
Verrel yang sudah tak sabar bertemu dengan istrinya mendadak seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Dia tersenyum sendiri melihat tingkahnya sendiri. Apakah ini diriku? Pria yang dikenal sebagai CEO sadis, kejam dan dingin seperti es dan tidak peka seperti kata sahabatnya Dokter Romeo. Apalagi sekarang istrinya lagi hamil, dia merasa aneh bagaimana bisa dia menurut begitu saja pada Deandra. Sedikitpun dia tidak marah ataupun jengkel dengan sikap istrinya yang disadarinya mulai posesif itu.
Dia pun merasakan keanehan pada dirinya, ada perasaan lain didalam hatinya yang membuatnya merasa ketergantungan pada istrinya, seperti candu yang membuatnya sulit untuk mengendalikan dirinya. Dan hanya satu wanita yang mampu membuatnya merasakan semua itu, yaitu Deandra, gadis pembangkang yang kini sah menjadi istrinya.
Mobil mewah itu berhenti tepat didepan pintu utama. Seorang wanita cantik mengenakan baju terusan warna merah muda dan rambut diikat kepang kuda sudah berdiri disana bersama seorang wanita paruh baya. Senyum manisnya mengembang sesaat setelah melihat mobil Verrel. Dia bergegas mendekati suami tercintanya dan memeluknya.
“Istrimu sudah menunggu dari tadi. Katanya dia rindu,” kata Ayu tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya. Sudah sedari tadi Deandra selalu menanyakan kapan suaminya pulang.
“Benarkah, sayang?” kata Verrel menggendong istrinya masuk kedalam rumah.
“Hati-hati. Ingat istrimu lagi hamil, kalau sampai calon cicitku kenapa-napa maka kau akan kuhukum,” kata Yahya dengan nada dingin pada Verrel.
“Iya, Opa. Aku janji akan menjaganya.”
“Hmmm….Opa tidak mau dengar kalau kau masih cari wanita diluar sana. Awas saja kalau kau buat cucu mantuku menangis!” ujar Yahya yang masih terus mengawasi Verrel. Dia memerintahkan pengawalnya untuk selalu mengawasi gerak gerik Verrel. Meskipun dia tahu cucunya itu sudah banyak berubah, tapi dia tak ingin kecolongan. Jika itu sampai terjadi maka keluarganya akan kacau.
“Tidak pernah lagi, Opa.” jawabnya seraya memandang istrinya, dia cemas jika perkataan sang kakek akan membuat istrinya berpikir macam-macam dan marah padanya.
"Temui aku diruang kerja setelah makan malam. Ada hal penting yang ingin kubicarakan," kata Yahya pada cucunya.
"Baiklah, Opa."
“Sayang, kita kekamar ya?” tanya Verrel tanpa menunggu jawaban istrinya, dia langsung membawanya naik ke lantai dua. Memasuki kamarnya yang sudah direnovasi sesuai permintaan sang istri, dia mendudukkan nya diatas sofa.
“Apa itu?” bertanya saat matanya tertuju pada suatu benda yang ditutupi kain putih.
“Hadiah untukmu,” jawab deandra. Verrel membuka kain penutup dan melihat sebuah lukisan dirinya. Lukisan itu sengaja dibuat Deandra untuk suaminya.
__ADS_1
“Ini….untukku? Bagus sekali. Kenapa kau memberiku hadiah?” katanya dengan sangat berhati-hati.
“Kau sudah memberiku banyak hadiah. Tapi aku tidak pernah memberimu hadiah apapun,”
“Tidak perlu memberiku apa-apa. Kau sudah memberiku hadiah terbaik, sayang.”
“Maksudnya?”
“Ini. Anak kita yang didalam perutmu. Kalian berdua adalah hadiah terbaik dalam hidupku. Tetaplah disisiku Nyonya Verrel, aku hanya butuh itu.”
“Kau selingkuh ya?” tanya Deandra tiba-tiba.
“Apa? Kenapa bicara begitu?” tanya Verrel kaget. Ya, Tuhan ada apalagi. Tolong aku ya Tuhan jangan sampai istriku merajuk lagi. Kemarin gara-gara salah bicara, Deandra mengamuk dan tidak mau makan. Bahkan saat Verrel terus membujuknya malah membuat istrinya kesal dan melemparkan gelas ke lantai. Yahya dan Ayu yang mendengar suara ribut dari kamarnya pun langsung datang dan memarahi Verrel.
