TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 23. INFORMASI MENGEJUTKAN


__ADS_3

Tubuhnya basah oleh keringat. Verrel mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya dari tidur yang membelenggu.  Mimpi itu datang lagi, malam-malam nya kini selalu diisi mimpi tentang seorang gadis. Napas beratnya berembus, ini sangat buruk. Tak ingin berlama-lama membuang waktu Verrel bangkit dan menuju kamar mandi.  Lelaki itu berdiri dibawah pancuran air hangat yang membasahi tubuhnya.  Mengoleskan sabun untuk membersihkan sisa-sisa keringat.


Kedua tangannya terlentang lebar bersandar didinding kamar mandi. Membiarkan air hangat membasahi tubuhnya membersihkan busa sabun disekujur tubuhnya. Memejamkan mata sambil mengheka napas dalam. Aku benar-benar kacau, bahkan kealam bawah sadarku pun bayangan itu mengejarku, gumamnya.


Menikmati setiap tetesan air yang membasuh seluruh busa di tubuhnya, ia menengadah.  Menyiram rambut hitam legam dari busa shampo dengan wangi maskulin. Selesai membersihkan diri, ia menarik satu handuk dan melingkarkan di pinggang.  Menggerakkan kepala guna mengurangi kadar air yang tersisa di rambut. Kemudian menyisir rambut dengan jarinya.


Seperti biasa, didepan pintu kamar mandi telah berdiri seorang pelayan yang selalu siap membantunya.  Namun mood Verrel pagi ini sangat buruk sehingga ia membentak dan mengusir pelayan itu dari kamarnya.


Setelan jas hitam dengan celana bahan berwarna senada dipadukan dengan kemeja putih dan dasi bergaris miring menjadi pilihannya hari ini.  Untuk menyempurnakan penampilannya, ia membuka pintu kaca dimana koleksi jam mahal tertata rapi.  Memastikan sekali lagi didepan cermin, ia meneliti bahwa tidak ada cela disana. Dia selalu tampil rapi dan mengesankan.


Pagi ini entah kenapa verrel terlihat sebagai pria berbahaya.  Malahan jika diperhatikan lebih lama dalam jarak dekat, wajah lelaki itu tak pantas disebut kejam ataupun mengerikan.


“Tuan. Sarapan anda sudah siap.”


Suara pelayan pribadi yang berada dibalik pintu ruang ganti mengalihkan tatapan tajam verrel dari cermin.


“Hmmm.”


Diatas meja makan sudah tertata hidangan sarapan dari beberapa menu pilihan. Yuna sang kepala pelayan yang memegang kendali semua urusan untuk sang tuan dan semua yang ada dirumah ini, memberikan isyarat pada pelayan lain untuk segera undur diri ketika verrel duduk dikursinya.


“Makanan apa ini yang kau berikan padaku, Yuna?” tanya verrel tidak suka.


Kepala pelayan itu mendekat, “A-apa ada yang membuat tuan tidak berkenan? Ini adalah menu yang pernah saya berikan pada anda sebelumnya.” jawabnya sambil menundukkan wajah.


“Singkirkan semuanya. Aku tidak selera milhat makanan itu.” Verrel beranjak tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.


“Baik, tuan.” Yuna memanggil beberapa pelayan lain setelah verrel meninggalkan meja makan begitu saja.  Dahi wanita itu mengeryit heran dengan sikap verrel yang menurutnya semakin aneh. Mood nya berubah-ubah tidak menentu tapi saat berada disamping gadis itu raut wajahnya terlihat tenang, Yuna menyadari semua perubahan yang terjadi pada sang tuan besar.


...**...


Hari ini, alih-alih menggunakan jasa seorang sopir karena frans tidak berada di tempat, verrel memilih duduk dibalik kemudi salah satu mobil sport koleksinya.  Ia menikmati suasana kota yang tampak lengang dari kemacetan.  Perjalanan ke kantor cukup membuat adrenalinnya terpacu. Ia semakin menambah kecepatan hingga tak butuh lama memasuki gedung perkantoran miliknya.


“Selamat pagi, tuan besar.” kedua petugas keamanan ditempat parkir mobil masing-masing membungkukkan badan dan menyapa sang tuan.

__ADS_1


“Hmmm.” jawabnya singkat dan menutup kembali kaca mobilnya.  Berhenti ditempat parkir basemen, verrel langsung turun dari mobil, masuk ke lift yang membawanya keruangan direktur utama.


Ada David dan Hendra yang sudah berdiri didekat pintu untuk menyambut sang tuan besar, setelah mendapat informasi dari bagian keamanan bahwa Tuan Besar sudah tiba di kantor.


“Selamat pagi, tuan besar,” ucap David dan hendra bersamaan.


“Masuk keruanganku dan bawa hasil peninjauan kalian kemarin.” berkata tanpa sedikitpun memalingkan muka.


“Baik, tuan,” jawab mereka.


Ada hal yang berbeda pagi ini, wajahnya terlihat berbeda meskipun terpancar kemarahan dari sorot matanya namun raut wajahnya terlihat tenang, tidak seperti biasanya saat dia marah. Tak langsung duduk dikursi kebesaran seperti biasanya, verrel berdiri mengamati pemandangan pagi dari dinding kaca yang membentang.


