
Tiga hari Amran dan Risna menghabiskan waktu di hotel itu dan hari ini mereka kembali ke kediaman Amran. Seorang pelayan tua menyambut kedatangan mereka, ini pertama kalinya Amran terlihat datang bersama perawat itu kerumahnya.
“Bik Narsih kenalkan ini Risna, dia perawatku dan dia akan menempati kamar tamu jadi kalau penyakitku kambuh dia bisa langsung menanganiku.”
“Baiklah, tuan. Akan saya siapkan kamar tamu untuknya.”
“Oh iya…..dia juga akan membantumu didapur.”
“Baik, Tuan.” kata Bik Narsih bergegas menuju kamar tamu dan merapikannya. Risna mengedarkan pandangan keseluruh rumah mewah itu. Meskipun rumah itu tak semewah kediaman keluarga Ceyhan namun untuk orang kampung seperti Risna, rumah itu sangat mewah. Saat Bik Narsih mengantarkannya ke kamar tamu, wanita itu terperangah melihat kamar yang lumayan luas dan indah itu. Untuk pertama kalinya dia merasakan empuknya kasur, dia menghempaskan tubuhnya diranjang empuk dan memejamkan mata.
“Terimakasih ya bik.” ucapnya.
“Sama-sama.” Bik Narsih meninggalkan wanita itu, sempat dia melirik kearah wanita berumur tiga puluh dua tahun itu lalu menghela napas pergi. Suasana dirumah kediaman Amran tak semeriah dulu, sejak kematian Andini dan Rico yang sedang menjalani hukumannya di penjara, kini dirumah itu hanya da Amran, Risna, Bik Narsih dan suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun sedangkan supir pribadi Amran hanya datang pagi hari dan pulang setelah jam kerjanya selesai. Rumah itu sepi, langkah kaki Risna terdengar memecahkan kesunyian rumah besar itu. ‘Hmmmm…..orang kaya begini amat ya. Rumah sebesar ini hanya diisi beberapa orang saja.’ gumamnya sambil melihat-lihat foto yang terpajang dilemari dan dinding diruang keluarga.
Risna melangkah menuju dapur dan mulai menyiapkan makan malam untuk mereka. Bik Narsih hanya memperhatikan wanita itu, berbagai pikiran muncul dibenaknya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua wanita itu, mereka sibuk dengan pekerjaannya.
“Aku dulu bekerja dirumah sakit tempat Tuan Amran dirawat. Pihak rumah sakit memintaku untuk menjadi perawat pribadinya karena beliau masih butuh perawatan dirumah.” kata Risna memecah keheningan.
__ADS_1
“Oh begitu.” kata Bik Narsih singkat. Dia memang tidak melihat ada yang salah pada wanita iu tapi dia merasa tak menyukainya, melihat wanita itu, Bik Narsih seoleh melihat Andini dimasa muda yang rela melakukan apapun demi uang. Apalagi Risna terlihat masih muda, untuk apa dia bekerja sebagai perawat pribadi? Apa dia tidak berniat menikah? Begitulah pikiran Bik Narsih tentang wanita itu. Bik Narsih sudah bekerja lama dirumah itu dan dia mengetahui perangai Amran si tukang selingkuh.
Risna yang ahli didapur menyiapkan beberapa menu makanan untuk makan malam dan menghidangkan dimeja. Tak lama Amran muncul diruang makan dan duduk dikursi paling ujung, dia memanggil Bik Narsih dan suaminya untuk bergabung makan bersama agar ramai. Hanya ada empat orang itu saja menyantap makanan tanpa bicara hingga masing-masing selesai dan Risna membawa piring kotor ke dapur. Bik Narsih membantu membersihkan meja makan sedangkan Amran kembali ke kamarnya.
...*...
Suasana dirumah utama penuh damai dan ketenangan, makan malam keluarga besar itu dipenuhi tawa melihat tingkah Nathan dan Naomi yang enggan disuap oleh pengasuhnya. Deandra membiarkan kedua anaknya menyantap makanan dengan tangan, akibatnya wajah dan pakaian sikembar belepotan. Kini mereka menjalani kehidupan tanpa ada lagi keributan dan Verrel berharap akan seperti itu selamanya. Pewaris kedua yang mengambil alih kuasa seluruh aset kekayaan keluarga Ceyhan kini semakin berwibawa, citra buruk yang sempat melekat pada dirinya sirna setelah semua sikapnya berubah. Dan hanya seorang wanita yang mampu mengubah pria itu, yaitu sang istri Deandra Ailsie Ceyhan. Peran Deandra sebagai seorang istri yang mendukung suamina.
