
Beberapa orang bahkan tidak bisa tinggal disana selama beberapa jam. Suara sepatu memecah keheningan ruangan itu, terlihat dua orang pengawal berbadan kekar menyeret seorang pemuda, Verrel juga datang berjalan dengan langkah yang berat.
“Katakan siapa yang telah mengirimu?” Verrel langsung ke intinya, tanpa mau membuang-buang waktu “Jika kau tidak cepat memberitahuku, aku akan memotong jarimu sekarang!”
“A—apa? Memotong jariku?” wajah pemuda itu menjadi pucat karena rasa takut sudah menggerogoti pikirannya. Tanganna yang memberi nafkah dan menghidupinya, tanpa tangannya dirinya benar-benar tidak berharga. Pemuda itu berlutut dilantai dan mulai merendahkan diri dihadapan Verrel “Tuan…..aku meminta maaf, aku sangat menyesal.”
“Cepat katakan siapa yang mengirimmu?”
“Aku…..aku…..” pemuda itu memikirkan kekejaman orang-orang yang mengirimnya, pemuda itu hanya bisa tergagap tak terkendali “Tuan, tolong maafkan aku. Aku tidak bisa memberitahumu siapa orang itu. Aku tidak berani mengatakannya.”
“Potong!” kata Verrel dingin.
Azka segera menerima perintah, lalu menahan tangan pemuda itu diatas meja, mengambil sebuah pisau buah dan memotong jari pemuda itu satu persatu. Tampaknya sang CEO yang terkenal kejam dan sadis itu telah kembali setelah sekian lama dia berdiam diri menikmati kebersamaan dengan istri dan anaknya.
“Ah! Ah! Ah!” jeritan pemuda itu memekakkan telinga, tapi tidak ada gunanya karena tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya sekarang. Darah segar dengan aroma amis yang menyertainya membuat Verrel mengeryit “Katakan padaku sekarang juga!”
“Baiklah, Tuan. Aku akan memberitahumu, aku akan memberitahumu.” pemuda itu sangat kesakitan hingga dia hampir pingsan.
“Orang itu adalah Tuan Diego William dari keluarga Darmawan. Dia yang menyuruhku untuk melakukannya dan mengancamku.”
__ADS_1
Dalang utama akhirnya terungkap, Verrel memerintahkan Azka untuk membuang pemuda itu jauh diluar pulau tanpa memberinya belas kasihan sedikitpun. Sebelum pergi Verrel memerintahkan semua pengawal yang berada di markas untuk meningkatkan pengamana di mansion utama, perusahaan dan khusus istri beserta anak-anaknya. Ketika Verrel meinggalkan gedung markas itu, hari sudah berganti menjadi malam. Maybach hitam itu meluncur di sepanjang jalan, terdapat beberapa mobil dan orang-orang disekitar. Lampu neon menyilaukan malam seperti gemerlap bintang berwarna-warni diatas langit. Verrel menyipitkan matanya dan menghubungi Frans “Monopoli semua bisnis luar negeri yang dipegang oleh Grup Darmawan, aku ingin semua diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
Siapapun yang bertentangan dengan Verrel akan selalu menyesalinya pada akhirnya. Diego William Darmawan adalah salah satu pebisnis yang pernah menjalin kerjasama dengan Verrel. Dia selalu berusaha mendekatkan pria itu dengan putrinya yang cantik tapi Verrel tidak pernah tertarik dan selalu menolak bertemu setiap kali dia berada di Singapura untuk urusan bisnis. Gara-gara kejadian hari ini membuat Verrel ingin fokus pada bisnisnya diluar negeri dan membuat Diego William Darmawan menderita karena telah berani mencari masalah dengannya. Saat ini Diego William tidak tahu jika rencananya telah diketahui. William begitu biasanya orang-orang memanggilnya, dia bukan orang biasa, dia memiliki prestasi penting selama bertahun-tahun. Kini pertarungan rahasia antara keluarga Ceyhan dan keluarga Darmawan akan dimulai.
Dirumah utama.
Deandra yang baru saja menidurkan kedua anaknya setelah berjuang keras menenangkan mereka yang terus menangis karena belum bertemu sang ayah, akhirnya tidur setelah lelah menangis. Deandra dengan sabar duduk di sofa dan menunggu kedatangan Verrel yang dikiranya masih berada di kantor. Namun setelah beberapa saar Verrel tidak kunjung pulang jadi Deandra berjalan ke pintu dan menunggu suaminya disana.
“Nyonya, lebih baik beristirahat. Tidak baik bagi kandungan Nyonya jika tidur larut malam,” kata Yuna yang sedari tadi menemaninya dengan cemas melihat sang majikan mondar-mandir.
“Bibi Yuna istirahatlah dulu. Biar aku disini menunggu suamiku. Aku tidak apa-apa,” kata Deandra sambil melirik jam didining, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pelayan sudah memanaskan makanan beberapa kali tapi Deandra tetap tidak memakannya dan memilih untuk menunggu suaminya.
