
Betapa terkejutnya Deandra melihat Verrel dan hal itu membuat sang tuan besar senang dan ia pun mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum. Ia jarang sekali tersenyum atau bahkan tidak pernah terlihat tersenyum didepan orang lain. Tangannya meraih pinggang deandra dan mencium bibirnya namun dengan kasar deandra menolaknya.
“Ahhh….” pekikan yang terdengar seperti ******* itu menggema diruang makan, hanya ada mereka berdua disana. Lelaki dengan mata hitam pekat yang memiliki tatapan tajam itu beringas ketika deandra menolaknya. Deandra memberontak dan meremas dengan kuat dada bidang milik Verrel yang semakin membuat Verrel merasa marah dan tertantang untuk membuat gadis itu bertekuk lutut.
Deandra tiba-tiba menggigit bibir bawah Verrel, sesaat pria itu mengerang dan melepaskan ciuman bibirnya. Keduanya saling menatap dan verrel menariknya jatuh kedalam pelukannya.
“Berani sekali kau menggigit bibirku, hmm?” tanya verrel seraya mengeratkan pelukannya. Mengunci semua pergerakan deandra dengan kedua tangannya yang berorot. “Lepaskan aku laki-laki bajingan!” seru deandra menggeliat didalam pelukan verrel. Ia sangat membenci laki-laki dihadapannya ini yang telah merenggut kesuciannya malam itu.
“Bajingan!” dengkus verrel menatap tajam deandra seakan ingin mencabik-cabiknya. “Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa, hah?” verrel mulai tersulut emosi. Sialan, gadis bodoh ini beraninya menyebutnya bajingan.
Verrel mengikrarkan tidak butuh waktu lama untuk menaklukkan wanita pembangkang ini, wanita mana yang tak terbuai dengan pesona dan sentuhannya. Dengan bangga dan percaya diri verrel mampu membuat deandra melenguh saat ia menyesap dengan ritme yang tak pernah gagal membuat seorang wanita terbuai. Verrel adalah penguasa ranjang yang terkenal, namun tak ada satu mediapun yang berani meliput ataupun sekedar mencari tahu.
Suara lenguhan deandra mengalun dan langsung teredam oleh verrel yang memporak porandakan pertahanan wanita itu. Emosi verrel memuncak, hasrat liarnya langsung meronta-ronta menginginkan pelepasan. Sial! Ini harus tuntas pikirnya. Dan tak perlu ditanyakan apa yang terjadi saat verrel mengunci pergerakan deandra dan mengangkatnya keatas meja makan yang kosong.
Deandra tercekat namun tak punya tenaga untuk menolak karena ia belum pulih benar. Kini ia terbaring dibawah kungkungan pria bertubuh besar yang semakin liar, tanpa disadarinya ******* keluar dari mulutnya. Pria itu membuatnya tak berdaya, setengah jam kemudian ia mencengkeram kaos didada verrel saat keduanya mendapatkan pelepasan bersamaan yang diiringi ******* panjang keduanya. Mereka saling menatap dan tersenyum puas.
__ADS_1
Verrel membetulkan pakaian gadis itu dan merapikan rambutnya yang berantakan. Terlihat deandra menarik napas sambil memejamkan mata saat verrel memberikan kecupan dibibirnya dan keduanya pun kembali duduk dikursi mereka. Wajah gadis itu merona merasa malu atas kejadian tadi.
*Visual ruang makan di mansion Tuan Verrel
Setelah itu Verrel memerintahkan pelayan menyiapkan makanan dan meletakkan makanan dipiring sang tuan besar dan deandra. Namun, sejak makanan tersaji dipiringnya, gadis itu hanya melamun dan tak menyentuh makanannya. Berbeda dengan verrel yang sejak tadi makan dalam diam dan tampak tenang.
“Kenapa tidak makan?” tanya verrel saat menyadari deandra tak menyentuh makanannya. Gadis itu hanya dia dan itu membuat verrel marah. “Yuna!” seruan kencang verrel membuat deandra terlonjak kaget dan menatap bingung kearah pria itu.
“Saya, Tuan.”
“Apa kau tidak mengajarkan padanya," sambil menunjuk pada deandra yang tergugu “Untuk menjawab setiap aku bertanya, hah?” Yuna membungkukkan badan. “Maaf, Tuan. Saya belum mengajari nona.”
