
“Ini foto wanita yang dikirim Wisnu. Mungkin Tuan belum memeriksa email masuk dari Wisnu jadi saya mencetaknya. Namanya Stefanie Singgih, putri sulung SG Group.”
“Hem….aku tidak mengenalnya. Tapi aku mendengar kalau dia menjalankan bisnis gelap untuk mendukung perusahaan ayahnya yang dipegang Sandy selama ini.”
“Benar Tuan. Dari informasi yang saya dapatkan, selama beberapa tahun ini SG Group adalah perusahaan yang melakukan money laundring.”
“Carikan bukti-bukti yang akurat atas semua aktifitas perusahaan itu secepatnya.”g
“Apa yang mau Tuan lakukan?”
“Menghancurkan dan melenyapkan selamanya!” jawab Verrel tegas.
“Baik. Akan segera saya dapatkan informasinya.”
“Oh iya Frans! Kalau istri dan anakmu kesepian dirumah suruh saja mereka menginap dirumahku selama kita pergi ke Swiss. Deandra pasti senang ada teman dirumah.”
“Baiklah Tuan. Nanti saya sampaikan pada Rosa.”
“Hem….”
Sementara itu di setelah kepergian Olivia dari kediaman keluarga Ceyhan, dia yang tak terima dengan perlakuan Verrel selama ini dan perlakuan kasar dari pengawal tadi membuatnya semakin nekat. Dia sudah bertekad akan membalaskan sakit hatinya, Olivia yang biasa hidup dimanjakan oleh keluarganya dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya pun semakin menggila.
Dia tak lagi berpikir panjang, emosinya menutup akap sehatnya. Dia menghubungi pers dan mengundang mereka saat itu juga untuk memberikan pernyataan. Bersamaan dengan konferensi pers dadakan yang diadakan oleh Olivia, di media sosial pun mendadak diramaikan dengan berita perselingkuhan Verrel dengan seorang wanita.
Foto-foto dan video pun beredar tak terkendali, namun Verrel belum mengetahui apa yang sedang terjadi saat itu. Dia sedang bersiap-siap hendak meninggalkan kantor saat seorang sekretarisnya masuk.
“Maaf Tuan. Saya ingin menunjukkan ini pada anda. Baru saja dirilis dan sudah dibagikan ribuan kali.” ucap sekretaris yang bertanggung jawab di bagian humas itu.
Verrel menerima Ipad dari sekretaris lalu membaca berita yang sedang viral di media sosial. Keningnya mengeryit karena tidak mengerti dan merasa berita itu sangat konyol.
“Berita hoaks! Apa-apaan ini? Saya tidak kenal siapa wanita itu.”
“Saya tahu kalau itu bukan Tuan. Apa Tuan benar-benar tidak bisa mengenali wanita di video itu?”
“Tidak! Apa kau pernah lihat aku bersama wanita lain selain istriku?”
“Tidak. Bukan begitu maksudku Tuan. Jika Tuan mengenalnya mungkin mudah bagi saya untuk menemukan wanita ini.”
__ADS_1
“Tidak perlu ditanggapi berita omong kosong itu. Wajahnya saja disamarkan!” ujar Verrel.
“Baiklah. Apa perlu saya minta tim humas menangani ini?”
“Biarkan saja! Karena itu tidak ada hubungannya denganku.”
“Tapi beritanya sudah viral dan komentar netizen sangat buruk, Tuan. Nama baik Tuan bisa rusak dan bagaimana dengan Nyonya kalau sampai tahu berita ini?”
“Istriku tidak akan terpengaruh, biarkan saja dulu. Cari tahu siapa wanita itu dan ikuti terus perkembangan beritanya. Kalau ditanggapi berarti berita itu benar. Sebaliknya kalau di acuhkan maka siapapun yang menyebarkan berita itu akan memunculkan dirinya sendiri.”
“Baik, Tuan. Saya hanya mengkhawatirkan Tuan dan Nyonya saja.”
“Aku bisa mengurus istriku soal ini. Laporkan segera jika ada perkembangan.”
“Baik.” lalu sekretaris itupun keluar dari ruangan Verrel.
Verrel mengeryitkan dahinya, ‘Siapa yang sudah berani menyebarkan omong kosong itu? Selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita lain, aku bahkan menahan diri selama istriku hamil hingga sekarang karena aku tidak ingin rumah tanggaku hancur.’
