
Menyerahkan hati, perasaan dan cinta adalah sesuatu yang mustahil bagi Deandra. “Bagaimana aku bisa memberikan hati dan cintaku padanya? Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya. Aku mencintai orang lain” deandra frustasi, ia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Ia belum mengganti pakaiannya, dia tak berhenti memikirkan permintaan Verrel.
Deandra merasa tertekan, dia terjebak dengan rencana dan permainan yang ia buat. Niatnya untuk memanfaatkan Verrel yang tergila-gila pada tubuhnya namun kenyataan berbanding terbalik. Dia hanya ingin mengorbankan dirinya agar tidak ada pelayan yang dihukum akibat kejadian tadi siang, namun usahanya tidak berhasil. Verrel memberikan syarat padanya. Syarat yang mutlak jika ia ingin berkuasa penuh dirumah mewah itu.
Pintu kamarnya terbuka dan Alya memasuki kamar itu dengan kepala tertunduk.
“Ada apa Alya? Kau kenapa?” tanya Deandra yang melihat wajah Alya pucat.
“Tuan Besar marah padaku, Nyonya. Karena tadi saya meninggalkan nyonya sendirian diluar saat wanita itu datang.” kata Alya. “Tolong saya Nyonya. Tuan akan menghukum saya.” Alya menangis sesenggukan dan badannya bergetar untuk menarik simpati sang nyonya. Baginya hanya sang nyonya besar yang bisa menolongnya dari hukuman.
‘Penolakanku tadi membuat Tuan Verrel menghukum Alya? Ya, Tuhan. Apa yang kulakukan? Aku menolak memberikan cinta dan hatiku tadi, karena aku tidak bisa mencintainya. Malah membuat Verrel menghukum pelayanku, ini tidak benar, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi karena semua salahku, gumamnya dalam hati.
“Sudah jangan menangis lagi. Aku akan bicara dengan Tuan Besar,” ujar Deandra. Bagaimanapun aku harus melakukan sesuatu, Alya tidak bersalah atas kejadian tadi sore.
“Baik, nyonya. Terimakasih,” kata Alya seraya melangkah keuar dari kamar deandra setelah sang nyonya besar menyuruhnya untuk pergi.
‘Aku akan coba lagi untuk meluluhkan hatinya, aku tidak ingin pria itu menghukum pelayanku karena kesalahanku sendiri.’ Deandra membersihkan tubuhnya kembali, menganti pakaian. Dia memilih sebuah dress mini lengan panjang, warna gold dengan desain motif. Terlihat kaki jenjang yang mulus karena dress itu berada diatas lutut, hanya beberapa inci dibawah bokong.
*Visual baju yang dipakai Deandra
...*...
Tok tok tok!
“Masuk.”
Deandra membuka pintu kamar Verrel dan melangkah masuk setelah menutup pintu dibelakangnya. Dia melihat pria itu sedang duduk di mini bar sambil menyesap minuman alkohol. Terlihat wajahnya tidak selembut tadi. Verrel hanya melilitkan handuk dipinggang, tubuh polosnya memperlihatkan otot-otot ditubuhnya yang tinggi dan kekar.
__ADS_1
Deandra melangkah mendekati Verrel dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Meskipun dia sendiri merasa takut jika pria itu akan memarahinya.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Verrel dengan suara dingin dan datar.
“Aku ingin menjelaskan soal Alya. Dia tidak bersalah, jadi tolong jangan hukum dia. Aku menyuruhnya untuk mengambilkan minum untukku. Sementara Tami pergi ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhanku” kata deandra menjelaskan.
“Tidak seharusnya dia meninggalkanmu sendirian. Dia bisa meminta pelayan lain.” kata Verrel masih dengan nada suara dingin.
“Ini semua salahku. Harusnya aku menyuruh pelayan lain. Aku mohon jangan hukum Alya. Ini murni kesalahan dan kelalaianku, jadi hukum aku saja,” ujarnya memohon.
“Kau tahu, Nyonya Verrel. Ada peraturan dirumah ini bahwa Nyonya Besar tidak bisa menerima hukuman. Jadi jika kau berbuat salah maka pelayanmu yang akan menerima hukuman.”
“Apa? Tidak! Tidak! Tidak boleh begitu,” protesnya.
“Itu peraturanku yang tidak boleh dibantah!” jawab Verrel dingin dengan pandangan lurus kedepan, sejak deandra masuk kedalam kamar itu, tak sedikitpun Verrel memandangnya.
