
Verrel bergelut dengan pikirannya dan saat tersadar, deandra sudah membuka pintu mobil hendak keluar. “Mau kemana?” tatapan Verrel berubah tajam namun tak menyurutkan niat Deandra untuk turun. Dia sudah benar-benar kesal.
“Aku mau naik taksi,” ucapnya dengan nada dingin penuh kekesalan.
Verrel langsung menyadari jika ia tak boleh membuang waktu, dengan cepat ia menarik kembali lengan istrinya dan mengunci pintu mobil setelah berhasil menutup pintu mobilnya.
“Lepaskan Verrel!” desis Deandra menggeliat didalam pelukan pria yang kini mulai melembutkan tatapan matanya.
“Kenapa harus dilepaskan? Bukankah kau selalu bilang kalau pelukanku adalah tempat ternyaman, ehm?” ucapnya menatap wajah cantik istrinya. Tangan Verrel mengusap lembut pipi istrinya, ada tetesan airmata mengalir, Deandra sangat sensitif.
Deandra memalingkan wajahnya. Napasnya memburu diikuti debaran didadanya yang semakin kencang membuatnya merasa sesak. “Tatap mataku,sayang.” pinta Verrel masih dengan penuh kelembutan. Deandra masih tak bergeming dan seolah-olah tak mau mendengar ucapan suaminya. “Kau masih mau mendengar apa yang kuucapkan padamu dulu setelah pernikahan kita, sayang?”
Deg!
Jantung Deandra berdegup kencang dan semakin tak beraturan. Dia ingat, ya masih selalu teringat ucapan ikrar suaminya setiap kali dia merasa kesal atau cemburu. Deandra selalu berusaha menenangkan diri dengan mengulang ucapan ikrar suaminya dulu.
“Kalau iya, tatap mataku, sayang.” kata Verrel lagi berusaha membujuk istrinya yang merajuk dan masih mendiamkannya. Verrel lebih suka jika Deandra memarahinya ketimbang mendiamkannya seperti saat ini.
Deandra yang masih kesal tak mau menatap wajah suaminya, tapi dorongan tak kasat mata menggerakkan hatinya dan tubuhnya bereaksi mulai bergerak dan duduk dipangkuan Verrel dan melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya. Matanya menatap netra mata suaminya. Keduanya saling bertatapan dengan instens.
“Aku akan mengatakannya sekali lagi dan kau harus mendengarkannya dengan baik. Karena kalau tidak, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi.” verrel menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk menahan diri untuk tidak ******* bibir ranum yang selalu menggodanya. Helaan napasnya yang kasar terdengar diiringi gerakan tangannya yang merengkuh erat Deandra agar semakin rapat ketubuhnya.
“Istriku, Deandra Ailsie, Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu. Tidak ada wanita lain dihatiku, hanya kau satu-satunya istriku, selamanya. Aku akan setia padamu, sayang.” Verrel mengulang ikrar yang pernah diucapkannya dulu untuk menyakinkan Deandra bahwa dialah wanita yang paling dicintainya selamanya.
__ADS_1
“A—aku juga mencintaimu. Aku cemburu.” ucap Deandra membenamkan wajah kedada suaminya. Dia merasa malu, wajahnya terasa panas, semakin dalam wajahnya dibenamkan di dada bidang kekar milik suaminya. Verrel berusaha menahan tawa daripada nanti kena semprot istrinya lagi, sikap manja istrinya membuatnya tersenyum.
“Aku sangat mencintaimu. Aku tak suka lihat wanita lain memandangmu,” ucapnya semakin membenamkan wajahnya yang merona. "Rasanya aku ingin mencakar-cakar wajah para wanita itu kalau mereka memandangmu." ucapnya sambil mengerucutkan bibir kesal. Hanya dia yang boleh memandang suaminya, sikap posesifnya justru lebih parah daripada sikap posesif suaminya.
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi deandra selain mendapat perlakuan lembut dan kasih sayang dari pria yang dicintainya. Kalimat sakral yang diucapkan dengan penuh kesungguhan dan intonasi yang lembut sudah cukup membuktikan bahwa perasaan cinta suaminya sangat tulus. Pria bermata hitam pekat itu menghunjamkan pandangan lembut pada istrinya. Tatapan lembut yang selalu meluluhlantakkan hati Deandra.
Drama rayu-merayu membujuk istrinya pun berakhir. Akhirnya Deandra tenang dan mau diajak pulang, namun lagi-lagi dia tak mau bergeser dari pangkuan Verrel. Terpaksa pria itu mengendarai mobilnya dengan sang istri yang duduk diatas pangkuannya.
