TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 34. JALAN BARENG ROSA


__ADS_3

Masih memakai jubah mandi dan handuk melilit dikepala, Deandra terlihat segar dan jauh lebih baik pagi ini.  Suasana hatinya juga baik, karena dia akan bertemu sahabatnya.  Berjalan ke walk in closet, terlihat dua orang pelayan sedang memilihkan pakaian untuknya. "Alya, tolong ambilkan sepatu sneaker yang warna biru ya,” pinta Deandra pada pelayannya.


“Baik, nona muda.” jawab Alya.


Deandra duduk didepan meja rias, dua orang pelayan membantunya mengeringkan rambut dan meriasnya.  Dia diperlakukan bak ratu dirumah itu, semua dilayani tapi dia merasa sangat bosan dan terkukung.


Dia memakai bando warna biru dongker dengan pita dibagian atas, bagian bawah rambutnya dibentuk spiral.  Riasan wajahnya berwarna nude, bibir dipoles lipstik warna nude. Hari ini dia mengenakan pakaian casual perpaduan celana jeans warna biru dongker, dalaman kaos warna coklat tua dan cardigan warna krim, sepatu sneaker warna biru sepadan dengan celana jeansnya, ikat pinggang dan tas terbuat dari kulit berwarna coklat. Ditambah aksesoris sebagai pemanis tampilannya. Deandra terlihat seperti gadis belia dengan dandanannya.


 


*Ini Visual baju yang dipakai Deandra



Setelah menatap dirinya didepan cermin dan puas dengan penampilannya, dia  melangkah keluar kamar menuju kelantai bawah. Verrel yang hendak keluar dari pintu depan langsung menoleh saat mendengar suara Deandra. “Selamat pagi, Tuan.”


“Selamat pagi, sayang.” ucap Verrel menatap Deandra yang terlihat segar dan cantik pagi ini.


“Hemmm...apa kau yakin mau keluar hari ini?”


“Iya, Tuan. Bukankah tuan mengijinkan?” tanya Deandra untuk menyakinkan karena dia tahu betul sikap Verrel yang sering berubah-ubah.


“Melihatmu secantik ini, aku berubah pikiran, sayang,” goda pria itu melemparkan senyum dan meraih pinggang Deandra dan mencium bibirnya.


“Tapi kau sudah janji padaku. Bukankah kau harus ke kantor hari ini?”


“Aku bisa kerja dari rumah.”


Waduh, sambil menepuk jidatnya, ini gawat level tinggi kalau sampai tuan besar dirumah, pikirnya.  Aku harus merayunya, kelamaan dirumah aku bisa stress dan gila.


“Kenapa jidatmu?” tanya Verrel mengelus jidat deandra yang ditepuknya.  Dia tahu jika gadis ini cemas, akan ku permainkan kau, gumamnya.


“Ehem….bolehkah aku keluar, sayang? Aku mohon, sayang.” sambil memasang wajah memelas yang membuat Verrel tidak tahan melihatnya.


“Baiklah. Tapi ada syaratnya,” ujar Verrel tak mau kalah.


“Apa syaratnya?” tanya Deandra. Pasti dia mengajukan syarat aneh lagi.

__ADS_1


“Harus diantar supir dan dua bodyguard akan ikut bersamamu,’ kata Verrel sambil tersenyum licik. Kau pikir akan bisa sebebas itu? Kau terlalu cantik hari ini, takkan kubiarkan kau pergi tanpa pengawasanku. Dia merasa tidak tenang, namun dia sudah terlanjur janji pada Deandra.


“Hah?”


“Kalau kau tidak mau, kau tidak kuijinkan keluar,” ujar Verrel.


Sialan! Dasar manusia licik! Awas saja kau tuan besar, akan kubalas nanti, menggerutu dalam hati. Akan tiba masa pembalasanku! Tunggu saja!


“Bagaimana?”


“Pfff….Ba-baiklah,” jawabnya pelan.


“Satu lagi. Jangan coba-coba lari karena aku akan menghukummu.” menggandeng tangan Deandra dan masuk ke dalam mobil. Setelah memberikan intruksi pada supir, mobilpun melaju menuju ke gedung perkantoran Ceyhan Group.  Mobil berhenti tepat didepan pintu utama. Verrel mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


“Ini pakailah buat belanja.” kata Verrel menyerahkan sebuah kartu kredit black card unlimited pada Deandra yang terpelongo menerima kartu itu. Verrel mencium bibirnya lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung perkantoran itu.


“Pak. Tolong antar saya kerumah temanku ya, saya akan tunjukkan jalannya.”