Bahkan wanita yang sedang hamil kedua itu tak segan-segan datang kekantor bersama kedua anaknya hanya untuk menemani suaminya yang semakin manja sama seperti sikembar yang tak ingin jauh dari sang ayah. Bermula pada trimester kedua kehamilannya, Verrel mendadak berubah menjadi mudah merajuk layaknya Nathan dan Naomi. Kedua anaknya yang sudah berusia setahun itupun mulai bisa bicara beberapa patah kata dan makin lincah dan aktif. Ayah dan anak memang sama saja, mereka suka merajuk, jika sikembar akan merajuk jika tidak melihat ayahnya, sedangkan Verrel memilih tidak akan makan jika tidak disuapi oleh Deandra. Kini tugas Deandra bertambah karena punya bayi besar, sedangkan kandungannya sudah memasuki bulan keempat.
“Sayang….biarkan aku membereskan ini, hmm. Kau bisa menunggu selama aku memindahkan semua makanan ini. Lihat anakmu itu, dia cemburu kalau kau memangku ku seperti ini.” bujuk Deandra menatap Naomi yang cemberut. Verrel tertawa melihat wajah putrinya yang menggemaskan. Pria bersetelan jas lengkap itu masih betah menempelkan wajahnya pada perut sang istri. Sesekali ia menaburkan kecupan sebagai tanda kasih sayang. Verrel tak sabar merasakan lagi tendangan anaknya seperti pada kehamilan pertama dulu, saat mendapatkan tendangan airmata Verrel mengalir. Dia mengelus perut istrinya tak sabar untuk bisa merasakan pengalaman yang sama. Kebahagiaannya begitu sempurna, kehamilan pertama istrinya memberinya sepasang anak yang lucu, sedangkan kehamilan kedua ini malah memberinya triple. “Naomi sayang…...sini nak.” panggil Verrel. Naomi yang mendengar dipanggil, merangkak kearah meja kerja Verrel dan berdiri berpegangan pada meja, matanya menatap Deandra sambil mengerucutkan bibir dan wajah cemberut.
“Cemburu sama mommy ya? Daddy sayang kalian berdua,” ucapnya sambil meraih Naomi dan mendudukkannya dipangkuan Deandra yang masih duduk dipangkuan Verrel. Naomi bergerak memeluk leher ayahnya lalu menjatuhkan kepala dibahu Verrel.
“Uhh….manja anak mommy ini. Mau sama daddy saja ya?”
“Hemm...mommy.” kata Naomi yang belum lancar bicara. Nathan yang entah sejak kapan sudah berdiri sambil memegang sandaran kursi Verrel pun tak mau kalah, dia mengangkat kedua tangannya minta digendong oleh Deandra. Verrel meraih Nathan dan mendudukkan diatas pangkuan Deandra. Empat orang duduk disatu kursi himpit-himpitan berebut kasih sayang membuat Deandra dan Verrel tertawa.
__ADS_1
“Bagaimana nanti kalau sudah nambah tiga lagi ya, pasti makin ramai.”
“Setelah melahirkan nanti, kau harus tutup pabrik ya sayang.” ujar Verrel.
“Huh! Kau saja yang ditutup. Kalau aku tutup pabrik, bagaimana kalau kau bermain diluar sana dan menghamili wanita lain? Kau saja yang ditutup biar tidak buat masalah.” kata Deandra ketus.
Sejujurnya dia merasa cemas jika Verrel akan mencari kesenangan diluar seperti dulu, apalagi nanti hari-harinya akan disibukkan mengurus lima orang anak. “Hmmm…..apa kau yakin sayang? Kalau aku yang vasektomi maka kau tidak bisa hamil lagi.”
“Aku yakin. Lima anak sudah cukup, sayang. Aku makin sibuk mengurus anak-anak sementara kau sibuk bekerja dan bepergian. Lebih baik kau saja ditutup biar aman, jangan marah ya.”
“Baiklah, sayang. Apapun yang kau minta pasti aku kabulkan. Tapi kalau aku mau nambah anak lagi?”
“Issss…...kalau mau nambah lagi nanti ya tunggu anak-anak besar! Pokoknya, sekarang aku mau kau ditutup biar tidak membuahi dimana-mana.”
“Aku tidak pernah lagi cari wanita diluar sana,”
“Hanya untuk jaga-jaga Verrel! Diluar sana banyak wanita yang masih menginginkanmu, bahkan jadi simpanan pun mereka rela. Mungkin saja akan ada yang nekat!” Sejak kejadian di mall tempo hari, Deandra semakin berpikir keras untuk menjaga suaminya. Melihat begitu banyak wanita yang mendambakan Verrel yang tampan dan kaya raya, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang berbuat nekat.
__ADS_1