Ini juga bukan salah satu sikap sang penguasa yang kejam.  Dalam pikiran lelaki itu hanya ada pekerjaan dan bersenang-senang ketika ia sedang menginginkannya. Tapi pagi ini, ia berdiri sambil memandang keluar namun tatapan matanya seperti jauh mengembara.


Dua pria yang adalah sekretarisnya baru saja masuk keruangan itu pun merasa heran, tapi mereka tidak berani bertanya.  Melalui tatapan mata, david bertanya pada hendra yang dijawab dengan isyarat saja.


“Tuan.”


Panggilan david menyentak verrel dari lamunannya.  AH, ini sungguh diluar kebiasaan lelaki yang giat bekerja ini. Ia tidak suka melakukan hal-hal tak berguna. Akan tetapi ia telah melakukannya beberapa saat lalu. Dia melamun, bayang-bayang itu selalu bermain di depannya.


“Jelaskan padaku sejauh mana proses keluaran terbaru perusahaan, apa berjalan baik dan bagaimana persiapan yang kalian lakukan untuk launching kali ini.”


Hendra memberi isyarat pada david untuk mengambil alih dan memberikan penjelasan secara rinci.  David dengan tenang mulai menjelaskan tentang hasil pemantauan yang ia lakukan bersama para penanggung jawab untuk berlangsungnya acara minggu depan.  Ia juga menambahkan langkah-langkah yang perlu di antisipasi berikut dengan pihak-pihak yang akan terlibat pada acara kali ini.


David juga menambahkan beberapa saran kepada sang tuan besar untuk memberikan pengamanan lebih.  Mengingat produk kali ini hanya di desain satu-satunya dan tidak akan diproduksi ulang, sesuai permintaan pasar.


Verrel mendengarkan dengan cermat dan teliti. Meskipun ada sesuatu yang mulai menggangggu pikirannya untuk bisa fokus mendengarkan. “Pastikan acaranya berjalan lancar!” perintah verrel begitu sang sekretaris selesai menyampaikan laporannya.


“Baik, tuan. Kami akan berkerja keras lagi.” jawab David.


Verrel mengibaskan tangannya untuk menyuruh mereka keluar dari ruangannya. Tak lama kemudian, ketukan dipintu terdengar.  Kali ini adalah sang asisten.


“Masuk.”

__ADS_1


Frans mendorong pintu begitu mendengar suara sang direktur. Mendekat dengan pasti, membawa informasi yang dinantikan bosnya itu.


“Bagaimana?” tanya verrel tanpa basa-basi.


“Semua informasinya sudah saya dapatkan secara detail tanpa melewatkan satupun,” jawab pria bersetelan hitam itu seraya mengeluarkan ipad dari dalam tas dan meletakkan benda itu dimeja sang tuan besar.


Verrel menerima ipad itu dan mulai membaca semua informasi yang ia tunggu.  Raut wajahnya berubah-ubah dengan mata tajam yang menyipit.  Ia sangat teliti untuk membaca setiap deretan kalimat yang tertulis.  Termasuk ketika melihat dari mana asal usul gadis itu berada. Siapa pria maupun wanita yang dekat dengannya.


Saat membaca sebuah informasi tentang seorang pria yang dekat dengan gadis itu dan hubungan keduanya, kedua tangannya mengepal dan memukul meja.


Usai membaca informasi tersebut, verrel meletakkan benda itu ke meja dan melayangkan tatapan tajam pada asistennya.  “Kau tau apa yang harus kau lakukan?”


Sang asisten yang sudah tau apa yang verrel inginkan itu mengangguk, “Sudah, Tuan.’


"Tetapi Surya dan Diah sedang melakukan perjalanan ke luar negri. Sepertinya dia tidak akan kembali dalam waktu yang lama, mengingat uang yang anda berikan kemarin sangat banyak."  Verrel menyeringai.


“Sepertinya dia tau bagaimana caranya bersenang-senang.”


“Dia suka berjudi, Tuan” ucap frans menambahkan.  “Selain itu, dia juga suka keluar masuk kelab malam.”


Verrel mendengarkan dengan seksama.


“Saya juga sudah memperingatkan Mami Tika yang menawarkan nona muda kepada pria hidung belang atas perintah Surya.”


Panggilan yang didengarnya diucapkan sang asisten, membuat mata verrel menyipit.


“Nona muda?”


Frans terdiam kaku, tapi langsung menguasai diri. “Maaf tuan saya…..”


“Panggilan yang bagus,”Verrel menyela.  Sudut bibirnya terangkat mendengar nama panggilan itu terasa pas di telinganya.


Frans terdiam, tak mengeluarkan kata-kata, tak mengeluarkan pergerakan. Menunggu sang tuan besar yang tampak berbeda dari biasanya.  “Untuk masalah Surya dan istrinya. Anda tidak perlu khawatir.  Saya akan segera bertindak.”

__ADS_1


“Kau terlalu mengerti apa yang kuinginkan, Frans.  Dan aku sangat tersanjung.”


"Terimakasih, Tuan. Sudah seharusnya saya bertindak cepat sesuai keinginan anda."  Raut wajah verrel melunak beberapa saat. Perintah yang ia berikan selanjutnya, membuat sang asisten terkejut. 


__ADS_2