
Tangan Verrel menggenggam tangan deandra sepanjang perjalanan menuju lokasi pre-wedding. Deandra memandang keluar jendela menikmati pemandangan. Tak terasa mereka sampai dilokasi pemotretan, dia memilih resort pribadinya sebagai lokasi pemotretan untuk menjaga privasi.
Mengingat kehebohan tentang identitas calon mempelai wanita yang masih terus diincar oleh media. Untuk menghindari terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka dia memilih resort pribadinya dengan pengamanan ketat.
“Kenapa kau melamun?” tanya Verrel yang tak direspon oleh gadis itu.
Tangannya menarik dagu deandra “Apa yang kau pikirkan?” membuat gadis itu menegang karena ia benar-benar melamun.
“Hmm...aku memikirkan pemotretan pre-wedding.”
“Kenapa? Apa yang kau khawatirkan?”
Dengan menghela napas panjang, ia merasa lega “Kau tahu kalau aku tidak ada persiapan. Ini akan menjadi kenangan indah selamanya. Bagaimana----” ucapannya terputus karena Verrel sudah ******* bibir ranum miliknya. Deandra membalas ciumannya, dada Verrel berdetak kencang memunculkan debaran-debaran aneh yang menggelitik perasaan pria itu. Perlahan ia melepas ciumannya, menatap wajah deandra yang merona, kedua matanya terpejam dan bibir yang terbuka. Indah! Ini lebih dari indah, semakin hari gadis itu semakin menawan dimata Verrel. Mungkin pengaruh dari bayinya.
Verrel terpaku tak bergeming, bahkan saat Deandra memanggil namanya dia tak menyahut. “Verrel...Verrel sayang,” karena tak juga menyahut, tangan deandra membelai wajah pria tampan itu dan mengecup bibirnya.
Spontan kecupan itu menyadarkan Verrel. Matanya mengerjap “Ya.” Ada apa sayang?”
Kini malah deandra yang terkesima melihat reaksi manis pria itu. Jujur verrel tak menyangka bagaimana ia bisa seperti itu, sangat terpesona oleh seorang wanita.
...*...
Verrel terpesona memandang Deandra yang mengenakan gaun putih bertahtakan berlian asli dibagian dada. Ia tampil cantik dan anggun dalam balutan gaun itu apalagi riasan wajahnya berwarna natural memancarkan kecantikan alami. Suatu ide pun terbersit dikepala sang CEO. Alih-alih memakai model untuk launching produknya, kenapa bukan istrinya saja yang jadi model untuk perusahaannya. Deandra bahkan jauh lebih cantik dari model manapun.
'Tapi kalau dia jadi modelku, semua pria diluar sana akan menatapnya. Tidak!Tidak! Tidak ada yang boleh memandang kecantikannya. Makim kesini, Verrel semakim posesif.
__ADS_1
Fotographer yang mengarahkan pose keduanya benar-benar diuji kesabarannya. Pasalnya Verrel terus-terusan menatap wajah Deandra tak berkedip dan tak mendengar panggilan fotographer.
Belum lagi saat dia harus merapikan baju ataupun anak rambut Deandra, dengan tatapan tajam dan marah Verrel membuat fotographer itu ketakutan. Untung dia dibayar mahal kalau tidak dia ingin lari dari sana sekarang. Pada sesi pemotretan, dimana Verrel diarahkan memandang wajah Deandra dan tangannya menyentuh dagu, untuk kesekian kalinya kesabaran fotographer diuji karena Verrel merenggut bibir ranum itu dengan penuh gairah. Semua orang yang ada disana terkejut dan saling berpandangan tanpa berkata apapun. Dada mereka sesak disuguhi adengan mesra Verrel, bahkan MUA pun berulang kali memoles lipstik ke bibir Deandra.
Sesi foto pre-wedding sudah selesai namun Verrel masih bermesraan. Seorang asisten MUA bergumam “Wah...beruntung sekali wanita itu. Entah perbuatan baik apa yang sudah dilakukannya hingga dia bisa mendapatkan CEO tampan itu. Pria terkaya se Asia.”
“Apa kau iri?” tanya rekan fotographer.
“Jika boleh berandai-andai, aku juga mau seperti itu.” jawabnya
“Sudah sana beres-beres. Jangan menghayal."
Wanita itu hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya pada Verrel dan Deandra. Andai itu adalah dirinya, betapa bahagianya, gumamnya.
Verrel melepaskan ciumannya, memandang wajah mempesona Nyonya Verrel, tiba-tiba dia teringat sesuatu, di pesta nanti akan banyak sekali tamu undangan laki-laki. Bagaimana aku bisa menahan diri jika mereka menatap Deandra? Verrel menjadi emosi. Deandra yang melihat perubahan raut wajah pria itu segera menarik tangannya. “Sayang, ayo pulang. Kau capek kan, sayang? Nanti aku pijitin ya?”
