TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 73. GADIS MOTOR BUTUT


__ADS_3

Judul artikel pagi ini masih heboh membahas pernikahan Tuan Verrel, di media sosial dan berita gosip di media elektronik pun tak mau kalah memberikan respon dan bumbu nano-nano untuk menaikkan rating.  Frans sudah mengontrol pemberitaan itu, ia tersenyum membentuk seringai.  Dia puas karena semua berita itu aman dan layak dibaca khalayak umum.


Saatnya aku cari makanan dulu, gara-gara tuan besar merubah semua jadwal terpaksa melewatkan sarapan pagi dirumah, ucap Frans. Tepat di persimpangan sebuah jalan, tiba-tiba ada sepeda motor yang menyelip dari samping mobil yang dikendarai Frans.  Dia pun langsung menginjak rem, sementara motor didepannya jatuh.  Terlihat seseorang yang masih memakai helm berusaha berdiri.


Frans keluar dari mobil namun orang itu sudah duluan memukulnya. “Hei! Kau bisa bawa mobil atau tidak, huh?” terdengar seperti suara seorang wanita.  Frans memperhatikan orang itu yang mengenakan rok selutut dan melihat penampilannya seperti pegawai kantoran.


Dia langsung membuka helmnya, lututnya berdarah, Frans dengan cepat mengeluarkan kota P3K dari dalam mobil. Saat menengadahkan wajah menatap gadis itu, ia terpukau sejenak ‘gadis ini manis juga. Matanya indah mirip mata nyonya besar, gumamnya.’


“Apaan lihatin muka saya? Om naksir?’ujar gadis itu.


“Sini, saya obati dulu lukamu,” ucap Frans.


“Eh….om. Emang tidak punya etika ya. Sudah nabrak saya bukannya minta maaf,” kata gadis itu yang tak lain adalah Rosa.


“Lututmu berdarah, itu lebih penting! Minta maaf untuk apa? Yang salah juga kamu koq,” ucap Frans yang merasa tidak bersalah. Tadi gadis itu yang menyelip dari samping mobil lalu jatuh.


“Udah-udah tidak usah diobati. Sini bayar ganti rugi, saya mau kerumah sakit! Kalau om yang obati bukannya sembuh malah kena rabies,” ucapnya ketus.


“Jangan panggil saya om. Kapan saya menikah dengan tantemu?”


“Halooo….om. Sadar diri ya kalaupun saya punya tante, dia tidak akan mau sama om. Gak ada cakep-cakepnya juga.” kata gadis iut melengus.


Sialan gadis ini. Tajam sekali lidahnya. Laki-laki setampan aku dibilang jelek. Awas saja kau.


“Sini nomor ponselmu. Kirim saja motor bututmu ke bengkel nanti saya transfer.”


“Om...jangan modus ya. Pake minta nomor ponsel lagi, bilang saja mau kenalan.”


“Iya sekalian saja. Bagaimana saya mau ganti rugi kalau nama kamu saja saya tidak tahu?” jawab Frans.


“Sini ponsel om, saya masukin nomorku,” tanpa sadar dia mengambil ponsel yang disodorkan Frans dan menyimpan nomor ponselnya berikut namanya. Sudut bibir Frans terangkat, rasain kau gadis jutek.


“Saya tidak mau tahu ya om. Semua om ganti ini, kaca spion lepas, ini catnya terkelupas lagi.”


“Memang motormu yang sudah butut, kenapa harus saya yang tanggung semua?” tany Frans.


“Yaela…..omm. Coba om lihat, motorku sampai rusak begini gara-gara om. Pokoknya om harus tanggung semua biaya perbaikan motorku,” ucapnya lalu mulai menstart motornya dan pergi dari sana.


