TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 141. ANDINI TERJEBAK


__ADS_3

“Eughh…….” Andini terbangun dari tidurnya.  Tubuhnya terasa sangat lemah kehilangan tenaga.  Dia berusaha bangkit namun tubuhnya sakit apalagi bagian bawahnya.  Tangannya memijit keningnya, rasa sakit mendera kepalanya.  Andini mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, dengan susah payah akhirnya dia bisa duduk dan bersandar diujung ranjang.  Melihat ada sebotol air mineral diatas nakas.  Tangan meraih botol minuman lalu menegak, aliran air terasa menyejukkan tenggorokannya yang kering.


“Apa yang terjadi padaku? Aku ada dimana ini?” matanya menatap sekeliling ruangan kamar yang cukup luas itu.  Terlihat pakaian berserakan dilantai, matanya membelalak, pakaian siapa itu? Tangannya menarik selimut dan mendapati tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. ‘Oh, Tuhan.  Apa yang sebenarnya terjadi? Mendadak dia panik, dengan sekuat tenaga dia berusaha bangkit dari tempat tidur, melawan rasa sakit ditubuhnya dia meraih jubah mandi diatas kursi lalu memakainya.  Perlahan dia jalan menuju pintu dan melihat tidak ada gagang pintu ‘Bagaimana caranya membuka pintu ini?’ Andini melihat hanya ada benda putih denagn deretan angka disamping pintu. Sial! Pintu ini pakai password! Ujarnya.


Desakan alamiah memaksanya berjalan menuju kamar mandi.  Rasa lega setelah semua isi perutnya keluar.  Dia memutuskan untuk mandi, air hangat yang mengucur dari pancuran air membuat tubuhnya terasa segar, rasa perih menyerang bagian bawah tubuhnya. “Apakah Rian yang meniduriku tadi malam? Tapi dimana dia?”


Andini lantas teringat kalau dirinya diculik saat berada di toilet di rest area, lantas siapa yang menculiknya? Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan.  Andini mengeringkan tubuhnya, saat dia berdiri didepan cermin, dirinya mendapati banyak bercak merah disekujur tubuhnya.  Mulutnya menganga dan matanya terbelalak. Siapa yang melakukan ini padaku?


Dia lari kembali ke kamar, mencari jika ada pakaian yang bisa dipakainya.  Saat membuka lemari dia mendapati baju wanita yang sesuai dengan ukuran badannya.  ‘Aku harus keluar dari sini, siapapun yang membawaku kesini pasti berniat jahat. Kemana Rian? Apa yang terjadi padanya? Andini berdiri didepan jendela dan berusaha membukanya, wajahnya pucat saat melihat tepat dibawah jendela kamar itu ada jurang yang terjal. Wajahnya terlihat ketakutan.


Pandangan Andini nanar melihat jurang dibawah jendela kamar yang idtempatinya, dia mengedarkan pandangan dan sepertinya memang tidak ada sedikitpun peluang untuk bisa kabur dari kama yang terletak di lantai dua rumah itu. Wanita itu berlari mendekati pintu dan berusaha membuka pintu tapi tak ada yang bisa dia lakukan tanpa password pintu itu tak bisa dibuka, dia berlarian kesana kemari membongkar lemari, laci mencari jika dia bisa menemukan sesuatu untuk membuka pintu.  Tingkah Andini tidak terlewatkan oleh seorang pria yang mengawasinya dari ponsel yang tersambung ke cctv kamar itu. 


“Aku ingin lihat reaksimu saat kau bertemu denganku nanti,” ucap Darma menyeringai.


“Apakah kau akan menemuinya hari ini?” tanya Rian.


“Mungkin. Semakin cepat semakin baik! Sudah terlalu lama wanita ular itu hidup enak dan tenang sementara aku menderita.  Kini waktu yang tepat dia merasakan penderitaannya, bukan?”


“Iya, benar sekali! Dia tidak muda lagi, tak punya pekerjaan hanya mengandalkan uang suaminya.  Dia takkan bisa berbuat apapun.”


“Sebentar lagi suaminya juga akan bangkrut. Aku dengar istri Verrel sudah menguasai semuanya...ha...ha...ha….gadis muda itu ternyata pintar ya. Tak salah Verrel memilihnya.”


“Aku baca berita tentang putranya Andini, sama bejatnya seperti ibunya.” Rian menimpali.


“Laki-laki brengsek, mencoba memperkosa istri kakaknya sendiri.  Aku tak sabar ingin melihat seperti apa pembalasan Verrel pada Andini dan anaknya saat dia tahu yang sebenarnya.” kata Darma tersenyum puas.


“Apakah kau mau aku kirimkan semua pada istri Tuan Verrel?”


“Jangan. Kirimkan saja pada Tuan Yahya tapi tidak sekarang, aku akan memberitahumu nanti.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan lakukan perintahmu.”


“Aku akan menemui wanita ular itu malam ini, suruh pelayan menyiapkannya.  Ingat jangan sampai dia kabur.”


Rian menjawab dengan anggukan lalu keluar dari ruangan itu.  Wajahnya tersenyum namun sorot matanya penuh amarah.  Dia memanggil pelayan yang bekerja dirumah itu, memberikan beberapa perintah pada mereka, lalu dia pergi meninggalkan rumah itu.  Rumah berlantai dua itu dijaga oleh beberapa pria bertampang sangar.


