TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 117. BERTEMU VIKTOR


__ADS_3

“Dimana kau sembunyikan cucuku, Viktor?” tanya Yahya yang tak sabar ingin melihat Verrel.


“Bersabarlah. Mari ikut denganku.” kata Viktor mempersilahkan Yahya masuk dan mengarahkannya untuk mengikutinya.


Tanpa membantah Yahya mengikuti Viktor menyusuri lorong lalu berbelok memasuki sebuah ruangan yang luas.  Pintu terbuka terlihat sebuah tempat tidur besar yang terletak ditengah ruangan, ada seorang pria yang terbaring disana dengan mesin dan selang-selang yang tersambung ketubuhnya.  Yahya meneteskan airmata, mendekati ranjang dan melihat Verrel masih tak sadarkan diri.


Dokter dan perawat yang berada diruangan itu memberi hormat pada Yahya. Dokter itupun menjelaskan kondisi Verrel yang sebenarnya.  Yahya menggangguk mendengarkan penjelasan dari dokter.  Hatinya bahagia melihat cucunya selamat dari kecelakaan itu.


...*...


Kedua pria tua itu sedang duduk diruang tamu, tak ada yang bicara seakan enggan untuk memulai pembicaraan. Viktor menceritakan bagaimana bisa Verrel ada dirumahnya. Setelah sekian lama keduanya diam tanpa ada yang merasa canggung dengan suasana hening itu.  Akhirnya Yahya memecah keheningan “Aku berterimakasih kau telah menyelamatkan cucuku.”


Viktor memandang Yahya “Ya. Kau tidak perlu berterimakasih. Doakan saja cucumu cepat siuman.”


“Kau belum menceritakan padaku, bagaimana kau menemukan cucuku atau jangan-jangan kau ada hubungannya dengan semua ini,” ucap Yahya,


“Apa kau masih membenciku hingga kau menuduhku begitu Yahya?”


“Mungkin saja.” jawab Yahya ketus.


“Anak buahku menemukannya ditepi hutan. Lalu mereka menghubungiku, karena kondisinya aku menyuruh anak buahku untuk membawanya kesini.  Tidak mungkin membawanya kerumah sakit, kau tahu jarak dari sini ke rumah sakit sangat jauh.  Jika tidak langsung menolongnya, bisa saja dia mati ditengah jalan.” kata Viktor menjelaskan.


“Beruntung dokter pribadiku sedang ada disini. Maaf jika aku baru menghubungimu.”


“Tidak apa-apa. Setidaknya aku senang cucuku selamat.  Kau tahu, hanya dia yang jadi harapanku, dia alasanku untuk bertahan selama ini.”


“Ahhh….kenapa kau jadi puitis begitu Yahya?”


“Kau jangan mengejekku Viktor! Aku berhutang budi padamu, kau sudah menyelamatkan cucuku.” kata Yahya.  Mengingat perseteruan mereka beberapa tahun lalu membuat keduanya pun memutuskan hubungan.  Namun, seiring berjalannya waktu Yahya mengetahui bahwa kejadian dimasa lalu itu bukan kesalahan Viktor. 


“Saat melihatnya, aku langsung mengenali jika itu adalah cucumu. Tidak mungkin aku tidak menolongnya.  Aku tahu rasanya kehilangan, lihatlah diriku ini. Pria tua yang hidup sendiri tanpa siapapun. Kau beruntung masih memiliki cucu, sedangkan aku? Sampai sekarang aku tidak tahu ada dimana putriku. Apakah dia masih hidup atau sudah mati.”

__ADS_1


Yahya menatap Viktor, dia tahu semua yang dialami pria itu. Bertahun-tahun mencari putri semata wayangnya.  Karena dia tinggal di Belanda dan istrinya yang sakit-sakitan membuatnya tidak bisa meninggalkan istrinya untuk mencari keberadaan putrinya.  Ya, Viktor benar jika aku masih beruntung memiliki menantu, cucu dan cucu mantu terlebih lagi Deandra akan melahirkan.


“Apakah kau masih membenciku Yahya?” tanya Viktor.


“Tidak. Kita sudah sama-sama tua. Kau kumaafkan, kuanggap kita impas karena kau sudah menyelamatkan cucuku.” keduanya saling memandang lalu berdiri dan berjabat tangan.  Lalu mereka saling merangkul seperti dimasa lalu.


“Terimakasih Yahya, akhirnya kau memaafkanku.  Aku bisa mati dengan tenang sekarang.”


“Bodoh sekali kau jika mau mati sekarang. Apa kau tidak mau mencari putrimu? Apakah kau sudah menyerah?”


“Aku tidak pernah menyerah dan kau tahu itu. Tapi, jika aku tidak juga menemukannya, aku akan ikhlas.”


“Aku akan membantumu mencarinya.  Kau tidak mengenal orang lain disini, hanya aku yang kau kenal.  Jangan-jangan semua orang yang kau bayar untuk mencari keberadaan putrimu hanya menipu saja.”


