TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 176.BAHAGIA ITU SEDERHANA


__ADS_3

“Baiklah, Tuan. Saya akan mengecek keberadaannya sekarang dan menangkapnya begitu ada kesempatan bagus.” ucap Frans.


Verrel hanya mendengarkan dan tak bergeming dari tempatnya, masih memikirkan langkah yang tepat yang harus ia ambil. Sebenarnya dia tak ingin melibatkan papa mertuanya dalam hal ini mengingat mertuanya itu sudah melalui masa-masa yang sulit selama ini.  Kini, tanggung jawab Verrel untuk menjaga dan melindungi mereka semua.


“Tuan?” panggil Frans yang tak mendengar respon dari Verrel.


“Ya! Frans...lakukan semuanya dengan rapi dan jangan sampai ada orang lain yang tahu,” ucap Verrel “Aku tak mau media sampai tahu hal ini karena akan sangat berbahaya bagi keselamatan istri dan anak-anakku.”


“Saya mengerti, Tuan. Serahkan saja padaku. Saya akan melakukannya serapi mungkin.”


Setelah memberikan beberapa arahan dan mendiskusikan beberapa pekerjaan, Verrel memutuskan panggilan itu, ia mengusap wajahnya kasar. Semoga semuanya bisa selesai secepatnya.


“Masalah baru datang lagi, datangnya bukan di waktu yang tepat pula. Aku harusnya sekarang hidup dengan tenang bersama istri dan kedua anakku. Mudah-mudahan semuanya cepat selesai agar keluargaku bisa hidup tenang dan damai tanpa gangguan dari siapapun.” ucap Verrel seraya menghela napas dalam-dalam, emosinya bertakhta dan ingin sekali ia lampiaskan jika saja Surya ada didepannya saat ini.


Tak ingin terus-terusan terkukung oleh emosi yang memuncak yang saat ini memenuhi kepalanya, Verrel memutuskan beranjak meninggalkan ruang kerjanya dan kembali ke kamar.  Ia harus segera menemui sumber kebahagiaannya untuk mendinginkan kepala. Kehadiran kedua malaikat kecil itu selalu mampu membuatnya tenang,  apalagi wajah lucu dan menggemaskan.


Sesampainya di kamar, Verrel tak menemukan Deandra disana. Lalu dia menuju kekamar sebelah, kamar bayi mereka, tampak istri tercintanya sedang menyusui Nathan dengan rambutnya yang masih basah. Deandra baru saja selesai mandi saat mendengar anaknya menangis, belum sempat mengeringkan rambutnya. Liur Verrel hampir saja menetes melihat betapa cantiknya sang istri dengan rambut yang masih basah dan menyusui Nathan. Melihat Verrel mendekat, Nathan sepertinya tahu, dia pun melepaskan mulutnya dan tersenyum pada Verrel. Puncak merah jambu Deandra terpampang dengan tetesan ASI yang jatuh menetes. Mulut Nathan belepotan air ASI, Verrel mengambil tisu dan mengelap wajah putranya yang tampan. Mata Verrel tak lepas menatap kedua gundukan padat yang kini lebih sering dikuasai kedua anaknya.


“Darimana saja?” tanya Deandra cemberut sambil merapikan bajunya saat melihat tatapan liar suaminya yang fokus di dadanya. “Mau ya?” tanya Deandra menggoda.


“Ehmm…..jangan menggodaku, sayang.” ucap Verrel melirik ke Naomi yang terlelap. “Kemana para pengasuh itu?”

__ADS_1


“Oh, mereka lagi makan mumpung Naomi juga tidur jadi mereka bisa istirahat sebentar.”


“Apakah mereka rewel, sayang?”


“Tidak! Nathan dan Naomi sama sekali tidak menyusahkan. Mereka hanya menangis sebentar saat lapar.” kata Deandra yang tak pernah merasa sulit mengasuh kedua anaknya.


“Apa asi mu cukup untuk mereka berdua?” tanya Verrel lagi sambil menelan ludahnya.


“Cukup! Bahkan banyak sekali. Mama membeli pemompa asi, jadi tiap hari aku pompa sebagian untuk taruh dalam botol dan disimpan di freezer. Kalau anak-anak haus, pengasuh cukup menghangatkan asi saja untuk mereka.”


“Hemmm…..” berulang kali pria itu menelan ludah.


Deandra mengerti kebiasaan suaminya itu yang takkan melepaskannya begitu saja.