“APA KAU BILANG?” suara verrel menggelegar sambil menggebrak meja yang membuat beberapa alat makan berjatuhan di lantai. “KENAPA KAU TAK MENGAJARINYA, YUNA?”
__ADS_1
Beberapa pelayan yang berdiri diruang makan itu menundukkan wajah mereka yang ketakutan. Suasana sangat mencekam. “Ampuni saya, Tuan. Setelah ini saya pastikan Nona Muda tidak akan melakukannya lagi.” Yuna bersimpuh dihadapan verrel yang masih duduk dengan wajah menyeramkan. “Aku berikan kesempatan untukmu,Yuna. Kalau kau dan dua pelayan itu tak mampu mendidik dia maka kalian semua akan menerima akibatnya.”
Verrel beranjak, ia tak lagi selera melanjutkan makannya. Saat ia berada tepat disamping deandra yang terlihat diam dengan kedua mata membelalak, tangan verrel meraih dagu gadis itu agar menatapnya. “Ini pertama dan terakhir kalinya kau melamun saat bersamaku,” verrel mendekatkan bibirnya di telinga kanan deandra “Jika kau melakukannya lain waktu, aku akan menghukummu dengan caraku sendiri. Sampai kau tak bisa berdiri!” selesai mengucapkan itu ia ******* kasar bibir yang sudah jadi candu baginya.
Ia beranjak meninggalkan ruang makan. Sialan! Pria kejam itu terlihat sangat mengerikan, gumam deandra. Saat sudah berada di pintu ruang makan, langkah verrel terhenti dan berkata pada Yuna “Bawa dia ke kamarku malam ini! Aku sendiri yang akan memberinya pelajaran!” lalu melangkah pergi dengan wajah marah. Perintah Verrel terus berputar-putar seperti kaset rusak dikepala deandra. Apa tadi dia bilang? Membawaku ke kamar dan akan diberikan hukuman? Dasar Tuan besar macam apa dia itu seenaknya memperlakukan orang?
Deandra menatap Yuna yang wajahnya pucat. Kepala pelayan itu berdiri tak jauh dari tempat duduk deandra. “Maafkan aku, Bibi Yuna. Semua salahku,” ucap deandra.
“Jangan membangkang, Nona Muda. Turuti saja semua perintah Tuan Besar,” kata Yuna.
“Tidak! Aku tidak mau! Dia tidak bisa seenaknya begitu!” seru deandra tak terima.
“Tapi, Nona. Jika nona muda terus-terusan bersikap seperti ini, kami semua yang akan dihukum bukan hanya nona. Bahkan keluarga kami juga akan terkena imbasnya, Nona.” kata-kata Yuna itu terasa menyakitkan bagi deandra. Apa sekejam itu sang tuan besar? Tapi jika gara-gara aku maka semua orang dihukum, aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak mau menjadi penyebab kesusahan orang lain, gumamnya dalam hati.
“Nona muda, makanlah. Jika tuan besar tahu kalau nona tidak makan, nanti hukumannya akn semakin berat, nona,” kata Yuna sembari mengisi gelas dengan jus jeruk, deandra segera meminumnya. Ia menatap makanan didepannya, menggerakkan sendok mengambil makanan dan mulai memakannya.
__ADS_1
Meskipun dirinya merasa tidak nyaman atas kejadian barusan, namun deandra makan dengan lahap karena ia merasa sangat lapar. Apalagi makanan yang disajikan semua enak dan lezat. Setlah menghabiskan makanannya, dia beranjak dan melangkah keluar dari ruang makan itu, sembari berkata pada Yuna “Tolong beritahukan pada Tuan Besar kalau saya sudah makan.” Yang dijawab anggukan oleh Yuna. Gadis itu tak mau kalau Yuna akan kena marah lagi gara-gara ia tidak makan.
Dua pelayan menuntun deandra kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar deandra meminta kedua pelayan itu untuk membawanya ke balkon. Ia merasa bosan hanya berbaring di tempat tidur. Hembusan angin yang menerpa wajahnya terasa menyegarkan. Ia memejamkan kedua matanya menikmati suasana di balkon. Seorang pelayan mendorong sebuah kursi ke belakang deandra dan mempersilahkan majikannya itu untuk duduk.