TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 167. KUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Deandra sedang berada ditaman depan sore itu menunggu kedatangan suaminya.  Entah mengapa sejak kelahiran si kembar, Deandra malah tambah manja dan tak mau jauh-jauh dari Verrel, mungkin ada rasa takut jika suaminya akan bertemu wanita lain diluar rumah. Beberapa mobil memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu masuk.  Seorang pria tampan turun ditemani pengawal, pria itu tampan sekali dan melemparkan senyum manis pada Deandra.  Untuk sejenak Deandra tak bisa menyembunyikan rasa takjub melihat bunga-bunga yang diturunkan para pengawal dari mobil.


“Apa kabar sayang-sayangku?” kata Verrel basa-basi mencium istri dan kedua bayi kembarnya. Dia memeluk istrinya dan memberi isyarat agar pelayan dan pengasuh anaknya meninggalkan mereka. Deandra sedang menyusui Naomi, sedangkan Nathan ada didalam kotak bayi sedang memegang boneka jerapah kecil.


“Apakah mereka merepotkanmu hari ini?” tanya Verrel memperhatikan istri tercintanya yang sedsng menyusui. Dia geleng-geleng kepala melihat istrinta yang menyusui diluar rumah. "Sayang. Janganlah menyusui anak diluar,tak baik dilihat orang lain."


“Tidak sama sekali. Inikan ditutup mana mungkin bisa dilihat orang lain. Kau pergi kemana tadi? Kenapa lama sekali? Apa kau melirik wanita diluar sana ya?” cerca Deandra sambil mengendus badan suaminya mencari aroma wanita ditubuh kekar itu, membuat Verrel tertawa geli melihat tingkah cemburu istri tercintanya.


“Tidak, sayang. Aku keluar membeli bunga-bunga tadi untukmu dan ada hadiah juga.”


“Kau sudah memberiku hadiah kemarin. Hari ini kau belikan apa untukku?” tanya Deandra.


“Aku belikan perhiasan limited edition. Ayo masuk kedalam, tidak baik bayi baru lahir dibawa keluar.”


“Tadi mama juga bilang begitu. Tapi kami mau menyambut kedatanganmu.”


“Besok-besok, tunggu aku didalam saja, okay? Kasihan sikembar kena angin diluar, mereka masih kecil, sayang.”


“Iya...iya bawel!” kata Deandra melangkah masuk kedalam rumah mengikuti suaminya.


“Hai...sudah pulang? Tuh istrimu dari tadi sibuk mencarimu, semua orang kena marah disuruh mencarimu kemana-mana.” kata Ayu tersenyum melihat Verrel menggendong Nathan.


“Abis, dia pergi tidak bilang-bilang, pas aku lagi tidur.  Tidak mau tanggung jawab jagain dua anak. Bikinnya mau, begitu lahir malah ditinggal.”

__ADS_1


“Ha...ha...ha….ha. Kau lucu sekali sayang.” tawa Verrel diikuti yang lainnya. “Maaf, sayang. Tadi ada urusan penting dan aku tidak mau membangunkanmu. Maaf ya.”


“Bagaimana tadi hasilnya?” tanya Yahya dan Viktor.


“Satu persatu hal yang bisa mengganggu kelangsungan hidupku bersama istri dan bayi kembar kami sudah diatasi.  Tinggal satu langkah lagi, menunggu persidangan agar Rico terkurung selamanya didalam tahanan.”


“Pastikan agar anak itu dihukum seberat mungkin. Jika ada yang berani mengganggu keluarga ini, mereka harus siap menerima konsekuensi berat.” kata Yahya menambahkan dengan diiringi tekad kuat dan dendam membara atas perbuatan Rico dan Andini yang bersekongkol.


“Iya. Opa. Selanjutnya papa akan tahu kebenaran tentang Rico. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk itu.”


“Jika masanya sudah datang, biarkan mama yang berikan semua bukti pada papamu. Mama ingin lihat bagaimana wajah bodohnya yang sudah dibohongi dan dibodohi oleh perempuan j*lang itu selama dua puluh lima tahun.” seringai muncul diwajah Ayu.


