TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 96. MULAI DIIKUTI


__ADS_3

Deandra bangun awal, pagi ini dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tak seorang pelayanpun dibolehkannya membantunya didapur.


Awal pagi suara teriakan Verrel sudah menggema, pintu kamar yang terbuka sedikit membuat Yuna berlari kelantai dua dengan ketakutan. Sudah lama tidak terdengar teriakan sang tuan besar dirumah itu. “YUNA!” teriak Verrel kencang dari dalam kamar.


“Saya, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Yuna dengan ketakutan karena terkejut mendengar suara teriakan tuannya. Setelah sekian lama, akhirnya tetiakan itu terdengar lagi.


“Dimana istriku? Aku harus ke kantor tapi istriku belum menyiapkan pakaianku,” ucap Verrel menggaruk kepalanya.  Yuna yang bingung melihat sikap tuannya yang aneh, biasanya juga pelayan yang menyiapkan semua keperluannya kenapa sekarang minta istrinya yang siapkan?


“Biar saya yang siapkan, Tu--” belum sempat menyelesaikan ucapannya, langsung dipotong Verrel.


“Cari dimana istriku! Hanya dia yang boleh menyentuhku. Aku tidak mau orang lain memilih pakaianku.” perintah pria itu dengan tatapan mata penuh amarah.


“Baik, Tuan. Saya akan meminta nyonya kesini secepatnya,” Tanpa menunggu, Yuna segera keluar dan mencari keberadaan nyonya.


“Kenapa akhir-akhir ini Tuan sangat sensitif sekali? Semuanya harus istrinya. Sedikit-sedikit cari istrinya.” Yuna menggerutu sepanjang jalan menuju dapur setelah seorang pelayan memberitahunya dimana sang nyonya berada.


Sudah lebih dua puluh tahun dia bekerja dirumah utama, baru kali ini mendapati keanehan pada sang tuan besar. 'Sensitif sekali. Yang hamil istrinya tapi yang sensitif malah si Tuan.' gumam Yuna menggelengkan kepalanya.


“Maaf, nyonya. Anda dicari oleh Tuan Besar.”


“Mencariku? Ada apa dengan suamiku, Bibi Yuna?” tanya Deandra heran.


“Iya nyonya. Tuan Besar minta nyonya ke kamar sekarang.”


“Huff….bukannya dia harusnya sudah sarapan? Kenapa suamiku belum turun juga?”


“Maaf nyonya. Tuan meminta agar nyonya menyiapkan perlengkapannya ke kantor.” jawab Yuna.


Deandra tersenyum ‘Makin hari sikap suamiku kok makin manja dan aneh? Pikirnya.  Gerakan tangannya yang sedang mengaduk sup jagung kepiting didalam panci pun terhenti.


“Tolong aduk sup ini ya Bibi Yuna. Ingat! Pakai mangkuk warna biru untuk suamiku. Jangan tambahkan apapun kedalam supnya,” ucap Deandra lalu melangkah keluar dari dapur. Setelah Yuna menjawab dengan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Deandra melepas apron dan melemparnya asal keatas kursi dan berlari kelantai dua. Dari pintu yang terbuka dia melihat suaminya yang sedang menunggunya.  Dia berusaha menahan tawa melihat suaminya yang masih memakai bokser saja.


Astaga! Kenapa dia belum siap-siap. Bukankah dia ada meeting penting pagi ini? Verrel,sayang.”


Pria itu langsung menoleh “Kemana saja? Pakaianku belum disiapkan.” tanyanya dengan suara lembut lalu bangkit dan mendekati istrinya.


“Aku didapur sedang memasak sup kesukaanmu.” Deandra mendekat dan mendaratkan ciuman dibibir suaminya.  Dia menarik tangan suaminya dan menariknya ke ruang ganti. "Ayo, ikut aku."


Verrel hanya terdiam dan menurut saja saat Deandra membantunya bersiap-siap. Sikap Deandra persis seperti ibu yang sedang mengurus anaknya. “Sekarang pakai celanamu, aku ambilkan dulu sepatumu,” Deandra menyodorkan sehelai celana bahan dan mengambil keperluan lainnya.


“Apakah hari ini kau masuk kantor?” tanya Verrel kemudian.


“Iya. Ada proyek pembangunan hotel baru di Bali. Mama pergi kesana meninjau lokasi jadi aku harus ke kantor.” jawabnya.


“Nanti kau bisa datang kekantorku untuk makan siang. Kita bisa pulang bersama kalau kau mau.” tawar Verrel.   “Bawa saja kerjaanmu kekantorku, biar asistenmu yang mengurus sisanya.”


