TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 50. MENJAGA DEANDRA


__ADS_3

Pernikahan selalu menjadi hal membahagiakan setiap orang. Kedua pengantin akan disibukkan oleh persiapan pernikahan, memilih undangan, foto prewed, memilih baju pengantin dan masih banyak lagi.  Kesibukan itu akan menjadi momen terindah untuk dikenang, namun berbeda dengan Deandra dan Verrel.  Pernikahan ini hanya keinginan sebelah pihak.  Semua persiapan sudah diserahkan pada asisten pribadinya.


Apalagi kini gadis itu sedang hamil, seluruh perhatian Verrel pun tercurah padanya. Perubahan sikap dan emosi deandra yang sering membuat Verrel bingung karena inilah pengalaman pertamanya. Hingga Verrel lupa menanyakan Deandra tentang apapun yang terkait pernikahan mereka. Selalu saja ada drama disetiap saat, drama yang selalu berakhir dengan rayuan Verrel pada deandra.


Sementara dirumah, Deandra sedang menikmati berendam memanjakan dirinya. Setelah puas ia pun berjalan kebawah pancuran untuk membersihkan busa sabun yang masih melekat.


“Nyonya, dokter romeo sudah menunggu,” kata Alya yang memakaikan jubah mandi ditubuh majikannya. Dengan cepat kedua pelayannya menuntun Deandra duduk dikursi dan membantu mengeringkan rambutnya. “Kenapa dokter romeo datang? Aku tidak memanggilnya.” kata Deandra heran.


“Untuk memeriksa Nyonya dan memastikan kesehatan Nyonya. Tuan tidak ingin Nyonya dan kandungan Nyonya kenapa-napa. Ini perintah Tuan Besar,” jawab Alya.


“Tapi aku baik-baik saja. Kemarin baru dari rumah sakit, tidak perlu datang memeriksaku setiap hari,” kata Deandra dengan nada sedikit kesal.


“Ini perintah Tuan Besar.”


“Kalau begitu telepon Tuanmu. Aku mau bicara dengannya,” ucap deandra kesal.


Setelah selesai berpakaian, Yuna datang membawakan ponsel untuk Deandra. “Silahkan, Nyonya.” Yuna menyerahkan ponsel yang sudah terhubung dengan Verrel.


“Halo,”


“Ada apa? Yuna bilang kau mau bicara,” mendengar suara berat khas Verrel membuat lidah Deandra kelu, ia meneguk salivanya dan mencoba mengatur napas.


“Kenapa Romeo datang lagi? Aku tidak mau ketemu siapapun sekarang.” jawabnya.


“Apa alasannya?” tanya Verrel.


“Baru kemarin kita dari rumah sakit. Kenapa harus periksa lagi?”


“Aku hanya ingin memastikan kondisimu dan anakku baik-baik saja,” jawab Verrel.


“Kau terlalu berlebihan. Tidak perlu menyuruhnya datang memeriksaku setiap hari,” kata Deandra yang kesal, emosinya mulai tak stabil.

__ADS_1


“Sudah jangan marah. Aku akan menyuruhnya pulang.” kata Verrel dengan suara lembut, dia tidak ingin gadis itu mengamuk seperti tadi malam. Hanya gara-gara Verrel merayunya malah membuat gadis itu mengamuk. Niat hati mau menyenangkannya malah Verrel diamuk oleh deandra. Berjam-jam dia membujuk Deandra yang ngambek, beribu jurus dipakainya untuk membuat Deandra berhenti mendiamkannya. Kesabarannya benar-benar diuji oleh Deandra yang lagi hamil muda.


“Nyonya,” Alya menyentuh bahu majikannya dengan lembut. Ia melihat sang nyonya besar melamun setelah berbicara dengan tuannya.


“Ada apa?” tanya Deandra yang masih menatap lurus, belum menyadari sekelilingnya.


“Ini makanan yang Nyonya minta, silahkan dimakan Nyonya nanti dingin,”


Deandra melirik kearah meja disampingnya yang sudah terhidang sup jagung, salad sayur ayam dan puding mangga.


Perlahan dia menyuap makanan kemulutnya, dia teringat kejadian tadi malam saat Verrel membujuknya. Deandra merasa aneh kenapa dirinya mudah emosi sekarang. Tak terasa semua makanan pun habis dilahapnya. “Nyonya, apa anda baik-baik saja?” tanya Tami yang melihat majikannya menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Ya, aku baik-baik saja. Aku terlalu banyak memasukkan makanan kemulutku.”


