TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 241. KELAB MALAM


__ADS_3

“Sudahlah jangan banyak tanya. Kita masuk kedalam dan selesaikan tugas kita secepatnya.”


“Baiklah. Tapi kau harus menjelaskan padaku nanti. Apa cctv nya sudah padam?”


“Sudah, makanya kita harus bergerak cepat. Kita tidak punya banyak waktu.”


Kedua pria itu masuk setelah pintu kecil terbuka dan ditutup kembali, setelah berhasil masuk mereka menyadari jika pintu kecil itu berada di area yang tertutupi semak-semak dan sepertinya sudah lama sekali tidak dilalui karena keadaan dibelakang itu tampak tidak terawat.


Setelah berjalan sebentar, keduanya tiba disisi bagian belakang rumah yang berbatasan dengan halaman samping. Salah satu pria itu memberi kode pada rekannya menunjuk kearah lantai dua. Ruangan yang ingin mereka masuki berada dilantai dua, terdapat balkon yang terhubung ke ruangan tersebut. “Apa kita mau naik keatas dari sini atau melalui tangga didalam rumah?”


“Aku tidak mau berurusan dengan orang yang ada didalam rumah, waktu kita tidak banyak.”


Dia lalu mengeluarkan tali yang sudah disiapkannya dari dalam tasnya lalu mengambil ancang-ancang melemparkan tali itu ke pembatas balkon, di ujung tali ada pengait yang tersangkut di pembatas balkon. “Aku naik duluan, kau susul aku.”


Setelah keduanya berada dibalkon, tali yang mereka pakai naik keatas pun ditarik kembali agar tidak menimbulkan kecurigaan. Salah satu pria itu sedang mencoba membuka pintu. Tak butuh waktu lama pintu terbuka dan keduanya masuk kedalam ruangan yang ternyata adalah kamar utama yang berukuran luas.


“Dimana benda itu berada?”


“Disimpan didalam brankas tapi aku tidak tahu dimana brankasnya. Kau cari disebelah sana, aku cari disini. Cari jika ada ruang rahasia.”


Setelah sepuluh menit mencari, mereka menemukan brankas yang disembunyikan dibalik cermin dikamar mandi, tempat penyimpanan unik yang takkan terpikirkan oleh orang lain. Salah satu pria itu mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya untuk meretas kode untuk membuka brankas.

__ADS_1


Ting!


Brankas pun terbuka, didalam hanya ada sebuah kotak kecil seukuran kotak cincin. Saat dibuka, isinya adalah sebuah kunci dan flashdisk. “Dapat!”ujar mereka senang. Lalu mereka menutup kembali brankas dan menyusun barang-barang seperti sedia kala dan menghapus jejak mereka.


Saat mereka baru saja keluar dari pintu dan mengunci kembali pintu balkon, terdengar suara pintu kamar yang dibuka.


Saat itu juga terdengar suara dari dalam kamar, “Apa ada orang didalam? Nona Stefanie, andakah itu?”


Kedua pria itu segera melompat kebawah tanpa menggunakan tali lagi. Mereka bergegas berlari secepat mungkin untuk keluar dari sana. Saat mereka hendak membuka pintu keluar, terdengar suara gonggongan anjing dan langkah kaki yang sepeeti berlari menuju kearah mereka.


Secepatnya mereka membuka pintu dan keluar tepat saat seorang penjaga dan dua ekor anjing tiba disana. Kedua anjing berlari kencang menuju pintu dan menyalak kencang. Si penjaga memeriksa pintu kecil yang tertutup rapat dan terkunci. “Ada apa dengan kalian, ha? Tidak ada siapapun disini.” ujarnya. “Aneh! Anjing-anjing ini membawaku kesini tapi tidak ada apapun disini.”


“Bukankah tadi kau yang juga mendengar suara dari kamar itu?” tanya si penjaga.


“:Ya, coba kita periksa cctv mungkin ada yang masuk kesini.”


“Hem….kau pastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat! Jangan sampai Nona Besar marah kalau tahu ada yang masuk kesini.”


...********...