Tiba-tiba mereka kedatangan tamu, anggota keluarga Ceyhan lainnya, ada Arion dan istrinya bersama anak mereka yang langsung berlari mendekati si kembar. William memasuki rumah itu dengan bergandengan tangan dengan pacar barunya seorang gadis cantik blasteran Indo Amerika. Dan adik perempuan mereka yang juga datang bersama tunangannya. Suasana dirumah utama semakin ramai


“Akan semakin ramai rumah ini kalau kita berkumpul.” balas Viktor tersenyum. “Darma,bagaimana denganmu, apa kau akan tinggal dirumah ini? Masih ada kamar tamu yang kosong.”


“Mungkin aku akan menempati rumah yang dulu ditinggali Deandra. Tadi kata Verrel rumah itu sudah lama direnovasi dan ada pelayan yang datang kesana untuk membersihkan rumah setiap hari.” kata Darma.


“Oh ya? Sejak kapan rumahku direnovasi? Tanya Deandra yang tak tahu sama sekali jika Verrel sudah merenovasi rumah itu sejak Deandra hamil.


“Setelah tahu kau mengandung anakku, aku menyuruh Frans untuk mengirim orang merenovasi rumah itu. Aku lupa memberitahumu karena banyaknya masalah yang kita hadapi sebelumnya.”


“Aku mau lihat rumah itu. Apa papa yakin mau tinggal disana sendirian?” tanya Deandra.

__ADS_1


“Iya, sayang. Lagian papa bisa datang kesini setiap hari, sayangkan kalau rumah itu kosong.”


“Berhubung semuanya sudah kumpul untuk makan malam, selesai makan malam kita akan berdiskusi tentang beberapa hal penting.” kata Yahya.


“Opa! Kalau opa memintaku untuk mengurus perusahaan yang di luar negeri, aku bersedia.” jeda William senang. “Aku juga tidak mungkin tinggal lama-lama disini. Setelah menikah aku mau kembali ke Amerika.”


“Wah, kalau begitu Opa tidak pusing lagi mau cari siapa yang akan urus perusahaan disana. Kapan kau menikah?” tanya Yahya. William menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia pun bingung mengatakan kapan akan menikah.


“Bagaimana kalau bulan depan, bertepatan ijin tinggalmu akan habis jadi begitu menikah kalian langsung berangkat.” kata Yahya lagi yang disambut antusias oleh semuanya.


“Aku jangan diminta urus perusahaan ya Opa. Aku sudah cukup senang dengan posisiku sekarang. Anakku baru berusia empat tahun, aku masih ingin punya banyak waktu dengan mereka.” kata Arion menimpali.


“Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi ingat ya Arion, kau juga adalah cucuku. Kau punya tanggung jawab sebagai cucuku membantu Verrel mengurusi perusahaan. Aku minta Verrel cuti enam bulan agar dia bisa menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. Selama dia cuti, Opa dan Viktor yang akan mengurus perusahaan.  Sementara Ayu akan mengurus perusahaan properti milik Deandra.”


“Pa, bagaimana kalau Mas Darma yang mengurus perusahaan milik Deandra. Toh Mas Darma juga belum punya pekerjaan disini.” kata Ayu memberi saran.


“Perusahaan itu dulu milikmu dan sudah kau serahkan pada Deandra. Jadi keputusan apapun itu terserah padamu dan menantumu. Papa tidak bisa ikut campur soal itu.” kata Yahya.


“Lalu bagaimana dengan makan malam? Aku sudah lapar, kita bisa diskusi lagi nanti.”kata Viktor memegang perutnya yang sudah berbunyi mengundang tawa semua orang.


“Hem….kau bikin malu saja Viktor! Apa kau tidak pernah diberi makan selama tinggal disini?” canda Yahya. “Ayo kita makan malam sebelum ada yang pingsan.” Seluruh keluarga yang berkumpul pun duduk dimeja makan. Suasana harmonis dan penuh canda tawa selama makan malam berlangsung.  Hangat! Itulah yang dirasakan Deandra. Kini semua keluarga telah berkumpul minus Amran Ceyhan yang sedang meratapi nasib dirumahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2