“Ck. Kita belum bisa pulang. Harus fitting baju pengantin.” langsung menarik tangan deandra.
Setelah tiba dibutik ternama, deandra terpana memandang pantulan dirinya didepan cermin. Ia mengenakan gaun dengan model belahan dada rendah. Gaun itu memperlihatkan keindahan tubuhnya, lekukan pinggang, dada yang menonjol dan pinggulnya. Gaun ini akan dipakai untuk acara pemberkatan.
Sedangkan untuk acara pesta sudah ada gaun lain yang dipilih Verrel dan Deandra. Pria tampan itu terpana memandang keindahan didepannya, hatinya gelisah. Jika seorang penguasa ranjang sepertinya bisa terpaku oleh keindahan wanita itu, apalagi pria-pria lain diluar sana. Memikirkan itu, membuatnya emosi dan tak tenang. Verrel mendekatinya dan menyusupkan tangannya ke pinggang Deandra dan memeluknya dari belakang.
"Apa kau baik-baik saja?" deandra bertanya, dari tadi dia melihat kegelisahan Verrel.
"Ya, kau terlalu cantik sayang," ucapkan mengelus wajah cantik didepannya. Kenapa kau semakin mempesona Deandra Ailsie? Bagaimana aku bisa menahan emosiku jika banyak pria diluar sana memandangmu?
__ADS_1
Setelah selesai fitting baju pengantin keduanya kembali kerumah. Deandra yang mengantuk akhirnya tertidur sepanjang perjalanan. Sesekali Verrel menoleh memandang wajah cantik yang semakin hari semakin terlihat mempesona itu.
“Sayang, bangun. Kita sudah sampai,” karena tak ada sahutan, Verrel keluar dari mobil dan menggendong tubuh Deandra. Sesampainya dikamar dia merebahkan tubuh itu di ranjang, Deandra menggeliat saat Verrel menarik selimut menutupi tubuh gadis itu.
“Sayang, istirahatlah. Aku kerja dulu. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” mengecup kening dan bibir Deandra yang pulas.
...*...
Deandra berdiri di balkon, menikmati udara segar, hembusan angin menyibak rambutnya memperlihatkan leher mulusnya. Pikirannya menerawang jauh, ia merasa lelah harus melayani nafsu Verrel setiap saat. Pria itu tidak mengenal kata lelah, meskipun sikapnya sudah lembut tapi…..ia melangkah masuk dan menutup pintu balkon. Kembali berbaring di ranjangnya yang lembut dengan wangi maskulin milik Verrel yang menenangkannya.
...*...
“Apa?” teriak Verrel yang sedang berada diruang kerjanya, saat ini ia menerima telepon dari asistennya. Tampak rahangnya mengeras mendengar kabar yang membuat emosinya memuncak.
“Awasi si brengsek itu! Jangan sampai lalai. Aku tidak mau dia mengacaukan semua.”
...*...
Di bandar udara Internasional Hongkong, seorang pria tampan sudah berada didalam pesawat pribadi milik rekan bisnisnya yang akan membawanya kembali ke tanah air. Hatinya berbunga-bunga, senyumnya mengembang. Dia sudah membeli oleh-oleh untuk kekasihnya berikut sebuah cincin berlian.
“Aku akan menikahimu sayang. Kau hanya milikku. Apapun alasanmu takkan kubiarkan kau menolakku lagi.” Rico pernah mengutarakan keinginannya untuk menikahi Deandra, namun saat itu entah kenapa gadis itu menolaknya. Meskipun Deandra memang siap menikah, apakah itu takdir yang membuatnya menolak lamaran Rico saat itu.
Rico adalah anak dari Amran Ceyhan dan Andini. Rico selalu mendapatkan apapun yang dia mau dan selalu mengikuti kemauan ibunya. Matanya memandang wajah cantik yang terpampang di layar ponselnya. Deandra, gadis cantik idola semua pria, banyak pria yang mengincarnya dan suatu kebanggaan bagi seorang pria jika bisa memiliki gadis itu.
__ADS_1
Tiba-tiba pesawat terguncang, cincin berlian yang dipegang Rico terjatuh dari tangannya. Rico terkejut membungkukkan badan mencari cincinnya. Cincin berlian yang dia beli untuk melamar Deandra itu tak ditemukannya, Rico terlihat sangat gelisah ‘Semoga ini bukan pertanda buruk’ ucapnya sembari memegang dadanya yang berdebar kencang.
Dia bahkan meminta parmugari membantu mencari cincin itu diseluruh pesawat pribadi yang ditumpanginya. Anehnya, setelah dicari-cari cincin itu tidak ketemu. Perasaannya jadi tak menentu, dia merasa firasat buruk.