
Orang tua mana yang tidak marah mendengar pengakuan putri semata wayangnya. Mereka merasa dipermainkan oleh Rico dan keluarganya. Apakah mereka sengaja menjodohkan anakku dengan Rico? Jelas-jelas memang Iva mencintai pria itu. Benak Tuan Baratha dipenuhi berbagai pikiran-pikiran buruk.
“Maaf, Pa. Bukan begitu. Kami berdua menikah karena perjodohan, jadi masih saling menyesuaikan. Apalagi akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan, sampi dirumah aku sangat lelah.”
“Tidak ada alasan! Kalau kau memang tidak mau dengan putriku, kenapa kau terima perjodohan itu, huh?” teriak Tuan Baratha marah.
“Sebagai seorang anak, saya hanya ingin membahagiakan kedua orangtua, Pa. Tolong papa mengerti, saya dan Iva pasti bisa melewati semua ini. Kami tidak pernah bertengkar dan saya pun tidak pernah berlaku kasar pada Iva,” ucap Rico sebisa mungkin untuk melembutkan hati mertuanya.
“Aku beri kau kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kau gagal, maka kau akan kuusir dari perusahaanku dan aku akan mengurus perceraian kalian.” lalu Baratha pun pergi meninggalkan Rico yang terpaku mendengar kata-kata mertuanya.
“Lakukan saja apa maumu, aku tidak peduli. Aku tidak butuh harta kalian. Yang terpenting sekarang bagaimana aku bisa mendapatkan Deandra kembali. Setelah itu baru aku pikirkan yang lainnya.” Rico tersenyum licik sambil merapikan meja kerjanya dan keluar.
...*...
“Rosa! Apa kau suka bekerja dikantorku?” tanya Deandra pada sahabatnya .
“Senang sekali, nyonya.”
“Issshhhh….kenapa loe memanggilku seperti itu?”
“Ini dikantor jadi aku harus menghormatimu sebagai atasan. Tidak enak sama karyawan yang lain.” jawab Rosa tersenyum.
“Ya..ya….ya. Terserahmu saja!” dengus deandra. “Mana rujak pesananku?” Dia baru teringat kalau dia menyuruh Rosa pergi membeli rujak untuknya.
“Loh kan tadi sudah habis dimakan? Ya, ampun bisa lupa?”
“Oh iya….benar. Aku lupa soalnya lapar,”
“Mau makan dimana? Di kantor Tuan CEO?” tanya Rosa.
“Kau mau kesana? Mau ketemu Frans ya? Kalian pacaran ya?” tanya Deandra terkekeh. Rosa diam tak menjawab. “Kita makan di mall. Ayo ikut aku.” kata Deandra.
__ADS_1
...*...
Kedua wanita itu memasuki sebuah mall, semua mata memandang Deandra yang cantik namun bukan karena kecantikannya membuat semua orang memandang tapi karena ia adalah istri sang CEO yang terkenal dan kaya raya.
Wajah cantik Deandra yang mengisi semua media selama dua minggu saat pernikahannya, membuat semua orang mengenali wajah cantik itu. Rosa mulai gelisah merasa tak nyaman, berjalan bersama dengan seorang Nyonya Verrel yang terkenal.
"Kita ke food court saja ya, disana banyak pilihan makanan." kata Deandra sambil terus menarik tangan Rosa. Pengawalnya mengikuti dari jarak aman atas permintaan sang majikan yang merasa tak nyaman dikelilingi para pengawal dan jadi bahan perhatian.
Tiba di foodcourt, mereka memesan beberapa makanan. Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat selera makan Deandra.
"Memangnya kalau lagi hamil makannya banyak ya?" tanya Rosa.
"Iya. Didalam sini kan ada dua, jadi yang makan tiga orang." jawab Deandra menjelaskan.
"Apa? Jadi loe hamil anak kembar? Kok tidak pernah bilang ke aku?" dengusnya. Wah, pasti ibu senang kalau tahu, gumamnya.
"Ahh...bagaimana kabar ibu? Kapan-kapan kalian datang kerumah ya,"
"Datang ya sama ibu. Nanti aku bilang sama suamiku. Pasti diijinkan lagipula dirumah ada juga Opa dan mama mertuaku. Mereka pasti senang kalau kalian datang."
