
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
“Kau masih belum mau bicara ha?” bentak seorang pria berperawakan tinggi besar dengan tampang menyeramkan, memukuli seorang pria yang berdiri tegak dengan kedua tangan dan terikat terlentang. Wajahnya babak belur hingga tak bisa lagi dikenali.. Sementara disebelahnya ada dua orang pria dengan kondisi yang sama-sama menggenaskan. Di sudut lain diruangan itu ada sebuah ranjang yang diatasnya terbaring seorang wanita dengan tangan terikat keujung atas ranjang, kakinya dibiarkan bebas tapi melihat kondisi wanita itu, tak mungkin dia melakukan perlawanan. Wanita itu seusia Deandra, wajahnya juga cantik dan tubuhnya mulus.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
ARRRGHHHHH…..lengkingan kesakitan memenuhi ruangan bawah tanah itu. Ketiga pria itu kembali disiksa dengan cambukan, ditendang, dipukul berulang kali. Siksaan demi siksaan mereka terima siang dan malam, tetap saja bungkam.
“Ternyata kalian setia juga pada orang yang membayarmu,” ujar pria sangar itu lagi.
“A—ampun tuan. To-to—long hentikan. Istri dan saya disekapnya jadi jaminan.”
“Baguslah! Tutup saja mulutmu itu. Kau takkan bisa melihat istri dan anakmu.”
“Jangan Tuan, tolong. Anak saya masih kecil.”
“Kalau kau tahu anakmu masih kecil, harusnya kau pakai otakmu berpikir sebelum memilih jadi anjing peliharaan bosmu!”
__ADS_1
Pria itu mendengus, lalu memerintahkan yang lainnya berhenti memukuli ketiga pria itu. “Cukup untuk hari ini, besok lanjut lagi. Sampai mereka mau buka mulut, atau mati perlahan.”
“Lalu, bagaimana dengan wanita itu?” tanya seorang pria yang juga berperawakan kekar.
“Kalau kau masih mau menikmatinya, biarkan saja disini.” jawabnya ketus lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
Kedua pria itu menyeringai, lalu mendekati ranjang dimana wanita itu terbaring. Wajahnya cantik tapi bagaimana bisa wanita itu bisa sangat jahat, jika melihat wajahnya yang nampak polos. Tapi siapapun bisa berubah menjadi jahat dengan alasan tertentu, uang selalu jadi alasan utama.
“Sebaiknya kita bersihkan badannya dan dandani dia, biar lebih mengasyikkan,” seringai jahat pria itu disambut temannya dengan anggukan. Wanita yang sedang memandang mereka dengan tatapan sayu dan lemah namun tatapannya menunjukkan ketakutan yang mendalam. Sejak dia ditangkap dan dibawa keruang bawah tanah ini, entah sudah berapa kali dia digagahi secara bergantian oleh pria-pria bertubuh kekar yang tak dia ingat lagi wajahnya. Karena pria berbeda selalu mendatanginya dan menyalurkan hasrat. Dalam hati wanita itu hanya bisa mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya mengikuti ajakan sang pria yang dicintainya dengan imbalan uang banyak dan dijadikan pacar, dia mendapatkan uang itu dan sempat menikmati selama seminggu. Dia membeli pakaian bagus dan memamerkannya pada teman-temannya. Tapi hanya seminggu, setelah itu hidupnya seperti di neraka. Jika dia mengingat, dulu sebelum dia terjebak dalam ruangan bawah tanah ini, jika dia butuh uang dia hanya menggoda pria kaya yang menjadikannya pemuas nafsu. Kini dia masih berada pada status yang sama sebagai pemuas nafsu tanpa bayaran.
“Kenapa bisa begini? Kurang ajar kau bajingan! Akan kubalas kau,” umpatnya tanpa suara, sudut matanya berair, menyesali semua yang sudah terjadi. Entah sampai kapan dia akan berada diruangan itu yang seperti neraka baginya. Dia tidak tahu siapa orang-orang yang selalu masuk keruangan yang menyeramkan itu. Setiap hari dia mendengar teriakan kesakitan dari tiga pria yang berada diruang bawah tanah, itu dia tidak bisa melihat wajah mereka karena ruangan yang terpisah, hanya jeritan dan teriakan kesakitan yang memilukan yang selalu didengarnya siang dan malam.
Hingga pagi ini, kedua pria itu melepaskan ikatan tangannya dan menggendong tubuhnya kedalam kamar mandi. Mengguyurnya dengan air dingin dan membersihkan tubuhnya. Pasrah hanya itu yang bisa dia lakukan, tubuhnya terlalu lemah untuk melawan, meskipun dia berusaha, tetap saja dia tidak akan bisa keluar dari sana. Pengawalan ditempat itu sangat ketat. Setelah membersihkan dan mendandani gadis itu, mereka membawanya kesebuah kamar. Kedua pria itu menikmati pelayanan gratis.
