
Jika kemarin Deandra yang kesal pada kliennya tapi hari ini justru Verrel yang dibuat kesal oleh klien pentingnya. Klien itu banyak maunya sehingga membuat Verrel semakin emosi saat rapat sedang berlangsung. Dia kesal karena semua desainnya ditolak mentah-mentah oleh klien itu.
“Frans! Coret saja dia dari daftar.” perintah Verrel dengan amarah, belum ada klien yang menolak desainnya sebelumnya. Apalagi banyak permintaan yang tak jelas. Bikin pusing dan emosi.
“Tapi tuan. Klien ini--”
“Aku tak peduli dia siapa,” desis Verrel “Kau lakukan saja perintahku.”
“Apakah tidak sebaiknya klien ini kita serahkan pada Nyonya saja, Tuan? Sayang sekali kalau klien ini kita lepaskan. Saya yakin Nyonya pasti bisa menghandle klien yang ini,” saran Frans yang tahu betul cara kerja sang nyonya besar. Sambil menghela napas dalam-dalam ia menunggu respon Verrel yang masih terpaku.
“Ya. Berikan saja klien itu pada istriku. Tapi suruh orang untuk awasi terus jangan sampai dia memandangi wajah istriku,” jawab Verrel. Frans menahan bibirnya untuk tidak terkekeh melihat sikap posesif bosnya. “Satu lagi, kosongkan jadwalku hari ini. Istriku datang sebentar lagi.” Tak lama berselang, pintu ruang direktur terbuka dan seorang wanita mengenakan dress diatas lutut itu datang. Deandra semakin terlihat cantik layaknya seorang pengusaha sukses dengan tampilannya meskipun perutnya sudah membuncit.
“Apakah aku mengganggu kalian?”
Verrel melemparkan senyum lalu memundurkan kursinya dan merentangkan kedua tangannya. Deandra yang sudah sangat hapal dengan kebiasaan itu langsung duduk dipangkuan suaminya. Dan melingkarkan tangan keleher suaminya.
“Frans! Kau bisa pergi ke kantor istriku. Ada pekerjaan disana yang harus kau cek.” perintah Verrel. Mendengar perintah itu pastinya membuat Frans tersenyum ‘Ahhh….ketemu si gadis jutek juga, bisa mengusilin dia hari ini.” Tanpa banyak bicara Frans langsung pergi apalagi melihat kemesraan sang tuan besar dan nyonya yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.
“Kenapa lama? Aku sudah menunggumu dari tadi, sayang.” Tangan Verrel bergerilya menyentuh tubuh istrinya, sementara bibirnya bergerak aktif menebar kecupan basah.
“Bagaimana rapatnya sukses?” tanya Deandra menengadahkan kepala sehingga Verrel leluasa menciumi leher istrinya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
__ADS_1
Ia menenggelamkan wajahnya didada istrinya, menghembuskan napas panjang. Deandra cukup peka sehingga dia tak mau menanyakan lagi, ia hapal betul semua sikap Verrel. Pria itu bisa bersikap kasar, sadis, kejam dan arogan jika berhadapan dengan rekan kerja. Namun ketika bersama Deandra sikapnya berbeda.
“Klien itu mau aku berikan untukmu, sayang. Bisakan kau handle?" ucap Verrel yang masih betah membenamkan wajahnya didada istrinya. Tangan deandra mengelus kepala suaminya layaknya seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.
“Baiklah. Aku akan handle. Apakah suamiku mau aku meluluhkan klien itu? Apa klien itu yang bikin moodmu buruk?” tanyanya lagi. Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, dia mengeratkan pelukannya.
“Mau istirahat denganku?” bertanya lagi pada Verrel yang masih tak bergerak dari posisinya.
“Aku tidak mengantuk, sayang.”
“Apa kau pikir aku mengajakmu tidur?” Deandra tersenyum menunggu jawaban Verrel yang masih betah membenamkan wajah didadanya.
“Lalu apa?” ucap Verrel. Kegagalan meeting dengan kliennya membuat dia tak bisa berpikir jernih. Dia menarik diri dan menatap sang istri tanpa berkedip.
“Ehmmm….apa kau yakin mengundangku sayang?” tanya Verrel mulai meremas gundukan kembar itu bersamaan. “Aku ingin menyapa kedua anakku, apa kau ijinkan?”