"Ini benar-benar tidak aman, sayang. Duduk dikursimu ya." ucap Verrel malah membuat Deandra kembali merajuk. Dengan teepaksa dia pun mengiyakan saja kemauan istrinya untuk tetap duduk dipangkuannya sementara Verrel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku merasa nyaman seperti ini. Kau bawa mobilnya pelan-pelan saya." kata Deandra.
"Kalau pelan kita bakal lama sampai dirumah, sayang. Lagipula mobil ini tidak bisa pelan."
"Huhhhh.....aku tidak mau pindah. Aku duduk dipangkuanmu saja." kedua tangannya melingkar dileher suaminya lalu mengecup wajah tampan itu.
...*...
“Aku sudah menyiapkan rencana untuk liburan ke Maldives,” ucap Verrel yang kini, saat mereka sudah tiba dirumah. Kini dia duduk ditepi ranjang seraya menyibakkan rambut yang jatuh diwajah istrinya.
“Kata Opa dan mama, itu baik untuk perkembangan janin. Liburan dan menenangkan pikiran,” Deandra menggeliat, masih memejamkan mata tapi telinganya mendengar dengan baik semua ucapan suaminya. “Katakan kapan kau ingin pergi dan kita akan berangkat hari itu juga.” Verrel mengusap pipi istrinya dengan lembut, kini pipi itu semakin menggemaskan karena semakin tembem. “Aku menunggu keputusanmu, sayang.”
Senyuman Deandra semakin mengembang, kedua matanya perlahan terbuka dan tatapannya bertemu dengan manik hitam milik Verrel. “Bagaimana kalau dua minggu lagi?” kata Deandra dengan suara parau. Senyumannya pun semakin mengembang.
__ADS_1
“Dua minggu?”
Deandra menggangguk dan menggeliat manja.
“Aku masih ada pekerjaan penting di kantor, biar kuselesaikan dulu agar tak terbebani. Jadi saat pergi liburan nanti aku sudah tenang dan tidak khawatir.”
Verrel yang sudah bersetelan rapi itupun tersenyum “Kau memang berbeda dengan wanita lain.”
“Kau mencintaiku karena aku berbeda, bukan?” balas Deandra tak mau kalah.
Deandra benar. Verrel memang sangat mencintai istrinya karena dia berbeda dari kebanyakan wanita diluar sana. Yang membuat Verrel semakin bucin adalah karena Deandra yang selalu menaklukkan egonya, bisa membuatnya bergairah setiap saat dan mengerti bagaimana bersikap dimanapun mereka berada. Bahkan hanya Deandra yang mampu mengendalikan emosi suaminya.
Belum pernah Verrel menemukan wanita seperti Deandra yang lebih memilih bekerja daripada menikmati kekayaan sang suami. Padahal Verrel selalu menyuruh istrinya untuk membeli semua yang diinginkannya. Tapi deandra adalah tipe wanita yang hanya mengeluarkan uang jika ingin saja. Dia malah lebih suka menghabiskan waktunya duduk bersama pelayan atau melukis di taman samping rumah ketimbang berfoya-foya. Bagi Deandra, sebagai istri dia pun harus terbiasa bekerja, tidak hanya bergantung pada kekayaan suaminya.
“Kalau begitu, aku akan menunggu.” Verrel mendaratkan stau kecupan basah dibibir ranum yang terbuka sedikit itu. Hanya sebuah kecupan namun mampu membuatnya memejamkan mata. Merasa ada yang berbeda lalu Deandra membuka mata dan mengeryitkan dahi melihat suaminya yang sudah siap hendak ke kantor.
“Kau ingin ke kantor?”
Verrel menggangguk. “Ya. Aku punya jadwal bertemu dengan investor.” Raut wajah Deandra langsung berubah muram dan Verrel menyadari tiu, karena semakin hari dia semakin peka pada istrinya.
“Kenapa?” tanya Verrel. “Kau ingin kutemani lagi?” bertanya pada istrinya yang enggan ditinggal suaminya.
Deandra menggeleng namun kemudian menggangguk, sikapnya itu membuat Verrel tersenyum. “Aku hanya pergi beberapa jam saja, paling cuma tiga atau empat jam.” ucapnya. Deandra tak menjawab, ia malah membalikkan badannya memperlihatkan punggungnya yang polos. Sikap istrinya itu cukup membuat Verrel mengerti keinginan Deandra.
__ADS_1
Dia tak ingin mengambil resiko yang berakhir dengan istrinya merajuk dan mendiamkannya, Verrel langsung melepaskan jas yang sudah dipakainya. Melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Perlahan dia beringsut naik ke ranjang dan mendekati Deandra yang enggan mengeluarkan suara. Verrel memeluk istrinya dari belakang dan mulai menebarkan kecupan dipunggung polos istrinya.
...*...