...*...
“Ha! Lihat itu…..anak kita lucu sekali, sayang." teriak Verrel tanpa sadar saat melihat dua janin dilayar monitor. “Wajahnya mirip denganku,” ujarnya lagi.
“Syukurlah, karena aku berharap begitu. Jadi aku bisa menatap wajah anakku kalau kau tidak ada.” jawab Deandra tersenyum.
“Apakah kau akan lebih mencintainya daripadaku?”
“Sudah pasti!” gereget Deandra dengan wajah lucu melihat ke layar monitor. Viktor dan Yahya hanya saling pandang melihat interaksi kedua cucunya.
“Ohh….begitu ya. Jadi kau sudah mulai tidak mencintaiku lagi? Apa setelah dia lahir, aku harus bersaing dengannya?” tanya Verrel cemburu.
__ADS_1
“Iya! he...he...he...karena dia cinta keduaku yang paling kucinta. Dia gabungan cintamu dan cintaku. Aaaa…..dia sangat menggemaskan.” kata Deandra. “Dokter berikan saya salinan foto usg nya ya,”
“Baiklah Nyonya.” kata Dokter Rika. Tak lama perawat memberikan sebuah lembaran foto usg pada Deandra, lalu dokter dan perawat pun pamit. Dua orang perawat lainnya segera memindahkan peralatan usg keluar dari kamar itu. Sejak Verrel dan Deandra tinggal di villa milik Viktor, peralatan medis sudah lengkap disana. Deandra tidak perlu lagi jauh-jauh kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Dokter Rika dan dua orang perawat selalu datang berkunjung dua kali seminggu untuk memeriksa kondisi Deandra dan bayinya. Dokter Rika adalah rekan kerja Romeo.
“Belum lahir saja sudah merebut kau dariku, apalagi kalau sudah lahir, bisa-bisa aku tidak kau pedulikan lagi,” ujar Verrel menghembuskan napas.
“Ha...ha….ha…..ha...” tawa terbahak-bahak kedua pria tua yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang tempat Deandra berbaring, “Sepertinya kau harus bekerja lebih keras lagi setelah anakmu lahir,” kata Yahya mengejek cucunya.
“Yahya, bagaimana kalau kita bagi dua saja. Satu bayi untukmu dan satu untukku,” kata Viktor memberi isyarat pada Yahya. “Wah...ide bagus itu,” sahut Yahya.
“Tidak! Tidak! Opa tidak boleh mengambil anakku! Enak saja kalian mau merebut anakku,”
Deandra tertawa sambil memegangi perutnya, tiba-tiba dia merintih kesakitan membuatn ketiga pria itu mendekat ke ranjang. “Kenapa, nak?”
“Tidak apa-apa. Anakku menendang dengan kuat sekali.”
“Kenapa kau menendang mommy, anak nakal? Apakah kau marah sama daddy ya?” tanya Verrel yang meletakkan tangannya diperut Deandra. Kembali tendangan itu tepat dibawah tangan Verrel, Deandra meringis sambil menahan senyum karena respon anaknya.
“Waduh, tendangannya kuat sekali,” kata Verrel yang merasakan tendangan anaknya.
“Sepertinya mereka marah padamu,” kata Yahya
“Kau harus berhati-hati jika anakmu lahir. Sekarang cucuku sudah punya dua pengawal kecil yang akan selalu membelanya.” ucap Viktor tersenyum.
“Viktor, apakah kau ingat waktu Verrel masih kecil, bagaimana dia marah pada kita karena terlambat pulang?”
“Ya, ya aku ingat. Kalau tidak salah waktu itu dia berumur empat tahun. Berdiri didepan pintu sambil menyilangkan tangan didada seperti seorang bos mafia, matanya tajam. Aku ingat waktu itu aku bilang padamu kelak cucumu akan ditakuti orang. Masih kecil saja sudah menakutkan...ha...ha….ha. Ternyata dia malah menikahi cucuku secara paksa,” tawa Viktor pecah. Suasana ruangan itu ceria terlebih lagi Deandra yang mendengar cerita kedua kakek tua itu tentang Verrel kecil.
__ADS_1
“Apakah menurutmu cucu kita akan menakutkan seperti itu ya?” tanya Viktor.
“Mungkin lebih menakutkan, karena ada darah Viktor Benazar Hutama mengalir ditubuhnya,” jawab Yahya tertawa.