Tak lama Frans memasuki ruang kerja Verrel dengan wajah masam. “Kenapa wajahmu?”
“Aku sudah tahu!”
“Oh, tapi ada hal lain. Olivia mengadakan konferensi pers dan mengatakan hubungan rahasianya bersama Tuan.” ujar Frans yang sama sekali tidak percaya berita itu.
“Ah! Wanita sialan itu! Ternyata dia belum juga menyerah setelah kuusir!”
“Setelah Tim IT memeriksa rekaman CCTV dirumah utama, gambarnya semakin jelas kalau tamu yang datang itu adalah Olivia. Dia masih memakai baju yang sama dengan saat wawancara.”
“Aku tidak punya waktu mengurus masalah ini. Kita harus fokus pada rencana sebelumnya.”
“Tapi---bukankah ini akan berakibat buruk jika beritanya semakin berkembang?” tanya Frans.
“Seperti kubilang, kita tidak punya waktu meladeni kekonyolan ini. Masih ada hal penting lainnya yang harus segera diselesaikan. Aku mau pulang dulu. Biarkan saja dia mau buat apa.”
“Tuan, yakin? Ada wartawan yang sudah menunggu didepan gedung. Mungkin sudah ada juga dirumah utama, apa tidak sebaiknya kita tangani ini dulu?”
“Tidak perlu! Kita berangkat ke Swiss malam ini. Biarkan saja berita ini, kita lihat akan berkembang sejauh mana. Kalau semakin memburuk, baru kita atasi setelah kembali dari Swiss!”
__ADS_1
“Baiklah Tuan.” jawab Frans. Meskipun dia tak setuju dengan keputusan Verrel tapi dia tahu jika Verrel selalu membuat keputusan yang tepat. Lagipula ada masalah lain yang jauh lebih penting yang harus mereka selesaikan segera. Kekonyolan Olivia bukan hal besar yang harus dikhawatirkan.
*****
Deandra baru saja selesai dengan ritual mandi dan pijatan. Dia mengenakan baju terusan berwarna biru muda lalu pelayannya membantu merias wajahnya dengan riasana ringan. Saat Dena sedang membantunya mengeringkan rambut panjangnya, dia meraih ponsel dan terkejut saat melihat berita viral yang langsung muncul di beranda media sosialnya.
“Arrgggg!” teriaknya membanting ponselnya dengan marah.
“Nyonya! Ada apa?” tanya Dena cemas.
Deandra tak menjawab dia lalu menepiskan tangan Dena lalu berjalan keluar dari kamarnya. Dena mengejarnya karena mengkhawatirkan Deandra yang belum sepenuhnya pulih bekas operasinya.
“Nyonya! Hati-hati….jangan berjalan cepat Nyonya!” teriaknya mengejar Deandra lalu meraih lengannya.
“Lepaskan! Kau mau apa?” bentak Deandra yang tak pernah semarah itu sebelumnya.
“Maafkan saya nyonya. Tolong tenang, ingat kalau luka bekas operasinya belum sembuh.” ucap Dena dengan suara lembut mencoba menenangkan Deandra. Beberapa pelayan yang mendengar teriakan Deandra bergegas menuju tangga dan mendongak menatap majikannya yang terlihat marah.
“Pergi sana! Aku mau ke kantor suamiku sekarang.”
“Sabar nyonya. Lebih baik nyonya kembali ke kamar.” bujuk Dena.
Tami bergegas keluar dari kamar bayi lalu menghampiri Deandra. “Ada apa?” dia melirik Dena yang menjawab dengan menaikkan bahu lalu menggelengkan kepala.
Seorang pelayan yang berdiri dibawah tangga berkata, “Nyonya, sebentar lagi Tuan pulang. Tadi dia menelepon kerumah katanya sedang dalam perjalanan.”
“Huh….” Deandra mendengus. “Kalau sudah sampai suruh segera menemuiku!”
“Baik, Nyonya.”
Dena membawa Deandra kembali ke kamarnya. Sementara para pelayan saling berbisik dilantai bawah. “Ada apa dengan nyonya? Kenapa tiba-tiba marah?”
“Kau belum lihat berita yang baru saja viral?”
“Berita apa?” tanya seorang pelayan.
“Coba lihat ini.Katanya Tuan selingkuh, ada foto dan videonya. Mungkin nyonya sudah melihat berita itu makanya nyonya marah-marah.”
__ADS_1