TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 206. MULAI BERAKSI


__ADS_3

Keesokan paginya Deandra tiba di kantor bersama Verrel dan kedua kakeknya. “Selamat pagi Tuan! Selamat pagi Nyonya!” sapa para karyawan melihat para petinggi perusahaan itu memasuki lobi. Menaiki lift khusus mereka menuju ke lantai teratas, ruangan presdir.


Terlihat Bayu dan Henry sudah menunggu di sofa dekat meja sekretaris.


“Selamat pagi Tuan! Selamat pagi Dea!”


“Eh….Bayu, Henry ayo silahkan masuk kedalam” ajak Deandra. Mereka duduk di sofa ruang kerja Verrel. “Opa….kenalkan ini teman-temanku. Yang ini Bayu dan Henry,”


Setelah berbincang sejenak dan Yahya maupun Viktor bertanya banyak hal pada mereka akhirnya Deandra meminta HRD membuatkan kontrak kerja untuk kedua temannya. Kini Bayu dan Henry resmi bekerja di Ceyhan Group. Yahya dan Viktor pergi setelah semua urusan mereka di kantor selesai saat jam makan siang. “Jam dua siang pengacara akan menemuimu. Jangan kemana-mana ya.” ucap Yahya pada Deandra.


“Baiklah, Opa.”


“Dea…...sesuai permintaanmu aku akan mengirimkan beberapa anak buah kepercayaanku ke kantor cabang untuk mengaudit semua departemen. Aku harap jangan ada yang tahu soal ini jadi siapapun yang berkhianat tidak akan punya kesempatan menutupi kecurangannya.”


“Baiklah, aku berharap padamu Henry. Terimakasih sudah mau membantuku.”


“Sama-sama. Kita sesama sahabat harus saling membantu, bukan? Lagian ini juga bagus untuk karirku kelak, aku pernah menangani audit di perusahaan sebesar ini.” ucap Henry.


“Oh iya…..maaf jika aku menyela pembicaraan kalian.” kata Bayu “Kita harus bergerak cepat, jika semua masalah cepat selesai maka kita bisa memikirkan kerjasama kita selanjutnya. Ingat bulan depan kita ada pameran.”


“Oh iya…..aku hampir lupa...hehehe,” Deandra terkekeh. “Ya sudah kalian mulai bekerja, jika ada masalah atau hal penting lainnya bisa langsung beritahu aku atau suamiku.”


“Sayang, jam dua pengacara akan menemui kita.” kata Deandra pada Verrel.


“Iya, sayang. Tadi Opa sudah memberitahuku.”


“Apa kau tidak keberatan atas permintaanku ini? Apa menurutmu ini tidak berlebihan?”


“Kau adalah istriku, semua milikku adalah milikmu dan anak-anak.” Verrel menatap istrinya.

__ADS_1


“Sepertinya istriku ini takut ya kalau aku terpikat wanita lain, hm?”


“Bukan begitu, sayang. Lebih baik sedia payung sebelum hujan, oh iya jangan lupa dengan janjimu untuk melakukan vasektomi tapi sebelum itu aku mau menyimpan spermamu di rumah sakit. Jadi jika suatu hari nanti kita ingin punya anak lagi dan setelah buka vasektomi ternyata kau tidak bisa memberiku anak, setidaknya kita sudah punya persediaan,” ucap Deandra tersenyum dengan ide cemerlangnya.


“Hahahaha…...ya ampun. Istriku sudah berpikir sejauh itu.”


“Iya pastinya. Aku harus memikirkan semuanya, demi masa depan anak-anak kita. Kau selalu sibuk dan kedepannya kau akan lebih sibuk diluar kota dan ke luar negeri. Aku tidak bisa jamin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mana ada perempuan yang tak menginginkanmu, sayang. Semua kemungkinan bisa saja terjadi, setidaknya aku sudah mengamankan semuanya.”


“Kau benar sekali, sayang. Tapi aku mau setelah melahirkan nanti, kau akan selalu mendampingiku kemanapun.”


“Oh tidak bisa Verrel! Kita akan punya lima orang anak, tidak mungkin aku meninggalkan mereka dengan pengasuh. Aku akan mendampingimu sesekali saja.”


“Baiklah Nyonya Verrel. Terserahmu saja, aku percaya apapun yang jadi keputusanmu adalah yang terbaik untuk keluarga kita.”


“Hm….aku mencintaimu. Takkan kubiarkan siapapun mengganggu kita.”


Tok Tok Tok


“Masuk!”


“Selamat siang Tuan, Nyonya!”


“Silahkan masuk Pak Gunawan.”


