
“Bagaimana ini? Dea melihat ku seperti ini...huaaaa…..”tangis Rosa kembali menggema. Rasa takut, cemas bercampur aduk. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Deandra dan ibu. Dia menangis terisak-isak didada Frans yang sedari tadi berusaha keras menahan tawanya. Frans benar-benar merasa puas sudah ngeprank Rosa. ‘Tinggal selangkah lagi. Apakah kau masih akan membantahku gadis jutek?
“Sudahlah berhenti menangis, toh sudah terjadi. Yang sudah terjadi tak perlu disesali, lagipula aku seorang pria yang bertanggung jawab. Kalau kau mau, aku pasti bertanggung jawab atas perbuatanku,” kata Frans dengan suara lembut bak seorang kekasih yang merayu gadisnya yang bersedih dan merajuk. Keseringan melihat sang Tuan besar membujuk istrinya, akhirnya Frans pun ketularan.
“Dasarrrr om mesum! Aku membencimu! Kenapa kau lakukan itu padaku….huaaaaa..”tangisnya kembali meledak. “Mau kutaruh dimana mukaku, ha?”
“Taruh didadaku saja, sayang.” ujar Frans tersenyum puas.
“Tidak punya hati nurani, kau masih mengejekku, hiks...hiks.”
“Berhenti menangis, nanti didengar orang satu kantor, kau akan lebih malu lagi,” kata Frans menakut-nakuti Rosa. Kata-katanya ampuh, seketika tangisan Rosa beerhenti tapi hanya beberapa saat saja.
“Ibu pasti akan marah sekali padaku, Frans.” tangisnya makin menjadi-jadi.
“Tenang saja. Serahkan padaku. Tidak perlu mengatakan apapun pada ibumu.”
“Maksudmu apa? Kau mau lepas tangan gitu?” kata Rosa kesal sambil mendorong dada Frans. Sesungguhnya dia masih merasa sangat-sangat malu, bagaimana tidak, ********** yang dirobek Frans masih tergeletak dilantai. Dengan cepat tangannya meraih dalaman itu lalu Rosa memasukkan kedalam saku baju terusannya. Melihat tingkah Rosa, hampir saja Fran kelepasan tertawa, secepatnya tangannya menutup mulutnya sendiri.
“Kau kenapa? Menertawakan aku, iyakan?”
Frans hanya menggeleng, jika dia membuka mulut maka yang keluar adalah tawa yang sudah tertahan sejak tadi.
“Ti—tidak. Aku cuma sedang berpikir. Kita sudah ketahuan oleh nyonya, bisa saja dia akan sampaikan pada tuan. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi padaku, bagaimana kalau sepulang kerja aku mengantarmu pulang sekalian melamarmu?” tanpa basa basi Frans meluncurkan rencana berikutnya.
“A—apa?”
“Melamarmu Rosa, jadi aku tidak merasa bersalah karena sudah merusakmu. Kau juga tidak perlu takut dan malu atas kejadian tadi. Lagipula kita melakukannya atas dasar suka sama suka, iyakan? Kau bahkan sangat menikmatinya sampai mendesah,” kata Frans sambil tersenyum. Penjelasan panjang lebar itupun sontak membuat Rosa semakin tak karuan. Malu….sangat malu. ‘Bagaimana mungkin aku sebodoh itu? Mendesah katanya? Apakah mungkin, aku tadi merasa mabok kepalaku pusing tapi aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Tapi dia mau melamarku? Aduhhhh ibu pasti kaget, tapi senang juga, mungkin.
“Kenapa kau diam? Kalau kau menolak, ya sudah. Berarti aku bebas dan jangan kau tuntut pertanggung jawabanku lagi,” tangannya melepaskan pelukan. Lalu bangkit dan saat hendak berjalan, ucapan Rosa menghentikan langkahnya.
“Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain. Kau boleh temui ibuku nanti.”
“Yes! Yes! Yes!” saking gembiranya Frans mengayunkan tangannya yang terkepal keatas kebawah sambil berteriak.
Belum puas dengan kemenangannya, ponselnya berdering kencang. Melirik ke layar ponsel, nama sang nyonya tertera. Dengan cepat dia menjawab panggilan.
__ADS_1
“Halo, nyonya.”
“Segera temui aku di villa!” teriakan Deandra memekakkan telinga Frans. Tubuhnya gemetar ketakutan. Gawat ini, bertemu nyonya lebih menakutkan dibanding ketemu sang tuan, gumamnya.
“Rosa, sebaiknya kita temui ibumu sekarang. Nyonya memintaku pulang ke villa nanti.”
“Baiklah.” kata Rosa singkat tanpa melihat kearah Frans.
Rosa sudah berada didalam mobilnya Frans menuju rumahnya. Sebelumnya dia sudah mengabari ibunya bahwa dia akan pulang cepat karena ada yang mau bertemu dengan ibunya. “Kenapa tiba-tiba kau mau kita menemui ibu sekarang?” tanya Rosa penasaran.
