
Sesekali Olivia menyesap minuman digelasnya, “Hmmm hari ini yang datang banyak bening-bening.” ucapnya dalam hati. Kelab malam itu banyak didatangi expatriat dan juga orang-orang kaya kelas atas yang rela menghamburkan uangnya hanya untuk pesta dan cinta satu malam. Biasanya para pebisnis pun banyak datang ketempat itu untuk bertemu klien dan membahas bisnis sekaligus menikmati pelayanan yang disediakan kelab malam mewah itu.
Setelah menghabiskan satu gelas mimosa, Olivia kembali memesan gelas berikutnya. Tak lama si bartender tampan bak model itu kembali memberikan segelas mimosa pesanan Olivia.
“Jangan terlalu banyak minum. Apa anda sendirian saja malam ini?” tanya si bartender.
“Hemm…..” Olivia menganggukkan kepala.
“Malam ini sedang ramai, sebaiknya nona jangan minum terlalu banyak.” kata bartender itu memberi saran pada Olivia. Dia sudah lama bekerja disana dan melihat berapa banyak wanita yang mabuk sendirian berakhir dengan pria tak dikenal diatas ranjang.
“Jangan mengaturku! Aku menginap dihotel ini, meskipun aku mabuk tidak akan menyusahkan siapapun.” ucapnya angkuh. Setelah menghabiskan gelas kedua, Olivia kembali meminta gelas ketiga, dia mulai mabuk tapi dia ingin menghilangkan stress dan minum sepuasnya malam ini.
Mata Olivia mulai berkedip-kedip saat gelas ketiga sudah habis disesapnya. Wajahnya mulai memerah seperti kepiting rebus. Musik semakin menggema, DJ memainkan lagu-lagu andalannya untuk mewarnai malam yang bisu. Tanpa sadar Olivia sudah menyesap habis minumannya dengan cepat, kepalanya mulai terasa ringan dan tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama musik.
Dari salah satu meja yang berada disudut bar, tatapan mata seorang pria bermanik coklat almon menatap Olivia sejak dia masuk. Karena suasana ramai dan meja itu juga berada disudut dan temaram, Olivia tidak tahu jika orang yang ditunggunya sejak tadi sudah ada disana dan memperhatikannya.
Ada senyum smirk di wajah pria itu. Olivia yang mabuk melangkahkan kaki ke lantai dansa, bergabung denagn sekumpulan pria asing. Ia menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama kelab malam yang menulikan, melepas segala rasa stress, marah dan lelah karena dia sangat ingin mendekati Verrel.
Seketika Olivia melepas ikat rambutnya, rambutnya yang halus dan berkilau jatuh terurai menutupi bahunya dan ikut terkibas seirama dengan gerakan dansanya. Suasana di Sky Lounge semakin memanas, para pengunjung mulai menampakkan tabiat aslinya lepas pukul dua belas malam, sekelompok eksekutif muda yang tengah berbincan ditemani minuman keras tiba-tiba melepas jas mereka dan berdansa mengelilingi meja mereka.
__ADS_1
Kelompok eksekutif muda itu nampaknya menikmati kegilaan mereka akibat minuman keras. Tak jauh dari meja eksekutif muda itu, pria yang sedari tadi menatap Olivia kini tampak sedang tertawa terbahak-bahak bersama dengan dua orang teman wanitanya.
Entah apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga orang itu, sepertinya. Tetapi dari sekian banyak pemandangan yang terjadi di Sky Lounge, di tengah-tengah lantai dansa menjadi sorotan pengunjung yang tengah berdansa diwarnai gelak tawa dan kebahagiaan.
Semakin lama Olivia berdansa, dia akhirnya menyadari kalau ada yang memperhatikannya. Sepasang mata coklat almon mengamati liukan tubuhnya yang langsing berisi dan seksi. Pria itu tampan dan bertubuh tinggi, kulitnya putih, rambut bergelombang dan hitam legam. Semakin lama pria yang duduk diapit dua wanita itu memperhatikannya berdansa, semakin banyak perasaan yang campur aduk dalam diri Olivia.
