TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 74. NEGERI 1001 MALAM


__ADS_3

Malam ini pengantin baru itu akan berangkat ke Turki untuk bulan madu sekaligus perjalanan bisnis.  Sengaja Verrel menjadwalkan berangkat jam delapan malam karena perjalanan akan ditempuh kurang lebih sepuluh jam dengan jet pribadi. 


Verrel ingin sarapan pagi romantis di negeri seribu satu malam itu. Dia sudah menyuruh anak buahnya disana untuk mempersiapkan jadwal perjalanannya dan juga kejutan untuk sang istri tercinta.


Seorang wanita cantik terlihat berdiri sambil menggandeng lengan pria tampan.  Wanita itu berpenampilan modis dan berkelas.  Rambut yang diikat kepang kuda, riasan wajah warna natura menyempurnakan penampilannya. 


Kedua pasangan suami istri itu menaiki tangga pesawat pribadi milik keluarga Ceyhan.  Dibelakang mereka terlihat dua orang pelayan mengikuti majikannya.  Pagi ini mereka akan berangkat ke Istanbul, Turki.


Verrel yang menerima laporan dari sang asisten beberapa saat lalu sebelum pesawat lepas landas.  Raut wajahnya terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu. Pria yang duduk disebelah jendela itu menatap keluar kearah gumpalan awan. 


Ada satu hal yang membuatnya waspada.  Pastinya bukan soal Rico, tapi keselamatan istri tercintanya Deandra yang sedang hamil.


Laporan dari Frans membuat Verrel khawatir dan harus memastikan keadaan istrinya baik-baik saja. Sebagai seorang suami, tidak berlebihan jika memberikan jaminan keamanan untuk istrinya dan calon anaknya.  Bagaimanapun seorang istri adalah separuh dari nyawa suami.


Verrel menggertakkan rahangnya sekelebat emosi melintas. Dia bangkit mendekati istrinya yang terlihat pulas, gurat kelelahan pada wajah tanpa make up itu membaut Verrel semakin mengagumi istrinya. Dia melepas jasnya dan memandang wajah istrinya beberapa saat tanpa berkedip menikmati keindahan didepannya.


Untuk seorang pria yang dikenal sebagai penguasa ranjang dan suka gonta ganti wanita, tentu ini sangat aneh, bagaimana dirinya yang selalu hanya mencari kepuasan kini terikat dengan satu wanita yang kini berstatus istri dan ibu dari anaknya.  Verrel semakin mencintai istrinya, hanya wanita itu yang diinginkannya dalam hidupnya dan menghangatkan malam-malamnya.


Namun dia masih merasa takut, jika suatu saat perasaan cintanya pada sang istri akan jadi bumerang jika ia tidak bisa mengendalikannya.  Dia hanya tidak ingin masa lalu terulang kembali, dia tak mau kehilangan lagi yang menyisakan rasa sakit yang dalam.  Jika itu terjadi, dia yakin jika dia akan lebih hancur dari sebelumnya. 


Wanita didepannya ini berbeda, perasaan yang dia miliki pun berbeda dari yang pernah dirasakannya dulu. Wanita ini adalah wanita pertama yang mampu mengendalikannya bahkan dalam bercintapun hanya Deandra yang mampu kendalikan Verrel. Itu yang membuatnya khawatir jika musuhnya diluar sana akan memanfaatkan istrinya untuk menghancurkannya.


“Kau milikku selamanya Deandra.  Aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidupku tanpamu. Dan ingat satu hal, aku akan membunuh siapapun yang berusaha menyentuhmu.  Karena kau adalah milikku.”


Rasa lelah membuat Deandra tertidur dengan nyenyak, apalagi ada tangan kekar yang memeluknya, membuatnya merasa sangat nyaman.  Aroma maskulin dari tubuh suaminya semakin menenangkannya.  Dia mulai menggeliat didalam pelukan erat suaminya. Ia menghirup udara ke paru-parunya. Aroma tubuh Verrel sangat menyenangkannya. 