“Mungkin saja. Aku kembali sejak empat bulan lalu. Aku sudah bertekad jika aku tidak menemukan atau mendapat informasi apapun tentang putriku, maka aku akan kembali ke Belanda.”


“Informasi apa yang sudah kau temukan?” tanya Yahya.


“Belum ada. Semua yang kudapat belum mengarahkanku.  Alamat terakhir yang kudapat pun tak membuahkan hasil. Dia tidak ada, mungkin tidak pernah tinggal disana.”


“Terimakasih Yahya.  Aku senang kita bisa kembali seperti dulu.”


Yahya menggangguk dan tersenyum. Ya….Viktor adalah sahabatnya sejak kecil, mereka tumbuh dilingkungan yang sama. Viktor menikah dengan wanita asal negeri kincir angin, istrinya wanita belanda yang lahir di Indonesia.


Yahya mengambil ponsel dari saku jasnya dan menghubungi Frans.


“Halo, Tuan” jawab Frans yang terkejut karena Yahya menghubunginya melalui video call.


“Berikan ponselmu pada Deandra.”


Frans lantas menyodorkan ponselnya pada Deandra suara sang kakek menyebut namanya, dengan tak sabar dia mengambil ponsel itu “Opa, bagaimana suamiku? Aku mau lihat suamiku.”

__ADS_1


“Sabar, sayang. Suamimu baik-baik saja. Tapi dia masih belum sadarkan diri.” jawab Yahya.


“Bolehkah aku melihatnya, Opa?” tanya Deandra yang tak sabar ingin melihat suaminya.


“Tunggu sebentar, Opa masuk keruangannya biar kamu bisa lihat.”


Deandra memperhatikan ruangan itu seperti bukan rumah sakit karena desain ruangan yang mewah.  “Opa itu dimana? Seperti bukan rumah sakit.”


“Benar. Ini di villa teman Opa. Nanti kuceritakan padamu. Lihatlah itu suamimu.” kata Yahya mengarahkan kamera ponselnya kearah ranjang.  Airmata Deandra mengalir melihat tubuh suaminya yang terbaring tak berdaya, ada beberapa selang yang terpasang ditubuh pria yang dicintainya itu.  “Kamu harus sabar ya, berdoalah untuk kesembuhan suamimu.”


“Verrel….apakah kau mendengarku? Ini aku istrimu. Aku merindukanmu Verrel.” isaknya memanggil suaminya. Yahya berusaha mengatur napasnya, dadanya terasa sesak melihat cucunya yang belum sadarkan diri.


“Opa bolehkah aku menjenguknya? Aku merindukan suamiku Opa.’ ucapnya terisak.


“Boleh. Kamu harus sehat.  Besok kamu kesini, Frans akan mengantarkanmu kesini.”


“Terimakasih Opa. Tolong jaga suamiku untukku ya Opa.” kata Deandra. Kini dia bisa tersenyum mengetahui suaminya selamat dan besok dia sudah bisa pergi menemui suaminya. Seketika dia menemukan kembali semangatnya yang sempat hilang. Deandra memandang Yuna dan Rosa bergantian.


“Iya, sayang. Oh iya. Kamu harus ucapkan terimakasih pada Kakek Viktor, dia yang menyelamatkan suamimu. Dia adalah teman lama Opa.” kata Yahya lalu berjalan mendekati Viktor yang duduk dikursi didekat jendela.  Dia memberikan ponselnya pada Viktor. “Ini cucu mantuku, istrinya Verrel. Dia ingin mengucapkan terimakasih padamu.” kata Yahya seraya menyodotkan ponselnya pada Viktor.


Viktor memandang layar ponsel, menatap wajah seorang gadis yang wajahnya murung dengan mata sembab.  Namun wajah itu terasa tak asing baginya, mengingatkannya pada seseorang.  Deandra pun menatap wajah pria tua itu tanpa berkedip. 


“Terimakasih Tuan, sudah menyelamatkan suamiku.” ucapnya. Deandra merasa pernah melihat pria itu, dulu sudah lama sekali tapi dia lupa dimana dia pernah melihat wajah itu.  Viktor pun terkejut, melihat wajah Deandra yang sangat-sangat mirip dengan seseorang.  Apa mungkin? Pikirnya. Dia masih termangu saat Yahya mengambil kembali ponselnya.  Setelah berbincang sesaat dengan cucu mantunya itu, dia pun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya.


Dia memandang Viktor dengan bingung, melihat raut wajah pria itu yang pucat pasi seperti baru melihat hantu.  Kenapa wajahnya terlihat pucat setelah bicara dengan cucu mantuku? Pikirnya.


“Viktor….kau kenapa?” tanya Yahya.


“A---ahh tidak.  Cucu mantumu cantik sekali.” ucapnya terbata.  Tidak mungkin, pikirnya. Tapi dia mirip sekali. Apakah dia?


“Yahya….boleh aku bertanya?”

__ADS_1


“Mau tanya apa?”


“Kau masih ingat dengan putriku?”


__ADS_2