
Kehebohan terjadi dikediaman Tuan Viktor. Dua kakek yang sedang berdebat soal desain kamar cicit kembar mereka. Masing-masing menunjukkan desain favoritnya, sudah satu jam mereka berdebat. Verrel dan Deandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Opa mereka.
“Sudahlah Opa jangan berdebat. Bagaimana kalau bagi tugas saja?” tanya Deandra.
“Pilihan Opa Yahya terlalu maskulin, masa kamar cicitku desainnya begitu,” dengus Viktor.
“Daripada pilihanmu terlalu kekanak-kanakan,” balas Yahya tak mau kalah.
“Sudah...sudah. Lebih baik bagi tugas saja. Opa Yahya pilih desain untuk bayi laki-laki dan Opa Viktor desain untuk bayi perempuan, adil bukan?”
“Ya, ya ya betul,” sahut kedua pria tua itu serempak. Deandra hanya bisa menepuk dahinya.
“Memangnya kami akan tinggal disini Opa?” tanya Deandra.
“Tidak sayang. Kita semua akan tinggal di rumah utama. Rumah utama akan semakin ramai dengan berkumpulnya kita disana. Tapi kalau kamu suka tinggal disini juga tak masalah, kita bisa buat kamar bayi dan nursery dilantai dasar.” kata Viktor.
“Kita akan kembali ke rumah utama setelah kau melahirkan, sayang.” ucap Verrel.
“Benar. Demi kenyamanan dan keamananmu. Kita harus segera mempersiapkan kamar bayi dan acara baby moon yang meriah dan termegah. Ini penerus keluarga Ceyhan dan Hutama,” kata Yahya lagi yang ditimpali oleh Viktor. Kedua pria itu lebih bersemangat menyambut cicit mereka.
“Terserah Opa saja. Aku dan suamiku setuju saja, iyakan sayang?” tanya Deandra manja dan dijawab Verrel dengan anggukan.
...*...
Andini yang tersenyum lebar dengan penampilan mewah bak sosialita. “Bagaimana, Pa?” tanya Andini sambil merangkul erat lengan Amram.. Mengikuti langkah suaminya duduk disalah satu bangku ditaman kecil, disamping rumah mereka. Amran menghela napas panjang dan terdengar berat, sehingga Andini mengeryitkan keningnya. “Kau kemana saja seminggu ini? Tidak pernah menghubungiku, kenapa tak beli ponsel baru?”
“Apa ada masalah? Aku di Bali dan villa teman mama itu diatas perbukitan, susah dapat sinyal, Pa. Apakah semua baik-baik saja?” cerocos Andini yang kemudian pindah duduk kepangkuan suaminya.
“Dia masih hidup Andini,” gumam Amran memejamkan mata, dia bahkan tak punya mood untuk mengecup bibir istrinya seperti biasa dia lakukan.
“Ma---masih hidup?” bertanya dengan suara bergetar “Maksudnya apa---?”
Kalimat itu tak mampu dia selesaikan setelah suaminya menggangguk pelan. Kini semuanya semakin jelas bahwa Verrel masih hidup. Itu berarti, semua rencana dan impiannya berakhir begitu saja. Amran menceritakan semua yang terjadi waktu rapat dewan direksi, juga kalimat ancaman Deandra pada Amran.
“Bahkan istrinya menguasai semua harta kekayaan keluarga Ceyhan. Perempuan itu pewaris tunggal keluarga Hutama yang kaya raya. Kau bisa bayangkan berapa total kekayaan keluarga itu,” kata Amran menghela napas panjang. Setelah bertahun-tahun menunggu saat yang tepat untuk mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya, kini semuanya hilang. Deandra punya kekuasaan yang diberikan suaminya. Amran pun tak berkutik.
Wajah Andini seketika merengut, membayangkan berapa kekayaan total kedua keluarga itu. ‘Kenapa anak itu sangat beruntung? Istrinya cantik dan kaya raya, dan gara-gara wanita itu putraku mendekam di penjara. Rico harus keluar dari sana, aku tidak mau putraku mendekam disana untuk waktu yang lama.
__ADS_1
“Jangan memikirkan rencana untuk membawa kabur Rico dari penjara, Ma. Kau tahu itu sangat beresiko dan kau juga bisa ikut mendekam.” kata Amran yang tahu apa yang sedang dipikirkan Andini.
“Apa papa mau putra kita berada disana dengan masa depan tak jelas? Kalau dia bisa keluar, kita bisa mengirimnya jauh ke luar negri bersama istrinya. Mereka bisa mulai hidup baru disana dan tak perlu kembali kesini.” kata Andini.
“Memangnya mau kau kirim kemana Rico dan istrinya? Verrel pasti akan menemukannya. Apalagi sekarang ada Om Viktor. Mama tidak tahu siapa beliau,”
“Kenapa sih papa sepertinya takut sekali dengan Tuan Viktor? Memangnya dia siapa, hanya pengusaha tajir kan?”