“Baiklah, nona muda.”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kerumah Rosa. Jalanan agak lengang pagi ini sehingga tak lama deandra sampai di depan rumah Rosa.  Sementara dua orang bodyguard mengikuti dengan mobil lain.


“Saya tunggu, nona muda. Ini perintah tuan besar,” jawab supir bernama Yono.


“Baiklah, pak.”


...*...


“Rosaaa….lihat itu siapa yang datang?” kata seorang wanita paruh baya yang berdiri didepan pintu menatap mobil mewah warna hitam yang parkir di depan rumahnya. Rosa yang baru selesai berdandan pun berlari keluar kamar.  “Ada apa sih, bu teriak-teriak?”


“Itu mobil siapa?” tanya Rosa heran.  Namun saat melihat seorang gadis keluar dari dalam mobil itu, Rosa pun langsung berlari menyambutnya. “Hai, Ros,” sapa Deandra.


“Ya, ampun. Gue kirain siapa, sampe pangling aku. Loe diantar kesini?”


“Iya,sama supir. Tuh, nungguin.” kata Deandra.  “Padahal gue maunya pergi sendiri tapi tidak diijinkan sama si manusia galak itu,”


“Selamat pagi bu. Ibu apa kabarnya?” katanya sambil menyalami ibunya Rosa dan memeluknya.

__ADS_1


“Ibu baik-baik saja. Kamu tambah cantik, Dea,” pujinya yang melihat Deandra kini berubah dan tambah cantik. “Itu mobil siapa, nak?”


“Oh, itu mobil Tuan Verrel, bu.” jawabnya.


“Mobil yang satu lagi itu?” tanya Rosa yang melihat ada mobil lain parkir disana.


“Bodyguard suruhan Tuan Verrel buat jagain gue,”


“Hebat ya, Nyonya Verrel,” canda Rosa mencubit pipi sahabatnya. “Huhh !” deandra mendesis.


Setelah berbincang-bincang melepas rindu karena lama tak bertemu, kedua gadis itu pamit pada ibunya Rosa.


“Dea, enak banget ya hidup loe. Sekarang pake barang branded, naik mobil mewah pula.”


“Apanya yang enak, gue stress hampir gila!” katanya sambil menarik tangan Rosa.


“Tapi belum gila kan? Mungkin loe tergila-gila sama Tuan Verrel,” ucap Rosa terkekeh melihat Deandra mendengus kesal.


“Loe tahu tidak, waktu gue sakit kemarin, Tuan Verrel yang jagain gue. Sampai-sampai dia tidak ke kantor. Waktu itu aku melihat dia seperti malaikat bukan lagi iblis kejam.”


“Nah, benar dugaan gue kalau loe tuh sudah tergila-gila.”


“Issshhh….apaan sih,” kata Deandra malu.  Apa betul kalau aku mulai suka sama pria kejam itu?


“Ehh..jangan melamun,” ujar Rosa tepat ditelinganya. “Kita mau kemana?”


“Kita beli peralatan melukis dulu ya, aku bosan dirumah tidak ada kerjaan.”


“Wah, kebetulan si Bayu baru buka galery tidak jauh dari sini. Didekat galerynya ada toko yang jual alat melukis. Kita kesana yuk...lihat lukisannya,” ajak Rosa.


“Bagaimana kalau kita kesana sehabis makan siang. Sekarang kita ke supermarket yang disebelah  mall H, terus kita shopping sepuasnya. Tenang aja. Hari ini gue yang traktir. Loe mau apa aja, gue bayarin,” seraya menunjukkan black card yang diberikan Verrel padanya. Menggoyang-goyangkan kartu itu didepan wajah Rosa.


“What? Itu----?”


“Iya, Tuan Verrel yang berikan. So, aku mau balas dendam dengan menghamburkan uangnya,” ujar Deandra terkekeh.  Ya, pembalasan pertamaku akan kubelanjakan uangnya.


...*...

__ADS_1


Di supermarket, Deandra membeli banyak barang untuk Rosa dan Ibunya.  Ia membelikan sembako, buah-buahan, stok susu dan vitamin juga. Deandra tak mengindahkan saat Rosa protes, baginya ini kesempatan untuk membahagiakan Rosa dan Ibunya.


Selesai belanja, mereka pergi ke restoran untuk makan siang. Sambil menunggu pesanannya, Deandra menceritakan semua yang terjadi selama tinggal di rumah utama milik Verrel. Seorang pelayan membawa makanan pesanan mereka. Deandra menatap sahabatnya yang bengong melihat makanan didepannya.  Bagi Rosa yang hidupnya pas-pasan, bisa makan di restoran mewah seperti ini hanyalah mimpi.


__ADS_2