
Aliran darah ditubuh Deandra seolah berhenti setelah mengetahui dirinya sedang hamil. Tidak hanya dadanya yang berdebar, ia juga merasa kesulitan untuk bernapas.
“Ini benar-benar diluar dugaanku dan tidak masuk akal, kenapa aku harus terperangkap ditempat ini ya, Tuhan?” Deandra pasrah. Saat pria itu mengumumkan posisinya dirumah itu, deandra sudah tidak bisa kemana-mana. Kemanapun ia bersembunyi Verrel pasti menemukannya dan membawanya kembali.
Verrel melangkah seperti terbang saat tiba didepan pintu rumahnya. Para pelayan dan pengawal pun terkejut. Sambutan para pelayan pun tak ditanggapinya. Bergegas dia naik ke lantai dua dan masuk ke kamar deandra.
“Hai, sayang,” ucapnya seraya memberikan buket bunga pada deandra yang langsung tersenyum, Verrel memeluk gadis itu erat. Seumur hidupnya baru kali ini dia diberikan buket bunga oleh seorang pria. “Terimakasih, sayang,” ucap deandra.
Verrel sangat bahagia mendengar kabar kehamilan deandra, ia mengecup kening dan bibir deandra, tangannya mengelus perut rata gadis itu sambil tersenyum. ‘Akhirnya kau milikku seutuhnya.’
“Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Verrel sambil mengelus perut datar itu. Deandra terpaku memandang wajah tampan pria dihadapannya. Sikap manis dan lembut Verrel yang sangat berbeda dengan sikapnya tadi malam.
“Aku tidak baik,” ucapnya manja.
“Apa yang sakit?” tanya Verrel mengelus-elus pipi deandra yang menggemaskannya.
“Kau tidak ada, jadi aku tidak baik-baik,” menatap Verrel yang tersenyum mendengar suara manjanya. Entah kenapa gadis itu merasa rindu pada Verrel sejak pagi tadi.
“Kita kerumah sakit ya.” kata Verrel.
“Besok. Tadi Romeo bilang besok aku harus periksa. Aku juga harus bedrest, tidak boleh banyak bergerak dan capek,” ucapnya tersenyum. ‘Ahh aku bisa aman dari pria mesum ini. Ada baiknya juga aku hamil jadi dia tidak bisa memintaku untuk melayaninya.’
“Jangan kau pikir bisa bebas,” kata Verrel seakan tahu apa yang dipikirkan deandra. Diapun sengaja menggoda gadis itu.
“Hah? Maksudnya,”
“Kau harus double kan,”
“Tidak! Tidak! Romeo bilang aku harus bedrest,” protes dengan tatapan kesal pada Verrel.
“Kenapa, sayang. Kau takut?” bertanya sambil mencubit ujung hidung deandra. Melihat wajah cemberutnya membuat Verrel tertawa. “Katakan. Kau mau hadiah apa?”
“Hadiah? Untuk apa?”
“Untukmu dan calon anakku,” kata Verrel mengecup bibir ranum deandra yang sudah jadi candunya. Deandra termangu, untuk pertama kali seorang pria menanyakannya hadiah yang dia mau.
Gadis itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak mau apa-apa. Verrel tersenyum ‘kau memang berbeda dengan wanita lain. Jika wanita lain pasti sudah minta dibelikan barang-barang mewah. Itu yang membuatku tergila-gila padamu, Deandra Ailsie, ucapnya dalam hati.
“Yuna!”
__ADS_1
“Ya, Tuan. Saya disini.” jawab Yuna yang dari tadi menunggu didepan pintu kamar Deandra. Hanya dengan isyarat menunjuk ke buket bunga,Yuna pun mengerti. Dia langsung menyuruh pelayan menaruh bunga itu di vas bunga.
“Yuna, urus Nyonya dengan baik, Pastikan makanannya bergizi.”
“Baiklah, Tuan. Saya akan laksanakan perintah, Tuan.”
“Berikan apapun yang dia mau. Jangan sampai ada kesalahan!”
“Baik, Tuan.”
“Maaf, Tuan. Apakah saya harus memberitahu kabar kehamilan nyonya pada para pelayan?”
“Ya, supaya mereka semua hati-hati menjaga Nyonya dan calon anakku. Kalau sampai terjadi apa-apa, aku akan menghukum semua.” jawab Verrel memastikan semua orang dirumahnya ikut bertanggung jawab mengurus dan menjaga kenyamanan wanitanya.
Yuna dan kedua pelayan pribadi deandra pamit undur diri, karena tidak ingin menganggu majikannya. Verrel meraih ponsel dari sakunya dan mengirimkan pesan pada Frans untuk membelikan hadiah paling mahal untuk deandra. ‘Hadiah apa, Tuan? Saya tidak tahu’ pesan dari Frans.
‘Belikan perhiasan mahal. Yang paling mahal dan antar kerumah sekarang.’ balas Verrel.
