
Petugas keamanan yang bertugas dipintu gerbang utama membawa buku tamu yang berisi daftar orang-orang yang masuk ke rumah utama. Yuna membaca buku tamu secara teliti dan mendapati bahwa petugas service AC datang berkunjung kemarin siang tepat setelah kecelakaan terjadi. Memang benar ada jadwal service yang sudah diaturkan Yuna sebelumnya.
Pada hari kejadian kecelakaan itu semua orang sedang dalam keadaan panik sehingga tidak terlalu memperhatikan siapa saja yang keluar masuk dari rumah.
Sesaat setelah memperhatikan rekaman cctv Yuna dan Bara melihat Minah berbicara sebentar dengan seseorang yang menyamar sebagai petugas service AC.
“Bu Yuna, ini surat tugas yang diberikan pekerja service AC kemarin. Tidak ada yang aneh, bu. Surat tugas ini sama dengan sebelumnya dan petugas service yang datang sebanyak enam orang.” ucap sekuriti digerbang depan sambil menyerahkan selembar kertas.
“Apa sudah diperiksa semua peralatan mereka sebelum masuk?”
“Sudah, bu. Semua sesuai peraturan, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Dari keenam petugas yang datang hanya ada satu orang petugas yang baru pertama kali kesini. Saya sudah konfirmasi ke pihak service dan mereka bilang kalau semuanya adalah pekerja mereka.”
“Hubungi kembali dan minta mereka mengirimkan data dari keenam orang itu!” seru Yuna.
“Baik, Bu.” jawab sekuriti lalu pergi menghubungi pihak service AC yang biasa digunakan jasanya oleh keluarga Ceyhan.
“Panggil Annesh dan suruh dia pergi kesana untuk menginterogasi keenam orang itu. Katakan padanya untuk membawa beberapa orang bersamanya.” kata Bara pada seorang pengawal.
Semua orang saling pandang, menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi. Mereka melihat kemarahan Bara yang seakan siap menerkam mangsa.
“Apa semuanya sudah kumpul? Ada lagi yang belum hadir disini?” tanya Bara dengan suara lantang.
“Sudah!” teriak mereka serempak.
“Baiklah. Saya sengaja mengumpulkan kalian semua disini karena ada kejadian tak terduga dirumah utama. Saya ingin semua orang menjawab jujur! Jika ada yang kedapatan berbohong dan berkhianat maka kalian tahu apa konsekuensinya!”
Tiba-tiba wajah semua orang terkejut.
“Siapa saja yang bertugas dirumah utama kemarin dan hari ini!”
Beberapa pelayan mengangkat tangan mereka.”
“Kalian maju kedepan dan berdiri disebelah kanan!” ujar Bara. “Yang bertugas kemarin berdiri dibarisan pertama. Sekuriti yang bertugas kemarin dan hari ini maju kedepan, kalian berbaris disebelah kiri.” seru Bara.
Yuna pun mulai berbicara setelah Bara. “Kepada semua pelayan yang bertugas di rumah utama dan di rumah belakang untuk mematuhi peraturan! Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk kerumah utama tanpa ijin dari saya, hanya pelayan yang bertugas dirumah utama saja boleh masuk. Jika ada diantara kalian yang melanggar peraturan maka akan dihukum!”
“Satu hal lagi. Setiap orang yang tidak bisa bertugas karena sesuatu hal segera melapor pada saya. Tidak diperbolehkan menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya pada pelayan lain tanpa persetujuan dari saya! Kalian paham?”
“Paham!” teriak semua pelayan serempak.
__ADS_1
“Jika ada yang melihat atau mengetahui sesuatu yang mencurigakan harap segera melaporkan pada saya ataupun pada Bara maupun pengawal yang bertugas. Ingat! Keamanan dan kenyaman rumah beserta keluarga Ceyhan adalah tanggung jawab kita semua!”
Yuna memandangi wajah-wajah mereka dengan tatapan tajam. Sudah sekian lama rumah dalam keadaan damai dan tenteram tapi kini terusik lagi. Dia harus menemukan siapa saja pengkhianat diantara orang-orang itu. Ada begitu banyak orang yang bekerja dirumah itu dan akan butuh waktu untuk mengetahuinya.
Yuna pun membubarkan mereka semua setelah menanyai pelayan yg bertugas di rumah utama. Kemudian dia bersama Bara pergi keruang bawah tanah yang berada di bangunan paling belakang yang jauh dari rumah utama.