“Emmm….” desah wanita itu saat Verrel menyusupkan lidahnya membimbingnya melakukan hal yang paling memabukkan.  Wanita itu makin tak berdaya oleh godaan demi godaan yang diberikan oleh suaminya meruntuhkan kewarasannya. Ia semakin hanyut dalam pusaran hasrat yang semakin mendorongnya untuk mengimbangi permainan suaminya.


Meskipun kenyataannya ia selalu tak mampu melakukannya dengan baik. Saat Verrel membaringkannya diatas ranjang, Deandra hanya pasrah menuruti gerakan suaminya yang memuja setiap inci tubuhnya. Jubah mandi yang dikenakannya sudah terlempar di lantai, mata Verrel memandang pahatan indah didepannya yang semakin menarik dan padat setelah melahirkan. Pemandangan indah itu mengobrak abrik kewarasannya dan saat ini ia semakin menginginkannya, takkan ada gangguan karena kedua anak mereka sedang pulas dikamar sebelah. Tak ingin memperlambat waktu hanya dengan memandangi saja, ia membenamkan wajahnya di gundukan padat yang kini ukurannya berbeda, tampak lebih montok dan padat.


“Aaahhh…...Verrel,” desah Deandra seiring matanya perlahan mulai terpejam dan menekan kepala suaminya. Tanpa basa-basi Verrel membuka mulutnya dan memasukkan salah satu puncak itu dan mengisapnya seperti bayi.


Gerakan Verrel semakin tak terkendali, keduanya hanyut dalam pusaran hasrat yang membelit erat. Rasa hangat menyeruak di hati Deandra, jantungnya berpacu sangat cepat, keduanya mendesah diiringi gumaman yang samar-samar.

__ADS_1


Deandra semakin hanyut oleh permainan suaminya yang terus menerus memuja dan membuatnya mendesah lirih. Wanita itu sangat bahagia dan bangga pada suaminya yang sangat mencintainya dan kedua anak mereka. Sejak pernikahan mereka, Deandra tak pernah mendengar nama wanita lain terutama masa-masa setelah melahirkan, tak sekalipun Verrel melakukan hal yang akan menyakitkan hati istrinya itu. Dengan sabar dan setia dia menahan diri, memfokuskan perhatian dan kasih sayangnya pada istri dan kedua anaknya. Deandra semakin mendesah membayangkan betapa setianya suaminya itu selama ini “Oh….Verrel,” Deandra melengkungkan punggungnya dan kepalanya mendongak saat dorongan itu mendesak, hal itu membuat Verrel semamkin memacu untuk bergerak lebih cepat, tubuh Deandra bergetar hebat dan keduanya mendesah bersamaan dengan pelepasan yang mereka dapatkan.


Verrel mengecup kening istrinya dan tersenyum manis, memandang wajah cantik istri tercintanya dengan penuh kekaguman. Pria itu membopong tubuh istrinya masuk ke kamar mandi dan berendam bersama. 


...*...


Deandra bersama kedua anaknya bersantai di halaman belakang ditemani empat orang pengasuh anaknya dan Ayu. Terlihat mereka tertawa melihat tingkah kedua bayi lucu  dan menggemaskan. Para pelayan yang mondar mandir tampak senyum setiap kali melihat tuan muda dan nona muda mereka. Verrel melihat dari jendela dilantai dua dan tersenyum bahagia, hidupnya sempurna bersama seluruh keluarganya. Suara tawa dari halaman belakang yang riuh, kini rumah besar dan mewah itu selalu ramai dengan tangisan bayi dan suara tawa.


Meskipun Verrel sering terganggu tidurnya, namun dia menikmati setiap detik-detik sebagai suami dan ayah yang baik. Tak jarang dia meninabobokkan anaknya saat mereka menangis di tengah malam, tak sekalipun Verrel mengganggu tidur nyenyak istrinya saat anaknya menangis.


...*...


Didalam ruang kerjanya sudah ada Frans “Kemana saja kau Frans? Bagaimana perkembangannya dengan si bajingan itu?” tanya Verrel dengan mengepalkan tangannya.


“Tadi Tuan Darma sempat bertanya padaku dimana alamat rumah Surya, karena katanya ada tetangga yang bilang kalau Surya datang kerumahnya.”


“Kurang ajar! Papa sendirian tinggal dirumah itu, perintahkan beberapa anak buahmu berjaga-jaga dirumah papa.” kata Verrel mengkhawatirkan papa mertuanya. Surya sangat nekat dan gila, dia tak mau ada hal buruk terjadi pada mertuanya.


“Baik, Tuan.” jawab Frans.


 

__ADS_1


__ADS_2