“Kenapa? Kau pasti selingkuh, iyakan? Aku tidak bodoh ya Verrel. Ciri-ciri suami selingkuh itu kalau suaminya tiba-tiba suka merayu istrinya, terus bicaranya manis sepertimu, terus suka membelikan hadiah pada istrinya. Iya begitu..aku baca di internet begitu.” katanya dengan menyipitkan mata melihat Verrel yang terdiam tak tahu mau jawab apa.
“Oh….begitu ya. Ya sudah kalau begitu.” kata Deandra melenggang pergi keluar dari kamar meninggalkan Verrel yang mengelus dada. ‘Hufff…..sabar...sabar. Syukurlah dia tidak merajuk.’ Ya, ampun. Seperti apa anakku kalau lahir nanti? Apa anakku akan segalak itu? Ini gara-gara ucapan Romeo waktu itu. Akan kuminta pertanggung jawaban dokter konyol itu. Verrel meraih ponsel disakunya dan menekan tombol panggilan.
“Halo, Tuan Verrel, apakah Tuan merindukanku?" kata Romeo dengan nada mengejek. Dia memang suka mengganggu sahabatnya itu.
“Kau harus tanggung jawab!”
“Hah? Aku tidak menghamili anak orang kenapa kau suruh tanggung jawab?” kata Romeo.
“Siapa yang bilang kau menghamili anak orang? Kau menyindirku ya?”
“Tidak. Itu tadi kau minta aku tanggung jawab.” kata Romeo terkekeh.
__ADS_1
“Iya, tanggung jawab atas ucapanmu dihari pernikahanku.”
“Ucapanku? Ohh….memangnya kenapa? Apa yang terjadi?”
“Istriku.”
“Kenapa dengan istrimu? Apa dia baik-baik saja? Aku baru memeriksa kandungannya kemarin. Istri dan anakmu sehat.”
“Sekarang dia makin galak dan mengerikan. Waktu itu kau bilang semoga anakku kelak seperti istriku. Nah, kau harus tanggung jawab, kalau sampai anakku nanti lahir seperti istriku yang galak.”
“Ha….ha…..ha….ha. Ternyata kau takut istri ya? Itu bukan salahku. Nikmati saja, Tuan Verrel. Memang kau galak, iyakan? Kalau sekarang sikap istrimu berubah itu karena bawaan bayinya. Wah….sudah bisa ku bayangkan seperti apa anakmu nanti.”
“Apa kau bilang? Jangan macam-macam ya, aku akan me---”
“Apa? Mau bilang akan menarik semua sahammu dirumah sakit milikku? Mau membuat ijin praktekku dicabut? Sudah basi Verrel. Dari dulu ancamanmu itu saja. Dengar baik-baik ya, kalau nanti anakmu laki-laki maka sifatnya ya seperti istrimu sekarang.”
“Kalau begitu aku mau anak perempuan saja. Pasti lembut dan manis,” ucapnya sambil membayangkan kalau dia punya anak laki-laki yang segarang istrinya.
“Mana bisa kau memilih. Kalau anakmu perempuan pasti lebih galak. Paham maksudku? Perempuan biasanya cerewet apalagi kalau marah, sangat mengerikan. Bayangkan saja kalau anakmu perempuan. Maka anak itu dua kali lebih mengerikan daripadamu. Verrel dalam wujud seorang perempuan..ha..ha..ha..ha,” Kata Romeo tertawa terbahak-bahak, dia sengaja ingin membuat sahabatnya itu pusing. Dia tahu bagaimana sikap deandra selama hamil. Dan dia selalu menahan tawa melihat Verrel yang seperti kerbau dicocok hidungnya menurut pada istrinya.
“Sudah. Tidak ada gunanya bicara denganmu. Kepalaku tambah sakit kau buat.” kata Verrel memutuskan panggilan.
‘Semoga anaknya kembar sepasang biar dia tambah pusing….ha….ha...ha...aku belum memberitahunya soal itu. Bagaimana reaksinya kalau dia tahu akan punya anak kembar? Tapi, sepertinya istrinya juga tidak memberitahunya.
Akhirnya kau rasakan juga bagaimana ditaklukkan oleh seorang wanita, gumam Romeo. Eh….bicara soal wanita, aku juga belum punya wanita...ha...ha….ha. Nasib oh nasib. Semoga nasibku tidak seburuk Verrel, ucapnya.
...**...
__ADS_1