TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 132. MISI DIMULAI


__ADS_3

“Maaf, Tuan.”


“Apa yang terjadi? Kau serius mau menikahi asisten istriku?” tanya Verrel tanyanya tak percaya.  Tidak pernah pacaran kenapa malah mau menikah terburu-buru. Pasti sudah terjadi sesuatu ini, pikir Verrel menatap wajah sang asisten penasaran.


“Iya, tuan.” jawabnya terkekeh.


“Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa tiba-tiba dia mau menikah denganmu?”


Frans tak menjawab, kalau bicara jujur bisa-bisa dia kena hukuman lagi dari sang tuan. Bagaimana bisa aku bertahan menjalani hukuman dari suami istri itu, pikirnya.


“Ya, sudah kalau kau tak mau bicara.  Gajimu bulan depan kupotong setengahnya,” ancam Verrel.


“Jangan, Tuan. Saya mau menikah butuh uang. Jangan potong gaji saya,” kata Frans ketakutan.  Gaji dipotong setengah itu keterlaluan, jumlahnya banyak.


“Kalau begitu katakan,”


“Ba—baik, Tuan.”


Belum sempat Frans menceritakan semua pada Verrel, sudah terdengar lagi teriakan Deandra yang membuat Frans bergidik dan malu “Mereka bercinta di kantor. Aku lihat sendiri,” sambil berjalan lalu masuk ke kamar.  Verrel yang mendengar ucapan istrinya langsung melotot. "Apa benar yang dikatakan istriku? Srjak kapan kau jadi bejat begitu, ha?"


"Sejak kejombloan saya terusik melihat kemesraan Tuan dan Nyonya," jawab Frans asal, tapi memang begitulah faktanya. Dia merasa tersiksa setiap kali melihat sepasang suami istri itu.


"Berani kau bicara begitu padaku?"


“Bukan seperti itu, Tuan.  Saya bisa jelaskan.” lalu Frans pun menceritakan semuanya pada Verrel yang menutupi mulutnya dengan satu tangan menahan tawa. Ternyata cinta bisa membuat orang jadi gila.  Sang asisten tampan yang selama ini cuek sama perempuan ternyata lihai menipu seorang gadis jutek.  Dan gadis itu percaya jika Frans sudah merenggut kesuciannya.


“Ha...ha...ha...ha...Kau sungguh gila, Frans. Darimana idemu itu?”


“Saya pintar, Tuan. Kepalaku selalu berisi ide-ide cemerlang, aku mengikuti jejakmu, Tuan. Menjebak gadis agar mau menikah," jawabnya bangga.

__ADS_1


“Aku pikir kau penyuka sesama karena tak pernah pacaran. Kenapa tidak kau pacari baik-baik? Harus dijebak segala."


“Tuan salah besar, apa Tuan lupa dulu saya pernah pacaran? Jurus terakhirku, tuan. Kalau tidak kujebak mana mau dia denganku,” dengusnya kesal, enaknya bilang aku penyuka sesama jenis.


“Selamat, akhirnya masa jomblomu berakhir,” kata Verrel tersenyum.


“Terimakasih, Tuan. Saya mohon jangan ceritakan yang sebenarnya pada nyonya,” pinta Frans.


“Tenang saja. Tidak mungkin aku cerita, kau pikir dia tidak akan menghukumku nanti? Kau itu asistenku, kalau sampai dia tahu apa yang kau lakukan, aku pasti dihukum juga,”


Kesepakatan pun dibuat, dengan berjabat tangan saling mendukung menutupi berhubung sang nyonya besar sangat menakutkan bagi kedua pria itu.


“Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, tuan,”


“Ehm,”


“Anak buahku mendengar percakapan Tuan Amran dan pengacarnya. Beliau akan meminta agar rapat dewan direksi diadakan.  Sepertinya Tuan Amran sudah berniat ingin mengambil kesempatan dalam kesempita dengan ketidak hadiran anda, Tuan. Apakah anda punya perintah untuk saya, tuan?”


Setelah berada didalam ruangan itu dan Frans menutup pintu. Verrel berdiri dari kursi rodanya, Frans terkejut melihat sang tuan yang sudah bisa berdiri. Dua minggu sudah berlalu dan kini Verrel sudah bisa berdiri, apakah dia memang lumpuh atau pura-pura lumpuh? Bahkan sang asisten saja kecolongan.


“Kenapa kau kaget? Ingat jangan sampai ada yang tahu soal ini,” ucap Verrel.


“Baiklah, Tuan.  Sudah berapa lama Tuan bisa berdiri dan berjalan,”


“Baru beberapa hari,” jawab Verrel enteng sembari tersenyum.