Gerakan tangannya terhenti lalu menatap wajah suaminya. “Ide bagus.” jawabnya tersenyum. Pas sekali aku bisa ajak suamiku makan di restoran baru, pikirnya.


“Jadi, kau setuju sayang? Kutunggu dikantor ya?” tanya Verrel memastikan lagi. Dia lebih senang jika tiap hari bisa makan siang bersama istrinya.


“Ehmm….kau yang butuh bantuannya atau asistenmu?” tanya Verrel.


Deandra memukul dada suaminya.


“Kau tidak mau menjawab sayang?” Verrel mengecup bibir istrinya.


“Tidak ada yang perlu dijawab, suamiku. Kau juga tahu. Lebih baik turun dan sarapan sekarang. Aku juga harus siap-siap ke kantor.” Deandra hendak beranjak keluar namun tangan kekar Verrel sudah menahannya.


“Aku membutuhkan jawaban, sayang.”


Deandra langsung memeluk suaminya dan berjinjit mendaratkan ciuman dibibirnya.

__ADS_1


“Dokter bilang aku tidak boleh capek pikiran. Biarkan saja Frans hari ini ke kantorku, ya.”


“Menjawab pertanyaanku sepertinya tidak akan membuatmu capek, sayang.”


“Iya…..asistenku yang butuh bantuan Frans,” jawabnya terkekeh sebelum suaminya menuntut yang lain lagi. Dia harus buru-buru ke kantor karena mama mertuanya tidak ke kantor hari ini.


“Ayo sarapan. Antar aku ke kantor ya?” tanyanya yang dijawab Verrel dengan ciuman lalu mengangguk.


...*...


Meeting pagi ini membuat Deandra kesal karena tidak menemukan titik temu. Klien ini sepertinya dengan sengaja mengulur-ulur meeting, banyak maunya hingga membuat Deandra emosi apalagi klien itu selalu memandangi wajah cantik deandra. Padahal wanita itu sedang hamil dengan perut membuncit. Saking kesalnya, dia meninggalkan ruang meeting dengan alasan merasa mual dan kepalanya pusing.  Alasan tepat, pikirnya karena dia sedang hamil.  Rosa dan tiga orang manajer yang menghandle klien tersebut.  Kembali keruangannya, Deandra menghela napas lega. “Itu klien gila ya, sudah lihat perutku buncit pun masih pandang-pandang wajahku!” dengusnya kesal.


Dia meraih ponselnya menghubungi suaminya yang juga baru selesai meeting. “Hai,sayang.”


Tak menjawab sapaan Verrel, hanya memandangi wajah dilayar ponselnya. “Kenapa menatapku seperti itu? Kau merindukanku?”


“Aku kesal!” ujarnya mengerucutkan mulutnya membuat Verrel tertawa. Sejak bersama Deandra, pria itu tak sedingin dulu dan dia pun sudah sering tertawa. Perubahan itu bisa dilihat semua orang.


“Kesal pada suamimu ini?” canda Verrel yang senang melihat istrinya cemberut.


“Bukan. Kesal sama klien ku.”


“Memangnya siapa klienmu? Apa perlu kuberi pelajaran?”


“Tidak usah. Aku kesal karena dia mengundur-undur meeting. Aku tinggal saja.”


“Ya, sudah. Jangan marah-marah. Datang kekantorku sekarang ya?”


“Baiklah. Tunggu aku ya.”


“Lebih baik aku pergi ke kantor suamiku daripada pusing disini. Ahh, aku mau makan direstoran baru pasti makanannya enak, sekalian nanti aku mau ajak suamiku temanin aku beli baju. Sepertinya semua pakaianku mulai ketat.”

__ADS_1


Deandra mengirimkan pesan pada Rosa bahwa dia pergi ke kantor suaminya dan meminta Rosa mengirimkan dokumen yang perlu ditandatangani ke kantor Verrel. Dua orang staff sudah dikirimkan Verrel untuk membantu Deandra mengingat istrinya itu belum begitu paham menjalankan perusahaan.


Frans pun sesekali pergi kesana untuk memeriksa sekalian mengusili Rosa. Pak Danu melajukan mobil yang ditumpangi Deandra keluar dari gedung itu.  Sebuah mobil berwarna silver terlihat mengikuti namun saat diperempatan mobil itu berhenti setelah melihat ada dua mobil lainnya yang mengawal mobil Deandra. ‘SIAL! Kenapa pengawalnya banyak sekali?’ gumam Rico.


__ADS_2