Tami mengangguk dan membantu sang Nyonya kembali ke tempat tidurnya untuk berbaring.  Setiap saat kedua pelayannya akan melaporkan keadaan sang Nyonya pada kepala pelayan Yuna.


...*...


“Baik, Tuan.” Frans sesekali melirik sang tuan melalui spion, terlihat kegelisahan diwajah tuannya. Ia mencoba menebak ada apa dengan tuannya. ‘Sepertinya Tuan Verrel sedang mengkhawatirkan Nyonya Deandra, apalagi saat ini ia sedang hamil muda.


Begitu mereka sampai didepan rumah, Verrel turun dari mobil dengan tergesa-gesa, ia bahkan tidak mempedulikan sapaan para pelayannya yang menyambut kedatangannya. Sungguh aneh perilakunya, seorang CEO yang dikenal dingin, kejam tak punya perasaan dan bengis kini mengkhawatirkan seorang wanita.


“Dimana dia?” tanya Verrel pada Yuna yang terlihat keluar dari kamarnya.


“Nyonya ada dikamar anda. Nyonya sedang istirahat, Tuan.”


“Apa dia baik-baik saja?”


“Iya, Nyonya baik saja. Hanya tadi Nyonya merasa sedikit mual,” jawab Yuna menjelaskan.


“Baiklah. Kau bisa pergi. Suruh kedua pelayannya pergi, biar aku yang akan menjaganya,” begitu kedua pelayan Deandra keluar dari kamar sang tuan, Verrel langsung masuk dan mengunci pintu, membuat Yuna terkesiap melihat sikap tuannya.

__ADS_1


“Apa aku tidak salah dengar? Tuan Besar menjaga Nyonya?” gumam Yuna. Dia tidak tahu kalau tadi malam tuannya justru kelimpungan membujuk Deandra yang merajuk dan mendiamkannya.


Verrel membuka jas dan melemparkan ke sofa lalu melangkah mendekati ranjang dimana Deandra tertidur lelap.


Verrel memandang dan memindai wajah cantik yang terlihat pulas dan damai.  Tangannya menyentuh pipi gadis itu dan mengelusnya, menyibakkan rambut yang jatuh ke wajah cantik itu. Hatinya berdesir menyentuh kulit halus gadis itu, debaran jantungnya semakin kencang dan bertalu-talu.


Dia sangat menikmati memandang Deandra saat tidur, wanita yang tidak mau menggodanya itu selalu membuat hatinya bergetar. Setiap kali berada didekat deandra, tubuhnya bergetar, debaran jantungnya kencang.


“Aku menyayangimu. Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskanmu Deandra Ailsie. Meskipun kau tidak mencintaiku, tapi kau akan jatuh cinta dan tidak akan sanggup jauh dariku,” ikrarnya yang tanpa paksaan dan penuh kesadaran. Kini dia menyadari betapa berartinya gadis itu baginya.


Dulu dia pernah punya kekasih tapi perasaannya pada Deandra berbeda dengan yang dirasakannya dulu. Apalagi kini mereka terikat oleh malaikat kecil yang sedang berkembang dirahim gadis itu. Semua yang dilakukannya pada Deandra adalah hal yang tidak pernah dilakukannya pada siapapun. Hanya saja Deandra belum menyadari jika pria itu menyayanginya.


Verrel beranjak ke mini bar yang terletak disudut ruangan. Menuangkan sampanye mahal ke gelasnya dan menyesapnya perlahan menikmati dalam ketenangan, sesekali dia melirik kearah Deandra. Kembali Verrel mengikrarkan dalam hatinya bahwa Deandra adalah miliknya dan tidak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi dan apapun alasannya. Dia berjanji akan menjaga Deandra dan calon anaknya.


Dret...dret...dret


Panggilan masuk dari Jack. Orang kepercayaannya di lapangan.


"Halo."


"Saya ingin melaporkan, Tuan. Nyonya Andini menyuruh seseorang untuk mencetak foto Nyonya Besar dan ingin menyebarkan foto itu ke media. Ternyata dia memasang kamera dibadannya saat datang kerumah."


"Kau tahu apa yang harus dilakukan."


"Baik, Tuan. Saya sudah menangkap orang itu dan menghancurkan semua foto dan kameranya."


"Kirim lebih banyak anak buahmu dan hancurkan kediamannya. Katakan ini peringatan pertama!"


"Baiklah, Tuan. Semua perintah Tuan akan kami laksanakan."


"Kurang ajar kau, setelah ini apa kau masih berani mengusik wanitaku?"

__ADS_1


__ADS_2