Minah diikat dikursi, wajahnya bengkak bekas tamparan dari pengawal, rambutnya acak-acakan. Saat Yuna dan Bara tiba disana ada dua pengawal yang berjaga-jaga.
“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanya Bara.
“Belum. Dia masih kekeh bilang kalau dia hanya disuruh pelayan untuk menggantikan tugas dilantai dua.”
“Dasar bodoh! Minah bangun!” tangan Yuna memegang dagu pelayan itu.
“B—bu Yuna. Saya tidak tahu apa-apa.” isaknya.
“Jangan bohong! Siapa yang menyuruhmu? Kau mau jujur atau kau akan mati disini?”
“Sa---saya jujur. Hiks...hiks….hiks…..saya tidak bohong.”
“Lalu apa kau bisa jelaskan apa yang kau bicarakan dengan petugas service ac kemarin?”
“Dia hanya bertanya dimana kamar utama. Tapi saya bilang kalau saya tidak tahu.”
“Hemm…..lalu apalagi?”
“Itu saja Bu.”
“Kalau hanya itu yang kalian bicarakan kenapa lama sekali? Apa yang dia berikan padamu kemarin?” cecar Yuna lagi, dia hanya ingin lihat sampai sejauh mana pelayan itu akan berbohong.
“Sa---s---saya berkata yang sebenarnya bu. Saya tidak kenal orang itu.”
“Apa kau bodoh, ha? Diseluruh rumah ini dipasang cctv! Bisa-bisanya kau berbohong! Jawab yang jujur! Apa yang kalian bicarakan, ha?” bentak Yuna yang sudah habis kesabaran lalu menampar Minah. PLAK!!!
“Aaaaaaa…...” Minah menjerit merasakan pipinya yang sakit dan panas kena tamparan keras Yuna. Dia pun terisak lagi. “B-----dia minta saya memberikan surat pada pelayan dilantai dua.”
“Pelayan yang mana? Siapa namanya? Kalau bicara itu jangan sepotong-sepotong!”
“I—itu bu, si Suryani. Katanya adik sepupunya.”
__ADS_1
“Apa isi suratnya?”
“Saya tidak tahu bu. Saya tidak membaca suratnya langsung saya berikan sama Suryani.”
“Kenapa kau tidak jujur dari tadi, ha?”
“Sa---saya takut bu.” suara Minah bergetar ketakutan.
“Apa Suryani yang suruh untuk membersihkan lantai dua tadi?”
“I—iya bu. Tadi saya sedang membersihkan halaman belakang, terus saya dipanggil. Katanya sakit perut dan minta saya menggantikannya membersihkan lantai dua.”
“Apa kau lupa peraturan dirumah ini? Semua orang sudah punya tugas dan tanggung jawab masing-masing, tidak boleh sembarangan melemparkan tanggung jawab mereka pada orang lain tanpa seijin saya.’
“Ya, saya tahu bu. Tapi tadi katanya dia sudah dapat ijin dari Bu Yuna makanya saya berani.”
“Sudah berapa lama kau bekerja disini? Apa kau tidak bisa bertanya langsung padaku untuk memastikan? Apa kau tahu kalau dirumah ini tidak sembarangan ornag boleh masuk.”
“Saya tahu. Mohon maafkan saya.”
“Bawa Suryani kesini secepatnya!” perintah Yuna pada seorang pengawal yang langsung bergegas mencari keberadaan pelayan bernama Suryani.
Ring! Ring!
Ponsel Bara berdering, ada panggilan masuk dari Annesh.
“Halo.”
“………..”
“Cari orang itu sampai dapat dan bawa dia ke markas besar!” perintah Bara lalu memutuskan sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Yuna.
"Pria itu tidak ada disana, dia sedang keluar bersama rekannya. Dimana pelayan itu, kenapa lama sekali datangnya?" Tanya Bara sudah tak sabar.
Sementara Suryani yang ketakutan bersembunyi di selokan, jauh dari bangunan belakang. Area itu dikelilingi pepohonan dan taman bunga. Jarang orang yang pergi kesana kecuali tukang kebun.
Tak disangka oleh Suryani saat dia hendak membuka penutup tempat pembuangan sampah yang hendak ia gunakan untuk melompati pagar, kerah bajunya ditarik dan dia dilemparkan ke tanah.
__ADS_1