‘Asyik…..hari baik yenggol mobil mewah bukan aku yang dituntut malah aku yang nuntut dia.  ha...aha...ha...ha...ahhhh….kapan lagi bisa servis motorku tanpa keluar biaya. Biarin aja om-om tadi yang tanggung semua.’ Ia tersenyum lebar melajukan motornya kembali ke kantor.


...**...


‘Arrgghhhh” Dahi Verrel mengeryit saat otot-otot didalam sana mencengkeram miliknya dengan kuat, seolah memberi pijatan refleksi membutakan akal sehatnya. Pria itu mengerang menarik salah satu bantal untuk diletakkan di bawah pinggang deandra.


“Angkat pinggangmu sayang,” perintahnya dan Deandra mengangguk. Dari posisi ini Verrel bisa merasakan sensasi lain yang memikat. Posisi ini memberi efek yang tidak main-main bagi Deandra. Keduanya memejamkan mata, melenguh, mendesah menikmati setiap gerakan yang saling membalas. 


Verrel menyeringai, ia menambah ritme gerakannya dengan liar hingga membuat istrinya menjerit nikmat berkali-kali.  Kedua pengantin itu mendapat pelepasan berkali-kali seakan tak merasa letih. Deandra melengkungkan punggungnya, bersamaan dengan ledakan dasyat secara bersamaan. Keduanya terengah-engah diiringi debaran yang membabi buta.


Katakan jika Deandra sudah gila.  Karena dia pun menikmati penyatuannya dengan Verrel, malah dia sering memimpin penyatuan mereka. Tanpa rasa malu-malu lagi, terkadang dia yang meminta dan memohon pada pria itu. Verrel masih terbaring diatas tubuh istrinya. Belum ada niat beranjak, hingga akhirnya Deandra yang meminta suaminya untuk berpindah tempat.

__ADS_1


“Kau capek?” tanya Verrel yang sudah menarik diri.  Deandra menjawab dengan anggukan lemah.  Bibirnya tertutup rapat dan mulai bernapas normal. Ia memang lemah karena melayani hasrat liar suaminya sejak beberapa hari lalu. 


Terutama kemarin, Verrel minta dilayani sampai beberapa kali dengan jeda hanya dua puluh menit.  Istri mana yang tidak lelah jika melayani suami yang liar seperti Verrel. Meskipun Verrel melakukannya dengan pelan agar tidak menyakiti istrinya yang sedang hamil.


“Istirahatlah, sayang. Besok kita berangkat ke Turki.”


“Turki? Mau apa kesana?”


“Bulan madu, sekalian bertemu rekan bisnis perusahaan.”


“Aku lelah. Aku…..”


“Ssstttt…..tidurlah. Aku tidak akan minta lagi.  Kita lanjut lagi nanti di Turki.  Tidurlah, sayang.”


“Verrel….”


“Iya, sayang. Kau mau apa?”


“Bukannya kita mau pulang kerumah?"


Ya, ampun sampai lupa kalau tadi dia janji bahwa mereka pulang kerumah.


"Mau pulang sekarang?" tanya Verrel yang dijawab dengan anggukan.


Verrel mengendarai mobil bugati hadiah untuk istrinya. Deandra menolak menyetir karena dia lelah dan mengantuk. Setibanya dirumah utama, para pelayan menyambut.


Yahya dan Ayu sedang duduk di sofa sibuk mengerjakan sesuatu. Verrel masuk dengan menggendong istrinya yang tertidur pulas.


"Kau apakan lagi istrimu?" tanya Yahya dengan tatapan tajam.


"Ssstttt.....dia lagi tidur. Dia baik-baik saja." baru selesai bicara, deandra membuka mata dan menyapa.


"Selamat pagi Opa, Selamat pagi, Mama." lalu pulas lagi. Entah dia sadar atau tidak tadi.


Verrel membaringkan tubuh istri tercintanya diatas ranjang. Saat dia hendak beranjak dari ranjang, tangan deandra menahannya.


"Iya, sayang. Kau mau apa?"


