra tak sabaran sambil menarik tangan Verrel.
“Eits….kita turun pake lift. Jangan lewat tangga nanti kamu terpeleset, lantainya licin habis di pel.” kata Verrel yang super protektif pada keselamatan istri dan ananknya.
Lagi-lagi Deandra melotot saat melihat area bermain itu. Sudah lengkap dengan kemah kecil warna warni, ada lego, perosotan dan mandi bola layaknya area bermain yang di mall karena ruangan itu memang luas. Area bermain itu didesain warna warni dengan berbagai boneka hewan dan permainan untuk anak laki-laki dan perempuan.
*visual area bermain dirumah utama
__ADS_1
Semua pelayan dan petugas keamanan sudah berkumpul. “Siang ini saya ingin memberitahu kabar gembira dan juga perintah yang harus kalian patuhi dan lakukan sepenuh hati. Mulai hari ini semua orang bertanggung jawab atas kenyamanan dan keamanan istri dan calon anak saya setelah lahir nanti. Kami akan kembali tinggal disini. Itu berarti, selain kalian bekerja sesuai tugas masing-masing, ada juga tugas yang harus kalian patuhi. Saya akan memilih beberapa pelayan khusus mengurus kedua anak saya nanti dan semua yang bertugas dirumah ini wajib menjaga kedua anak saya. Jika ada yang berniat tak baik atau membahayakan keselamatan istri dan kedua bayiku, maka aku akan menghukum tanpa ampun. Apa kalian mengerti?”
“Kami mengerti Tuan.” sahut pelayan dan pengawal yang berjumlah lebih seratus orang itu.
Deandra langsung mencubit pinggang suaminya sebagai peringatan. Verrel mengerti isyarat dari Deandra yang seketika merubah mimik wajahnya menjadi lebih ramah. “Saya rasa pemberitahuan ini cukup dimengerti kalian semua. Dan sesuai permintaan istriku maka kalian boleh mengadakan pesta barbeque malam ini dan besok kalian bisa bersantai. Tapi ingat jangan lengah, tak ada siapapun bisa masuk kerumah ini.”
Semua pekerja dirumah utama bertepuk tangan dan bahagia. Terlihat mereka mulai mempersiapkan makanan untuk dipanggang. “Kenapa sih kau harus mengancam mereka?” bibir wanita hamil itu mengerucut kesal namun terlihat seksi bagi Verrel.
“Itu bukan ancaman, tapi peringatan keras agar mereka ikut bertanggung jawab setelah kelahiran anak kita nanti.”
“Lalu apa bedanya?” tanya Deandra dengan mata membulat yang membuat Verrel merasa gemas.
“Ya, jelas berbeda, sayang. Semua yang kulakukan berbeda dari sebelumnya, sayang. Jangan protes, hm?” ucap Verrel dengan lembut dan menatap istrinya penuh cinta. Jika sudah begini, tak ada yang bisa dibantah wanita hamil itu. Apalagi tatapan penuh cinta Verrel selalu membuatnya lemah dan merona. Deandra mengecup bibir suaminya cukup lama lalu tersenyum.
...*...
Lain suasana dirumah utama, lain pula dengan Iva yang sedang menjenguk Rico. Seperti biasa dia membawakan makanan kesukaan suaminya. Andini tak pernah datang menjenguk putranya.
“Masakanmu makin hari makin enak,” puji Rico yang mulai bersikap lembut pada Iva.
“Terimakasih kak. Aku belajar menu-menu baru dirumah setiap hari, daripada bengong.” kata Iva tersenyum, “Besok kakak mau dimasakin apa? Biar Iva buatkan untuk kakak.”
“Jangan memaksakan diri untuk menjengukku tiap hari. Kau butuh istirahat. Bagaimana kandunganmu? Apakah kau mual-mual?” tanya Rico.
“Iya, kak. Biasanya mual kalau pagi hari, tapi tidak selalu. Dokter sudah memberiku obat anti mual dan vitamin penguat kandungan.”
“Baguslah. Jaga kandunganmu baik-baik. Maaf, aku tidak bisa menjagamu saat ini.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, kak. Aku senang kakak sudah mulai bersikap lembut padaku, dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku akan bicara dengan pengacara besok untuk membantu kakak keluar dari sini, papa janji akan bantu bayar uang jaminan tapi dengan syarat seperti yang sudah pernah papa bilang.” kata Iva menjelaskan, bagaimanapun dia akan berusaha mengeluarkan suaminya dari sana. Rico hanya menggangguk pelan sambil memegang tangan istrinya. Ada penyesalan yang dalam dari tatapan matanya.
*Hai para pembaca setia 👋👋 semoga kalian sehat2 & suka dengan alur ceritanya.....mohon bantu vote, like dan komen ya biar author tambah smangat. Terimakasih 🙏🙏😘😋