“Aku mohon sayang, hukum aku saja. Lagipun aku tidak kenapa-napa. Aku bisa hadapi wanita gila yang mengaku nyonya besar ceyhan itu.” kata deandra.
“Apa kau tidak bangga karena aku bisa mengatasinya, sayang?”
“Jangan kau panggil sayang, jika hatimu bukan untukku,” jawab Verrel ketus.
“Please! Aku sayang padamu. Percayalah,sayang.” merayu dengan memasang wajah memelas.
“Bagaimana kau membuktikan ucapanmu?”
“Hmmm….aku akan memberikan apapun yang kau mau,” jawab deandra dengan suara pelan, ia berusaha mengatur napas dan meredakan debaran jantungnya. Sebenarnya dia pun merasa ragu saat mengucapkan kalimat itu.
“Apa kau yakin, Nyonya Verrel?” seringai licik muncul diwajah pria itu. Permainan akan dimulai nyonya verrel, permainan yang kau ciptakan sendiri, monolog verrel dalam hatinya.
__ADS_1
“Ya, aku sangat yakin, sayang.” jawab deandra dengan tersenyum. Bagaimanapun dia harus melakukan ini demi keselamatan pelayannya. Deandra meletakkan kepalanya di bahu kokoh Verrel. Dia menghabiskan minuman digelasnya lalu menarik pinggang gadis itu.
“Baiklah. Syarat pertama dariku, kau harus memuaskanku malam ini.”
‘Syarat pertama? Berarti akan ada syarat kedua dan seterusnya, pikir deandra. Ya, ampun kenapa aku sebodoh ini sih? Laki-laki mesum ini pasti sudah merencanakan sesuatu untukku. Kenapa dia seperti bisa membaca pikiranku?
“Kenapa ada syarat pertama?” tanya Deandra.
“Kau mau membantah?” tanya Verrel alih-alih menjawab pertanyaan deandra. "Kalau kau tidak mau, tidak ada masalah."
“Ti—tidak. Hanya bertanya,” jawabnya dengan suara bergetar. Akan kulakukan meskipun pria mesum ini pasti mengajukan syarat yang aneh-aneh seperti biasanya.
“So? We deal?”
“Deal!” jawab deandra cepat.
Senyum lebar menghiasi wajah Verrel, untuk kesekian kalinya dia kembali mempermainkan gadis itu yang awalnya ingin mempermainkannya. ‘Kau harus belajar banyak nyonya verrel.’
...***...
“Egghhh….hoaamm,” suara Deandra menguap dan merentangkan kedua tangannya. Membuka kedua matanya lebar-lebar dan melirik kesamping dan tidak mendapati Verrel disana. ‘Mungkin dia sudah ke kantor, kenapa aku sering telat bangun sekarang? Gumamnya. Matanya masih terasa berat karena mengantuk tapi ia merasa tubuhnya lengket, semalaman Verrel mencumbunya.
“Ahhh….sakit!” gadis itu merasa nyeri dibagian bawah tubuhnya. Sambil menahan rasa sakit, ia mencoba turun dari tempat tidur dan mencari kain yang bisa dipakainya menutupi tubuh polosnya. Hanya ada selimut tebal disana. Kemana pakaianku tadi malam?
“Dimana pakaianku? Bagaimana aku keluar dari sini tanpa pakaian?” ia berjalan ke kamar mandi dan melihat ada kemeja yang dipakai Verrel tadi malam tergantung disana. Ia mengambil kemeja itu dan mengenakannya. Seorang pelayan masuk ke kamar mandi dan mengejutkan Deandra.
Pelayan itu bertugas di kamar Verrel, “Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya tidak bermaksud mengangetkan Nyonya,” berkata dengan kepala tertunduk dan ketakutan.
“Tidak apa-apa,” iba melihat pelayan yang ketakutan itu.
__ADS_1
“Te-terimakasih Nyonya. Nyonya mau kemana?” bertanya saat melihat deandra melangkah pergi dari kamar sang tuan besar.
“Aku ingin ke kamarku,” ucapnya gugup. Dia masih merasa canggung dengan panggilan barunya, kini posisinya dirumah itu sudah berubah. Terlihat Tami dan Alya sudah berdiri didepan pintu kamar Deandra menyambut majikannya dan mengikuti masuk kedalam kamar.