
“Ada yang janggal, Tuan.” Seru Frans.
“Menurut laporan dilapangan, semua bahan bangunan memang produksi pabrik kita tapi kualitasnya sangat rendah. Sepertinya ada orang yang sengaja memalsukan.”
“Apa kau sudah perintahkan orang untuk mengecek ke pabrik?” tanya Verrel.
“Sudah, Tuan. Semua barang di pabrik kualitas premium seperti biasanya. Tapi….sepertinya ada yang sengaja menukarnya setelah barang dikirimkan. Merek barang sama tapi kualitas isi barang berbeda. Barang itu bukan produksi pabrik kita.”
“Selidiki masalah ini sampai tuntas! Setelah acara mama selesai kita akan fokus untuk masalah ini. Frans…tempatkan beberapa orang kepercayaanmu dibeberapa lokasi di pabrik dan proyek. Selidiki juga para customer yang biasa membeli semen dari pabrik kita.” perintah Verrel.
“Baik Tuan.”
Perbincangan diruang kerja itupun semakin serius, Verrel memberikan petunjuk dan strategi untuk menjebak orang yang berusaha menghancurkannya. Sementara itu ditempat lain, disalah satu gedung perkantoran terlihat seorang wanita cantik sedang duduk dipangkuan seorang pria. Keduanya tertawa puas dan saling menggoda.
“Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran manusia songong itu.” Ucap sang pria.
“Jangan lupa janjimu! Dia tidak boleh celaka sebelum aku bisa merasakannya!” sahut si wanita.
“Apa kau tidak puas denganku, ha?” tanya si pria.
“Ingat! Hubungan kita hanya sebatas kerjasama saja, sesuai perjanjian awal. Kau ingin balas dendam dan aku inginkan dia!”
“Dasar serakah! Kau hanya butuh dia? Huh….setelah dia kehilangan segalanya kau takkan bisa menikmati kemewahan impianmu!” ujar si pria mendengus. Dia tak habis pikir apa isi kepala wanita itu, toh dia juga tampan dan kaya. Selama ini mereka merengkuh kepuasaan bersama dan saling menikmati hubungan tanpa status tapi sepertinya wanita itu tak pernah puas.
“Aku punya uang banyak. Apa kau lupa kalau aku pewaris satu-satunya perusahaan papa? Aku akan berikan semuanya padanya jika dia mau menikahiku, saat dia hancur maka akulah malaikat penolongnya.”
“Ha..ha…ha…ha….kau sungguh bodoh!” ujar pria itu. Tekadnya sudah bulat untuk mulai menyerang siapapun yang menolak kerjasama dengannya. Dunia bisnis yang keras terkadang membutakan sebagian orang untuk melakukan hal buruk demi menyingkirkan saingannya. Pria itu tidak hanya ingin menyingkirkan saingannya tapi dia ingin jadi pebisnis yang ditakuti.
__ADS_1
“Jujur aku terobsesi dengannya. Aku dengar kalau dia sangat perkasa di ranjang! Aku ingin merasakannya…..penasaran dengan rumor yang kudengar.”
“Kau gila! Kalau sampai kau mengacaukan semuanya, kau akan tanggung akibatnya. Takkan kubiarkan kau lolos!” geram si pria.
“Huh! Aku hanya ingin merasakan keperkasaannya! Camkan itu dan jangan coba-coba mengancamku!” sahut si wanita penuh kekesalan. “Ingat! Kau berhutang budi pada papaku! Ikuti saja aturan mainku, paham!” teriak si wanita kesal.
Si pria bertubuh tinggi kekar itu mendengus lalu melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya. ‘Kau tak bisa seenakmu! Takkan ku biarkan kau naik keatas ranjang laki-laki lain. Tubuhmu hanya milikku.’ Raut wajahnya mengeras penuh amarah dan dendam. ‘Aku akan ikuti permainanmu tapi kau akan tunduk dan berlutut padaku. Setelah kudapatkan semuanya, kupastikan perusahaan papamu jatuh ke tanganku dan kau akan jadi budak ranjangku sampai aku bosan dan mencampakkanmu.’ Monolog pria itu sambil menatap cermin didepannya.
Keluar dari kamar mandi, dia tidak mendapati sang wanita itu lagi. Dia menghempaskan diri duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan memeriksa tumpukan dokumen didepannya.
Seorang wanita bertubuh tinggi semampai berwajah cantik yang baru saja keluar dari gedung kantor itu dengan wajah kusut. ‘Dia pikir dia itu siapa mengatur-aturku. Tanpa bantuan papa, dia takkan bisa seperti sekarang ini.’ gumamnya tak peduli pada supir pribadinya yang sedari tadi bertanya hendak kemana.