Meskipun Deandra kelaparan, tapi kecemasannya membuatnya tidak bisa makan. Verrel belum juga kembali dan dia tidak ada nafsu makan. Yuna telah beberapa kali mencoba membujuk Deandra untuk makan malam lebih dulu, tapi dia gagal. Deandra mulai merasa mengantuk seiring berjalannya malam, dia masih menunggu suaminya di sofa an akhirnya tertidur disana. Ketika Verrel pulang, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia melihat Deandra yang tidur di sofa ditutupi oleh selimut tipis warna biru muda dan diselimuti oleh cahaya yang lembut dan hangat.
Verrel melepaskan sepatunya dan mengenakan sandal, lalu bertanya dengan suara pelan “Mengapa istriku tidur di sofa dan tidak tidak tidur di kamar?”
Sambil menghela napas, Yuna menjawab dengan jujur “Saya sudah emncoba membujuknya, tetapi nyonya berkata bahwa dia ingin menunggu anda pulang. Dia juga belum makan malam, kurasa dia tertidur karena kelaparan. Karena tuan sudah kembali, saya akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tolong tuan bangunkan Nyonya dan minta dia tidur setelah makan malam. Tidak baik untuk kandungannya jika dia tidak makan teratur.”
Mendengar bahwa istrinya menunggunya pulang, hati Verrel terasa hangat dan dia tersenyum.
__ADS_1
“Bagaimana anak-anak, apa mereka cepat tidur?”
“Susah, tuan. Mereka menangis terus karena mereka tidak melihat tuan. Biasanya tuan yang menidurkan mereka, jadi mereka menangis tak henti. Tapi sudah tidur lelap sekarang karena lelah menangis.”
“Ok” Verrel melirik ke meja makan mendapati piring-piring yang diletakkan dengan rapi.
Piring-piring itu terlihat belum tersentuh sama sekali. Verrel mengerutkan keningnya. Hmm…..istriku ini nakal, dia tidak makan tepat waktu dan tidak tidur ditempat tidur,’ pikirnya. Verrel berjalan kearah deandra dengan langkah perlahan. Verrel melihat Deandra memegang ujung selimut dengan tangannya sambil meracau ‘Kau dimana? Verrel…..’ Ada sedikit kerutan diwajah istrinya seakan sedang memimpikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Saat Verrel mengingat istrinya yang menangis dipelukannya di kantor tadi, Verrel merasa sakit dihatinya. Pelan, tangannya mengangkat Deandra dan membawanya kedalam pelukannya.
“Kau benar-benar nakal mommy,” tegur Verrel dan dengan lembut mencubit pipi Deandra sambil menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Dingin,” bisik Deandra saat merasakan tubuhnya menempel ditubuh Verrel. Kemudian dia meringkuk didada Verrel setelah merasakan kehangatan dari tubuh suaminya, dia mengendurkan bahunya dan tertidur lagi. Butuh satu jam bagi pelayan untuk menyiapkan makan malam mereka. Sementara Deandra masih tidur nyenyak dipelukan Verrel seperti seorang bayi. Dengan hati-hati, Verrel mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia tak sabar untuk membaca semua tentang istrinya, dari lukisan hingga hacker. Baginya Deandra adalah seorang wanita dengan penuh rahasia dibalik wajah cantiknya. Setelah satu jam, Yuna keluar untuk memanggil mereka untuk makan malam. Aroma masakan yang baru dimasak menarik penciuman Deandra, dia sedikit menggerakkan tubuhnya. Aromanya sangat enak tapi tidak bagi Verrel! Dia mulai merasa pusing. Deandra perlahan membuka matanya yang lelah “Aroma makanannya sangat enak.”
“Penciumanmu tajam juga, mommy.” Verrel tersenyum.
Setelah mengerjap beberapa kali, penglihatan Deandra menjadi jelas, dia melihat wajah suaminya dan dia menjadi bersemangat.
“Kau sudah pulang! Aku merindukanmu, kenapa lama pulang? Kau bertemu wanita lain ya diluar sana?” cecanya penuh energi. Dia gembira melihat suaminya sudah pulang tapi ada rasa cemburu karena suaminya pulang larut malam, pikirannya mulai aneh-aneh.
Verrel tersenyum melihat aksi menggemaskan istrinya “Iya, mommy. Aku sudah pulang dan aku tidak menemui wanita manapun diluar sana. Aku sudah punya yang tercantik dirumah.” kemudian Verrel menepuk pinggang Deandra dan berkata “Bangunlah. Kau harus makan malam, kasihan anak kita kelaparan. Jangan begini lagi ya? Ingat, ada anak kita disini.” tunjuk Verrel kearah perut buncit Deandra.
__ADS_1
“Iya. Makan itu penting dan aku sangat lapar karena menunggumu.” Deandra berdiri dan menjauh dari Verrel. Angin sepoi-sepoi yang dingin masuk dari jendela yang terbuka menghantam kulitnya, dia bergegas kembali ke pelukan Verrel lagi.
... ...