Ucapan konyol itu membuat Deandra terkekeh disela ******* rintihannya. Kenapa si tuan es batu bisa semanis ini sekarang? Pikirnya.
“Kau lucu sekali, sayang.”
Tak mau menunggu lama, dengan secepat kilat ia memindahkan Deandra keatas sofa. Ciumannya tak lepas, ia tak pernah puas menikmati rasa manis dari bibir istrinya. Dan benar saja dugaan Deandra, saat mood suaminya yang kurang baik itu mencium bibir Deandra, Verrel mulai merasa sedikit tenang dan beban dibenaknya berkurang.
__ADS_1
Deandra pun mulai tenang merasakan sentuhan bibir suaminya, mengalihkan pikirannya dari kejadian didepan kantor saat dia melihat Rico yang menatapnya dari dalam mobil. “Emmpphhh.” Deandra mendesah saat remasan didadanya semakin kuat. Gairah liar Verrel melonjak, ia pun menarik diri dan menatap istrinya yang terkejut. “Verrel,” lirihnya dengan mata berkabut gairah.
“Katakan sayang. Apa yang kau inginkan?” dengan sengaja Verrel meremas kuat payudara istrinya untuk memancing lirihannya.
“Katakan atau aku berhenti sekarang.” ucap Verrel. Deandra tercekat saat jemari Verrel menekan area sensitifnya, tubuhnya menggeliat dan gairahnya semakin kuat, ia menginginkan suaminya.
“Verrel. Jangan menggodaku. Aku menginginkanmu,” akhirnya kalimat yang ditunggu Verrel pun meluncur dari bibir istrinya. Dia tak pernah melakukannya tanpa kemauan sang istri karena baginya kepuasan sang istri yang lebih penting.
...*...
Sementara di gedung perkantoran milik Baratha Group. Rico yang berada didalam ruang kerjanya terlihat menekuk wajahnya. Tangannya memijit pelipisnya, berpikir mencari cara untuk mendekati Deandra. ‘SIAL! Kau selalu melihatku tapi kenapa kau tak mau tersenyum ataupun menyapaku, sayang? Kenapa kau terlena dengan pria brengsek itu! Harusnya semua itu milikku, kau harusnya milikku tapi kau malah menikmati hidupmu dengannya!’
Saking kesalnya Rico menyapu mejanya dengan tangan sehingga semua barang-barang berjatuhan ke lantai. Sekretarisnya yang hendak masuk dan melihat sang atasan sedang emosi pun mengurungkan niatnya masuk.
Andai saja Rico tahu jika saat ini Deandra sedang bermesraan dan memadu kasih dengan suaminya di kantor, mungkin dia akan semakin gila. Dia bahkan tak peduli jika Deandra sedang hamil dan perutnya yang sudah membuncit. ‘Aku akan mengambilmu dengan paksa! Apapun caranya akan kulakukan untuk merebutmu,sayang. Meskipun kau menolakku!
Pintu ruangannya terbuka keras. Wajah tegas seorang pria paruh baya menatap nanar melihat ruangan itu berantakan dengan dokumen yang berserakan dilantai. “Apa-apaan ini Rico?” teriak Andi Baratha, papa mertuanya.
Kedatangan papa mertuanya yang tiba-tiba membuat Rico terkejut. Dengan cepat dia mengumpulkan dokumen-dokumen yang berserakan. ‘Sialan! Kenapa papa mertuaku datang?’ gumamnya dalam hati. Apalagi melihat wajah pria paruh baya itu yang terlihat penuh amarah sambil menyilangkan kedua tangan didadanya.
“Bisa kau jelaskan semuanya? Aku tidak mau ada kebohongan!” ucap Baratha dengan wajah memerah. Dia menjatuhkan diri diatas sofa sambil terus memandang menantunya. Hatinya sangat perih dan amarahnya memuncak mendengar perkataan istrinya yang mengatakan jika Rico enggan menjalankan kewajibannya sebagai suami. Iva yang mengadu pada mamanya, sudah tak tahan melihat sikap Rico yang selalu memikirkan perempuan lain dan enggan menyentuhnya.
__ADS_1
Tuan Baratha pun mempertanyakan siapa perempuan yang selalu disebut-sebut oleh Rico dalam tidurnya.