“Maaf Nona, apa mau langsung pulang atau…”
“Ke mall!” jawabnya ketus. “Ehh…..spa….antar saya ke spa.” Sambil menghela napas panjang “Nanti langsung pulang saja setelah mengantar saya ke spa.”
“Terserah!” jawabnya kesal.
...******...
Sejak pukul tujuh malam anak buah Jack sudah berada dilokasi gudang yang terbengkalai, sejumlah dua puluh orang yang ditugaskan Jack untuk penyerangan malam ini dibagi di beberapa titik penyerangan disekitar bangunan tersebut. Sesuai perintah dari Verrel maka Jack juga berada dilokasi malam ini. Tampak aktivitas di bangunan itu mulai sibuk, beberapa orang yang sibuk mengeluarkan barang dari dalam gudang dan memasukkannya ke truk.
Sementara seorang pria berperawakan tinggi tampak baru saja keluar dari dalam bangunan dan berjalan keluar sambil mengedarkan pandangan kesekeliling. Jack yang melihat keberadaan pria itu sontak kaget lalu memberikan kode perintah pada semua anak buahnya untuk bersiap-siap menyerang bangunan tersebut.
“Tepat pukul tujuh lewat dua puluh menit kita masuk!” perintah Jack pada anak buahnya. Perlahan sekelompok pria berpakaian serba hitam yang sudah mengepung seluruh gedung tua itu mulai bergerak. Penerangan jalan yang temaram diluar gedung membuat tak seorangpun yang berada digedung itu menyadari kehadiran sekelompok orang.
“Freddy! Cepat selesaikan semuanya sebelum jam sembilan. Pastikan tempat ini kosong dan terlihat terbengkalai. Ingat, aku tak mau ada yang tersisa.” ujar seorang pria berkepala plontos.
__ADS_1
“Baik bos!” jawab Freddy.
Dengan tergesa-gesa semua pekerja di gedung tua itu memasukkan barang-barang kedalam truk dan kendaraan minivan.
Tepat pukul tujuh lewat dua puluh menit, Jack beserta anak buahnya mulai bergerak menuju gedung tua itu. Sekelompok pria terlatih sudah mengepung seluruh gedung dan berlari cepat bagai kilat melumpuhkan satu persatu penjaga diluar gedung tanpa sempat melakukan perlawanan. Beberapa orang yang sedang memasukkan barang dari gudang menuju truk pun terkejut melihat sekelompok pria sangar yang menyerang dari segala arah.
Satu persatu dilumpuhkan tanpa ada perlawanan sengit. Sementara didalam gedung si pria plontos bernama Beni yang mendengar keributan langsung keluar dari ruangannya dan terkejut saat melihat Jack berdiri dihadapannya sambil menyeringai.
“Apa kabar sepupu?” sapa Jack.
“Ha…...Jack! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Beni ketakutan.
“Tak kusangka ternyata kau serendah ini Beni! Katakan, kau mau bekerjasama atau kau mau mati ditanganku, hu?”
“Jack! Aku hanya mengikuti perintah bos yang membayarku. Aku tidak tau jika orang yang harus kuhancurkan ada hubungannya denganmu.” ucap Beni. Jack adalah sepupu yang sangat dihormati dan diseganinya. Tak disangka Beni malah bertemu dengan Jack.
“Semua anak buahmu sudah kulumpuhkan dan polisi sedang menuju kesini. Jika kau mau selamat maka katakan siapa orang yang membayarmu!” ucap Jack.
“Aku tidak tahu namanya, aku hanya dihubungi seseorang lewat telepon dan memintaku mengerjakan sesuatu untuknya dengan bayaran mahal. Aku mohon jangan bunuh aku.”
“Hmmm…...aku tidak suka pengkhianat! Beni, jika kau bekerjasama dan memberitahuku siapa yang membayarmu maka kupastikan kau bebas tapi jika kau bohong dan menolak tawaranku maka kupastikan kau mendekam dipenjara untuk waktu yang lama. Ingat nasib istri dan anak-anakmu!” ancam Jack.
Beni yang bertampang sangar menatap Jack, sungguh tak disangkanya jika sepupunya akan menemukan aktivitas ilegalnya. Setelah berpikir panjang, Beni setuju dengan tawaran Jack. “Baiklah, aku terima tawaranmu. Katakan apa yang harus kulakukan. Tapi kau harus berjanji akan membiarkan istri dan anak-anakku.” pinta Beni.
Bersamaan dengan itu pihak kepolisian tiba ditempat dan meringkus pekerja dan anak buah Beni lalu membawa mereka. Jack membawa Beni ke kantor polisi mengendarai mobil pribadinya.
__ADS_1