“Mau kemana?” tanya deandra yang melihat Verrel hendak pergi.
“Mandi. Mau ikut, sayang?” kembali menggoda Deandra yang terlihat langsung mengerucutkan mulutnya. Kenapa dia semakin menggemaskan gumam Verrel.
“Kenapa?”
“Hmmm….tidak. Kau tampan sekali,” ujarnya asal lalu menutup mulutnya karena malu.
“Ha..ha….ha. Apa kau memujiku, Nyonya Verrel?” tawanya bergema untuk pertama kalinya gadis itu memuji ketampanannya. “Kau mau apa? Tiba-tiba memujiku,” kata Verrel.
“Tidak mau apa-apa. Memangnya kalau aku memujimu berarti aku menginginkan sesuatu?”
“Maybe. Who know?” kata Verrel langsung menindih tubuhnya dan ******* bibirnya.
“Ihhh…..perutku sakit. Minggir!” mendorong tubuh Verrel kesampingnya.
“Maaf, sayang. Sakit?”
Deandra mengangguk, “Sakit hatiku.” mendadak matanya berkabut membuat Verrel heran kenapa tiba-tiba gadis ini mau menangis.
“Sssttt…..Apa aku salah bicara? Maafkan aku,sayang.” mengelus-elus wajah gadis itu. “Apa yang bisa kulakukan?” kata maaf yang tak pernah terucap dari mulutnya kini meluncur tanpa hambatan. Untuk kedua kalinya dia mengucapkan kata itu pada Deandra, hanya untuk gadis itu.
__ADS_1
“Aku maafkan. Tapi ada syaratnya,” mulai tingkahnya sama seperti Verrel yang semuanya pakai syarat.
“Katakan....hmm”
“Aku mau makan malam romantis di restoran. Terus, bawa aku jalan-jalan,” kata Deandra tersenyum. Kesempatanku untuk bisa jalan-jalan keluar, sudah bosan dirumah terus.
“Aku akan melakukannya setelah pernikahan kita, sayang.” kata Verrel.
“Kenapa tidak besok malam?”
“Ingat kau harus bedrest. Sekarang mau makan apa?” tanya Verrel dengan suara lembut.
“Mau makan bakso, bakwan udang, nasi goreng sama cake coklat,” membulatkan mata membayangkan makanan kesukaannya.
“Hah? Yakin mau semua?”
“Iya, ya. Kan yang makan dua orang,” jawab deandra menunjuk perutnya yang masih datar.o
Verrel memanggil kepala pelayan dirumahnya dan meminta untuk menyiapkan semua makanan yang diminta Deandra. Tak lama terdengar ketukan dipintu. Yuna kembali masuk kekamar dengan diikuti Frans.
“Maaf, Tuan. Kalau saya menganggu. Ini saya bawakan pesanan Tuan,” seraya menyerahkan kotak yang dibungkus rapi dengan pita warna emas diatasnya. Sesuai perintah sang tuan besar, Frans membeli set perhiasan berlian seharga miliaran.
“Saya juga ingin mengucapkan selamat pada Tuan dan Nyonya,” ucapnya sopan.
“Terimakasih,” jawab Deandra tersenyum. Frans pun undur diri keluar dari kamar.
“Apa ini?” tanya Deandra melihat kotak yang diberikan Verrel padanya.
“Bukalah, sayang. Hadiah untukmu.” kata Verrel tersenyum. Deandra membuka bungkusan kotak dan melihat kalau itu seperti kotak perhiasan.
“Sa-sayang?”
“Ya, bukalah.”
Matanya membelalak menatap satu set perhiasan berlian yang sangat indah. Matanya berkaca-kaca bahagia mendapat hadiah dari Verrel. “Terimakasih, sayang. Ini pasti mahal sekali?”
Pria itu tersenyum “Tidak mahal, sayang. Apapun akan kuberi untukmu.” jawabnya memeluk gadis itu. Deandra membalas pelukannya dan menyandarkan kepalanya didada bidang Verrel. Wangi maskulin dari tubuh pria itu selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.
Verrel menemani deandra di kamarnya, menyuapinya dengan makanan yang dimintanya. Bahkan saat dia ingin ke kamar mandipun, pria itu menggendongnya ala bridal. Sikap seorang CEO yang terkenal sadis dan kejam berubah jika sudah berhadapan dengan Deandra. Apalagi sekarang gadis itu sedang mengandung anaknya, dia ingin semua baik-baik saja.
__ADS_1
Kepala pelayan Yuna yang melihat perlakukan sang tuan besar pun merasa bahagia. Akhirnya tuannya diluluhkan oleh seorang wanita biasa yang dulu sangat dibencinya. Sepanjang sisa hari itu dihabiskan Verrel dan Deandra di kamar karena dia masih harus bedrest. Tinggal selangkah lagi, ikatan pernikahan akan mengikat Deandra, hanya selangkah lagi.