TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 35. PERTENGKARAN


__ADS_3

“Ayo, dimakan.” kata Deandra menyadarkan Rosa dari lamunannya. “Gue juga sudah pesankan untuk take away buat ibumu.”


“Terimakasih ya, Dea.  Loe emang sahabat terbaik.  Setelah ini kita kemana?”


“Loe mau dibeliin apa?” tanya Deandra.


“Tidak ada. Itu tadi sudah beli banyak di supermarket, ibu pasti senang,”


“Kalau begitu kita pergi ke tempat Bayu.” kata Deandra.


Setelah membayar makanan, mereka keluar dari restoran. Dua orang bodyguard mengikuti dari jarak agak jauh, karena Deandra merasa risih jadi perhatian orang-orang yang melihatnya dikawal. Didalam mobil, Deandra memberikan dua paperbag berisi tas branded dan sepatu untuk Rosa yang sangat terkejut saat membukanya. “Dea----!”


“Udah jangan kaget gitu, itu buat ibu dan loe. Suka tidak?”


“Suka banget. Ta-tapi kapan loe beli ini?” Rosa bertanya karena tadi mereka tidak ada ke butik.


“Tadi pas gue bilang mau ke toilet. Gue beli ini. Terus gue suruh bodyguard taruh itu dimobil.”


“Makasihhhh, Dea”


“Hai Bayu,” Deandra dan Rosa serentak menyapa seorang pria yang baru masuk kedalam galery.  Saat kedua gadis itu tiba disana, hanya ada adik Bayu disana, sedangkan Bayu keluar mengantarkan lukisan dan mereka menunggu sekitar lima belas menit. Pria itu berbadan tinggi dan tampan. Mereka bertiga adalah teman sekampus dan Bayu sering membantu Deandra saat ada kesulitan.


“Dea, Ros. Apa kabar?” senyumnya melebar saat melihat dua gadis itu.


“Baik. Selamat ya bayu, kamu sudah punya galery sendiri.” kata Deandra.

__ADS_1


“Terimakasih. Baru buka sebulan yang lalu. Kamu makin cantik,” ucap Bayu menatap Deandra yang hanya menjawab dengan senyuman. Dia tahu jika Bayu menyukainya namun karena mereka berteman dekat, Bayu enggan mengungkapkan perasaannya.


Ketiga sahabat itu mengobrol, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak mengingat kenangan masa-masa kuliah dulu. Mata Bayu tak pernah lepas memandang Deandra, kedua bodyguard merekam setiap aktivitas sang nona muda dan mengirimkannya pada Tuan Besar.


“Oh iya, gue mau beli alat melukis.” kata Deandra.


“Biar saya temani ke toko sebelah,” yang diiyakan oleh Deandra. Ketiganya pergi ke toko sebelah.  “Dea, sepertinya ada yang mengikuti kita,” kata Bayu yang tidak tahu kalau itu adalah orang suruhan Verrel.


“Biarin aja,” jawab gadis itu singkat.


Toko itu cukup besar dan lengkap, berbagai alat melukis ada dijual disana dan lokasinya yang strategis berada di jalan utama. Setelah memilih alat melukis yang diperlukannya dan membayar dengan menggunakan kartu kredit pemberian Verrel, mereka kembali ke galery Bayu. Sengaja gadis itu membeli peralatan melukis yang berharga mahal. Deandra menaruh belanjaannya di bagasi mobil, Bayu yang melihatnya mengeryitkan alis.


“Itu mobilmu, dea?”


“Hmmm…..bukan,” dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia bilang kalau itu mobil Tuan Verrel. Dia melirik Rosa memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun.


“Bukan, aku belum menikah. Itu mobil kantor, ya punya kantor,” cuma itu jawaban yang rasanya tepat untuk menghindari kecurigaan bayu.


Ada perasaan lega saat bayu tahu kalau Deandra belum punya suami. Mereka kembali ke galery dan berbincang sejenak, kedua gadis itupun pamit pada Bayu. 


Rosa berjalan didepan, Deandra dan Bayu berjalan berdampingan sembari berbincang seputar lukisan. Tiba-tiba kaki Deandra tersandung dan hampir jatuh namun tangan Bayu dengan cepat meraih tangan Deandra, menariknya dan tak sengaja langsung memeluknya.