Matanya terbuka perlahan, mendonggakkan kepala dan bibirnya berada tepat didepan bibir tebal milik suaminya.  Deandra mencium bibir itu. ‘Kau membuatku sangat nyaman.’ ujarnya dalam hati sambil memandang wajah tampan dengan tubuh kekar berotot dengan bulu-bulu halus didada.


Dia sangat senang memainkan jarinya didada bidang itu.  Mendadak wajahnya merona, mengingat aktifitas mereka tadi pagi.  Bagaimana Verrel memujanya dan bersikap sangat lembut. Ada satu perasaan dimana dia merasa nyaman pada suaminya meskipun pernikahan mereka karena paksaan awalnya.


“Sudah puas memandangiku?” suara berat itu membuyarkan deandra.  Dia langsung menundukkan wajahnya yang salah tingkah karena tertangkap basah terlalu terpesona memandang wajah tampan itu. Terpesona? Wanita mana yang tidak terpesona pada wajah tampan seperti dewa yunani dihadapannya?


“Kenapa menunduk? Malu ya mandangin wajah tampan suamimu ini?” tanya pria itu lagi maish dengan suara berat karena ia ikut terlelap saat mendekap istrinya.  Deandra hanya menggangguk. “Mungkin tiga jam lagi pesawat akan mendarat.”


“Apa sudah ada jadwal perjalanan kita selama di Turki?”  Ia belum pernah keluar negeri dan ini adalah perjalanan pertamanya. Tangannya semakin erat memeluk suaminya, bahagia itulah yang dirasakannya.  Hidupnya bagai cerita dogeng, semuanya berubah secara tiba-tiba.


“Sudah. Aku akan membawamu mengunjungi tempat-tempat romantis.”


“Terimakasih,” ucapnya dengan lirih, deandra merasa terharu dengan semua perhatian suaminya.


“Kenapa berterimakasih? Ini kan bulan madu kita, sayang. Besok malam kita akan menghadiri makan malam dengan rekan bisnis perusahaan. Aku mau istriku yang cantik ini tampil memukau.”


“Apa kau yakin? Tidak takut nanti semua orang memandangku?”

__ADS_1


“Hmmm….tidak akan kubiarkan.”


“Aneh, suruh aku tampil cantik tapi tidak boleh dilihat orang.” kata deandra dengan wajah cemberut dan ngerucutkan bibirnya.


“Ha...ha….ha….jangan pasang muka menggemaskan itu!” Verrel semakin sering tersenyum dan tertawa sjak bersama Deandra. Entah mengapa ia selalu merasa tingkah istrinya itu lucu.


“Jangan menertawakanku Verrel!”


Gleg!pp


Dia langsung menelan ludah saat mendengar nada suara istrinya berubah. Alamak, semoga tidak merajuk, bisa-bisa acara bulan madu berantakan kalau dia merajuk, ujar Verrel dalam hati.


“Tidak, sayang. Kau cantik sayang.”


“Huh! Tidak usah merayuku, tidak tertarik! Oh iya….aku sering nonton drama Turki. Aku suka lihat pria Turki tampan-tampan.” celetuknya tanpa sadar wajah suaminya langsung memerah.


“Apa kau bilang? Apa suamimu ini masih kurang tampan?” kata Verrel dengan nada dingin.


“Ehmmm…..aku ingin bertemu idolaku CanYaman. Aktor paling tampan dan keren.”


“CUKUP! Aku tidak mau dengar. Kau akan kuhukum sampai di hotel.”


Siapa yang tidak marah jika istrinya minta ketemu idolanya seorang pria tampan pula, apalagi deandra memuji pria itu tampan. Mana ada yang lebih tampan dariku? Gumamnya kesal.


Sesampainya dikamar hotel, deandra termangu memandang kamar yang bagus dengan desain ottoman itu. Yang tadinya merajuk di pesawat kini langsung memeluk suaminya.


“Bagus kamarnya. Kalau kamar kita dibuat seperti ini aku pasti senang,” ucap deandra.


“Baiklah, Nyonya. Nanti kuperintahkan orangku merubah desain kamar kita.” kata Verrel.


