
“Aku tidak suka bekerjasama dengannya.”
“Alasannya? Segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, bukan? Jadi apa alasanmu ingin membatalkan semua kerjasama dengannya? Jika itu terjadi maka perusahaan akan rugi. Apakah kau sudah memikirkan semua konsekuensinya, sayang?” tanya Deandra heran. Dia semakin yakin pasti ada sesuatu yang terjadi hingga membuat suaminya ingin membatalkan kerjasama.
“Ada beberapa alasan. Lagipula kami belum menandatangani kerjasama, memang semua dokumen sudah dia berikan padaku jadi kalaupun kubatalkan tidak akan mempengaruhi perusahaan. Ini jalan terbaik, aku hanya tidak ingin melanjutkan kerjasama itu.” jawab Verrel.
“Oke. Lalu apa alasannya? Apakah ada hubungannya dengan pertemuan malam ini di club? Ayo jujur ceritakan semua, aku tidak suka dengan sikapmu begini.”
“Hemm…..dia memperlakukan aku seperti pengusaha lain. Itu alasanku tidak suka dan ingin membatalkan kerjasama.” jawab Verrel.
“Baguslah kalau dia memperlakukanmu sama dengan pengusaha lain, berarti dia bersikap profesional dan bukan bersikap mengistimewakanmu untuk bisa jadi rekan bisnis.”
“Bukan begitu sayang. Dia pikir aku seperti pengusaha lain yang bisa disogok atau dirayu hanya dengan disodorkan gadis-gadis muda dan cantik.”
“Ohhh…..gitu? Jadi mengakui kalau di club tadi gadis-gadisnya cantik, iya?” emosi Deandra mulai terpancing.
“Kenapa kau jadi marah begini? Harusnya kau bangga pada suamimu ini karena menolak dan tidak tertarik pada suguhan yang diberikan Tuan Anggara!”
“Huh! Memangnya secantik apa gadis-gadis itu? Enak saja kau bilang mereka cantik, aku memang sudah tidak secantik dulu, aku gemuk dan pinggangku tidak ramping lagi. Tubuhku tidak lagi seksi dan menarik karena hamil!”
“Sudahlah, sayang. Aku minta maaf kalau ucapanku salah. Jangan marah ya, aku capek seharian ini banyak kerjaan.” Verrel mengusap perut buncit istrinya dan mengecup bibirnya.
“Jangan harap dapat jatah malam ini!” ketus Deandra “Pasti kau sudah sentuh itu gadis cantik yang kau sebutkan tadi. Mana ada lelaki yang menolak!”
Verrel memijit pelipisnya, istrinya yang sedang hamil membuat emosinya tidak stabil dan jika sudah marah akan sulit untuk membujuknya sementara malam ini dia merasa sangat lelah dan ingin tidur. Jika dia mendiamkan istrinya, maka dia harus siap untuk diacuhkan selama beberapa hari. “Jadi sekarang mau mu apa, sayang? Bisakah malam ini jangan marah-marah kasihan anak kita. Biarkan aku istirahat,aku benar-benar lelah.”
“Memangnya berapa ronde tadi sampai lelah begitu?”
“Ya ampun Deandra! Aku tidak menyentuh siapapun ok. Seharian ini aku banyak pekerjaan di kantor dan merasa sangat lelah. Apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah lagi?”
“Okay. Besok kita kerumah sakit.”
__ADS_1
“Buat apa kerumah sakit? Aku tidak sakit.”
“Aku mau kau vasektomi seperti yang sudah pernah kita bicarakan waktu itu. Tapi sebelum itu aku mau spermamu disimpan di bank ****** rumah sakit sebagai stok untuk masa depan.”
Verrel menghela napas, dia tahu maksud istrinya agar dia menjalani vasektomi tapi dia merasa itu terllau berlebihan karena dia memang tidak tertarik dengan wanita lain.
“Apakah kau tidak percaya padaku? Aku sudah tidak berminat dengan wanita-wanita diluar sana. Kau sudah cukup bagiku, sayang.”
“Dengar baik-baik ya. Kau itu tampan bahkan sangat tampan, kaya raya dan idola semua wanita. Mungkin benar kalau kau tidak minat dengan wanita manapun diluaran tapi apakah mereka juga tidak minat denganmu? Mungkin hari ini, besok atau lusa kau masih baik-baik saja tidak tergoda tapi apa jaminannya kalau suatu saat nanti kau tergoda ataupun khilaf? Aku tidak mau jika itu terjadi dan ada wanita diluaran sana yang akan mengandung anakmu!”
