TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 290. BRANKAS DITEMUKAN


__ADS_3

Saat berada dipersimpangan lampu merah baru menyala mengharuskan supir menghentikan mobil sejenak. Verrel melirik jam dilayar ponselnay waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, berarti sudah satu jam lebih dia diperjalanan. Setelah menunggu beberapa saat lampu hijau menyala bertepatan dengan ponselnya berbunyi. Verrel langsung menjawab panggilan masuk dari Sersan Fahrezi.


“Selamat pagi, Sersan Fahrezi! Saya baru saja ingin menghubungi anda,” sapa Verrel.


“Maaf Tuan Verrel, saya baru mengabari anda. Apakah anda sudah membaca artikel hari ini?”


“Ya saya menghubungi anda memang ingin menanyakan itu. Apakah berita itu benar?” tanya Verrel.


“Mari kita bertemu Tuan Verrel. Saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju rutan.”


“Baiklah. Saya juga sedang dalam perjalanan menuju kesana. Sampai jumpa.” Verrel menghela napas panjang lalu memerintahkan supirnya untuk lebih cepat lagi.


Sersan Fahrezi sudah sampai dirutan terlebih dahulu, dia menunggu kedatangan Verrel dengan gelisah.


Saat dia melihat mobil Verrel memasuki halaman rutan, dia pun bergegas menghampiri.


“Sebenarnya apa yang terjadi Sersan Fahrezi?” tanya Verrel begitu turun dari mobilnya.


“Kita bicara didalam Tuan. Kepala rutan sudah menunggu kedatangan kita.” jawab Sersan Fahrezi.


Suasana kantor rutan masih sepi karena baru sebagian pengawai yang datang. Verrel dan Fahrezi pun langsung menuju ruang kepala rutan.


“Selamat pagi Bapak-Bapak!, sapa kepala rutan. Silahkan duduk.”


Keduanya duduk berhadapan dengan kepala rutan. “Maaf Tuan Verrel kami mengecewakan anda. Berita itu memang benar.” jawab kepala rutan dengan ekspresi menyesal.


“Maksudnya?”


“Kami menemukan Yani gantung diri didalam selnya.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa? Bukankah pengamanan sudah diperketat?” protes Verrel kecewa. Jelas-jelas Verrel sudah menitipkan Yani dan memberikan perintah pada kepala rutan itu. Bahkan Verrel sudah memberitahu mereka kalau Yani adalah saksi penting yang akan dihadirkan dipersidangan nanti.


“Sabar, Tuan Verrel. Dengarkan dulu penjelasan saya.” ujar kepala rutan dengan ketakutan. Lalu pria itu pun menjelaskan pada Verrel semuanya.


Verrel langsung lemas sekaligus lega setelah mendengar penjelasan kepala rutan. “Syukurlah dia baik-baik saja. Maafkan sikap saya tadi. Saya benar-benar panik. Anda tahu sendiri betapa pentingnya wanita itu dalam kasus ini.” kata Verrel dengan raut wajah menyesal.


“Saya mengerti Tuan. Sebenarnya saat Sersan Fahrezi meminta bertemu dengan saya, ingin mengatakan kebenarannya tetapi dia berkata sedang dalam perjalan kesini bersama anda. Jadi ya saya tunda penjelasannya.” jawab kepala rutan.


“Menurut anda apa alasan wanita itu bunuh diri? Saya merasa aneh karena saat bertemu kemarin jelas-jelas dia menyebutkan tidak ingin mati karena masih ada tanggung jawab mengurus ibunya?”


“Saya rasa ini ada hubungannya dengan orang bernama William Lee.” jawab kepala rutan.


“William Lee? Bukankah dia dipenjara? Apa yang dilakukan pria tua itu padanya?” tanya Verrel.


“Tidak secara langsung tetapi dia menyuruh salah satu tahanan untuk memprovokasi Yani. Kami belum tahu pasti seperti apa kejadiannya tetapi saat ini sedang kami selidiki. Salah satu saksi mata menyebutkan ada seorang tahanan wanita memberikan sesuatu padanya. Setelah itu dia terlihat murung nyaris tidak menyentuh makanannya. Sampai saat ini kami menunggunya buka mulut untuk mengetahui alasannya melakukan itu.”


“Boleh saya bertemu dengannya? Dari pembicaraan terakhir kami, saya sangat yakin kalau dia pasti mau mengatakan alasannya ingin bunuh diri.” ujar Verrel.


Sementara itu dirumah sakit, Ezha sedang mendapat tekanan dari Farns dan yang lainnya. Mereka berusaha mendapatkan kode brankas itu tetapi Ezha bersikeras hanya mau mengatakan pada Verrel. Pengkhianatan Olivia yang tega meninggalkannya di sarang musuh membuat Ezha sudah tidak bisa mempercayai siapapun lagi.