“Hah? Benarkah sayang? Ohhhh Verrel….aku mencintaimu. Kau suami terbaik.” ucap Deandra lalu berjinjit mencium bibir suaminya.  Mendapati bibirnya dilumat deandra, Verrel terkejut. Dengan cepat ia menguasai diri, ia belum ada niat untuk membalas.  Hanya ingin melihat sampai mana istrinya bertindak.  Tapi ia tak mampu bertahan lalu membalas ciuman istrinya.


“Aku lapar,” kata deandra setelah mengurai bibirnya. Perutnya berbunyi kencang.


“Kita makan ya. Bersiaplah, dandan yang cantik. Aku akan membawamu kesuatu tempat.


Kini mereka berada di restoran terkenal yang berlokasi disebuah hotel berbintang di daerah Beyoglu yang tak jauh dari sungai Marmara dikota Istanbul, sungai yang memisahkan antara benua Asia dan Eropa.


Restoran itu terkenal dengan menu sarapan pagi Kahvalti yang legendaris. Verrell membooking seluruh rooftop.  Mereka bisa melihat pemandangan kota Istanbul dan Sungai Marmara di pagi hari. Deandra terkagum-kagum melihat indahnya kota Istanbul dari atas rooftop.  Alya dan Tami pun merasa senang bisa melayani majikannya, mereka bisa ikut kemanapun sang Nyonya Besar bepergian.


Untuk makan siang Verrel sudah mempersiapkan kejutan romantis untuk istri tercintanya. Alya dan Tami beserta sepuluh orang pengawal yang setia mengikuti majikannya kemanapun, berada di meja lain yang tak jauh dari majikannya.


Seorang wanita cantik mendekati Verrel. Dia adalah pemilik restoran tersebut dan sudah mengenal Verrel. Dia sering menjamu kliennya di restoran itu saat berkunjung ke Turki.

__ADS_1


“Good morning Mr. Verrel. How was your flight (Selamat pagi Tuan Verrel. Bagaimana perjalananmu)?”


“It’s good. Thank you.” jawab Verrel lalu memperkenalkan deandra pada wanita itu.


“Gunaydin,Tanıştığımıza memnun oldum (Selamat pagi. Senang berkenalan dengan anda).” kata Deandra menyapa dengan percaya diri menyalami wanita itu.


“Gunaydin. Ben de çok memnun oldum (Selamat pagi. Senang bertemu dengan anda juga).” jawabnya. Dia kagum dengan kefasihan Deandra berbahasa Turki.


“Wow! Türkçe konuşabilirsin (Kamu bisa berbahasa Turki),” kata wanita itu memuji Deandra.


“Evet, youtube'dan öğreniyorum. (Iya. Saya belajar dari youtube).” jawab Deandra.


‘Bu iyi. Bir şeye ihtiyacın olursa, personelime sorabilirsin. Yemeğin tadını çıkar (Itu bagus! Jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan hubungi staff kami ya. Selamat menikmati!”


“Sir, You’re so blessed to have a beautiful and smart wife (Tuan, Anda sangat beruntung punya istri cantik dan pintar).” katanya pada Verrel. Setelah berbincang sebentar, wanita itupun pergi.


“Aku baru tahu kalau istriku bisa bahasa Turki,” kata Verrel yang masih tidak percaya mendengar istrinya fasih bahasa Turki.


“Masih banyak lagi yang kau belum tahu, suamiku,” kata Deandra sambil mengedipkan mata menggoda suaminya.


“Sepertinya aku perlu membawamu ke hotel sekarang, Nyonya Verrel?” ucapnya membalas godaannya.


“Ihhh....jangan aneh-aneh ya. Menyebalkan.”


“Kalau kau lelah, kita kembali ke hotel. Atau kau mau jalan-jalan?” tanya Verrel.


“Mau jalan-jalan. Kita ke Topkapi terus ke Hagia Sophia ya,’ pinta Deandra


“Iya, sayang. Nanti malam kita ada makan malam dengan rekan bisnisku,” kata Verrel mengingatkan istrinya yang suka lupa waktu itu.


 *Sesuai janji author....ini visual sang CEO


Verrel Aditya Ceyhan




*Ini visual Deandra Ailsie



__ADS_1


__ADS_2