
“Verrel.”
Gerakan tangannya berhenti sesaat.
“Ya.”
“Papa Amran kabarnya sudah keluar dari rumah sakit. Menurutmu apakah mama masih menginginkan papa kembali?” tanya Deandra hati-hati. “Ehm maksudku, apakah ada kemungkinan mereka akan bersama? Tapi aku takut jika papa Amran menyakiti mama.”
Alih-alih menjawab, Verrel malah menaburkan kecupan-kecupan basah dileher sang istri.Aroma wangi khas sabun mandi yang menguar membuat salah satu bagian dirinya menggeliat.
Verrel mengeryit saat denyutan itu semakin intens dan mencoba meresapi lebih dalam dengan cepat ia memejamkan mata. Memperluas jajahannya hingga berlabuh didada Deandra.
“Verrel.” desahnya dengan suara yang telah berubah menjadi parau. Remasan sensual dikedua gundukan dadanya melemahkan semua sistem syaraf yang seharusnya bekerja sesuai fungsinya. Namun hanya karena godaan diiringi buaian yang seketika mendarat di daun telinga, Deandra tak mampu menahan rintihan keinginan yang mendobrak dibenaknya.
“Desahkan namaku, sayang. Biarkan aku terus memujamu lagi dan lagi.”
Deandra tak menolak saat Verrel melucuti jubah yang ia pakai setelah membersihkan diri. Apalagi saat manik mata pekat itu memindai tubuh polosnya. “Kau sangat indah, sayang. Aku jadi bingung harus memujamu dari bagian mana dulu. Semua yang ada sangat membuatku frustasi. Kau selalu mampu membuatku kacau, sayang.” ucap Verrel tanpa tahu malu. Matanya tak berkedip sedikitpun dan kedua tangannya tak berhenti menjelajah setiap inci kulit yang menghasilkan *******-******* tertahan dari bibir istrinya.
Mendengar pujian bertubi-tubi dari verrel membuat Deandra tak bisa menyembunyikan wajah meronanya. Ia tersipu, salah tingkah dan merasa melayang ke udara saat pria yang sudah memberinya dua anak itu selalu memuja dan mengucapkan hal yang sama demi membangkitkan gairahnya. Hormonnya berubah, satu sentuhan saja dirinya akan hanyut dan menginginkan lebih. Bagi Verrel, memberikan hal yang biasa bukan lagi menjadi rintangan tapi kepuasan.
“Verrel, plisss jangan mempermainkanku.” sungut Deandra kesal. Bagaimana tidak kesal jika pria itu hanya menyentuh seringan bulu? Padahal tubuhnya sudah menginginkan sentuhan yang lebih lama lagi.
“Ssssttt…..” Verrel berdesis, “Nikmati saja sayang. Biarkan aku memujamu dulu, kau makin mempesona mommy semenjak melahirkan kedua buah cinta kita.”
Bagaikan janji yang menghempaskan Deandra kedalam bayangan kenikmatan, untuk itu ia pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang dijanjikan oleh suaminya. Entah kapan Deandra sudah terbaring diatas ranjang. Dahinya mengeryit saat merasakan ada satu bagian tubuh Verrel yang terasa mengeras menekan dipahanya.
“Ayo, sayang. Desahkan namaku dan aku akan memberikan semua yang kau inginkan, sayang.”
“Verrel.”
“Ya, terus begitu. Lagi sayang.” ucap Verrel sambil memasuki istrinya yang mendesah sambil memanggil namanya lembut.
“Verrel.”
__ADS_1
“Oh yeah….apa kau merasakannya sayang?” dengan sengaja Verrel menekan lebih dalam lagi bagian tubuh bawahnya kedalam Deandra. Wanita itu tersentak, yang ia rasakan saat ini adalah nyata dan ia membuka matanya menatap manik mata suami tercintanya.
Ia melihat senyum tampan Verrel dan tatapan penuh cinta dan kali ini bukan tersentak tapi tercekat karena benda itu terasa semakin membesar.
“Verrel, ini----.”
Pria bermanik hitam pekat itu menggangguk antusias dengan senyum menggoda. “Apakah kau merasakannya, sayang?”
Dengan kaku Deandra mengangguk. “A---aku tidak percaya ini,sayang. Kenapa bisa jadi semakin membesar begini? Kapan?”
“Ha? Apa maksudmu sayang?”
Jarinya menunjuk kebagian bawah yang sudah tak terlihat karena sudah masuk ketempatnya “Itu.” ucapnya tanpa meredupkan tatapan penuh cinta.
Tenggorokan Verrel mendadak kering, pria itu membasahi bibirnya gugup. “Aku baru merasakannya kemarin saat kau menggodaku lalu pergi. Aku terpaksa menuntaskannya sendiri.”
