
Ya ampun…...gila benar Tuan Amran. Kenapa dia tidak ada puas-puasnya, badanku sudah letih. Suasana diluar yang hujan deras diikuti petir menyambar-yambar memang sangat menguntungkan untuk kedua manusia yang sedang bertukar keringat disalah satu ruang rawat dirumah sakit jiwa. Amran dan Risna sang perawat yang untuk kesekian kalinya sudah mencapai pelepasan. Entah setan apa yang membuat kedua manusia itu seakan lupa siapa mereka dan terus bergerak dengan berbagai macam gaya di setiap sudut ruangan itu.
Lima tahun menjanda mungkin membuat Risna merindukan sentuhan seorang pria. Wajahnya yang manis dan tubuhnya yang padat memang menggoda. “Risna…..kau kuat juga. Berapa lama kau tak dimasuki hu?” tanya Amran setelah lebih tiga jam mereka bergulat hingga napas terengah-engah.
“Sudah lama, Tuan. Milikmu besar sekali, ini pertama kalinya aku merasakan yang sebesar itu.” ucap Risna merona. ‘Gila….puas sekali aku dihajar pria ini. Ahh….kenapa aku masih menginginkannya? Gumamnya dalam hati. Tiba-tiba dia sudah duduk diatas tubuh Amran dan menciumi bibir pria paruh baya itu dengan liar.
“Kau benar-benar perawat j*lang. Sudah berapa pasien yang kau layani selama bekerja disini.” tanya Amran.
“Baru anda saja. Ini pun karena aku lagi butuh biaya,”
“Jujur padaku, Risna. Kenapa kau tiba-tiba mau melayaniku, hu? Apa karena uang?”
“Uang dan milikmu, Tuan. Saat Tuan menunjukkan padaku, aku langsung bergairah ingin merasakannya. Besar sekali, aku belum pernah melihat terong seperti ini.”
“Maukah kau melayaniku setiap hari? Aku akan memberimu uang banyak.”
“Ha? Ta—tapi…..”
“Jangan menolak, aku tidak suka! Kalau kau menolak maka akan kukatakan pada atasanmu kalau kau meniduriku. Jangan coba-coba lari karena aku akan menemukanmu.”
“Tidak, aku takkan lari.” ucapnya ketakutan. ‘Aduh, Risna bodoh sekali kau…...hanya gara-gara uang dan nafsu sekarang kau terjebak dengan pria gila ini. Meskipun dia tampan dan berasal dari keluarga kaya tapi ingat jika Amran itu pria gila.’ Ini nikmat sekali, Risna bergerak diatas tubuh Amran yang hanya menatap wajah perawat itu dikeremangan malam. Seringai jahat diwajahnya seakan puas mendapatkan apa yang diinginkannya. Setiap hari dia melihat kemolekan tubuh perawat yang mengurusnya itu selalu memunculkan imajinasi liar di kepalanya dan malam ini didapatkannya.
Risna tertatih memakai kembali pakaiannya. Amran sudah berbaring diatas ranjang. “Risna! Datanglah besok pagi untuk sarapan pagi bersamaku.” kata Amran menyodorkan uang satu juta pada perawat itu sambil meremas dadanya keras.
“Baik, Tuan. Akan aku bawakan sarapan untukmu lebih awal.”
__ADS_1
“Aku mau sarapan tubuhmu besok pagi. Jadi datanglah subuh sebelum yang lain bangun.”
Risna tertegun, tubuhnya sudah lemas dihajar Amran tapi dia juga menyukainya setelah lama kesepian kini dia bisa rasakan lagi sensasi itu bahkan lebih nikmat. Karena Risna hanya diam saja Amran pun khawatir jika sesuatu yang tak baik akan terjadi.
“Baiklah Tuan. Selamat istirahat.” lalu dia keluar dari kamar itu setelah mengintip terlebih dahulu memastikan tidak ada orang. Wanita itupun berjalan menyusuri lorong yang sepi karena sudah menunjukkan jam satu dini hari.
Memasuki kamar kecil yang biasa ia tempati jika dia bekerja di shift malam. Langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang setelah mengatur alarm. ‘Ahhhh…...aku pengen lagi. Sial sudah basah lagi. Kenapa bisa begini? Tapi Tuan Amran benar-benar gila dan liar. Apakah putranya itu juga seperti dia? Aku dengar berita kalau putranya yang tampan itu dijuluki penguasa ranjang tapi kini sudah menikah. Wah, beruntung sekali wanita yang jadi istrinya. Ayahnya saja yang sudah paruh baya masih sekuat itu, apalagi anaknya.’ akhirnya wanita itu tak bisa tidur masih membayangkan pertarungannya dengan Amran, pasiennya.
