TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 248. MEMBAGI TUGAS PENTING


__ADS_3

Pada saat itu seseorang mengetuk pintu ruang kerja Verrel. “Masuklah.”  jawab Verrel.


Pintu ruangan terbuka dan tampak seorang pria seumuran Verrel yang berjalan masuk sambil membawa tumpukan dokumen-dokumen lalu meletakkannya diatas meja kerja Verrel. Pria itu adalah salah seorang tim sekretaris utamanya.


“Tuan, ini semua dokumen-dokumen yang membutuhkan penanganan langsung dari anda.”


“Hem….suruh Ferdy menghadapku.”


“Baik,Tuan.” jawab pria itu lalu pergi.


Verrel mengabaikan dokumne-dokumen yang bertumpuk itu, semakin banyak proyek baru yang harus ditangani seiring dengan bertambahnya masalah yang sedang dihadapinya. Tapi Verrel sudah biasa menghadapi tekanan kerja yang tinggi seperti itu. Saat ini dia hanya ingin menyelesaikan semua masalah secepatnya dan memberikan kenyaman pada keluarganya. Tak berapa lama ketukan dipintu terdengar lagi.


Tampak Ferdy memasuki ruangan dengan sebuah berkas ditangannya lalu menyerahkan pada Verrel. “Ini dokumen yang berhasil saya dapatkan, Tuan. Tampaknya SG Group sudah membuat keputusan untuk melelang beberapa proyek besar mereka untuk mendapatkan dana. Saya juga mendapatkan informasi kalau kondisi finansial perusahaan itu kolaps saat ini tidak mampu membayar gaji karyawan yang berjumlah ribuan orang.”


“Bagus. Kita tunggu Frans dan Bayu sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”


Lima menit kemudian, ketukan dipintu terdengar kembali dan tampak Frans bersama Bayu memasuki ruangan bersama Arion dan Juan juga datang disaat yang tepat.


“Apa kami datang di waktu yang tidak tepat? Aku tidak mau mengganggu kalian.” ujar Arion.


“Justru kalian datang tepat waktu. Duduklah. Ada yang harus kita diskusikan.”


Semua orang duduk di sofa lalu Verrel bergabung dengan beberapa folder ditangannya lalu membaginya pada mereka. “Ini beberapa data yang harus kalian pelajari.”


“Ini semua informasi mengenai SG Group? Kau mau mengakuisisi perusahaan itu?” tanya Arion mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


“Tidak. Tapi aku mau pendapat kalian tentang beberapa proyek yang akan dilelang perusahaan itu. Juan, kurasa sudah waktunya kau mengambil bagian diperusahaan. Ini adalah kesempatanmu untuk memulai.”


“Well, aku tidak masalah sih. Opa juga sudah bicara denganku tadi malam dan aku sudah menyetujui untuk mengambil alih tanggung jawab yang akan kau berikan.”


“Bagus! Setidaknya kau tidak hanya keluyuran tidak jelas.”


“Oh come on Verrel! Kau juga pernah muda dan menikmati masa lajangmu.”


“Diam! Kita disini untuk diskusi bukan membahas yang lain.”


“Aku mau kalian membaca semua dokumen itu dan berikan pendapat kalian, kira-kira proyek mana yang berpotensi untuk kita ambil alih. Aku tidak berniat mengakuisisi perusahaan itu tapi aku ingin menghancurkannya hingga tak tersisa.” tegas Verrel.


Verrel memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang duduk disana. “Bayu! Aku percaya padamu karena istriku mempercayaimu. Aku harap kau tidak merusak kepercayaan kami. Aku serahkan tanggung jawab penting padamu setelah ini. Kau akan ikut denganku pergi ke Swiss besok lusa bersama Frans.”


Verrel memberikan dokumen berisi beberapa tugas dan pembagian group pada Jack. Sengaja dia membagi anak buah Jack menjadi beberapa group untuk tugas berbeda yang harus mereka tangani dalam waktu dekat. “Pastikan rolling shift sesuai waktu yang sudah ditetapkan dan setiap pimpinan group langsung melapor padamu Jack. Hanya kau saja yang bisa melapor langsung padaku. Soal Pak Waluyo, bawalah dia bersamamu ke Kalimantan untuk pekerjaan yang kita bicarakan kemarin.”


