TERJERAT GAIRAH SANG CEO

TERJERAT GAIRAH SANG CEO
BAB 169. PEMAKAMAN ANDINI


__ADS_3

Beberapa saat lalu pihak rumah sakit memberinya dokumen berisi hasil tes DNA.  Bukan hanya itu, ada juga beberapa dokumen lainnya yang membuktikan siapa ayah kandung rico yang sebenarnya. “Andini…..bangun sayang. Aku sudah tak peduli Rico itu anak siapa. Kau harus bangun, tepati janjimu untuk selalu bersamaku. Aku takkan pernah memaafkanmu jika kau benar meninggalkanku seperti ini. Tolong Andini…..jangan lakukan ini padaku. A---aku tak bisa hidup tanpamu,” lirih racauan Amran menangis makin tak terkendali.  Dia sendirian disana tanpa ada seorang teman maupun keluarga yang mendampinginya.


Kakinya lemas bagai tak bertulang, dia pun terjatuh bersimpuh dilantai dengan raungan dan tangisan yang meracau dengan harapan istri kesayangannya itu akan bangun. Tak lama pintu ruangan terbuka dan seorang dokter bersama seorang perawat masuk. Amran langsung berdiri dan bertanya “Dokter, bagaimana keadaan istri saya.  Kenapa dia masih belum sadarkan diri?” tanya Amran dengan suara parau.


“Sebelumnya saya minta maaf Tuan Amran. Saya turut berduka atas kepergian istri anda. Kepalanya mengalami benturan sangat keras ke dinding dan besi sel penjara mengakibatkan pendarahan di otak dan bagian depan kepalanya pecah saat dia membenturkan kepalanya ke besi sel. Seperti Tuan bisa lihat jahitannya di kepala istri Tuan. Sekali lagi kami minta maaf tidak bisa menolong istri Tuan karena saat dibawa kesini kondisinya sudah kritis dan tak tertolong lagi.”


Amran bagai disambar petir saat itu juga. Dia tak menyangka jika Andini nekat mengakhiri hidupnya di penjara. Pria paruh baya itu mundur beberapa langkah dengan menundukkan kepalanya. Dunianya hancur sudah, semua hilang tak ada lagi yang tersisa baginya sedikitpun.  Kakinya kembali lemas tak mampu menopang tubuhnya.  Kesadarannya hilang seiring dengan kedua matanya yang menutup.


...*...


Sementara itu dirumah kediaman Baratha, seorang wanita dengan memakai baju terusan rumahan, dia mendengar suara keributan diruang tamu dan bergegas berjalan kesana.  Melihat kedua orangtuanya yang bertengkar soal kepergian Diana dan Iva ke luar negeri. Baratha sudah tak mampu menanggung malu atas aib yang menimpa keluarganya, ia ingin agar istri dan anak semata wayangnya segera berangkat ke Eropa dan tinggal disana. Tuan Baratha sudah tidak mau tahu dan tak mau mendengar alasan apapun lagi.Dia sudah malu, sangat malu akibat ulah menantunya.  Dia sudah kehilangan muka dihadapan rekan bisnis dan kliennya, jika putrinya tetap bertahan menunggu Rico, itu berarti kehancuran bagi Baratha. Bukan itu yang dia inginkan dan yang membuatnya lebih kesal lagi karena kebodohan Iva yang masih juga mencintai suaminya itu. “Ada apa mama, papa kok bertengkar?” tanya Iva yang tiba-tiba muncul.


“Iva! Papa tidak mau dengar alasan kamu lagi. Papa beri kamu dua pilihan. Pertama, gugurkan kandunganmu dan kamu tetap tinggal disini atau kau memilih mempertahankan kandunganmu tapi kau dan mamamu harus pergi ke Eropa lusa.”


“Apa? Papa….aku mohon jangan lakukan ini padaku.”


“Apa kau belum tahu berita terbaru tentang mertuamu ha? Andini sudah ditangkap polisi atas kasus penipuan dan pembunuhan! Papa sudah kehilangan muka dihadapan banyak orang. Apa kau mau keluarga kita hancur gara-gara cintamu pada bajingan itu, ha?”


“Ta---tapi Pa?”


“Dengar anak bodoh! Kau masih muda dan cantik. Suatu hari nanti kau masih bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari suamimu itu. Coba kau bayangkan bagaimana hidup dan masa depan anakmu jika kelak dia tahu papa dan neneknya seorang kriminal dan dipenjara seumur hidup. Oh iya….bicara tentang mertuamu. Dia sudah meninggal dunia, bunuh diri di penjara.”

__ADS_1


“Apa?” kata Iva dan ibunya serempak.


