
Atas perintah Verrel kemarin, Jack mengirimkan Zizi dan Kim kerumah utama. Verrel menginginkan pengawal wanita untuk istrinya. Kedua wanita itu adalah anak buah Verrel yang terlatih dan berpengalaman.
Zizi dan Jack adalah adik seperguruan Verrel di Jepang saat mereka sama-sama berlatih ilmu bela diri di negeri matahari terbit itu. Selama ini Zizi tinggal diluar negeri dan baru-baru ini kembali ke tanah air atas perintah Verrel untuk membantu Jack menangani masalah di Singapura.
“Selamat pagi siang. Ada tamu yang sudah menunggu didepan.” kata Yuna memberitahu Deandra yang sedang membaca buku ditepi kolam renang.
“Siapa mereka?” tanya Deandra.
“Mereka pengawal baru untuk nyonya. Tuan besar sendiri yang mengirim mereka kesini.” jawab Yuna.
“Ayo kita temui mereka. Apakah pengawal baruku laki-laki atau perempuan?” tanya Deandra penasaran. Dia memang pernah mengatakan pada Verrel kalau dia ingin punya pengawal perempuan.
“Perempuan. Pengawal lama masih akan menjaga nyonya. Kedua pengawal wanita ini sebagai tambahan. Tuan besar ingin agar nyonya merasa lebih nyaman dengan adanya pengawal wanita." kata Yuna menjelaskan.
“Oh begitu. Bagus juga ya Bibi Yuna. Aku sedang hamil dan saat aku sedang berada diluar rumah, jika terjadi sesuatu padaku maka pengawal wanita akan lebih paham cara menangani ibu hamil.” keduanya berbicara sambil berjalan memasuki ruang tamu.
Disana sudah ada tiga orang yang sedang menunggu. Jack, Zizi dan Kim langsung berdiri saat melihat kedatangan Deandra. “Selamat siang nyonya.” sapa ketiganya sambil menundukkan kepala tanda hormat.
“Selamat siang. Maaf aku membuat kalian lama menunggu.” uhar Deandra.
“Tidak masalah nyonya. Kami baru tiba beberapa menit lalu.” kata Jack.
“Silahkan duduk.” ujar Deandra yang sudah duduk di sofa. Seorang pelayan datang membawa minuman dan cemilan, setelah meletakkan diatas meja, pelayan itupun segera pergi.
“Jack, apa mereka ini orang-orang yang dikirim oleh suamiku?” tanya Deandra menatap dua orang perempuan yang memakai pakaian serba hitam. Yang satu berambut sebahu dan satunya lagi berambut cepak bertubuh ramping yang terlihat seperti Iman, foto model terkenal itu.
“Benar Nyonya. Saya akan perkenalkan mereka.” Lalu Jack menatap kearah Zizi yang berambut sebahu “Yang ini Zizi dan yang satunya lagi Kim. Mulai hari ini mereka berdua akan bertugas untuk menjaga Nyonya bersama pengawal lainnya.”
“Halo Zizi, Kim. Selamat bergabung dan terimakasih.” ucap Deandra ramah.
__ADS_1
“Terimakasih Nyonya atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan pada kami." ujar Zizi menatap wanita hamil didepannya.
Mereka pun berbincang dan berdiskusi mengenai tugas-tugas dan jadwal harian Deandra. Jack segera meninggalkan kediaman utama setelahnya. Sementara Zizi dan Kim mengikuti Yuna yang mengantarkan mereka berkeliling rumah untuk mengenal setiap sudut dirumah utama.
Saat mereka tiba dihalaman belakang, tiba-tiba sebuah tangan mungil memukul kaki Zizi. Saat dia menunduk kebawah dia melihat seorang anak perempuan berusia satu tahun dengan tangan berlumuran krim dari cupcake yang dipegangnya.
“Ah…..halo cantik.” senyum Zizi mengembang menatap wajah menggemaskan. Dia seperti melihat Verrel versi kecil dalam rupa bayi perempuan.
“Naomi!” pengasuhnya berlari mendekati.
“Perkenalkan ini Nona Muda Naomi dan yang duduk disana bersama pengasuhnya adalah Tuan Muda Nathan. Mereka kembar.” kata Yuna.