Keesokan paginya, saat penghuni rumah sakit masih lelap hanya petugas keamanan dan perawat jaga di meja depan saja yang terlihat. Risna sudah berada di kamar Amran sejak pukul empat pagi, dirinya yang sulit memejamkan mata setelah pertarungan sengit. Pagi ini harus menyuguhkan sarapan pagi spesial untuk pasiennya. Sejak jam empat pagi, dia dihajar habis-habisan oleh Amran yang semakin menggila, dia tak peduli rintihan kesakitan perawat pribadinya itu yang memohon untuk berhenti, namun rintihan itu perlahan hilang digantikan oleh ******* yang dibungkam oleh Amran karena takut terdengar orang lain.
Risna yang sedang posisi tangan telentang berpegangan didinding kamar mandi, mendesah setiap kali Amran menerjangnya dari belakang. “Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, kau akan berhenti bekerja dan jadilah pemuasku.”
“I---iya Tuan. Saya mau…...lebih cepat lagi Tuan.”
“Hahahaha…...ternyata kau perawat murahan yang bisa kubeli.” bisik Amran ditelinga wanita itu yang sudah hanyut dalam gairah dan tak mendengarkan lagi ucapan pria paruh baya itu.
“Siapa!” teriak Amran marah. “Pergi! Aku sedang mandi!”
“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin menanyakan apakah Risna tadi sudah membawakan sarapan dan obat Tuan?” tanya seorang perawat dari luar yang sedikit curiga karena sempat mendengar suara mendesah dari dalam kamar mandi.
“Iya, dia tadi sudah antar obat saya. Pergi kau!” teriaknya. Perawat itupun keluar dari kamar Amran dan menutup pintu.
“Jam kerjaku sudah habis, Tuan. Tolong lepaskan, aku tidak kuat lagi.”
“Diam! Aku baru berhenti kalau sudah puas, nikmat sekali milikmu Risna. Ingat kau sudah kubayar jadi kau harus puaskan aku baru kau boleh pergi.” pria gila itupun kembali menghajar sang perawat dikamar mandi. Setelah puas dia langsung menyuruh Risna pergi begitu saja.
__ADS_1
Risna sedang mengemasi barangnya diruang kecil yang biasa dipakainya tidur saat shift malam. Seorang perawat berdiri dipintu sambil berkata “Enak ya Ris?”
“Ha? Maksudmu?” bertanya heran.
“Jangan pura-pura bodoh Ris. Enak ya dihajar senjata sebesar itu.”
Mendengar itu, wajah Risna pucat ketakutan tapi dia masih berusaha bersikap tenang dan tersenyum. “Kau bicara apa? Aku tidak mengerti.”
“Tuan Amran. Bukankah kau sudah rasain hantamannya seharian,”
Tangan Risna menarik perawat itu lalu menutup pintu. “Kau barusan bilang apa?”
“Kau dengar bukan? Kau dihantam Tuan Amran pakai senjata laras panjang dan besar. Enak ya, semalaman. Kau jangan malu aku takkan bongkar rahasiamu, aku dulu sudah pernah rasain loh. Aku jual kesucianku padanya tiga tahun lalu karena lagi butuh uang.” wanita itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Risna yang termangu.
‘Gawat, berarti widya melihatku dan Tuan Amran tadi malam. Bagaimana ini? Kalau sampai dia melaporkanku bisa-bisa aku dipecat. Aku harus bicara dengan Tuan Amran sekarang.’ Risna meraih tasnya dan mengunci pintu ruangannya lalu melangkah menuju kamar rawat Amran. “Ada apa Risna? Kau belum puas lagi?” sindir Amran saat melihat perawat pribadinya itu memasuki ruangannya.
“Gawat Tuan. Ada yang melihat perbuatan kita tadi malam dan aku takut jika dia melaporkanku.” ujar Risna dengan wajah ketakutan.
“Siapa orangnya?”
“Widya,”
“Oh, dia yang gedor pintu tadi pagi. Biarkan saja, jangan hiraukan dia. Tapi kalau kau takut, kau boleh resign dan tidak usah bekerja lagi. Aku akan keluar tak lama lagi jadilah pemuasku dan kau akan kubayar mahal.”
“Maksud Tuan, aku tinggal dirumahmu?”
__ADS_1
“Tidak. Aku akan carikan apartemen untukmu, kau bisa tinggal disana dan aku berikan kau uang setiap bulan, tugasmu hanya memuaskanku setiap saat aku menginginkanmu. Pikirkan baik-baik, gajimu disini kecil, jika kau setuju akan kuberi kau tempat tinggal dan uang dua puluh lima juta sebulan. Bagaimana?” “Dua puluh lima juta?” Risna terkejut, belum pernah dalam hidupnya dia pegang uang sebanyak itu. “Baiklah, Tuan. Aku setuju lagipula aku lagi butuh uang banyak.”
* Hai.....mohon maaf 🙏🙏lama update ya karna author lg gak fit. Baru bisa update lagi hari ini.