Dua orang bodyguard yang melihat Bayu memeluk majikannya, langsung mendekati Bayu.  Salah satu bodyguard menarik tubuh Deandra dari pelukan Bayu. Seorang bodyguard lagi menghunjami bayu dengan pukulan bertubi-tubi, semuanya terjadi begitu cepat. 


Deandra dan Rosa sama terkejutnya dan berteriak agar mereka berhenti memukuli bayu. Sementara seorang bodyguard memporak porandakan galery saat adiknya bayu memukul kepala pria itu.

__ADS_1


“Hentikan! Apa yang kalian lakukan?” teriak deandra marah melihat sikap para bodyguard itu.


Pak Yono yang melihat kejadian itu, meminta Deandra agar masuk kedalam mobil namun gadis itu menolak. ‘Apa-apaan ini? Kenapa mereka memukuli bayu?


Bayu yang dihajar oleh dua pria berbadan besar itupun tak kuat melawan, dia babak belur.


“CUKUP!“ teriak deandra berlari dan berdiri tepat didepan bayu saat salah satu bodyguard itu ingin menghajar bayu kembali. Melihat Deandra menghadang, pria itupun menurunkan tangannya yang teracung siap memukul.


“Kenapa kalian memukulnya!”


“Dia sudah memelukmu, nona,” ujar salah seorang bodyguard. “Lebih baik nona pulang sekarang, sebelum Tuan Besar datang dan mengamuk disini.” sambil menarik lengan gadis itu yang meronta dan memasukkannya ke mobil yang mereka kendarai. Sementara Pak Yono disuruh untuk mengantarkan Rosa pulang.


Bayu yang babak belur ingin menolong Deandra, yang dipikirnya dalam masalah besar namun tubuhnya terasa sakit dan lemah.  Dia mendengar saat bodyguard itu mengatakan ‘Tuan Besar’ membuat Bayu bertanya-tanya siapa yang dimaksud dan apa hubungannya dengan Deandra.  ‘Mereka memanggilnya NONA?


Sementara Verrel sudah menunggu dirumah dengan wajah marah, sejak dikantor dia sudah tidak tenang setelah melihat foto dan video yang dikirimkan oleh bodyguardnya.  Waktu di restoran Deandra tak sengaja bertemu dengan dua orang pria, teman masa sekolahnya dulu, mereka berbincang layaknya teman, namun Verrel menyalah artikan ketika melihat deandra yang tertawa lepas dan bahagia ketika bicara dengan dua orang pria itu. Dia marah karena deandra tidak pernah terlihat tertawa lepas dan bahagia padanya.


Para pelayan dirumah tak ada yang berani bicara saat melihat wajah tuannya yang sedang emosi. Pintu utama terbuka dan deandra masuk dengan langkah cepat dan penuh amarah. Tak peduli pada Verrel yang berdiri disana.


“DEANDRA!” teriaknya. Suaranya bergema terdengar diseluruh rumah, para pelayan bergidik ketakutan dan menundukkan wajah. Gadis itu kaget bukan kepalang. Baru kali ini dia mendengar Verrel memanggil namanya. Namun dia tak peduli, dia terus melangkah, Verrel mengejarnya dan mencengkeram lengan kirinya dengan kuat. Deandra yang dikuasai emosi pun melayangkan tangan kanannya menampar Verrel.


Plak!


Mendapat tamparan dari gadis itu semakin memicu emosinya, semua pelayan terkejut. Baru kali ini ada yang berani menampar tuan besar. Yuna ketakutan dan cemas memikirkan apa yang akan terjadi pada nona muda. Dengan kasar Verrel mengangkat dan membopong tubuh deandra dibahunya, gadis itu berteriak dan meronta-ronta.


Verrel tidak peduli, dia membawanya ke kamar di lantai dua.  Menghempaskan tubuh deandra diatas ranjang. Dengan gerak cepat deandra bangkit dari tempat tidur dan berdiri dihadapan Verrel dengan tatapan menantang dan penuh amarah.

__ADS_1


“Bu Yuna, apakah nona muda akan baik-baik saja?” tanya Alya pada kepala pelayan itu yang hanya mengangkat bahunya.


__ADS_2