“Mereka lucu dan menggemaskan.” ucap Kim yang menyukai anak-anak. Dia memiliki keponakan yang masih kecil dan sering menghabiskan waktu bersama keponakannya setiap kali dia pulang kerumah orangtuanya.
“Bolehkah aku menggendongnya?” tanya Kim seraya menoleh pada Yuna meminta persetujuan.
“Silahkan Kim. Biarkan babysitter membersihkannya dulu.” jawab Yuna.
“Maaf Bu Yuna. Saya bersihkan Nona Muda dulu.” lalu babysitter itu membawa Naomi untuk dibersihkan. Tak lama kemudian dia kembali, Naomi sudah bersih dan berganti pakaian. Kim pun langsung mengambil Naomi dari pengasuhnya dan menggendong.
Nampaknya Naomi menyukai Kim, dia tertawa saat Kim mencium sambil menggelitiknya. Sedangkan Zizi tidak begitu dekat dengan anak-anak. Bukan karena dia tidak menyukai anak kecil tapi dia tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan anak-anak.
...****...
“Papa. Biarkan aku yang menangani proyek kerjasama dengan Ceyhan Group.” kata Olivia pada Erhan William. Pria itu tidak bereaksi dan tampak sedang berpikir sambil meneliti dokumen yang ada ditangannya. Dia membolak balikkan dokumen itu berulang kali.
“Apa hubunganmu dengan SG Group? Orang suruhanku bilang dia melihatmu berada disana beberapa hari belakangan ini.”
“Aku disana untuk membantu temanku, pa.” jawab Olivia.
__ADS_1
“Jangan ikut campur urusan mereka. Papa tidak mau kau terlibat masalah dengan siapapun.”
“Percaya padaku, Pa. Aku tidak mencampuri urusan Sandi. Perusahaannya sedang ada sedikit masalah dan dia membutuhkan bantuanku.”
“Masalah apa? Papa dengar ada kekacauan diantara pemegang saham disana.” kata pria paruh baya itu.
“Betul. Beberapa proyek besar SG Group mengalami masalah. Tiba-tiba proyek dihentikan tanpa alasan jelas sedangkan SG Group sudah menanamkan modal besar di proyek itu.”
“Hem…...lalu bantuan apa yang kau lakukan untuknya?”
“Tidak banyak, Pa. Hanya memeriksa beberapa laporan yang sedikit janggal dan membantu mencari investor baru. Jika Sandi tidak segera menemukan investor baru maka dia akan kehilangan perusahaan.”
“Oh begitu. Lalu kenapa tiba-tiba kau ingin menangani proyek kerjasama dengan Ceyhan Group? Bukankah kau tidak suka tinggal di Indonesia?”
“Aku hanya ingin belajar lebih banyak lagi. Suatu hari nanti aku akan menggantikan posisi papa diperusahaan. Bukankah aku harus belajar untuk itu?” kata Olivia menjekaskan keinginannya.
“Ya, kau benar. Apa kau yakin ingin menangani proyek di Indonesia?”
“Yakin papa. Inilah kesempatanku untuk melihat peluang untuk mengembangkan bisnis disana. Sekalian aku bisa bertemu dengan pebisnis disana dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Jika suatu hari nanti aku menjadi pimpinan perusahaan, aku sudah memiliki jaringan luas di luar negeri.
“Baiklah. Selama ini papa lihat performa kerjamu juga bagus dan proyek yang papa percayakan padamu sebelumnya juga berjalan lancar. Mungkin ini sudah waktunya untukmu mengembangkan diri dan berkenalan dengan dunia bisnis diluar.
“Jadi, apakah papa setuju? Proyek itu akan jadi milikku?” tanya Olivia tidak percaya jika dia mendapatkan proyek yang diidamkannya.
“Ya papa setuju. Tapi papa akan sellau mengawasimu dan kau harus selalu melapor padaku.”
“Baiklah. Terimakasih papa.” ujar Olivia senang lalu memeluk ayahnya. “Aku akan berkemas-kemas untuk perjalananku.”
“Papa akan mempersiapkan semua kebutuhanmu selama tinggal disana. Kau tidak akan berangkat sendirian kesana, salah satu orang kepercayaanku akan pergi menemanimu.”
__ADS_1
“Ok. Tidak masalah, pa. Itu sangat bagus jadi aku tidak sendirian disana.” Olivia pun bergegas memanggil pelayan untuk membantunya berkemas.