“Kenapa kau tak memberitahuku? Kenapa kau diam saja?” tanya Deandra kesal. Verrel jadi salah tingkah kenapa hal kecil seperti itu saja membuat istrinya marah. Bukankah seharusnya ia senang karena sekarang makin membesar. “Kau berniat memeprmainkanku, hm?” terdengar lembut tapi mengerikan dengan tatapan tajamnya yang menghunjam.
“Bukan begitu, sayang.”
Mungkin untuk saat ini Verrel beranggapan jika itu adalah takdir manis dari tuhan, makanya dia berniat memberinya kenikmatan yang berbeda pada istrinya hari ini. Tak ingin membuat Deandra semakin marah dan ia tahu betul hanya satu cara meredam kemarahan istrinya. Tanpa pikir lama, salah satu tangannya bergerak menarik bukti gairah yang tegak bak menara Eiffel itu terlihat gagah membuat Deandra menganga
Verrel langsung bergerak cepat dan menekan intens klit yang mengintip diantara celah lembut itu. “Jangan mempermainkanku…..ahhhh.”
Seringai dibibir Verrel terbit. Tatapan matanya melembut dan sedetik kemudian ia berbisik mesra “Bersiaplah, aku akan mencoba berapa lama akan bertahan.” Dengan niat ingin membuat istrinya puas dan merasakan kenikmatan luar biasa, Verrel mulai bergerak. Pelan-pelan ia mengubah posisinya dengan sang istri berada diatas. Wanita itu membanting kepala kebelakang, ia merasakan sesuatu yang berbeda, ia bergerak pelan dan tak lama gerakannya semakin liar dan terpacu.
“Verrel…..Verrel….”
“Kenapa sayang?”
Deandra merasa kram dibagian perutnya tapi ia tak pedulikan, ia hanya menggeleng dan terus memacu lagi dan lagi hingga ledakan itu menghantam mereka berdua bersama-sama. Masih terengah-engah, dengan bagian tubuh yang masih menyatu mereka belum ada niat untuk memisahkan diri.
“Apakah kau baik-baik saja, sayang? Kau terlihat merasa sakit.”
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik-baik saja.”
“Hufff,,….ahhh...” teriak Deandra memegang perutnya yang sakit.
“Sayang, kenapa? Kita kerumah sakit ya?” ucap Verrel panik melihat istrinya kesakitan sambil memegang perutnya.
“Aku tidak tahu ini kenapa perutku sakit, seperti keram.”
Verrel mengambil pakaian untuk Deandra dan mengenakan pakaiannya sendiri. Dengan tergesa-gesa dia menggendong tubuh istrinya menuruni tangga, Yuna yang melihat pun terkejut. “Tuan, ada apa dengan nyonya?”
“Aku titip si kembar, istriku sakit, mau kubawa ke rumah sakit sekarang. Kalau nanti mama atau opa tanya, beritahukan saja pada mereka.” Verrel memasukkan istrinya kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, ia menggendong istrinya menuju ruang pemeriksaan. Dokter Romeo sudah menunggu “Kenapa istrimu?”
“Aku tidak tahu, tiba-tiba perutnya sakit sepertinya keram katanya. Eh….suruh dokter perempuan yang tangani istriku. Enak aja kau mau pegang-pegang dia.” ujar Verrel kesal.
Romeo menghubungi dokter Anita yang bertugas untuk memeriksa Deandra.Verrel berdiri disamping istrinya sambil terus menggenggam tangannya memberi semangat. Dokter itu mengusapkan gel ke perut Deandra dan memperhatikan layar monitor, tak lama dia pun tersenyum. “Selamat ya Tuan dan Nyonya sepertinya akan punya bayi lagi.”
“Apa?” ucap mereka serempak. “Hamil?”
“Iya, tuan dan kehamilannya sudah memasuki minggu kedua. Saya harap nyonya berhati-hati karena jarak dengan kehamilan sebelumnya tidak jauh. Jangan terlalu capek dan banyak istirahat.”
“Oh...Verrel…..aku hamil lagi.”
“Selamat ya,” ujar Romeo tersenyum “Rajin juga kau berproduksi.” godanya.
“Daripada kau tak berproduksi sampai sekarang. Kapan lagi? Apa kau nunggu karatan?”
“Ha..ha...ha...ha…..tak mungkin karatan jika selalu dirawat.”
Obrolan kedua pria itu membuat dokter Anita merasa tak nyaman, dia pun pamit dengan alasan mau mengecek pasien lain. Dokter Anita adalah dokter spesialis kandungan yang baru bekerja dirumah sakit itu beberapa bulan. Dokter muda yang cantik dan menyukai dokter romeo sejak awal mereka bertemu.
__ADS_1
... ...