“Siap. Semua dokumen sudah ditangani oleh pengacara dan identitas baru Pak Waluyo sebagai pemilik perusahaan cabang di Kalimantan sudah ditangani. Semua data mengenai beliau sudah terhapus jadi tidak akan ada yang mengenalinya lagi. Kami akan langsung terjun ke lapangan setelah tiba di Kalimantan.” ujar Jack menjelaskan.


“Bagus! Akan ada beberapa orang kepercayaanku yang akan membantunya disana.”


Perbincangan mereka berlanjut hingga dua jam, setelah pembagian tugas selesai. Mereka pun meninggalkan ruang kerja Verrel.


Tepat pukul empat sore, Verrel meninggalkan kantornya bersama pengawal menuju kerumah sakit untuk menjemput Deandra dan ketiga anak mereka. Setibanya di rumah sakit terlihat para pengawal sedang memasukkan barang-barang kedalam mobil van. “Selamat sore Tuan.” ujar mereka serempak menundukkan kepala.


“Sore. Semua sudah selesai dikemas?” tanya Verrel.

__ADS_1


“Sudah, Tuan.”


“Baiklah. Kalian bisa pergi sekarang.”


Pengawal itu beserta beberapa rekannya membawa dua mobil van berisi barang-barang milik Deandra dan anak kembarnya, iringan mobil itu pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah kediaman keluarga Ceyhan. Sedangkan Verrel bersama beberapa pengawal lainnya berjalan masuk kerumah sakit lalu menaiki lift menuju ruang perawatan Deandra.


Saat Verrel masuk keruang rawat istrinya dia melihat Deandra sedang menyusui seorang bayi sedangkan dua babysitter memberikan asi dalam botol pada dua bayi lainnya. Senyum di wajah Verrel merekah melihat pemandangan itu.


“Halo sayang. Apa dia tidur?”


“Tidak. Lihatlah, dia mengerjapkan matanya. Lucu sekali.” ujar Deandra tersenyum.


“Apa Caesar masih tidak mau minum asi dari botol?” tanya Verrel membelai pipi bayi mungilnya. Bayi laki-laki ini berbeda dari dua bayi lainnya.


“Ya. Dia hanya mau menyusu langsung, dia merapatkan mulutnya jika diberikan botol susu.” ujar Deandra terkekeh menatap Caesar menyusu dengan rakus.


“Setelah mereka selesai minum susu, baru kita berangkat.”


“Ah….syukurlah aku bisa pulang hari ini. Rasanya membosankan berada dirumah sakit. Lagipula aku sangat merindukan Nathan dan Naomi. Apa mereka tidak nakal selama aku tidak ada?” tanya Deandra.


“Kau tahu bagaimana kedua anak itu. Naomi tidak pernah bisa diam dan selalu menarik tangan Nathan untuk membantunya menghancurkan kamar. He he he…...tugas pelayan jad bertambah harus membersihkan kamar yang berantakan setiap saat. Ah, anak itu suka sekali memberantakkan barang-barang dikamarnya.”


“Itu cara Naomi memprotesmu karena kau terlalu sibuk dan tak punya waktu untuknya. Apa kau lupa kalau dia sangat dekat denganmu, Verrel? Dia selalu bermanja-manja denganmu dan tiap kali kau mengacuhkannya dia mulai menghancurkan barang-barang. Bisakah kau meluangkan lebih banyak waktu bersamanya?”


“Baiklah. Akan kulakukan setelah semua pekerjaanku selesai. Saat ini banyak masalah yang harus aku selesaikan. Eh, sepertinya dia sudah tertidur. Saatnya kita pulang kerumah.” ujar Verrel yang melihat Caesar sudah melepaskan mulutnya dan matanya tertutup.

__ADS_1


__ADS_2