"Peluk aku ya, sampai aku tertidur.” pinta Deandra dengan suara manja.


“Istriku makin manja. Mau kunyanyikan lagu?” canda Verrel.


“Tidak mau! Suaramu jelek!”


“Ha...ha...ha...ha….tapi suara jelek ini bisa membuatmu...”


“Iisssshhhh….dasar suami mesum.” kata Deandra merona malu lantas membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Tak menunggu lama suara dengkuran halus terdengar.


“Ehmm…..setiap selesai bercinta, pasti langsung pulas.” tangannya membelai punggung istrinya yang polos.

__ADS_1


“Tetaplah seperti ini, sayang. Jangan pernah pergi meninggalkanku,” ucapnya lalu mengecup kening istrinya yang menggeliat memeluk Verrel yang tersenyum. “Makin hari kau makin menggemaskan.  Bagaimana aku bisa jauh-jauh darimu?”


Keduanya tertidur saling berpelukan.  Sementara ditempat lain, tepatnya disalah satu rumah mewah terlihat Rico dan teman-temannya sedang berada di ruang tamu berpesta.  Dua orang wanita bertubuh polos berada disampingnya bergelayut manja. Sejak kejadian kemarin, dia kehilangan akal sehatnya dan kembali pada kebiasaan lama, melampiaskan semua kekesalannya dengan memuaskan hasrat.


...*...


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, entah mengapa Frans belum juga bisa tidur.  Hatinya gelisah tapi dia tak tahu kenapa.  Dari tadi dia hanya berguling-guling diatas ranjang. Pendingin udara dikamarnya pun terasa tak berfungsi karena dia merasa panas.


Ia meraih ponselnya yang terletak diatas nakas, membuka dan memeriksa nomor kontak. Hingga dia menemukan sebuah nama disana.  Nama gadis yang sore tadi berdebat dengannya.


“Hmmm….coba aku telpon gadis jutek itu. Sepertinya asyik juga kalau menganggunya.” ucap Frans sambil menekan tombol panggilan.


Beberapa kali berbunyi tapi panggilan tidak diangkat. ‘Apa si jutek itu sudah tidur ya?” Baru saja dia hendak memutuskan panggilan terdengar suara parau seorang gadis dari seberang “Halo. Siapa ini.”


“Halo sayang, apa kamu sudah tidur?” Frans menahan tawa saat mengucapkan kalimat itu karena dia belum pernah memanggil seseorang dengan sebutan sayang.


“Eh….loe sudah gila ya? Seenaknya panggil-panggil sayang.” ucap gadis itu, lantas menatap kelayar ponselnya siapa yang menelepon. Betapa terkejutnya dia melihat sebuah nama terpampang disana.


“Ehh….om om mesum. Ngapain telepon jam segini?”


“Siapa yang mesum? Jangan-jangan kamu tuh yang suka mesum,” kata Frans terkekeh.  Wah, menarik juga nih perempuan bisa hilangin suntuk, pikirnya.


“Terus buat apa om nelepon saya jam segini kalau bukan mau mesum?”


“Memangnya kamu mau?” tanya Frans lagi yang sontak membuat gadis itu marah.


“Apa loe bilang? Gue tidak sudi sama om-om mesum kayak loe, huh.” dengusnya.


“Nona Rosa Maheswari. Apa lupa kalau kamu yang menyimpan nomor ponselmu di ponselku tadi sore?” Frans mulai menyenangi bermain-main dengan gadis jutek itu.


“Terus, mau om apa?” tanya Rosa yang kesal karena tidurnya terganggu.


*Hai gaesss....ini author bagi visual Frans Nagata sang asisten.




*Visual Frans Nagata



*Nah ini visualnya Rosa Maheswari


Sahabatnya Deandra.....gimana menurut kalian?



__ADS_1


*Visual Rosa Maheswari si cewek jutek sahabatnya Deandra


__ADS_2