"Hmmm....ya lihat nanti ya." jawab Rosa.
"Aku tidak mau tahu! Loe harus datang sama ibu!" teriak Deandra kesal membuat mata beberapa orang yang berada tak jauh dari meja mereka pun menoleh menatap Rosa dan Deandra.
"Husss....kita pergi dari sini. Gue tidak betah duduk lama-lama dilihatin orang."
"Ya...ya....eh ingat harus datang kerumah ku. Loe tidak mau ketemu Frans? Dia sekarang tinggal di paviliun sebelah rumah." ujar Deandra melirik sahabatnya untuk melihat reaksinya. Rosa berhenti ditempat, menoleh ke Deandra dan senyum terpancar dari wajahnya.
"Loe jangan aneh-aneh ya Nyonya Verrel. Gue udah melayang...aahhhh....dia tampan tau,"
"Lebih tampan suamikulah!" desis Deandra yang tiba-tiba teringat pada suaminya. Lalu dia meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi Verrel.
__ADS_1
"Ehmm...baru juga disebutin langsung ditelepon. Bucin loe!" ejek Rosa tertawa dan menghindari tangan Deandra yang mau mencubitnya.
Tak ada jawaban dari Verrel meskipun sudah berdering beberapa kali. Deandra mendengus kesal karena biasanya Verrel selalu menjawab teleponnya.
Namun, tiba-tiba dia merasakan hembusan hangat dibalik telinganya diiringi kecupan basah. Ia tahu ini tingkah siapa lagi kalau bukan sang suami. "Apa kau merindukanku istriku, sayang?" ucap Verrel sambil memeluk istrinya dari belakang. Semua mata memandang kearah sang Tuan Besar Verrel dan istrinya.
Mall yang saat itu sedang ramai pengunjung pun mendadak membeku, semua orang berhenti sejenak memandang kemesraan pasangan suami istri itu. Rosa mengalihkan pandangannya, namun naas pandangannya malah bertemu dengan tatapan Frans yang tajam.
Deg!
Kenapa dia juga ada disini?" Gumam Rosa dalam hati. Mendadak dadanya sesak dan debaran jantungnya cepat, keringat dinginpun mendadak mengucur.
Frans tahu betul jika gadis jutek itu sedang gelisah dan salah tingkah. Frans tersenyum, jika tuan dan nyonya tidak ada, sudah kukerjain gadis itu pikirnya. Untung tadi Tuan mengajaknya pergi ke mall menemui istrinya karena si gadis jutek juga pasti disana.
"Sayang, apa kau capek?" tanya Verrel tak melepaskan pelukannya. Meskipun sang istri sudah memberi isyarat namun ia tak peduli.
"Lepaskan, aku malu dilihat semua orang."
"Kau tidak perlu malu, sayang. Kau harus bangga karena kau adalah istriku dan biarkan semua orang tahu itu. Mereka harus menghormatimu." ucap Verrel mendaratkan ciuman dibibir sang istri. Bisa dibayangkan reaksi orang-orang melihat sikap ssng tuan besar yang dikenal kejam dan tak bisa ditaklukkan oleh wanita kini ia takluk pada istrinya
"Hmmm...tapi aku belum terbiasa."
"Harus kau biasakan. Selalu ingat siapa dirimu, sayang. Kau bukan lagi Deandra Ailsie tapi kau adalah Nyonya Verrel dan ibu dari calon anak kita." Tangannya mengelus perut buncit Deandra.
Keduanya tiba-tiba menoleh pada Frans dan Rosa yang tak sengaja kembali berpandangan. "Sepertinya ada benih-benih cinta." ucap Deandra tanpa sadar tersenyum.
"Aku tadi menyuruhnya langsung pulang tapi dia tetap mau mengantarku," ucap Verrel.
"Ohya? Pasti dia tahu kalau aku bersama Rosa."
"Sudah biarkan saja. Kau masih mau belanja atau mau pulang, sayang?"
__ADS_1
"Kita pulang saja!" seru Deandra menarik tangan Verrel meninggalkan Frans dan Rosa yang belum menyadari jika sepasang suami istri itu sudah pergi.