Sementara didalam kamar, Andini terlihat pucat dipenuhi rasa takut. Mengutuk dirinya yang terjebak dan dia bahkan tak tahu siapa yang membawanya kesana dan kenapa dirinya dikurung disana.   “Jika Verrel masih hidup, ini pasti ulahnya! Pasti dia yang menyuruh orang untuk menculikku dan mengurungku disini.  Tapi, Rian? Dimana pria itu? Atau, jangan-jangan dia bekerja untuk Verrel?”  pikirannya semakin kacau memikirkan berbagai kemungkinan. “Kalau ini semua ulah Verrel, aku takkan keluar hidup-hidup dari sini….arrggggg!” teriaknya marah dan tertekan, kengerian akan kejamnya Verrel membuat Andini meneteskan airmata.


“Aku tidak mau mati. Tidak sekarang, aku harus bisa keluar dari sini….ya….pikir Andini ayo berpikir...” gumamnya sambil mondar mandir.


Pintu terbuka dan seorang pria bertubuh tinggi dan kekar berdiri disana, seorang pelayan masuk membawa makanan untuk Andini yang mematung dengan rasa takut.  Ingin rasanya dia berlari menuju pintu namun kakinya kaku tak mampu bergerak melihat tatapan tajam pria itu dan juga ditangannya dia memegang pistol. ‘Tamat riwayatku, apakah pria ini yang menculikku? Apakah dia dikirim oleh Verrel untuk membunuhku?’ Lamunannya buyar saat suara wanita berkata “Ini makanan anda, Tuan masih berbaik hati menyuruh sayang mengantar makanan ini.  Jika nyonya tidak memakannya, Tuan akan marah dan akan menghukum anda.” pintu itupun kembali ditutup setelah pelayan itu keluar meninggalkan Andini yang masih bengong.  Karena rasa lapar, dia pun melahap habis makanan itu.


...*...


Ruangan itu remang-remang karena lampunya sengaja dimatikan dari luar.  Pintu terbuka dan tiga orang pria memasuki ruangan itu. Setelah pintu tertutup terdengar suara seorang wanita “Si—siapa kalian?” Ruang kamar seketika terang benderang. “K—kau? Kau masih hidup?”


“Ti-tidak. Tidak mungkin! Kau sudah mati!” teriak Andini panik.


“Aku tidak akan mati sebelum membalaskan dendamku!” tangannya  memegang erat wajah Andini yang meringis kesakitan.  Wanita itu hendak menampar pria didepannya namun kedua pria sudah menahan tangan Andini. Dia meronta-ronta, lengannya dicengkeram dengan kuat.


“Apa yang kau inginkan dariku?”


“Semuanya! Kau harus membayar semua yang telah kau ambil dariku!”


“Apa maksudmu, hu?” teriaknya dengan mata melotot, meskipun ada rasa takut namun dia masih ingin menunjukkan keangkuhannya. ‘Dulu kau kuhancurkan, sekarangpun aku bisa menghancurkanmu.  Suamiku akan selalu mendukungku.’ gumamnya dalam hati.


“Kau akan paham apa keinginanku setelah aku mengirimkan sesuatu pada suamimu,’ senyum licik terpancar diwajah Darma Pangestu.


“Aku tidak takut! Kau tidak punya apapun yang bisa kau pakai untuk menghancurkanku!”

__ADS_1


“Ikat dia!” teriak Darma penuh emosi. Tangannya meraih remote tv “Pasang matamu tajam-tajam, Apa yang akan kau lihat di TV itu.”


Layar datar berukuran besar diruangan itupun menampilkan video mesum Andini dengan pria berbeda selama seminggu dirumah Rian dan video mesum lainnya selama dia disekap.  Wajah Andini pucat melihat semua, kini dia sadar bahwa pria yang menidurinya selama ini bukan Rian.


“Kurang ajar! Itu pasti editan!” teriaknya sementara matanya mulai berkabut.


“Oh, ya? Apa kau lupa dengan teriakan dan desahanmu, hu? Aku rasa video ini akan jadi tontonan menarik untuk suamimu dan teman-teman arisanmu.” tawa Darma menggelegar.


“Apa maumu bajingan!”


“Oh! Berani sekali kau memakimu dan memanggilku bajingan. Kalau kau tak bisa bersikap manis, maka aku akan perintahkan sepuluh atau dua puluh orang anak buahku menggilirmu!”


Mendengar itu Andini membeku, kakinya bergetar dan lidahnya terasa kelu. “Katakan apa maumu?” bertanya dengan nada yang lebih rendah berusahan menenangkan hatinya.


“Berapa banyak uang yang kau mau? Aku akan berikan asal kau hancurkan semua video itu!”


“Baiklah. Sepertinya tawaranmu menarik juga. Berikan aku sepuluh milyar.”


“Apa? Kau gila darimana aku dapat sepuluh milyar?” tanya Andini kaget.


“Kurasa setimpal dengan video ini.  Kalau kau menolak, aku akan sebarkan video ini dan juga bukti lainnya. Apa yang terjadi saat suamimu tahu bahwa anakmu itu bukan darah dagingnya. Kau pikir dia akan senang jika tahu telah dibohongi oleh wanita murahan sepertimu?”


“Rico memang darah daging Amran Ceyhan! Dia cucu keluarga Ceyhan!” teriaknya kencang.


“Sudahlah Andini. Jangan berpura-pura lagi. Ini, semua bukti ada disini termasuk bukti DNA.”


Jantung wanita itu seperti mendadak berhenti berdetak. ‘Sial! Jadi Darma punya dokumen itu? Tapi, siapa yang memberikan padanya? Darimana dia mendapatkannya? Dokumen itu sudah kumusnahkan tapi kenapa malah ada pada Darma? Pikirnya.


*Hai para pembaca setia 👋👋 semoga kalian suka dengan alur ceritanya.....mohon bantu vote, like dan komen ya biar author tambah smangat. Terimakasih 🙏🙏😘😋

__ADS_1


__ADS_2