“Iya, kalian bisa baca beritanya di tv dan media lain. Papa malu dan yang papa takutkan adalah jika tak ada satu orangpun lagi yang mau berbisnis dengan papa. Itu berarti perusahaan akan bangkrut, darimana kita hidup? Apa kau tidak  memikirkan itu Iva?”


Kini wanita itupun tertunduk memikirkan semua perkataan ayahnya yang memang benar adanya.  Jika dia pergi sekarang,  seiring dengan berjalannya waktu semua akan lenyap.  Ayahnya masih bisa bekerja dan membiayai hidup mereka tapi jika Iva bersikukuh bertahan berjuang dan menunggu Rico, maka bukan saja hidupnya tapi hidup keluarga juga hancur.  Airmatanya menetes deras membasahi wajahnya, menyesali takdir yang sangat menyakitkan.


“Baiklah, aku akan menuruti keinginan papa.”


“Lusa kalian berangkat. Bersiaplah, dan ingat satu hal jangan pernah temui lagi laki-laki brengsek itu. Papa tidak mau jadi bahan gunjingan lagi. Papa sudah tua, yang papa butuhkan hanya ketenangan.”


...*...


“Ayo pulang sayang. Papa sudah menunggu kita dari tadi.”


Iva mengusap perutnya yang masih datar itu dan menoleh kearah ibunya dengan penuh permohonan pada sang ibu.


“Mama, bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Iva dengan wajah memelas.


“Katakan apa yang kau inginkan, sayang.”


“Tolong ijinkan Iva menemui Kak Verrel sebelum kita berangkat ke Belanda.”

__ADS_1


Diana menenguk ludahnya, permintaan putrinya sangat sulit.  Suaminya sudah memepringatkannya agar tak bersinggungan dengan keluarga Ceyhan. Jika suaminya tahu pasti dia akan marah besar.


“Kita pulang dulu ya. Nanti kita bicarakan setelah sampai dirumah. Ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal itu.” katanya menarik lengan Iva meninggalkan pemakaman.  Kini hannya ada Amran disana yang tak henti menangisi kepergian istrinya. Mereka pulang kerumah dengan keheningan selama dalam perjalanan. Sesampainya dirumah, mereka sudah dihadapkan pada wajah Baratha yang memerah penuh amarah.  “Dari mana saja kalian?”


“Pa, kami tadi pergi ke pemakaman Andini. Sekedar untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengirimkan doa.”


“Buat apa kali kesana, ha? Apa kalian tidak mengerti juga? Aku sudah berulang kali mengatakan agar tidak lagi berhubungan dengan keluarga Amran. Kalau wanita itu sudah mati ya sudah! Itu sudah karma yang harus diterimanya. Papa yang mendengar cerita tentangnya dari orang lain saja merasa malu punya besan seperti itu.” kata Baratha menatap tajam istri dan putrinya. “Pokoknya papa tidak mau lagi dengar kalau kalian mengunjungi Amran ataupun laki-laki brengsek itu di penjara. Biar dia mati membusuk disana. Manusia apa itu? Sudah punya istri tapi malah mau memperkosa kakak iparnya sendiri. Apa kalian belum tahu berita terbaru? Rico itu ternyata bukan anak kandung Amran!”


“Apa? Papa dengar darimana?” tanya Iva dan ibunya terkejut.


“Itu ada beritanya sudah ada konfirmasi dari pihak keluarga Ceyhan, lengkap dengan bukti hasil tes DNA. Makanya papa malu sekali! Ternyata Andini sudah hamil saat menikah dengan Amran.” kata Baratha menjelaskan. Belum lagi para kolega bisnisnya yang mulai menjaga jarak membuat Baratha takut akan kelangsungan perusahaannya.


“Ya, Tuhan. Kenapa bisa jadi kacau begini?”


“Dari dulu papa sudah bilang sama kalian. Keluarga Ceyhan itu paling berkuasa, siapapun yang berusaha mengganggu keluarganya, mereka tak akan tinggal diam.  Mereka akan temukan bukti untuk menghancurkan orang itu. Nah, seperti sekarang semua bukti kejahatan Andini dibongkar habis-habisan ke publik. Entah bagaimana nanti nasib Amran setelah ini.”


Iva dan ibunya saling pandang dan menghela napas panjang. Perasaan mereka bercampur aduk antara sedih, gembira….entahlah yang pasti Baratha merasa bersyukur dia sudah memutuskan hubungan keluarganya dengan Amran.


“Pa….bisakah keberangkatanku ke Belanda di tunda?”


“Tidak bisa! Kau sudah papa beri pilihan dan jika kau menyayangi keluargamu maka kau pilih pergi ke Belanda dan tinggal disana bersama Tantemu. Hidupmu hancur jika kau tinggal disini Iva. Kenapa kau keras kepala sekali, ha? Aku harus pakai bahasa apalagi supaya kau mengerti?”

__ADS_1


__ADS_2