“Ini semua dokumen yang tuan minta.  Bukti-bukti yang lain, sudah saya kirim ke email, Tuan.”


“Bagus! Saat papa mengadakan rapat dewan direksi nanti, kau tidak perlu duduk disana.  Tunggu saja diruangan khusus itu, tidak ada yang tahu ruangan itu bukan? Setelah dia selesai bicara dan pengumpulan suara, baru kau masuk keruangan meeting dan katakan pada mereka kalau aku masih hidup.”

__ADS_1


“Wah, aku bisa bayangkan wajah Tuan Amran kalau mendengar berita itu,”


Verrel dan Frans berdiskusi cukup lama diruangan itu, satu persatu rencana sudah disusun dengan baik dan apik, layaknya skenario film hollywood. Meskipun dirinya sangat ingin membalaskan dendamnya secepatnya, namun banyak hal yang harus dipertimbangkannya.  Deandra yang sedang mengandung dan keselamatannya.  Verrel tidak mau sampai terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Jadi dia harus bersabar menunggu hingga kelahiran anaknya nanti.  Sementara biarlah Frans yang mengurus perusahaan bersama William.


“Bagaimana situasi di rumah utama? Jangan pernah lalai tentang pengamanan disana meskipun kami tidak ada, tapi kau harus ingat bahwa disana banyak pelayan yang nyawanya adalah tanggung jawabku.  Jangan sampai ada penyusup dan melakukan sesuatu yang buruk.”


“Baik, Tuan. Saya mengerti.  Tobi sudah mengantisipasi semuanya, bahkan sistem keamanan terbaru yang paling canggih pun sudah terpasang.”  Frans menjelaskan jika alat sensor mikrokontroler yang bisa mendeteksi suhu tubuh seseorang yang berniat jahat sudah terpasang disekeliling rumah.


Sistem keamanan menggunakan mikrokontroler ini yang terhubung ke kamera bisa mendeteksi penyusup, dengan menggunakan metode prototyping system bisa mendeteksi penyusup lewat sensor PIR (Passive Infrared Receiver)  berdasarkan suhu panas tubuh dari objek, buzzer akan membunyikan alarm jika sistem mendeteksi penyusup.  Mikrokontroler ini bisa dikontrol dari jarak jauh melalui sinyal wireless sehingga memudahkan petugas keamanan. Kecanggihan alat sensor itu, bisa mengirimkan sinyal melalui telegram maupun aplikasi chat lainnya, sehingga pemilik rumah bisa mengetahui dengan cepat.


“Bagus.  Aku senang dengan kinerja kalian,” kata Verrel memuji Frans.


“Soal Tuan Rico. Apakah Tuan sudah memutuskan?” tanya Frans dengan berhati-hati agar tak membuat Verrel, mengingat kejadian itu berhubungan dengan istri tercinta sang tuan.  Jika sudah berhubungan dengan sang nyonya maka Verrel memang sensitif.  Dia tidak akan membiarkan siapapun yang menyentuh istrinya akan lolos begitu saja.


“Katakan pada mereka untuk menggantung kasusnya sampai aku muncul.”


“Baiklah,Tuan.  Dan tentang empat orang yang sedang ditahan diruang bawah tanah.”


“Apakah mereka sudah buka mulut tentang siapa yang membayarnya?”


“Satu orang sudah mau diajak bekerja sama, tapi dia bukan orang yang berhubungan langsung dengan bosnya.  Menurutnya, dua orang lainnya yang selalu bertemu dengan bos yang membayar mereka.”


“Bagaimana dengan perempuan itu?”


“Tak berguna Tuan.  Sepertinya dia malah menikmati digilir oleh para pengawal,”


“Oh, begitu? Berikan dia siksaan yang bisa membuatnya buka mulut!” perintah Verrel.


“Apakah itu tidak keterlaluan, Tuan? Mengingat dia seorang wanita,” protes Frans.

__ADS_1


“Kau lupa? Perempuan itu juga yang mengakibatkan istriku hampir diperkosa, lakukan saja perintahku dan jangan membantah! Perempuan itu harus tahu dengan siapa dia berurusan.” ada jeda sebentar “Kau boleh tanya istriku, mungkin dia punya ide hukuman apa yang pantas buat wanita itu agar buka mulut,”


“Hah? Nyo---nyonya? Saya tidak berani bertanya pada nyonya,” lalu dia berkata lagi “Apakah tuan berani sama nyonya?” Verrel hanya memandang asistennya, aku juga takut, gumamnya.


__ADS_2