Olivia baru saja mengambil kartu kamarnya dari resepsionis hotel, dia melangkah kedepan lift lalu menekan tombol naik. Dia berdiri menyilangkan kaki sambil memainkan kartu ditangannya. Dibelakangnya berdiri sepasang kekasih yang juga sedang menunggu. Saat bunyi pintu lift terdengar, dia mengangkat kepalanya dan masuk kedalam lift. Baru saja pintu akan tertutup, sebuah tangan terulur menahan hingga pintu terbuka kembali. Sosok tinggi dengan mengenakan celana jeans warna biru tua dan blazer warna senada membalut t-shirt putih yang masih menampakkan lekuk tubuh seksi sang empunya.

__ADS_1


Olivia tanpa sadar mengangkat wajahnya dan menatap pria yang berdiri dihadapannya. Dia memicingkan mata mencoba mengenali wajah yang terlihat familiar itu tapi dia tidak bisa mengingat dimana dia pernah melihat pria itu sebelumnya. ‘Ah, mungkin dia seorang selebriti atau model.’ gumamnya didalam hati. Lift beranjak naik lalu berhenti dilantai 20, pintu terbuka dan si pria berjalan keluar dari lift. Kini didalam lift yang luas itu hanya ada tersisa empat orang hingga lift sampai dilantai teratas.


Olivia pun keluar bersamaan dengan yang lainnya. Dia sendirian, melangkah kearah resepionis lalu menunjukkan kartu membernya dan masuk ke sebuah kelab malam. Sky Lounge merupakan salah satu dari sekian banyak kelab malam di ibukota yang berada dilantai teratas sebuah hotel bintang lima yang mewah dan menyediakan kamar VVIP. Kelab malam ini biasa dikunjungi oleh orang-orang Asing karena lokasinya yang berada dihotel dan tidak sembarangan orang bisa masuk ke kelab malam itu. Biasanya Sky Lounge ramai pengunjung pada hari jumat dan akhir pekan.


Namun setiap hari rabu, Sky lounge selalu mengadakan Ladies Night dimana wanita-wanita karir kelas atas akan menghabiskan malam dan menikmati pertunjukan spesial dan berbagai penawaran istimewa untuk minuman. Olivia pelanggan baru disana, sudah dua kali dia datang ke kelab malam itu sejak dia tiba di Indonesia. Untuk memiliki kartu member agar bisa masuk kesana harus membayar fee yang cukup mahal. Tapi biaya mahal itu sesuai dengan kenyamanan dan keamanan yang didapat di kelab itu.


Dunia malam bukanlah hal yang baru bagi Olivia, dia sudah biasa semalaman suntuk berpesta bersama teman-teman sosialitanya dulu semasa dia tinggal di luar negeri. Entah sudah berapa banyak kelab malam yang didatanginya diberbagai negara hanya untuk bersenang-senang bersama teman-teman sosialitanya dan bertemu pria-pria tampan dan kaya. Karena sekarang dia tinggal di Jakarta, maka dia pun ingin membangun kehidupan sosialitanya di kota ini selama dia menetap disana.


Olivia mengedarkan pandangannya mencari seseorang namun dia tak menemukan orang yang dicarinya. Akhirnya dia memilih duduk di bar lalu memesan minuman. “Kemana sih dia? Apa dia lupa ya kalau mau ketemu aku disini? Ck!”


“Selamat malam Nona! Anda mau minum apa?” tanya bartender berwajah tampan dengan rambut-rambut halus menghiasi rahangnya. Wajahnya tampan, dengan rambut hitam legam.


“Berikan aku Mimossa!”


“Wow! Pilihan tepat untuk malam ini, nona. Tunggu sebentar.”


Bartender segera membuatkan minuman untuk Olivia, wanita itu masih mengedarkan pandangannya. “Ramai banget malam ini. Oh iya malam ini kan ladies night! Aihhh….”


“Silahkan nona.” bartender kembali dengan minuman pesanan Olivia. Dia pun menyesap minumannya yang terasa segar mengaliri tenggorokannya.


*Mimosa adalah sejenis cocktail yang mengandung alkohol tinggi, dengan rasa manis krispi dan segar terbuat dari campuran jus jeruk, dan champagne. Mimosa mengandung 50% alkohol sehingga mudah membuat orang mabuk.

__ADS_1


__ADS_2