
Deandra sedang memperhatikan enam pelayan yang dipilih Yuna untuk menjadi pengasuh kedua anaknya. Salah seorang pelayan itu adalah sepupu Alya dan empat lainnya adalah pelayan yang sudah bekerja dirumah itu selama empat tahun. “Baiklah bibi Yuna. Aku terima mereka menjadi pengasuh anak-anakku dan kuharap semua bisa bekerja dengan baik dan tak mengecewakan. Kedua anakku sangat aktif, jadi kalian harus selalu mengawasi mereka. Jangan sampai lalai dan kalian harus pandai-pandai berbagi tugas.”
“Baik, Nyonya Besar.” ucap mereka serempak. Setelah Yuna memberikan arahan pada keenam pengasuh baru itu dan menyerahkan sebuah buku kecil yang berisikan catatan kebutuhan kedua anak majikan mereka.
“Naomi…..sini sama opa buyut…..” Viktor tertawa melihat gaya berjalan cicitnya yang tertatih-tatih sambil tertawa. Begitu sudah dekat dengan Viktor, Naomi langsung melompat ke pangkuannya. “Hmm…..cicit opa yang cantik ini mau kemana? Sudah rapi, mau jalan-jalan ya?”
“Hem…..hem….” jawab Naomi, tangan mungilnya mengelus wajah Viktor yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Naomi merasa geli dan tertawa, tingkahnya sangat menggemaskan.
“Viktor! Ayo kita bawa cicit kita jalan-jalan.” Yahya sudah menggendong Nathan yang anteng dipelukannya. Pengasuh sudah berdiri dibelakang dengan stroller dan tas berisi perlengkapan kedua bocah itu.
“Papa mau kemana?” tanya Ayu melihat kedua orangtua itu sepertinya sedang siap-siap mau pergi.
“Mau bawa cicitku jalan-jalan. Biar hari ini mereka jalan sama kedua opa buyutnya.” Yahya dan Viktor berjalan keluar rumah. Beberapa pengawal sudah siap menunggu mereka untuk mendampingi. Verrel dan Deandra berlari keluar saat melihat kedua anaknya dibawa “Opa mau kemana?”
“Hari ini kami mau bawa Nathan dan Naomi jalan-jalan. Kalian berdua boleh santai, quality time. Lelah jaga mereka bukan? Hari ini biar kami yang jaga mereka.”
Empat mobil keluar meninggalkan kediaman keluarga Ceyhan. Melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kebun binatang. Ini pertama kalinya Nathan dan Naomi pergi ke kebun binatang yang juga memiliki area atraksi pertunjukan. Tampak kedua bocah itu kegirangan saat melihat patung binatang-binatang di pintu masuk.
Saat sedang asyik melihat-lihat, mata Yahya melotot memperhatikan seorang pria paruh baya dengan seorang wanita yang terlihat masih muda, keduanya begitu mesra tak tahu malu. Wajah Yahya memerah menahan emosi melihat bagaimana pria itu bermesraan dengan wanita disebelahnya.
“Viktor…..aku mau ke toilet dulu. Kalian duluan saja nanti ku susul,”
“Baiklah. Jangan nyasar ya,”
__ADS_1
“Ehmmm….” Yahya berjalan diikuti dua orang pengawal mengitari taman kecil yang rindang, didekat taman kecil itu ada kolam ikan dengan jembatan melengkung diatasnya.
“Sedang apa kau disini? Siapa dia?” tanya Yahya pada pria didepannya yang sedang melingkarkan tangan dipinggang wanita itu.
“Eh…..papa!”
“Oh...kau masih ingat juga siapa aku hu? Dasar anak tidak tau diri!” ketus Yahya menatap Amran dan wanita disebelahnya “Siapa lagi ini?”
“Ini….ini perawatku, pa. Namanya Risna.”
“Perawat? Huh! Perawat sekaligus pemuas nafsumu? Dasar tidak punya otak kalian berdua ini! Pergi kalian dari sini, aku sedang membawa cicit-cicitku kemari jangan sampai semua orang melihatmu disini! Kalau kau masih mengganggap dirimu adalah putraku, jangan buat malu apalagi mencoreng nama baik keluarga Ceyhan!”
Risna menatap nanar pria tua itu dan dua pengawal pribadinya, ‘berarti itu tuan besar yang terkenal itu, gumamnya dalam hati sambil bergidik ngeri.’