“Bukan hanya pengusaha. Dia juga seorang anggota mafia dan sangat dihormati. Perempuan itu bisa saja meminta kakeknya untuk mencari Rico sampai keujung dunia sekalipun. Dengan koneksi yang dimiliki Om Viktor, apa mama pikir Rico bisa bersembunyi?”
Andini menghela napas panjang, sepertinya kali ini rencananya memang tak mungkin berhasil. Orang yang dihadapinya jauh lebih kuat dan punya kuasa. Jika dia tak hati-hati maka dia sendiri juga akan terjebak bersama putra kesayangannya. Tapi bukan andini namanya jika dia tak punya solusi. Wanita ular itu tersenyum licik, sudah saatnya menagih janji pikirnya.
“Pa, sebenarnya aku kenal seseorang yang bisa membantu Rico.”
“Siapa, Ma?”
“Teman lama. Tapi aku harus menemuinya langsung. Dia orang yang tidak mau membahas sesuatu melalui telepon,”
“Baiklah. Kalau begitu kita temui saja dia.” kata Amran mulai bersemangat.
“Biarkan mama yang menemuinya. Karena dia tidak suka bertemu dengan orang yang dia tidak kenal,” kata Andini mencari alasan. Mana mungkin aku membawa Amran bertemu dengan pria itu.
“Seperti yang mama bilang tadi. Ijinkan aku menemuinya ya, Pa?”
“Dimana dia tinggal?”
“Dia tinggal diluar negeri, Pa.”
“Luar negri dinegara mana?” tanya amran lagi. ‘Andini berpikir, dia harus memilih negara yang agak jauh jadi tidak menimbulkan kecurigaan.’
“Hmm...di Turki, Pa. Iya di Turki.” jawabnya asal karena tiba-tiba nama negara itu muncul.
“Jauh juga,” kata Amran mengeryitkan dahi.
“Iya, Pa. Dia menikahi wanita asal negara itu. Tapi dia orang yang punya banyak koneksi termasuk didunia hitam."
“Kapan mama mau berangkat dan berapa lama?”
__ADS_1
“Bagaimana kalau besok? Mungkin seminggu atau lebih, tergantung situasi. Karena untuk bertemu dengannya harus buat janji dulu,” jawabnya memberi banyak alasan menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya.
“Baiklah. Papa ijinkan. Tapi mama harus selalu mengabari papa.”
“Iya, Pa. Mama janji semua akan baik-baik saja dan hidup kita akan lebih baik setelah aku bertemu dengannya. Hanya dia yang bisa menolong kita,”
“Papa percaya pada mama.”
Andini merasa begitu puas, untuk kesekian kalinya Amran tak berkutik dan menuruti kemauannya lagi dan lagi. Dengan cepat dia melangkah pergi ke kamar dan mulai berbenah. Andini menurunkan koper dari atas lemari dan memasukkan pakaian dan barang yang dibutuhkannya. Bagaimanapun dia harus berakting bagus untuk menyakinkan suaminya bahwa dia pergi ke Turki.
Wanita itu mengambil ponselnya lalu mengirim sebuah pesan ‘Besok aku datang. Penuhi janjimu, ingat kita sudah sepakat. Aku akan memuaskanmu selama dua minggu kedepan.’
...*...
Ting!
Notifikasi pesan masuk. Rian menatap layar ponselnya dan melihat nama pengirim pesan. Wajahnya tersenyum menyeringai lalu membuka pesan tersebut. Tawanya bergelegar setelah membaca pesan dari Andini. Ha….ha…..ha…..ha…..ha. Oh Andini ternyata kau tak sepandai yang kau pikir. Pria itu menekan sebuah nomor kontak di ponselnya.
“Halo. Ada apa?”
“Wanita itu sudah masuk perangkap bos. Besok dia akan datang.”
“Bagus. Ingat tujuan awal kita. Kumpulkan semua bukti-bukti dan serahkan padaku segera,”
“Baiklah, bos. Segera saya laksanakan. Wanita bodoh itu tidak tahu neraka apa yang sedang menantinya...ha….ha...ha”
“Aku tunggu besok. Selamat menikmati!” ucap pria dari seberang telepon dengan nada dingin.
“Pasti, bos. Aku akan menikmati pelayanan gratis selama dua minggu.” ujarnya lalu memutuskan sambungan telepon.
"Andini....Andini...kau sedang menggali kuburanmu sendiri. Kau akan hidup dalam neraka yang kau ciptakan sendiri." wajah pria itu menyeringai mengerikan penuh dengan amarah dan kebencian.
*Hai para pembaca terkasih....terimakasih sudah sampai di bab ini. Ayo berikan dukunganmu buat author biar tambah semangat lagi.
*Pagi dan siang boleh dong dikasi bunga dan kopi biar mata makin jreng 😂😂😂😂
__ADS_1
*Jangan lupa vote, like dan komen ya. Author doain smua pembaca sehat sejahtera, sukses dan rejekinya berlimpah. Amin.
Terimakasih 🙏🙏🙏