“Karena aku tidak yakin jika aku masih bernapas saat bertemu nyonya nanti,” jawab Frans asal.
“Hah? Aku ikut denganmu nanti, aku bisa jelaskan pada Deandra tentang tadi.” kata Rosa dengan cepat, bagaimanapun kejadian tadi itu juga kesalahannya yang gegabah.
“Tidak usah! Aku bisa atasi sendiri. Mana mungkin aku diapa-apain, hanya aku asisten tuan besar.” Perjalanan hanya memakan waktu dua puluh menit, kini mereka sudah berada dirumah Rosa. Tampak gadis itu menggenggam kedua tangannya dan gelisah.
“Kenapa kalian berdiri diluar?” tanya ibu Rosa yang melihat dari pintu kedatangan anaknya bersama seorang pria bersetelan jas. ‘Siapa pria itu, apakah dia pacarnya Rosa? Tapi putriku tidak pernah bercerita kalau dia punya pacar, gumamnya pelan.
Rosa dan Frans masuk kedalam rumah, dengan kikuk Rosa memperkenalkan Frans pada ibunya yang sedari tadi memandangi Frans. ‘Nemu dimana Rosa sama laki-laki ini? Sepertinya dia orang kaya, mana mungkin mereka pacaran.’
“Oh, ya tidak apa-apa. Kalau boleh saya tanya, anda siapa? Ada hubungan apa dengan anakku?”
“Begini bu, saya adalah atasan Rosa dikantor. Saya dan Rosa sudah menjalin hubungan sejak beberapa bulan,’
“Ha...ha….ha….terimakasih Tuhan, akhirnya anakku tidak jomblo lagi,” teriak ibu Rosa tertawa bahagia, melihat sikap ibunya itu malah membuat Frans terkekeh. Ternyata ibu dan anak sama saja kalau bicara tidak punya rem, pikirnya.
“Tapi, maksud kedatangan saya kesini, saya ingin melamar Rosa jadi istri saya, bu.”
“A—apa? Melamar? Serius? Ya...ya….ya….ibu setuju.” jawabny gembira akhirnya anaknya akan menikah dan dia tak perlu lagi capek-capek memintanya menikah lagi.
“Jadi ibu benaran setuju?” tanya Frans lagi memastikan.
“Iya, nak Frans. Ibu sangat setuju, ibu sudah capek menyuruhnya menikah. Kapan rencananya,”
“Secepatnya, bu,” jawab Frans tersenyum. Kali ini dia benar-benar tersenyum puas. Ternyata tak sesulit itu. Urusan yang ini selesai, tinggal berhadapan dengan nyonya nanti.
__ADS_1
“Ibu kenapa tidak pikir-pikir dulu, atau kasih syarat gitu sama Frans,”
“Tidak perlu. Sepertinya dia pria baik-baik. Syukur ada yang mau nikahin kamu,”
... *...
*Author lagi baik hati....ini visual villa Viktor Benazar Hutama
Perjalanan menuju villa Tuan Viktor yang ditempuh Frans membuatnya berkeringat. Saat dia tiba didepan pintu depan villa sudah ada yang menyambutnya langsung mempersilahkan masuk keruang keluarga. Ada Verrel yang duduk dikursi roda dengan tatapan heran karena dia merasa tidak menyuruh asistennya datang. “Aku yang minta dia datang,” suara Deandra yang datar dan dingin terdengar diiringi suara langkahnya mendekat. “Apa ada masalah dikantor, sayang?”
“Oh...masalah besar...sangat besar,” ujarnya berdiri dengan menyilangkan kedua tangan didada. Tatapannya sangat tajam menghunjam membuat Frans bergidik. ‘Kenapa nyonya jadi sangat menyeramkan sekarang?’ gumamnya dalam hati.
“Kau tidak perlu jelaskan apa-apa, kau kuhukum selama satu minggu di paviliun. Kau tidak boleh keluar dari sana,” ucap Deandra. ‘Kau pikir aku bodoh? Pasti tadi kau menjebaknya, hu.’
“Ta—tapi nyonya. Saya akan menikah dengan Rosa dalam waktu dekat,”
“What?” serentak Verrel dan Deandra berteriak mendengar ucapan Frans.
“Saya sudah melamarnya, ibu menyetujui jadi kami akan menikah,”
“Ha..ha...ha...ha. Aku tidak peduli, kau tetap kuhukum selama satu minggu.”
“Lantas bagaimana dengan pekerjaan saya, nyonya? Tidak mungkin meninggalkan perusahaan,”
“Tenang saja. Masih ada Opa dan William, bukan? Jangan cari alasan Frans,” ujarnya sambil berlalu meninggalkan Frans dan Verrel. Verrel bingung kenapa istrinya menghukum Frans namun tak ada yang mau menjelaskan padanya.
👋 Halo para pembaca setia....terimakasih masih setia ya, author senang deh lihat komrn, like dan vote kalian.
Kirimin bunga, kopi atau tanda cinta biar author makin semangat lagi ya.....luv yu 😘😘😘
__ADS_1