“Baiklah mommy twin. Besok kita kerumah sakit, sudah puas sayang? Jangan marah-marah lagi ya. Apapun kemauanmu dan keinginanmu akan kuturuti, kau istriku dan satu-satunya wanitaku selamanya. Aku sangat mencintaimu sayang.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku juga mencintaimu. Ayo tidur!”
“Bolehkah aku menjenguk anak kita malam ini, sayang?”
“Tadi katamu lelah, sekarang mau jenguk anak. Jangan aneh-aneh Verrel! Udah tidur saja, aku lagi tidak mood. Besok saja.”
“Besok saja, sudah kubilang aku lagi tidak mood. Atau kau lebih suka tidak kuijinkan menyentuhku lagi?”
“Apa kau setega itu pada suamimu ini? Apa kau tidak takut aku akan khilaf nantinya?”
Deg!
Jantung Deandra berdetak kencang mendengar ucapan suaminya. Benar juga, kalau aku tidak melayaninya sudah pasti dia akan mencari pelampiasan diluar sana. Sejak dulu suamiku menjadi incaran perempuan-perempuan diluaran, ahhhh jangan sampai itu terjadi. Dia suamiku dan tidak boleh ada wanita lain yang boleh menyentuhnya.
“Baiklah. Kau boleh menjenguk anak-anak malam ini bahkan malam-malam selanjutnya. Tapi lakukan dengan lembut dan jangan sampai menyakiti kami, okay?”
Verrel tertawa dalam hati melihat wajah istrinya yang cemberut dan bibir yang manyun kedepan. Dia bangkit dari ranjang yang mulai melepas seluruh pakaiannya lalu mencium bibir ranum Deandra, sentuhan tangan suaminya mampu membuat tubuh wanita itu bergetar hebat. Malam itu sepasang suami istri itu merajut kasih, gairah liar Verrel kembali diluluh lantakkan oleh sang istri yang selalu mampu mengimbanginya.
...*...
__ADS_1
Pagi ini Deandra terlihat sangat cantik dengan dress hamil berwarna coklat muda motif bunga-bunga kecil dengan renda penghias dibagian bawah. Pulasan makeup warna natural dan polesan lipstik warna merah muda dan blush on warna pink nude membuat wajahnya terlihat cerah dan cantik. Terlihat dia sedang menyuapi kedua anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Verrel berjalan menuruni tangga sambil bersiul, wajahnya segar karena tadi malam sudah mendapat vitamin tambahan. Deandra tersenyum melihat tingkah suaminya.
“Da...da...dad….” ucap Naomi sambil berjalan tertatih mendekati Verrel.
“Selamat pagi, sayang.” Verrel menggendong Naomi lalu duduk disebelah Deandra.
“Sarapan dulu sana, setelah itu kita kerumah sakit. Aku sudah menghubungi Dokter Romeo.”
“Aduh…..kenapa harus kasih tahu sama Romeo?”
“Aku nanya sama dia soal vasektomi dan dia rekomen rekannya yang akan melakukannya.”
“Baiklah, Nyonya Verrel.” ucapnya. Sebenarnya dia enggan melakukan itu tapi demi istri tercintanya dengan terpaksa dia harus menurut.
“Jangan begitu mukanya, ini semua kulakukan demi kebaikan kita.”
“Aku tahu makanya aku bersedia. Ayo sarapan sama-sama.”
Setelah selesai sarapan pagi, keduanya berangkat kerumah sakit menemui dokter Romeo yang sudah berada disana bersama rekannya.
“Apa benar kau memang mau melakukannya?” tanya Romeo. “Tapi tidak bisa dilakukan sekaligus hari ini ya. Langkah pertama kita periksa kesehatan dulu lalu selanjutnya mengambil beberapa sample spermamu untuk disimpan.”
“Baiklah. Lakukan saja secepatnya.”
“Oh iya, aku mau ****** suamiku nanti disimpan dengan aman ya. Tempat penyimpanannya harus memakai password dan hanya aku yang tahu passwordnya.”
“Ha? Kenapa begitu?” tanya Romeo dan Andi rekannya serempak.
“Ya iyalah biar tidak ada yang bisa mencuri.”
Romeo menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, dia heran dengan tindakan dari istri sahabatnya itu meskipun Verrel sudah memberitahunya.
__ADS_1