Gunawan adalah pengacara keluarga Ceyhan datang membawa berkas-berkas yang sudah dia siapkan sesuai permintaan Yahya. Dokumen-dokumen harta kekayaan keluarga Ceyhan yang dialih namakan atas nama Deandra dan anak-anak mereka. Meskipun ketiga bayi kembar belum lahir namun Verrel sudah membuat nama untuk mereka sehingga nama ketiga calon bayi itu juga akan tertulis di dokumen wasiat.


Berhubung semua dokumen sudah duluan di tandatangani oleh Yahya, maka kini giliran Verrel yang menandatangani semua surat-surat. Seluruh harta kekayaan keluarga Ceyhan resmi berpindah nama kepada Deandra dan anak-anaknya. “Tuan, Nyonya semua dokumen ini akan saya buat rangkap dua jadi kalian berdua bisa memegang masing-masing. Sedangkan salinannya akan dipegang oleh Tuan Yahya dan saya.”


“Terimakasih Pak Gunawan untuk bantuannya,” ucap Deandra.

__ADS_1


“Sudah menjadi kewajiban saya Nyonya. Semua dokumen-dokumennya akan segera saya proses, begitu selesai akan segera saya serahkan pada Tuan dan Nyonya.”


“Kalau bisa secepatnya harus selesai.” kata Verrel.


“Baiklah Tuan. Kalau begitu saya pamit dahulu,”


Setelah kepergian pengacara itu, Deandra menghela napas lega setidaknya satu langkah penting sudah selesai dan besok dia berencana mengajak Verrel ke rumah sakit. Dia melirik jam ditangannya lalu memandang Verrel yang berkutat dimeja kerjanya.


“Sayang, malam ini kita ada tamu, bukan? Mama sudah mengingatkan barusan agar kita cepat pulang.”


“Iya sayang. Sebentar lagi semua pekerjaanku selesai. Kau tunggu sebentar ya,”


Sementara di rumah utama, suasana kesibukan terlihat.  Di dapur tampak beberapa pelayan sibuk mempersipakan hidangan untuk makan malam sedangkan diruang tamu beberapa pelayan membersihkan ruangan dan pelayan lainnya menghiasi meja makan.  Entah siapa tamu istimewa yang akan datang ke kediaman keluarga Ceyhan malam ini karena tampak persiapannya tidak seperti makan malam biasa.


Pukul lima sore Deandra dan Verrel tiba dirumah, disambut tawa kedua anak mereka. Naomi yang lebih dekat dengan Verrel selalu tak mau lepas dari ayahnya. Sedangkan Nathan akan selalu berada dalam dekapan Deandra. “Bagaimana nanti kalau si kembar tiga lahir ya, pasti mereka kelak akan berebut perhatian kita berdua,” canda Deandra membayangkan punya anak lima yang manja, pasti rumah mereka tambah ramai dan kacau.


“Kita akan menambah pelayan dirumah ini, tapi aku mau pengasuh yang berkualitas untuk anak-anak kita karena mereka yang akan bertanggung jawab nantinya untuk mengurusnya,”


“Aku percayakan padamu, sayang. Bibi Yuna akan mulai mencari pengasuh untuk anak-anak, untuk seleksi akhir kau yang akan putuskan.” Verrel menggangguk sebagai jawaban atas permintaan istrinya. Bagaimanapun dia harus selektif dan hati-hati dalam mencari pengasuh untuk anak-anaknya. Verrel menggendong Nathan dan membawanya masuk kekamar mandi untuk mandi bersama sedangkan Deandra dan Naomi mandi bersama di kamar sebelah.


“Selamat sore semuanya,” sapa Frans dan Rosa menyapa Ayu dan Yuna yang sedang duduk diruang tamu.


“Selamat sore. Ayo masuk…...aduh anak kalian lucu sekali. Pasti Nathan dan Naomi senang melihat anak cantik ini. Siapa namanya?” ujar Ayu tersenyum menyentuh pipi gembul putri Frans dan Rosa.


“Namanya Lily Frederika Ayana. Biasa dipanggil Lily,” jawab Frans. Ayu mengambil Lily dan menggendongnya.


“Kalian duduk sebentar, Deandra dan Verrel masih dikamar siap-siap.” kata Ayu membawa Lily keruang bermain. Disana sudah ada Nathan dan Naomi bersama pengasuh mereka. Nathan langsung mendekati Lily dan mencubit pipinya membuat bayi perempuan itu menangis. “Oeekk…...oeek…...oekk…..”


“Eh...Nathan sayang, jangan dicubit. Lily nangis tuh,” kata Ayu tersenyum melihat Nathan yang melihat Lily gemas. Sedangkan Naomi memegang tangan Lily dan menggoyang-goyangkan tangan bayi itu.

__ADS_1


__ADS_2