“Papa cukup! Papa sudah mengusirku dari keluarga, papa tidak punya hak untuk mengancamku ataupun orang-orang yang dekat denganku.”
“Masih berani kau melawanku huh? Kau yang memilih keluar dari rumahku, kau tinggalkan istri dan anakmu dan memilih menikah dengan pelacur itu! Kalau kau tak mau ada urusan lagi denganku, maka kau hapus gelar Ceyhan!”
“Baik! Aku juga tidak butuh memakai nama Ceyhan jika aku tak dianggap sama sekali!”
“Apa kau sudah siap Amran? Aku akan meminta pengacara untuk membuat surat pernyataan secara hukum pemutusan hubungan keluarga dan kau tak berhak menyandang gelar Ceyhan, bukan itu saja saham yang kau miliki sekarang diperusahaan akan ku cabut! Kau tidak akan berhak atas satu sen pun hartaku, aku sudah punya cucu dan cicit yang akan meneruskan keluarga Ceyhan.”
“Silahkan papa mau buat apa. Aku sudah tak sudi jadi bagian keluarga Ceyhan lagi. Aku lihat kalian semua berbahagia sementara aku mendekam dirumah sakit jiwa.”
__ADS_1
“Hu….itu kan salahmu sendiri! Apa kau lupa apa yang kau lakukan selama ini? Baiklah akan kuingatkan kembali, kau meninggalkan anak kandungmu dan memilih mengurus anak haram si pelacur itu! Lihatlah hidupmu sekarang, hanya perempuan pemuas nafsu yang mengincar uangmu saja yang kau dapat, cuihhh…...kau sangat menjijikkan.”
“Tidak perlu banyak bicara, pa. Aku tunggu surat pernyataan dari papa. Setelah itu jangan pernah lagi campuri urusan pribadiku. Aku juga tidak butuh nama besar Ceyhan untuk bisa maju, aku akan buka perusahaan sendiri dan akan kubuktikan pada kalian semua! Aku akan menghancurkan kalian! Ingat itu!”
“Hahahahaha……..sudah gila, sombong pula kau. Kau lihat disana itu?” telunjuk Yahya mengarah pada Nathan dan Naomi yang berjalan bersama pengasuhnya “Nathan dan Naomi, serta tiga cicit yang akan lahir. Lima cicit generasi penerus Ceyhan. Kau sudah kehilangan semuanya Amran, kau takkan pernah bahagia,”
...*...
Hari berganti malam, Nathan dan Naomi yang seharian dibawa bermain pun tertidur lelap karena lelah. Verrel dan Deandra masuk kedalam kamar mereka, hari ini dia bernapas lega karena kedua anaknya tak rewel ketika dirawat oleh kedua opanya. Kedua orangtua itu memang sengaja menghabiskan hari ini bersama kedua cicitnya agar Deandra bisa istirahat sementara mereka mengambil alih tugas menjaga putra-putrinya. Verrel beranjak mendekat kearah Deandra yang duduk ditepi ranjang sehabis mandi.
Cup!
Satu kecupan mendarat bebas di bibir Deandra. Wanita itu tersenyum dan balas mengecup bibir sang suami seringan kapas. Akibatnya, pria itu protes hingga dengan sigap meraih pinggang sang istri untuk menempelkan tubuh mereka.
“Mandi dulu sana! Nanti aku siapkan baju ganti untukmu,” ucap Deandra tanpa menyadari tatapan liar suaminya. Mandi? Benak Verrel berfantasi dengan cepat. Ah….sepertinya ide bagus itu, sudah seminggu ini tidak mandi bareng. Senyum nakal disudut bibirnya muncul dan melirik istrinya. “Mau dimandiin, mommy,” goda Verrel sambil duduk disebelah Deandra dan mengecup pipinya.
“Kenapa sekarang kau lebih manja dari anak-anak?”
“Masa cuma anaknya saja yang dimandiin, daddy juga mau dimandiin mommy,” Verrel menciumi leher dan wajah istrinya yang terkekeh geli menghadapi sikap suaminya.
“Sana mandi! Aku sudah mandi, tidak mungkin mandi lagi.”
“Kalau begitu mandiin daddy,” dengan cepat tangan Verrel mengendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi, membaringkan tubuh Deandra didalam bathtub yang sudah diisi air hangat. Verrel melepas semua pakaiannya dan masuk kedalam bathtub, melucuti pakaian Deandra yang sudah basah. Tangannya mengelus perut buncit istrinya “Aku mau jenguk anak-anak.”
__ADS_1