Dia merasa tidak nyaman diperhatikan pria yang tidak dia kenal karena cahaya kelab yang temaram, dia sama sekali tidak menyadari jika pria itulah yang membuat janji dengannya untuk bertemu disana. Hati Olivia semakin berdebar kencang, instingnya sebagai wanita pun mengakibatkan reaksi ditubuhnya ditambah dia sudah mabuk. Dia menggigit bibir bawahnya dan semakin meliukkan tubuhnya bergerak meliuk-liuk dan menggairahkan.
Tiba-tiba pria itu berdiri dan melepaskan pelukan kedua teman wanitanya. Perlahan dia menghampiri Olivia, jarak mereka semakin dekat. Tatapan mereka bertemu dan Olivia seolah terhipnotis pada sepasang mata berwarna coklat almon itu. Setelah pria itu berdiri sejengkal darinya, barulah Olivia menyadari betapa tingginya pria itu bahkan dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya, ujung kepala Olivia tidak sampai di dagu pria itu.
Semakin dia memperhatikan pria itu, semakin tampan dimatanya mungkin karena pengaruh dia sudah mabuk. Pria itu berbadan atletis, dibalut kemeja satin hitam dan celana senada. Sepasang matanya yang coklat almon itu dingin dan menghipnotis, garis dagu dan rahangnya tegas.
Olivia mengerjapkan matanya, pria itu Verrel? Apa dia sangat mabuk hingga berhalusinasi jika pria didepannya adalah Verrel? Kembali dia mengerjapkan mata lalu tangannya mencubit pergelangan tangan satunya,, ‘Ssshhhh sakit! Ini bukan mimpi? Kenapa pria ini mirip dengan Verrel? Gumamnya dalam hati.
Olivia pun tersenyum setelah dia yakin kalau pria itu adalah Verrel, serasa mimpi dia pun menyapa, “Hai, apa kau sendirian?”
Pria itu hanya tersenyum, senyuman manis yang tak pernah Olivia lihat dari wajah Verrel selama ini. Melihat senyum manis dan menawan itu Olivia pun semakin terpukau.
“Kenapa kau ada disini?”
__ADS_1
“Apa ada larangan untuk berada disini, Nona?”
“He he he….kenapa kau begitu formal? Panggil saja Olivia! Kita tidak sedang berada dikantor.”
“Oh...baiklah Olivia. Apa yang membawamu kesini? Sendirian pula?” tanya pria itu lagi.
“Hanya ingin minum menghilangkan stress.” Olivia merasa sangat senang bisa bicara bebas seperti ini dengan Verrel yang selalu dingin dan irit bicara dengannya. Dia memindai seluruh wajah tampan didepannya, ‘Ah...tampan sekali dan tubuhnya itu bikin ser ser duk! Pantas saja semua wanita tergila-gila padanya. Termasuk aku juga, tapi kenapa dia disini tengah malam begini? Bukannya istrinya masih sakit ya?’
Olivia yang sibuk dengan pikirannya sementara si pria hanya tersenyum dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tiba-tiba tangan Olivia terulur menyentuh wajah pria itu, “Verrel…..”
“Verrel?” ujar si pria bingung. “Hei kau tadi memanggil siapa?”
“Namamu. Verrel Aditya Ceyhan! Aku senang bertemu denganmu malam ini.” ujar Olivia.
‘Kenapa dia menyebutkan nama itu? Ehhh tunggu…..Verrel Ceyhan? Bukankah itu nama CEO Ceyhan Group? Apa hubungan wanita ini dengannya? Berarti aku tidak salah mengincar wanitanya Verrel….ha ha ha ha…..ahhhh meskipun sudah menikah ternyata dia belum berubah ya masih suka main perempuan!’
“Kenapa kau memanggil namaku, Olivia sayang?”
Mata Olivia mengerjap tak percaya mendengar pria itu memanggilnya ‘sayang.’ Apakah Verrel sebenarnya menyukainya? Tapi sikap dinginnya hanya pura-pura?
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak menjaga istrimu?” tanya Olivia.
“Hem….istri? Istri yang mana? Aku punya banyak wanita, lagipula aku ingin bertemu dengan seseorang, kami sudah janji tapi aku malah bertemu denganmu.”