“Sudah kukatakan, aku tidak akan mengatakannya pada siappaun selain Tuan Verrel. Aku hanya berurusan dengannya jadi jangan pernah memaksaku lagi.” ujar Ezha.


“Saya asisten pribadi Tuan Verrel sebelum pergi beliau sudah berpesan agar menggantikan dia untuk membuka brankas itu. Jadi kau bisa mempercayaiku.”


Ezha tersenyum sinis, dia menatap Frans dan yang lainnya satu persatu dan mencibir. “Hanya asisten pribadi kan? Tetap saja aku tidak akan mengatakannya padamu.”


Ezha mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu menatap anak buah Verrel dan Luke dengan tatapan mata tajam.


“Lagipula tidak ada yang bisa menjamin kalau salah dari kalian berkhianat! Aku tidak mau dimanfaatkan lagi.” sungut Ezha.

__ADS_1


“Hei! Jaga bicaramu! Jangan asal menuduh!” ujar Frans emosi.


“Kenapa? Apakah ucapanku menyinggungmu?” tanya Ezha dengan nada menantang.


“Kau mempersulit dirimu sendiri.” kata Frans. “Aku jadi curiga, jangan-jangan kau sengaja mengulur-ulur waktu membuka brankas ini agar Olivia bisa melarikan diri sejauh mungkin.”


Ezha tertawa sambil meringis menahan rasa nyeri di kepalanya. “Sepertinya tuduhan itu juga berlaku untukmu Tuan Asisten!” balas Ezha dengan nada mengejek.


“Apa maksudmu?” tanya Frans tak senang.


“Mengapa kau sangat ingin mendapatkan kunci brankas itu? Apakah ada wajahmu direkaman video itu?”


“Brengsek! Jangan samakan aku denganmu bangsat!” maki Frans seraya menarik baju Ezha dengan emosi. Tangannya mengepal siap menghantam wajah Ezha yang dipenuhi pelster itu. Emosi Frans tidak terkontrol karena sudah beberapa hari dia kurang tidur. Belum lagi saat istirahat dirumah, putrinya Lily selalu menempel padanya sehingga dia harus menemani putrinya itu.


“Tahan Pak Frans! Jangan kotori tanganmu dengan memukulinya,” cegah Bram dengan sigap menahan tubuh Frans sehingga pukulan itu mengenai ruang kosong.


Ezha menatap Frans dengan seringai mengejek diwajahnya. “Kalau kau tidak suka dituduh melakukan hal yang kau benci, jangan lakukan itu pada orang lain. Aku memang bajingan tapi aku tidak pernah mengkhianati orang yang mempercayaiku.” kecam Ezha.


Frans terus saja menatap Ezha dengan sepasanga mata yang menyala-nyala. Hatinya dipenuhi rasa benci pada pria itu. Jika saja dia tidak ingat dimana dia berada saat ini, Frans pasti sudah menyeret Ezha untuk memberinya pelajaran.


“Ada apa ini?” tanya Verrel yang muncul tiba-tiba. Wajahnya tegang menahan amarah. Aura dingin langsung menyelimuti ruangan itu. Semua orang berdiri langsung menunduk dengan nyali menciut.


“Dia bersikeras tidak mau memberitahu password brankas itu Tuan.” lapor Frans dengan wajah kesal.


 Sudut bibir Verrel terangkat, dia sudah bisa menebak itu akan terjadi.


Ezha pastilah bertindak hati-hati memberikan password brankas itu kepada orang yang tidak bisa menjamin keselamatannya. Sebagai orang yang baru saja mengalami pengkhianatan besar dari aprtnernya, dia pasti sulit mempercayai orang lain.


“Tidak apa-apa. Terimakasih atas kerjasamamu Frans. Pulanglah beristirahat, setelah itu temui ti legal dan tim IT kita. Usut tuntas kejadian di pabrik dan Kelab malam milik Luke. Pergilah bersama anak buah Luke untuk membantu mereka mengusutnya.”

__ADS_1


Frans mengangguk penuh hormat, dia pun pamit meninggalkan Verrel dan yang lainnya disana. Verrel memasukkan tangannya kedalam saku celananya lalu berjalan dengan santai mendekati Ezha. Wajahnya tak lagi tegang karena berbagai masalah yang membelitnya satu persatu terurai.


Sekarang Verrel hanya menunggu bukti yang dimiliki oleh Ezha. Jika semua berhasil dia dapatkan maka semuanya akan mulus untuk menyeret Olivia dan komplotannya ke penjara untuk waktu panjang.


__ADS_2